
Setelah semalaman berada di klub malam, Rian memutuskan untuk pulang, apalagi Mama Linda terus saja menelpon menanyakan kabar Alina.
Setelah sampai rumah, Mama Linda terkejut melihat Rian yang berpenampilan acak-acakan, bahkan dari mulut Rian tercium aroma alkohol.
"Rian, kenapa kamu Nak? apa kamu mabuk?"
"Iya, Mama benar, dan semua itu karena Mama."
"Apa maksud kamu Rian?"
"Seandainya saja dulu Mama tidak berusaha memisahkan Rian dan Suci, saat ini kami pasti sudah hidup bahagia. Sekarang Mama puas karena Suci sudah menjadi milik oranglain !!"
"Rian, kenapa kamu masih belum juga bisa melupakan perempuan kotor itu?"
"Bagi Rian, selamanya Suci akan tetap suci, dan Mama tidak berhak menghina Suci, karena yang seharusnya Mama bilang kotor adalah Menantu kesayangan Mama."
"Apa maksud kamu Rian? padahal dari kemarin Mama menunggu kabar tentang Alina. Bagaimana kondisi Alina sekarang? apa Cucu Mama sudah lahir?"
"Ma, bayi yang dilahirkan Alina bukan Cucu Mama, karena Putri bukan darah daging Rian."
"Apa maksud kamu Nak? meski pun Alina sudah berbuat kurang ajar kepada Mama, tapi bayi yang dilahirkan Alina tidak berdosa."
"Mama lihat sendiri hasil tes kesuburan Rian. Rian mandul Ma, jadi tidak mungkin lelaki mandul seperti Rian memiliki Anak," ujar Rian dengan memberikan hasil tes kesuburannya kepada Mama Linda.
Mama Linda begitu terkejut ketika melihat hasil tes kesuburan Rian, karena Rian adalah satu-satunya harapan Mama Linda untuk memberikan generasi penerus dalam keluarganya.
"Tidak mungkin, tidak mungkin kamu mandul, padahal hanya kamu harapan kami satu-satunya, hanya Rian yang Mama harapkan bisa memberikan keturunan untuk meneruskan keluarga kita," ujar Mama Linda dengan menangis.
Tiba tiba terdengar suara Papa Ardi yang saat ini terlihat menggandeng perempuan cantik yang tengah hamil menghampiri Mama Linda dan Rian.
__ADS_1
"Mama tidak perlu khawatir, meski pun Rian mandul, tapi sekarang istri muda Papa tengah hamil, dan mungkin Anak Papa dari Marlina bisa menjadi penerus keluarga kita," ujar Papa Ardi dengan tersenyum bahagia.
Mama Linda bagai tersambar petir ketika mendengar perkataan Papa Ardi, karena pada waktu bersamaan, Mama Linda harus menerima dua kabar buruk sekaligus.
"A_apa maksud Papa dengan istri muda?" teriak Mama Linda.
"Ma, seharusnya Mama sadar diri. Saat ini kondisi Mama sudah sakit, Mama sudah tidak bisa melayani kebutuhan biologis Papa, jadi wajar saja jika Papa kembali menikah."
"Kenapa Papa tega melakukan semua itu? sampai kapan pun Mama tidak akan pernah rela dipoligami !!" teriak Mama Linda.
"Suka tidak suka, kamu mengijinkan atau tidak, tapi aku sudah melakukannya, apalagi saat ini Marlina sedang hamil Anak ku," tegas Papa Ardi.
"Kalian pasti sudah berselingkuh dari sebelum aku mengalami kecelakaan kan? apalagi perempuan ja*lang ini sudah hamil besar. Kamu tega sekali Pa, padahal Mama yang menemani Papa dari nol, Mama yang memberikan Papa modal untuk membuka usaha, tapi Mama tidak mengira jika Papa akan mengkhianati pernikahan kita," ujar Mama Linda dengan menangis.
"Harusnya kamu sadar diri Linda, dari dulu kamu selalu merendahkan ku, kamu selalu sok berkuasa dengan semua yang kamu miliki. Aku juga punya harga diri, dan aku ingin memiliki seorang istri yang bisa mencintai serta menghargai ku sebagai Suaminya. Jika kamu keberatan dipoligami, aku akan menceraikan kamu," tegas Papa Ardi.
Rian hanya diam tanpa berkomentar apa pun, apalagi sampai ikut campur dengan urusan rumah tangga kedua orangtuanya.
