
Suci baru menyadari kalau dia terus memegangi tangan Arya ketika Dokter datang untuk memeriksanya.
"Nyonya, bagaimana keadaan Anda, apa Anda memiliki keluhan?" tanya Dokter.
"Kepala saya masih sedikit sakit Dok," jawab Suci.
"Apa tangan Anda juga sakit? kelihatannya dari tadi Anda tidak mau jauh dari Suami Anda," ujar Dokter, dan Suci langsung melepaskan pegangan tangannya dari Arya dengan tersenyum malu.
Kenapa sejak aku siuman, aku ingin selalu dekat dengan Mas Arya ya? Aku juga tidak mungkin mengatakan kepada Dokter kalau dia bukan Suamiku, karena aku pasti akan merasa semakin malu, batin Suci kini bertanya-tanya.
Setelah selesai memeriksa kondisi Suci, Arya menanyakan kepada Dokter kapan Suci akan melakukan pemasangan ring pada jantungnya.
"Dok, kapan Suci bisa melakukan pemasangan ring?"
"Besok kita sudah bisa melakukan pemasangan ring, karena saya lihat kondisi Nyonya sudah lebih baik. Kalau begitu saya permisi dulu," ujar Dokter, kemudian ke luar dari dalam kamar perawatan Suci.
Suci yang belum tau tentang penyakit jantungnya, langsung bertanya kepada Arya.
"Mas Arya, memangnya ring apa yang harus dipasangkan kepada Suci?"
"Suci, sebenarnya jantung kamu mengalami penyumbatan, jadi Dokter menyarankan untuk melakukan pemasangan ring sebelum kita mendapatkan donor jantung yang cocok untuk kamu," jawab Arya.
"A_apa? Jadi aku punya penyakit jantung? Apa umurku tidak akan lama lagi?" tanya Suci dengan menitikkan airmata, karena Suci teringat dengan Anak-anaknya apabila dia sampai meninggal dunia.
"Suci, jangan menangis, kamu adalah perempuan kuat, dan aku yakin kalau kamu pasti akan sembuh," ujar Arya dengan memeluk tubuh Suci, dan anehnya Suci merasakan kenyamanan saat berada dalam pelukan Arya, sehingga Suci tidak menolaknya.
"Mas, aku tidak pernah takut dengan kematian, karena kita semua pasti akan meninggal dunia, tapi aku merasa kasihan dengan Anak-anakku yang masih bayi, karena mereka masih membutuhkan sosok seorang Ibu," ujar Suci dengan menangis dalam pelukan Arya.
Arya mengelus lembut punggung Suci, dan diam-diam Arya ikut menangis, karena Arya juga tidak tau apa jadinya jika Suci sampai meninggal dunia mendahului dirinya.
Suci, aku akan melakukan apa pun untuk kesembuhan kamu, karena aku tidak akan sanggup jika menjalani hidup tanpa kamu, ucap Arya dalam hati.
Suci dan Arya berpelukan dalam waktu yang cukup lama, sampai akhirnya Suci menyadari jika yang dia dan Arya lakukan salah, kemudian secara perlahan Suci melepas pelukannya kepada Arya.
__ADS_1
"Maaf Mas, tidak seharusnya kita seperti ini, bagaimanapun juga aku adalah Istrinya Mas Rian," ucap Suci dengan tertunduk sedih.
Arya ingin sekali mengatakan jika Suci adalah Istrinya, tapi Arya mengingat perkataan Dokter, jika Suci tidak boleh terlalu dipaksa untuk mengingat semuanya.
"Maaf Suci, aku tidak bermaksud bersikap lancang. Sebaiknya sekarang kamu makan dulu sebelum minum obat," ujar Arya, kemudian menyuapi Suci makan dengan telaten.
"Mas Arya, kemana Mas Rian? Kenapa Mas Arya yang menjagaku? Apa Mas Rian sibuk menjaga Anak kami?" tanya Suci.
"Sebaiknya sekarang kamu habiskan dulu makanannya, nanti baru kita mengobrol lagi," ujar Arya, karena Arya takut jika Suci akan kembali menangis apabila mengetahui jika Mama Linda meninggal dunia.
Setelah Suci selesai makan dan minum obat, Suci kembali bertanya kepada Arya.
"Sebaiknya Mas Arya sekarang katakan, kenapa Mas Rian sampai menyuruh Mas Arya yang menjaga aku? Pasti ada sesuatu yang terjadi kan?"
"Sebelum aku mengatakan yang sebenarnya, kamu harus berjanji dulu kalau kamu tidak akan menangis dan akan tabah menerima semuanya," ujar Arya dengan mengulurkan jari kelingkingnya kepada Suci.
