
Bu Rita hanya diam mematung karena tidak percaya jika saat ini Papa Ferdi berada di hadapannya, padahal semalam Papa Ferdi menelpon untuk memberitahukan tentang kabar Alina yang sudah melahirkan.
"M_Mas Ferdi," ucap Bu Rita dengan gugup.
"Rita, kamu baik-baik saja kan?" tanya Papa Ferdi dengan mendekati Bu Rita.
"Aku baik-baik saja. Mas Ferdi mau apa datang ke sini? Bukannya Mas menyuruh aku untuk tinggal di sini sampai Alina mau menerimaku?"
"Alina sudah bisa menerima kamu, makanya aku datang ke sini untuk menjemput kamu. Mana Putri? Aku kangen sekali sama Cucuku," ujar Papa Ferdi.
Beberapa saat kemudian, Hesti ke luar membawa Putri karena mendengar suara Papa Ferdi yang menanyakan keberadaan Cucunya.
"Putri sayang, Kakek kangen sekali sama Putri. Besok Putri sama Nenek ikut Kakek pulang ya," ujar Papa Ferdi dengan mengambil Putri dari gendongan Hesti.
"Jadi Ibu sama Putri mau pulang besok juga? Hesti sama Irwan juga mau pulang besok Bu," ujar Hesti, tapi Bu Rita masih berpikir, karena Bu Rita takut jika Alina menolak kehadirannya.
"Mas, sebaiknya aku dan Putri jangan pulang dulu, aku takut Alina masih belum bisa menerimaku," ucap Bu Rita dengan lirih.
"Aku pastikan Alina akan menerima kamu, karena dia sendiri yang sudah berjanji akan bersujud di hadapan kamu," ujar Papa Ferdi.
"Kenapa Mas bicara seperti itu? Aku bukan Tuhan, tidak sepantasnya Alina melakukan sujud kepadaku," ujar Bu Rita.
"Tapi kamu adalah Ibu kandungnya, jadi dia pantas melakukan sujud untuk menghormati kamu, karena Surga berada di telapak kaki Ibu," ujar Papa Ferdi kemudian menceritakan alasan kenapa Alina mau melakukan sujud kepada Bu Rita.
Bu Rita menghela nafas panjang mendengar cerita Papa Ferdi.
"Mas, jika seperti itu ceritanya, aku masih belum bisa ikut pulang besok," ujar Bu Rita yang tidak mau jika Alina terpaksa menerima kehadirannya karena sebuah janji yang Alina buat dengan Papa Ferdi.
"Kenapa kamu tidak bisa ikut pulang?" tanya Papa Ferdi yang merasa kecewa dengan keputusan yang di ambil oleh Bu Rita.
"Mas, aku tidak mau kalau Alina terpaksa menerimaku hanya karena janji yang sudah dia berikan kepada Mas. Aku ingin Alina menerimaku karena ikhlas dari hatinya. Jika suatu saat nanti Alina sudah bisa menerimaku tulus dari dasar hatinya, baru aku akan ikut pulang," ujar Bu Rita.
Papa Ferdi sebenarnya mencemaskan Bu Rita dan Putri, apalagi Bu Rita tidak memiliki sanak saudara di Jawa timur.
__ADS_1
"Rita, tapi aku mengkhawatirkan kamu dan Putri. Di sini kalian tidak memiliki sanak saudara, bagaimana kalau sampai terjadi sesuatu pada kalian? Kalau memang kamu belum siap untuk bertemu dengan Alina, setidaknya kamu ikut aku pulang ke Jakarta, nanti aku akan membelikan rumah untuk kalian tinggal," ujar Papa Ferdi.
Suci yang tidak sengaja mendengar percakapan Papa Ferdi dan Bu Rita, ke luar untuk menyampaikan pendapatnya.
"Tuan, sebelumnya saya minta maaf karena sudah ikut campur dengan masalah Tuan dan Bu Rita, tapi Bu Rita sudah saya anggap sebagai Ibu kandung saya sendiri, jadi saya tidak keberatan apabila Ibu dan Putri tinggal bersama saya di rumah ini," ujar Suci.
Papa Ferdi terlihat bingung ketika mendengar perkataan Suci, karena Papa Ferdi belum pernah bertemu dengan Suci.
"Mas, ini namanya Suci, dan Suci sudah aku anggap sebagai Anak kandungku sendiri, bahkan suci yang dulu sudah mengajak aku menuju jalan kebenaran sewaktu aku berada di dalam Penjara."
