
Farel yang melihat Alina hendak memotong urat nadinya, langsung menarik tangan Alina.
"Alina, apa kamu sudah gila? Sebaiknya kamu bunuh saja aku, karena aku lebih baik mati daripada melihat kamu bunuh diri di hadapanku," ujar Farel dengan mengarahkan pisau yang Alina pegang pada lehernya.
Alina langsung menjatuhkan pisaunya, karena dia tidak akan mungkin sanggup kehilangan Farel.
"Sayang, aku tau kalau kamu kecewa, tapi aku harap jangan melakukan hal bodoh lagi, karena aku tidak rela jika kamu melakukan hal bodoh yang akan mencelakai kamu dan bayi kita," ujar Farel dengan mendekap erat tubuh Alina.
Alina menumpahkan tangisannya dalam pelukan Farel, karena hati Alina benar-benar hancur ketika mengingat kembali saat dulu dirinya dibully oleh Teman-temannya sendiri karena Alina adalah Anak dari seorang Narapidana.
"Farel, kenapa tidak ada seorang pun yang mengerti dengan perasaanku? Mereka tidak pernah tau dengan apa yang dulu aku alami," ucap Alina dengan lirih.
Papa Ferdi mengusap lembut bahu Alina, kemudian Papa Ferdi memberikan penjelasan supaya Alina bisa memahami semuanya.
"Nak, selama ini Rita sangat memahami perasaan Alina, oleh karena itu Rita sengaja menyembunyikan identitasnya dari Alina, karena Rita tidak mau kalau Alina sampai membencinya."
"Dia adalah orang yang paling Alina benci di Dunia ini, jadi Papa tidak usah menyebut-nyebut namanya lagi di depan Alina," ujar Alina dengan sorot mata penuh kebencian.
"Nak, Rita sengaja berbohong hanya demi bisa dekat dengan kamu. Kapan kamu akan mengerti tentang perasaan Rita? Dia tersiksa berada di dekat kamu tapi tidak bisa memeluk serta mengakui kamu sebagai Anaknya," ujar Papa Ferdi.
"Cukup Pa, cukup, jangan pernah sebut nama Narapidana itu lagi di depan Alina," ujar Alina, kemudian memegangi perutnya yang tiba-tiba terasa sakit karena mengalami kontraksi.
"Farel, perutku tiba-tiba sakit. Sepertinya aku akan melahirkan," ujar Alina.
Farel dan Papa Ferdi langsung membawa Alina menuju Rumah Sakit, dan keduanya merasa panik, karena sepanjang perjalanan Alina terus saja menjerit kesakitan.
"Farel, cepat bawa mobilnya, aku sudah tidak kuat lagi," teriak Alina dengan memegang erat tangan Papa Ferdi.
Papa Ferdi mencoba mengingatkan Alina untuk membaca istighfar, tapi Alina seakan tidak mendengar perkataan Papa Ferdi.
......................
Di tempat lain, Bu Rita yang baru selesai melaksanakan Shalat Maghrib, tiba-tiba merasa gelisah dan terus kepikiran dengan Alina.
"Kenapa tiba-tiba hatiku merasa tidak enak seperti ini? Aku terus kepikiran dengan Alina. Semoga dia baik-baik saja, apalagi sekarang sudah dekat dengan taksiran persalinannya," gumam Bu Rita.
Bu Rita beberapa kali mencoba menghubungi nomor Farel, tapi Farel tidak mengangkatnya, karena handphone Farel tertinggal di rumah.
__ADS_1
"Kemana Farel, kenapa dia tidak mengangkat telpon ku?" gumam Bu Rita yang semakin merasa cemas.
Bu Rita memutuskan ke luar dari dalam kamar untuk melihat Anak-anak yang saat ini sedang di ajak main oleh Hesti dan Irwan, dan Bu Rita langsung menggendong Putri yang terlihat menangis.
"Putri kenapa? Tidak biasanya Putri rewel seperti ini?" ujar Bu Rita.
"Hesti juga tidak tau Bu, tiba-tiba saja Putri menangis. Apa mungkin kalau Putri kangen sama Orangtuanya?"
"Mungkin saja, tapi mungkin juga Putri menangis karena belum terbiasa dengan cuaca di sini yang terasa lebih dingin," ujar Bu Rita mencoba menenangkan Putri.
Beberapa saat kemudian, Bu Rita mendapatkan panggilan telpon dari Papa Ferdi yang mengatakan kalau Alina saat ini akan melahirkan.
📞"Jadi Alina akan melahirkan Mas?" tanya Bu Rita dengan mata berbinar.
📞"Iya Rita, sekarang kami sudah berada di Rumah Sakit, dan Alina baru saja masuk ke dalam ruang bersalin," jawab Papa Ferdi.
📞"Semoga persalinannya lancar, dan aku bisa segera menimang Cucu keduaku," ujar Bu Rita dengan tersenyum bahagia.