"Mas Arya, kita bukan Anak kecil kan? Kenapa harus melakukan janji dengan menautkan kelingking sih?"
"Pokoknya kamu harus janji dulu, apa pun yang terjadi kamu harus menerimanya dengan ikhlas," ujar Arya, sampai akhirnya Suci terpaksa menautkan kelingkingnya dengan kelingking Arya.
Arya beberapa kali mengembuskan nafas secara kasar sebelum angkat suara.
"Suci, kamu tau kan kalau yang namanya umur tidak ada yang tau?" ujar Arya yang merasa ragu untuk menceritakan tentang kabar kematian Mama Linda, apalagi Suci memiliki penyakit jantung.
"Iya, aku tau, sekarang cepetan cerita, jangan buat aku semakin penasaran," paksa Suci.
"Sebenarnya, dua hari yang lalu, Nyonya Linda meninggal dunia," ucap Arya dengan lirih.
Degg
Jantung Suci rasanya berhenti berdetak, dan tiba-tiba dadanya terasa sesak.
"Tidak, tidak mungkin Mama meninggal dunia," ucap Suci dengan menangis.
__ADS_1
"Suci, Nyonya Linda sudah beristirahat dengan tenang. Sekarang kamu tarik nafas dalam-dalam, kamu harus tenang, tadi kamu sudah janji kepadaku kalau kamu akan ikhlas menerima semuanya," ujar Arya dengan memegang kedua bahu Suci.
"Mas, Mama Linda sudah seperti Ibu kandungku sendiri. Kenapa saat Mama Linda meninggal dunia, aku tidak diberikan kesempatan berada di sampingnya? Kasihan Mas Rian, saat ini Mas Rian pasti sedang membutuhkan kehadiranku. Aku harus pulang sekarang juga," ujar Suci dengan turun dari ranjang pesakitan nya.
Arya mencoba mencegah Suci dengan memeluk tubuhnya dari belakang.
"Suci, tolong dengarkan aku, saat ini kondisi kesehatan kamu sedang tidak baik, aku tidak mau kalau kamu sampai kenapa-napa. Jika sekarang kamu pulang dengan keadaan seperti ini, Rian pasti akan semakin merasa sedih," ujar Arya dengan mengeratkan pelukannya.
Suci hanya diam mematung, darahnya berdesir hangat ketika Arya mencium tengkuk lehernya.
Kenapa denganku, tubuhku seakan pasrah menerima semua perlakuan Mas Arya. Kamu harus sadar Suci, kamu tidak boleh seperti ini dengan lelaki yang bukan Suami kamu, ucap Suci dalam hati.
......................
Di tempat lain, Bu Rita dan Putri sudah siap untuk pergi ke Jawa Timur, tapi Alina tidak menampakan batang hidungnya untuk melepaskan kepergian Bu Rita dan Putri, sedangkan Papa Ferdi masih belum pulang dari perjalanan bisnisnya.
"Putri sayang, Putri jangan merepotkan Nenek ya. Bi, saya titip Putri, dan saya mohon maaf atas perlakuan Alina," ucap Farel dengan mencium dan memeluk Putri, kemudian memberikannya kepada Bu Rita.
"Tidak apa-apa Den, saya mengerti kalau Nona Alina masih belum bisa menerima Non Putri, tapi suatu saat nanti, Non Alina pasti akan menyesal karena tidak menyayangi darah dagingnya sendiri," ujar Bu Rita yang merasa kecewa dengan sikap Alina.
"Semoga saja Alina segera menyadari kesalahannya. Papa Ferdi pasti akan marah saat pulang nanti, karena Papa sangat menyayangi Putri, dan saya rasa kalau Papa juga menyukai Bibi," ujar Farel.
Bu Rita terlihat salah tingkah ketika mendengar perkataan Farel tentang Papa Ferdi yang menyukainya.
"Den Farel ada-ada saja. Tidak mungkin Tuan Ferdi menyukai saya. Kalau begitu kami pamit dulu," ujar Bu Rita dengan masuk ke dalam mobil yang akan mengantarkannya menuju Bandara.
Putri dan Bu Rita melambaikan tangannya kepada Farel ketika mobil yang mereka tumpangi melaju meninggalkan halaman rumah Papa Ferdi, dan Farel merasa sedih melepas kepergian Putri dan Bu Rita, lain hal nya dengan Alina yang tersenyum bahagia.
"Akhirnya, dua orang pengganggu pergi juga, sana pergi jauh jauh, kalau perlu kalian tidak usah kembali lagi," gumam Alina dengan terus mengembangkan senyuman.
*
*
__ADS_1
Bersambung