
Farel terlihat salah tingkah mendengar pertanyaan Arya, karena sebenarnya Farel merasa malu untuk mengakui perselingkuhannya dengan Karin.
"Aku sama Karin tidak berbuat macam-macam, karena tadi dia sendiri yang berinisiatif untuk mencium ku," jawab Farel dengan tersipu malu.
"Apa kalian berselingkuh?"
"Iya, kami memutuskan untuk menjalin hubungan, karena aku ingin berusaha melupakan Alina," jawab Farel dengan tertunduk sedih.
"Farel, aku mengerti perasaan kamu, tapi jangan sampai kamu kembali salah memilih pendamping hidup, entah kenapa aku merasa jika Karin tidak akan bisa menerima Putri dan Ratu. Semoga saja semua itu hanya dugaanku," ujar Arya dengan menepuk bahu Farel.
Sepanjang perjalanan pulang, Farel menceritakan kepada Arya tentang kejadian di Restoran saat dirinya mengajak Karin makan siang.
"Alina benar-benar perempuan egois. Dia tidak mau melayani kamu, tapi dia juga tidak rela melihat kamu dengan perempuan lain. Mungkin keputusan berpisah dengan Alina adalah keputusan terbaik untuk kamu dan Putri, daripada Putri yang terus terusan menjadi sasaran kemarahan Alina," ujar Arya.
"Aku juga kasihan sama Putri jika dia terus-terusan diperlakukan tidak adil oleh Alina. Tapi entah kenapa dari dulu sampai sekarang, Karin tidak bisa menggetarkan hatiku saat aku berada di dekatnya," ujar Farel.
"Kamu sama Karin kan baru pacaran, siapa tau dengan seiring waktu perasaan kamu terhadapnya mulai tumbuh, atau mungkin suatu saat nanti kamu akan bertemu dengan perempuan yang bisa menggetarkan hati kamu," ujar Arya.
Arya dan Farel telah sampai di kediaman Argadana. Keduanya langsung menghampiri Suci dan Ayu yang sedang duduk di Taman untuk mengawasi Anak-anak bermain.
"Assalamu'alaikum," ucap Farel dan Arya secara bersamaan.
"Wa'alaikumsalam. Papa udah pulang?" tanya Suci kepada Arya yang saat ini tengah memeluk tubuhnya dari belakang.
"Iya Ma, hari ini Papa sibuk sekali, tapi Farel malah asyik pacaran," ujar Arya.
"Pacaran sama siapa? Kamu tidak mungkin berselingkuh kan Farel?" tanya Suci dengan memicingkan matanya.
"Dia memutuskan untuk menjalin hubungan dengan Karin. Mama ingat kan sama Sekretaris Irwan yang dari dulu selalu berusaha mengejar-ngejar Farel? Dan Farel sengaja ingin membalas perbuatan Alina, tadi saja katanya Alina sampai kebakaran jenggot ketika melihat Karin dan Farel."
"Kami hanya bisa mendo'akan yang terbaik untuk kehidupan kamu, meski pun kami tidak bisa membenarkan tentang perselingkuhan yang kamu dan Karin lakukan. Kalau begitu sekarang kita masuk, Anak-anak juga belum mandi. Papa mau mandi atau mau makan dulu?" tanya Suci.
"Papa mau dimandiin," ujar Arya dengan cengengesan, dan Suci memutar malas bola matanya.
Setelah Suci memanggil Anak-anaknya untuk mandi, Ayu membantu menyiapkan pakaian Putri dan ketiga Anak Suci.
"Sayang, kalau sudah selesai mandinya, kita makan dulu," ujar Suci kepada Anak-anaknya.
Beberapa saat kemudian, semuanya sudah berkumpul di meja makan, dan Suci memaksa Ayu untuk ikut bergabung.
"Teh, Ayu makan di belakang saja ya," ujar Ayu yang tidak enak jika harus satu meja makan dengan majikan.
"Ayu, kamu sudah kami anggap sebagai keluarga, jadi kamu tidak perlu sungkan," ujar Suci dengan mengajak Ayu duduk.
__ADS_1
Setelah semuanya selesai makan malam, Farel pamit kepada Suci dan Arya.
"Suci, Arya kalau begitu sekarang kami pulang dulu ya. Terimakasih karena kalian sudah membantu menjaga Putri," ucap Farel.
"Farel, kalau ada apa-apa kamu tidak perlu sungkan, karena kita adalah keluarga. Aku titip Ayu ya, aku yakin kalau kamu akan menjaganya dengan baik," ujar Suci, kemudian memeluk Ayu dan Putri.
"Kak Putri sama Teh Ayu sering-sering main ke sini ya," ujar Arsyila.
"Iya, nanti kalau Daddy tidak sibuk, Kak Putri pasti main ke sini."
Farel, Ayu dan Putri mengucapkan salam sebelum pulang, kemudian ketiganya menuju mobil.
"Teh Ayu duduk di depan saja, biar Putri duduk di belakang," ujar Putri.
"Teteh di belakang saja Put," ujar Ayu yang tidak enak jika harus duduk di sebelah Farel.
