Suci Tak Lagi Suci

Suci Tak Lagi Suci
Bab 140 ( Jangan tinggalkan kami )


__ADS_3

Irwan yang sudah merasa lebih baik, meminta Mama Maya supaya mengantarnya menuju ruang bayi, karena Irwan belum sempat mengadzani kedua Anaknya.


"Ma, Irwan ingin melihat si Kembar, tadi Irwan belum sempat mengadzani mereka."


"Ya sudah, kalau begitu sekarang kita lihat si Kembar ke ruang bayi, kebetulan ruangannya bersebelahan dengan ruang operasi," ujar Mama Maya dengan membantu Irwan berjalan, karena saat ini tubuh Irwan masih terasa lemas.


Sesampainya di ruang bayi, Irwan menitikkan airmata ketika melihat kedua bayinya, kemudian Irwan mengambil satu persatu bayinya untuk ia Adzani.


Mama Maya ikut menangis ketika melihat Irwan mengumandangkan suara Adzan dengan airmata yang terus mengalir membasahi pipinya.


......................


Di dalam ruang operasi, Dokter terus berusaha menyelamatkan nyawa Hesti yang sudah semakin kritis.


"Dok, tekanan darah pasien semakin menurun, kemungkinan besar keberhasilan operasi hanya sepuluh persen," ujar salah satu Dokter kepada Dokter lainnya.


"Kita harus tetap berusaha menyelamatkan nyawa Pasien. Sebaiknya kita angkat rahimnya, karena rahim pasien sudah mengalami infeksi," ujar Dokter satunya lagi, sampai akhirnya alat pendeteksi jantung Hesti berhenti berdetak setelah Dokter selesai melakukan operasi.


"Dok, Pasien telah meninggal dunia," ujar Perawat.


"Innalillahi wa inna ilaihi raji'un," ucap semuanya.


"Sus, catat waktu kematian Pasien, biar saya sendiri yang menyampaikan berita duka kepada keluarganya," ujar Dokter, kemudian ke luar dari dalam ruang operasi dengan langkah gontai.


Ketika Dokter membuka pintu, Irwan dan kedua orangtuanya sudah berdiri di depan pintu ruang operasi, karena sebelumnya mereka melihat lampu di atas pintu ruang operasi sudah padam.


"Dok, bagaimana keadaan Istri saya?" tanya Irwan, tapi Dokter terus menundukkan kepalanya karena masih belum siap menyampaikan berita duka kepada Irwan dan keluarga.


"Dok, cepat katakan, apa operasi Istri saya berhasil?" tanya Irwan lagi dengan menarik pakaian yang Dokter kenakan.


"Irwan, jangan seperti ini Nak," ujar Mama Maya dengan menarik tangan Irwan dari pakaian Dokter.


Setelah beberapa kali mengembuskan nafas secara kasar, Dokter akhirnya angkat suara.


"Mohon maaf Tuan, kami sudah berusaha sebaik mungkin, tapi kami tidak bisa menyelamatkan nyawa Pasien," ucap Dokter dengan lirih.


"Tidak, tidak mungkin, kalian pasti berbohong. Hesti tidak mungkin meninggalkan kami," ujar Irwan dengan menangis, kemudian menerobos masuk ke dalam ruang operasi.


Irwan diam mematung ketika melihat tubuh Hesti yang saat ini berada di hadapannya, kemudian secara perlahan Irwan mendekati Hesti, lalu memeluk tubuhnya dengan erat.


"Sayang, kamu pasti hanya tidur kan? Sekarang buka mata kamu, apa kamu tidak mau melihat aku dan kedua bayi kita," teriak Irwan dengan menggoyangkan tubuh Hesti yang saat ini berada dalam dekapannya.


"Tuan, jangan seperti ini, kasihan Nyonya jika Tuan tidak mengikhlaskannya," ujar salah satu Perawat.

__ADS_1


"Tidak, Hesti masih hidup, Hesti sudah berjanji tidak akan meninggalkan aku dan Anak-anak," ujar Irwan dengan terus memeluk tubuh Hesti.


Beberapa saat kemudian, Mama Maya dan Papa Andi masuk ke dalam ruang Operasi dengan membawa si Kembar.


"Irwan, kamu harus kuat demi si Kembar Nak," ujar Mama Maya, kemudian Mama Maya meletakan kedua Anak Hesti di samping Hesti.


"Biarkan si Kembar berada di samping Bunda nya untuk yang terakhir kali," ujar Mama Maya dengan menangis memeluk tubuh Papa Andi.


Kedua Anak Irwan menangis kencang sehingga membuat semua yang berada di sana ikut menangis juga.


"Hesti, apa kamu tidak mau bangun untuk melihat Anak kita. Aku mohon jangan tinggalkan kami," ucap Irwan dengan lirih, dan Irwan terus menggenggam erat tangan Hesti tanpa mau melepaskannya.


Semuanya merasa terkejut karena tiba-tiba alat pendeteksi jantung Hesti kembali menyala.


"Dok, Istri saya masih hidup, cepat periksa Hesti," ujar Irwan kemudian bergegas mengambil kedua Anaknya dari samping Hesti.