"Ma, selama ini Mama sudah bersikap keterlaluan kepada Papa, dan Mama tidak pernah menghargai Papa sebagai sebagai seorang Suami, jadi wajar saja apabila Papa mencari perempuan lain yang bisa menghargainya."
"Kalian benar benar keterlaluan, pergi kalian semua dari sini, aku tidak membutuhkan pengkhianat seperti kalian," teriak Mama Linda.
"Ma, seharusnya Mama sadar, mungkin ini adalah karma karena Mama telah sering melakukan kejahatan, apalagi terhadap Suci," ujar Rian.
"Rian benar, selama ini kamu selalu menghalalkan segala cara untuk mendapatkan semua yang kamu mau. Apa kamu pikir aku tidak tau jika dulu kamu yang sudah menyuruh orang untuk menabrak Suci, tapi akhirnya malah Rian yang tertabrak? jelas jelas kamu yang bersalah, tapi dengan teganya kamu menuduh Suci mencelakai Rian, bahkan kamu sampai menjebloskan Suci ke dalam penjara. Kamu memang manusia yang tidak memiliki hati Linda," ujar Papa Ardi kemudian mengajak Istrinya untuk pergi dari kediaman Mama Linda.
Rian terkejut ketika mendengar kenyataan jika Mama Linda sudah tega mencelakai Suci, padahal Rian mengira jika Mama Linda hanya membayar orang untuk menjadi Saksi palsu saja.
"Jadi Mama yang sudah menyuruh orang untuk menabrak Suci, tapi Mama malah menuduh Suci yang mencelakai Rian? padahal jelas jelas Mama yang sudah mencelakai Anak Mama sendiri."
__ADS_1
Mama Linda hanya diam dan tidak dapat menyangkal semua kejahatan yang telah dia lakukan.
"Kenapa Mama tega sekali melakukan semua itu? tapi Rian bersyukur karena saat itu Rian yang tertabrak. Jika sampai Suci yang tertabrak, Rian pasti akan merasa bersalah dalam seumur hidup Rian."
"Rian, kenapa yang kamu pikirkan hanya perempuan kampung itu? padahal sekarang Mama sedang bersedih karena perselingkuhan Papa kamu. Dan kamu harus tau, kalau Mama melakukan semua itu untuk kebahagiaan kamu juga."
"Apa Mama pikir dengan mencelakai orang yang Rian cintai, Rian akan merasa bahagia? Padahal Rian selalu mendengar jika seorang Ibu akan melakukan apa pun untuk kebahagiaan Anaknya, bahkan banyak Ibu di luar sana yang sampai rela mengorbankan hidupnya, tapi tidak dengan Mama, karena kenyataannya Mama adalah seorang Ibu yang menghancurkan hidup Anaknya sendiri," ujar Rian dengan menangis.
Hati Mama Linda terasa sakit ketika melihat Rian menangis pilu, dan Mama Linda merasa bersalah terhadap Rian.
"Rian, maafkan semua kesalahan Mama Nak. Mama menyesal telah melakukan semua itu."
"Apa dengan meminta maaf, Mama bisa mengembalikan Suci kepada Rian? sekarang sudah terlambat Ma, Suci sudah menjadi milik orang lain, dan seharusnya Mama meminta maaf kepada Suci, bukan kepada Rian."
Rian memutuskan untuk pergi dari rumah orangtuanya, meski pun Mama Linda terus berteriak dan berusaha mencegah kepergian Rian.
"Rian, jangan pergi Nak, Mama mohon jangan tinggalkan Mama, hanya Rian yang Mama miliki di Dunia ini."
"Maaf Ma, tapi saat ini Rian butuh waktu untuk sendiri," ujar Rian yang sudah bulat dengan keputusannya untuk pergi dari kediaman Mama Linda, tapi sebelum pergi, Rian menitipkan Mama Linda terlebih dahulu kepada Asisten rumah tangganya, karena bagaimanapun juga Mama Linda tetaplah Ibu kandung Rian.
"Bi, tolong jaga Mama ya, kalau ada apa-apa Bibi telpon saya saja."
"Baik Den, saya pasti akan menjaga Nyonya dengan baik," ujar Asisten rumah tangga Rian.
Rian memutuskan untuk pergi menuju Restoran miliknya yang berada di luar kota dengan harapan supaya bisa melupakan Suci dan juga masalah yang terjadi dalam keluarganya.
Semoga dengan menjauh dari kehidupan kamu, aku bisa melupakan kamu Suci, batin Rian.
*
__ADS_1
*
Bersambung