"Jadi ini Suci yang selalu kamu ceritakan? Bukannya Suci_" perkataan Papa Ferdi terhenti karena dipotong oleh Bu Rita.
"Suci adalah cahaya kami, jadi Tuhan tidak mungkin tega mengambil Suci dengan cara seperti itu," ujar Bu Rita yang sebelumnya pernah menceritakan kepada Papa Ferdi tentang Suci yang meninggal dunia karena tertabrak mobil, bahkan wajahnya sampai hancur dan tidak dapat dikenali lagi.
"Nak Suci, saya mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya, karena Nak Suci sudah menyayangi Rita. Meski pun Rita masih belum bisa mendapatkan kasih sayang dari Anak kandungnya sendiri, tapi saya bahagia karena Rita sudah bisa merasakan kasih sayang dari Nak Suci," ujar Papa Ferdi.
"Tuan, sudah seharusnya sebagai sesama manusia kita melakukan semua itu," ujar Suci dengan tersenyum.
"Bu, Pak, sebaiknya kita lanjutin ngobrolnya di dalam, kasihan Putri takut kedinginan, sebentar lagi juga udah mau masuk waktu maghrib," ujar Suci.
Semuanya masuk ke dalam rumah, dan Papa Ferdi yang melihat Rian, langsung menghampirinya untuk mengucapkan bela sungkawa secara langsung.
......................
Malam kini telah tiba, semuanya memutuskan untuk masuk ke dalam kamar masing-masing supaya bisa beristirahat, tapi Suci terlihat ragu karena harus satu kamar dengan Arya yang dia pikir hanya Suami pura-pura nya.
"Sayang, kenapa Suci diam saja? Memangnya kamu gak mau masuk?" tanya Arya yang melihat Suci hanya berdiri di depan pintu kamar, padahal kedua Anak mereka sudah terlelap di dalam box bayi yang berada di dalam kamar Arya.
"Mas, tapi aku takut berdosa jika kita berada dalam satu kamar hanya berdua saja," ujar Suci.
"Siapa bilang berdua? Kita berempat sama Arsyila dan Rizky. Sebaiknya sekarang kamu masuk, nanti Mama bisa curiga kalau lihat kita malah ngobrol di sini," ujar Arya dengan menarik lembut tangan Suci supaya ikut masuk ke dalam kamarnya.
Setelah selesai mengganti pakaian, Arya merebahkan tubuhnya di atas ranjang, sedangkan Suci masih duduk di tepi ranjang.
__ADS_1
"Sayang, kenapa kamu masih belum ganti baju?" tanya Arya.
"Mas, aku_" ujar Suci yang tidak melanjutkan perkataannya dan memilih masuk ke dalam kamar mandi untuk mengganti pakaian.
Arya yang melihat Suci terus berdiri, kembali angkat suara.
"Kenapa? Kamu takut kalau aku bakalan macem-macem? Meski pun kita tidur satu kamar, bahkan satu ranjang, tapi aku tau batasanku kok," ujar Arya.
Seandainya saja aku dan Mas Arya adalah Suami Istri beneran, aku tidak akan merasa takut seperti ini kan. Mikir apa kamu Suci, seharusnya kamu tidak usah mikir yang aneh-aneh, ucap Suci dalam hati.
Arya memakai guling sebagai pembatas antara dirinya dan Suci, dan akhirnya Suci mau membaringkan tubuhnya.
"Mas jangan sampai lewatin pembatas ya," ujar Suci dengan memiringkan tubuhnya melihat ke arah Arya.
"Iya, tapi gak janji," ujar Arya.
"Kok gitu?" tanya Suci.
"Namanya juga lagi tidur, pasti gak bakalan sadar lah, bagaimana kalau nanti malah kamu yang melewati batas?" ujar Arya dengan menahan senyum ketika melihat wajah Suci yang cemberut.
"Aku tidak mungkin sampai seperti itu," ujar Suci kemudian mencoba memejamkan matanya.
"Ya sudah, kita lihat saja nanti," ujar Arya dengan tersenyum.
Setelah Suci terlelap, Arya sengaja menendang guling ke bawah tempat tidur, kemudian Arya membawa Suci ke dalam pelukannya.
Semua ini rasanya masih seperti mimpi. Terimakasih Tuhan karena telah mengembalikan Suci ku, semoga saja Suci tidak membenciku jika suatu saat nanti ingatannya kembali, batin Arya, kemudian menyusul Suci menuju alam mimpi.
*
*
Bersambung
__ADS_1