📞"Rita, Alina sudah mengetahui semuanya," ujar Papa Ferdi sehingga membuat senyuman pada bibir Bu Rita hilang seketika.
📞"Ke_kenapa bisa seperti itu?" tanya Bu Rita dengan suara tergagap.
📞"Rita, kamu jangan terlalu banyak pikiran, dan untuk sementara waktu kamu sebaiknya tetap tinggal di Jawa Timur, nanti setelah Alina bisa menerima kamu, aku akan menjemput kamu dan Putri," ujar Papa Ferdi kemudian mengakhiri panggilan telponnya.
Bu Rita menjatuhkan tubuhnya yang terasa lemas di atas sofa, dan akhirnya airmata Bu Rita sudah tidak dapat ia bendung lagi.
Bu Rita menangis dengan memeluk tubuh Putri yang masih menangis juga.
"Bu, apa yang sudah terjadi, kenapa Ibu menangis?" tanya Hesti dengan duduk di samping Bu Rita.
"Hesti, Alina sudah mengetahui semuanya. Sekarang Alina pasti membenci Ibu, dan Ibu sudah tidak bisa dekat lagi dengan Alina."
"Ibu yang sabar ya, semoga mata hati Alina segera terbuka," ujar Hesti dengan mengusap lembut punggung Bu Rita.
......................
Suci dan Arya selalu melewati hari-hari mereka dengan bahagia, meski pun Suci terus saja merengek meminta pulang karena kangen sekaligus mengkhawatirkan Anak-anaknya.
__ADS_1
"Sayang, Suci yang sabar ya, Dokter bilang Suci masih harus dirawat di Rumah Sakit selama beberapa hari lagi, apalagi Suci baru saja melakukan pemasangan ring," ujar Arya dengan mengusap lembut kepala Suci yang saat ini tengah bersandar pada dada bidangnya.
"Tapi Suci ingin menghadiri acara Tahlil tujuh hari mendiang Mama Linda, Mas." Ujar Suci dengan mengelus lembut tangan Arya yang saat ini melingkar pada perutnya.
Arya terlihat berpikir, karena dia juga sudah merindukan Rizky setelah hampir satu minggu berpisah.
"Acara tahlil nya besok sore kan? Kalau begitu besok Mas coba tanya lagi sama Dokter bisa tidaknya jika Suci melakukan rawat jalan saja," ujar Arya.
Suci yang merasa senang reflek mencium pipi Arya, dan Arya membulatkan matanya ketika Suci memiliki inisiatif untuk menciumnya.
"Sekarang kamu mulai nakal ya," ujar Arya dengan menggelitik perut Suci sehingga Suci tertawa lepas dengan berteriak minta ampun.
......................
Rian sebenarnya hampir setiap hari datang ke Rumah Sakit untuk melihat kondisi Suci, tapi Rian tidak berani menghampirinya, apalagi sekarang Suci dan Arya selalu terlihat mesra seperti pasangan yang sedang dimabuk cinta.
"Suci, perkataan Mama memang benar, saat bersama dengan Arya, kamu selalu terlihat bahagia," gumam Rian yang saat ini mengintip Suci dan Arya dari depan pintu kamar perawatan Suci yang sedikit terbuka.
Ketika Rian membalikan badannya untuk pergi, Rian tidak sengaja bertabrakan dengan Perawat yang hendak masuk ke dalam kamar perawatan Suci untuk mengganti cairan infus.
"Maaf Sus, saya tidak sengaja," ucap Rian dengan membantu Perawat memunguti peralatan medis yang terjatuh di atas lantai.
Suci terkejut ketika melihat Rian yang saat ini berada di hadapannya, karena saat ini pintu kamar terbuka lebar.
"Mas Rian," ucap Suci dengan lirih.
Rian yang tadinya akan kembali pulang, terpaksa mengurungkan niatnya.
Suci bergegas mendorong tubuh Arya supaya menjauh darinya, karena Suci takut jika Rian merasa curiga kalau Suci dan Arya diam-diam sudah melakukan hubungan terlarang.
"Suci, bagaimana kabarnya?" tanya Rian dengan menghampiri Suci dan Arya.
"Alhamdulillah sekarang sudah lebih baik Mas," jawab Suci yang merasa asing terhadap Rian, padahal biasanya Suci dan Rian akan memakai panggilan Ayah dan Bunda, tapi entah kenapa Suci tidak bisa lagi memanggil Rian dengan sebutan tersebut.
Kenapa denganku? Kenapa sekarang aku tidak memiliki perasaan apa pun kepada Mas Rian? Bahkan aku juga tidak bisa memanggil Mas Rian dengan sebutan Ayah. Apa Mas Rian sudah mengetahui tentang perselingkuhan ku dengan Mas Arya makanya Mas Rian tidak memanggilku dengan sebutan Bunda lagi, Mas Rian juga terlihat menjaga jarak terhadapku? Batin Suci kini bertanya tanya.
*
__ADS_1
*
Bersambung