Dokter memeriksa kondisi Hesti secara seksama, sampai akhirnya Dokter tersenyum karena Hesti sudah berhasil melewati masa kritisnya.


"Ini adalah sebuah keajaiban, ternyata ikatan batin Ibu dan Anak sangat kuat, dan Nyonya Hesti telah berhasil melewati masa kritisnya. Sekarang Nyonya sudah bisa dipindahkan ke kamar perawatan, dan kita tinggal menunggu Nyonya Hesti siuman," ujar Dokter.


"Alhamdulillah Ya Allah," ucap Irwan dengan melakukan sujud syukur.


......................


"Dasar lelaki mesum, kamu pasti sengaja kan cari-cari kesempatan biar bisa dekat-dekat denganku?" teriak Susi, dan Asep yang takut jika sampai suara Susi terdengar oleh orang lain, tiba-tiba membungkam Susi dengan ciuman.


Setelah keduanya kehabisan pasokan oksigen, Asep melepaskan ciumannya kepada Susi.


"Kamu tidak usah teriak-teriak, nanti orang lain mengira jika aku sudah menindas kamu," ujar Asep.


Susi hanya diam mematung karena masih terkejut dengan yang dilakukan Asep terhadapnya.


Kenapa bibirnya manis sekali? Wajahnya juga lumayan tampan. Tidak Susi, kamu jangan sampai jatuh cinta kepada Asep, batin Susi yang berusaha menampik semuanya.


"Kenapa kamu lihatin wajah aku terus? Apa kamu baru sadar kalau aku memang tampan?" goda Asep dengan mendekatkan wajahnya pada Susi.


"Gak usah ke GR an kamu, sekarang juga lepasin pelukan kamu terhadapku," ujar Susi.


"Apa aku tidak salah dengar? Lihat saja sendiri, siapa yang memeluk siapa, dari tadi juga kamu yang memeluk tubuhku," ujar Asep dengan tersenyum.


"Tidak mungkin seperti itu," ujar Susi, kemudian melihat ke arah tangannya yang saat ini masih melingkar pada pinggang Asep.


Susi merasa malu karena ternyata dia yang sudah memeluk erat tubuh Asep, sampai akhirnya secara perlahan Susi melepaskan tangannya dari pinggang Asep, kemudian berlari menuju kamar mandi.

__ADS_1


"Susi begitu cantik dan menggemaskan. Kapan kamu bisa menerima aku menjadi Suami kamu?" gumam Asep.


......................


Kondisi Mama Erina semakin membaik setelah kedatangan Suci dan keluarganya, apalagi Suci merawat Mama Erina dengan telaten.


"Ma, sekarang Mama makan dulu ya sebelum minum obat," ujar Suci dengan membawa nasi dan semangkuk sup Ayam buatannya.


"Sayang, apa Suci sudah makan?" tanya Mama Erina.


"Suci nanti saja makannya setelah Mama makan dan minum obat," jawab Suci dengan tersenyum.


"Makasih banyak ya Nak, maaf Mama sudah ngerepotin."


"Mama tidak boleh berbicara seperti itu, sudah seharusnya seorang Anak merawat orangtuanya."


"Tapi dulu Mama tidak pernah merawat Suci," ujar Mama Erina dengan tertunduk sedih.


"Ma, meski pun dulu Mama tidak merawat Suci, tapi Mama yang sudah merawat dan membesarkan Suami Suci. Sebaiknya kita jangan pernah membicarakan lagi masalalu ya, kita harus melupakannya dan membuka lembaran baru. Sekarang Mama makan dulu, Suci sengaja masak sup ayam untuk Mama."


Mata Mama Erina berkaca-kaca melihat perhatian yang Suci berikan, dan Mama Erina begitu bersyukur karena memilik Anak sebaik Suci.


Terimakasih Tuhan karena Engkau telah memberikan Anak secantik dan sebaik Suci. Maafkan dosa hamba karena dulu sudah menyia-nyiakannya, ucap Mama Erina dalam hati.


Setelah selesai menyuapi Mama Erina dan memberikan obat, Suci ke luar dari dalam kamar Mama Erina.


"Sayang, barusan Irwan telpon katanya Hesti sudah melahirkan," ujar Arya.


"Alhamdulillah, sekarang kita punya Keponakan baru. Kalau begitu sekarang kita ke Rumah Sakit ya Pa," ujar Suci.


"Iya, tapi sebaiknya Mama makan dulu, Hesti juga katanya masih belum siuman setelah melakukan operasi."


"Lho, bukannya Hesti ingin melahirkan secara normal?"


"Hesti memang melahirkan secara normal, tapi katanya ada gumpalan darah pada rahimnya, jadi Hesti melakukan operasi pengangkatan rahim."


"Innalillahi, tapi kondisi Hesti baik-baik saja kan? Sebaiknya kita ke Rumah Sakit sekarang ya Pa, Mama khawatir dengan keadaan Hesti."


"Mama jangan khawatir, sekarang Hesti sudah berhasil melewati masa kritisnya, sebaiknya sekarang Mama makan dulu, nanti Papa antar Mama ke Rumah Sakit."


*


*

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2