"Kata Daddy, kita harus menghormati orang yang lebih tua, Teh Ayu kan lebih tua dari Putri, jadi tidak mungkin Putri duduk membelakangi Teh Ayu."
"Sudahlah Yu, kamu turuti saja permintaan Putri," ujar Farel.
Setelah ketiganya masuk ke dalam mobil, Putri dan Ayu melambaikan tangannya kepada Suci dan keluarga.
"Sepertinya Farel suka sama Ayu," ujar Arya.
"Kenapa Papa bisa berpikir seperti itu? Mereka kan baru saja bertemu?" tanya Suci yang merasa heran dengan perkataan Arya.
"Bukannya saat ini Farel menjalin hubungan dengan Karin? Mama tidak mau kalau Farel mempermainkan Ayu, apalagi sampai menyakitinya."
"Farel sudah berubah Ma. Farel hanya menjadikan Karin sebagai pelarian saja, karena Farel tidak memiliki perasaan apa pun untuk Karin. Sebenarnya Papa takut kalau Karin tidak bisa menerima kedua Anak Farel, terlebih lagi Putri yang memiliki kekurangan.
"Sekarang kita hanya bisa mendo'akan yang terbaik saja untuk semuanya, jangan sampai ada hati yang tersakiti," ujar Suci.
......................
Setelah sampai rumahnya, Farel menyuruh Ayu dan Putri untuk beristirahat.
"Ayu, kamu tidur sama Putri ya, kamar tamu juga belum sempat aku beresin," ujar Farel, dan Ayu hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Yuk Teh, kita ke kamar, Putri seneng banget karena sekarang ada Teh Ayu yang akan menemani Putri tidur," cerocos Putri dengan menarik tangan Ayu menuju kamar mereka.
"Gadis yang cantik dan polos. Kenapa aku merasakan getaran aneh dalam dadaku saat melihat Ayu? Perasaan ini sama seperti yang dulu aku rasakan terhadap Alina. Tidak mungkin kan kalau aku jatuh cinta sama Ayu? Kamu harus sadar Farel, saat ini kamu dan Alina masih belum bercerai, apalagi aku juga sudah menjalin hubungan dengan Karin," gumam Farel kemudian masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat.
Keesokan paginya..
__ADS_1
Farel mencium aroma masakan, dan ternyata Ayu sudah bangun untuk memasak.
"Yu, kamu bisa masak juga?" tanya Farel dengan menghampiri Ayu di dapur.
"Saya masih belajar Tuan. Maaf kalau saya sudah lancang mengambil bahan-bahan masakan dari dalam kulkas," jawab Ayu dengan terus menundukkan kepalanya.
"Aku memang sengaja membeli semuanya untuk dimasak, jadi kamu tidak perlu meminta ijin sama aku, kalau ada makanan yang kamu mau, kamu ambil saja. Oh iya, kamu kenapa kalau bicara sama Saya selalu menundukkan kepala?" tanya Farel.
"Kita bukan muhrim Tuan, jadi saya harus menjaga pandangan saya," jawab Ayu, dan Farel merasa kagum dengan perkataan Ayu.
Beberapa saat kemudian, Putri ke luar dari dalam kamarnya.
"Sayang, Putri sudah bangun?" tanya Farel.
"Tadi Putri dibangunin sama Teh Ayu untuk Shalat Subuh berjamaah, Putri juga di ajarin mengaji sama Teh Ayu," jawab Putri yang terlihat bahagia.
Baru kali ini aku melihat Putri tersenyum bahagia. Selain cantik, Ayu juga perempuan yang baik. Ayu benar-benar calon istri idaman. Eh kenapa aku sampai membayangkan jika Ayu adalah istriku? Ucap Farel dalam hati dengan memukul pelan kepalanya.
"Daddy sakit kepala ya? Kenapa kepala Daddy dipukul seperti itu?" tanya Putri.
"Tidak apa-apa sayang. Sebaiknya sekarang kita sarapan, sepertinya masakan Ayu enak," ujar Farel dengan mencoba masakan Ayu, dan Farel langsung memuji masakan Ayu yang enak.
"Masakan kamu enak juga Yu."
"Saya masih harus banyak belajar lagi Tuan."
Farel terkejut ketika melihat Ayu mengisi piringnya dan piring Putri, karena sebelumnya Farel tidak pernah mendapatkan perlakuan seperti itu dari Alina.
"Tuan kenapa diam saja?"
"Eh, tidak apa-apa, makasih banyak ya. Sebaiknya sekarang kamu juga sarapan bareng sama kami," ujar Farel.
Ayu awalnya ingin menolak, tapi Putri terus menarik tangannya, sampai akhirnya Ayu dengan malu-malu ikut sarapan bersama Farel dan Putri.
Beberapa saat kemudian, terdengar suara seseorang membuka pintu dan masuk begitu saja ke dalam rumah Farel.
Prok prok prok
Suara tepuk tangan seseorang yang melihat Farel, Ayu dan Putri yang sedang sarapan bersama.
"Sungguh keluarga yang harmonis."
*
__ADS_1
*
Bersambung