
"Apa benar Ibu sudah mengingatnya?" tanya Arya mencoba memastikan perkataan Bu Rita.
"Iya Nak, insyaallah Ibu tidak akan salah mengingat nomor rumah orangtua kandung Suci, tapi Ibu takut jika Suci masih merasa kecewa terhadap kedua orangtuanya apabila Suci bertemu dengan mereka," ujar Bu Rita.
"Kalau begitu, nanti setelah kita tiba di Jakarta, kita cari alamat orangtua kandung Suci tanpa sepengetahuan Suci, karena nanti Arya akan membuat perhitungan dengan mereka. Arya juga ingin menanyakan kenapa mereka tega sekali menukarkan Suci, dan Arya pasti akan membuat mereka menyesal karena sudah menyia-nyiakan Suci."
"Ya sudah, kalau begitu sekarang kita masuk, Ibu takut kalau Suci sampai mendengar percakapan kita," ujar Bu Rita.
Arya dan Bu Rita menyusul Suci dan Mama Erina yang saat ini sedang berkemas di dalam kamar Suci, kemudian Arya memeluk tubuh Suci dari belakang, sehingga membuat Suci malu karena di sana ada Mama Erina dan Bu Rita.
"Pa, jangan seperti ini, malu sama Ibu dan Mama," bisik Suci.
"Kenapa harus malu, kita kan Suami Istri. Mama sama Ibu juga pasti bakalan mengerti," ujar Arya yang sengaja menggoda Suci di depan Mama Erina dan Bu Rita.
"Sepertinya kita ganggu pasangan bucin ya Bu Rita," sindir Mama Erina.
"Iya Nyonya Erina, sebaiknya kita ke luar saja dari pada ganggu yang mau bulan madu," ujar Bu Rita, kemudian keduanya ke luar dari kamar Arya dan Suci.
Setelah kepergian Bu Rita dan Mama Erina, Suci langsung angkat suara.
"Papa kenapa sih bikin Mama malu aja?" ujar Suci.
"Malu-malu tapi mau kan," bisik Arya pada telinga Suci.
"Gak usah macem-macem, Mama belum selesai beres-beres nya."
"Ya sudah kalau begitu Papa bantu Mama beres-beres supaya kita bisa cepat-cepat bikin Adik buat Arsyila," ujar Arya dengan terkekeh, dan Suci memutar malas bola matanya menanggapi perkataan Arya.
......................
Keesokan paginya, semuanya sudah bersiap untuk berangkat menuju Jakarta, termasuk Bi Sari yang akan ikut juga supaya bisa membantu merawat Iqbal, sedangkan Perawat yang sebelumnya mendampingi Mama Erina, sudah kembali ke Pesantren.
Sebelum pulang ke Jakarta, Arya mencari Pembantu dan Penjaga rumah terlebih dahulu untuk merawat rumahnya dan rumah peninggalan Rian yang berada di Jawa Timur.
__ADS_1
"Sayang, tidak ada yang ketinggalan kan?" tanya Arya ketika membantu Supir memasukan barang-barang ke dalam bagasi.
"Tidak ada Pa, barusan Mama hitung koper nya udah ada semua," jawab Suci.
"Ya sudah kalau begitu sekarang kita berangkat, jangan lupa baca do'a dulu," ujar Arya dengan membukakan pintu mobil untuk Suci.
Arya memutuskan untuk menggunakan jet pribadi Argadana grup supaya cepat sampai di Jakarta, dan Arya terus mengembangkan senyuman ketika membayangkan Oma Rahma dan Papa Fadil yang pasti akan bahagia jika mengetahui Suci masih hidup, ditambah dengan Mama Erina yang sudah kembali sehat.
Perjalanan yang ditempuh dari Jawa timur menuju Jakarta tidak membutuhkan waktu lama, dan saat ini Arya beserta keluarganya sudah sampai di depan gerbang rumah keluarga Argadana.
"Selamat datang di rumah kita Anak-anak Papa dan Mama," ucap Arya.
Jantung Bu Rita berdetak kencang ketika melihat nomor rumah Arya yang menempel di tembok samping gerbang, karena Bu Rita teringat dengan alamat rumah orangtua kandung Suci.
Tidak, tidak mungkin kalau Nyonya Erina dan Tuan Fadil adalah orangtua kandung Suci, tapi orangtua kandung Suci bernama Fadil dan Erina juga. Apa jangan-jangan memang mereka orangtua kandung Suci yang sebenarnya, makanya Nyonya Erina langsung terkena gangguan mental saat dulu mengira jika Suci sudah meninggal dunia, karena beliau merasa bersalah? Batin Bu Rita kini bertanya-tanya.
Bu Rita melihat wajah Suci dan Mama Erina secara seksama untuk memastikan jika Suci memiliki kemiripan dengan Mama Erina.
Kalau dilihat-lihat wajah Nyonya Erina dan Suci juga sangat mirip. Aku harus bagaimana, apa yang harus aku katakan kepada Arya jika dia menanyakan alamat orangtua kandung Suci? karena jika benar Suci Anak kandung Nyonya Erina, berarti Arya adalah bayi mendiang Bu Asih yang sudah ditukar dengan Suci, batin Bu Rita saat ini berada dalam dilema, apalagi saat ini dugaan Bu Rita semakin kuat ketika mengingat wajah fhoto bayi mendiang Bu Asih yang begitu mirip dengan wajah Rizky, dan Bu Rita yakin jika itu adalah fhoto Arya saat masih bayi.
"Bu, Ibu baik-baik saja kan? Kenapa Ibu dan Putri belum turun?" tanya Suci sehingga menyadarkan Bu Rita dari lamunannya.
"Eh iya Nak, Ibu barusan teringat sesuatu. Kita sekarang sudah sampai ya?" tanya Bu Rita, kemudian bergegas turun dari dalam mobil.
Oma Rahma dan Papa Fadil begitu terkejut ketika melihat Suci yang saat ini berada di hadapan mereka.
"Fadil, apa Mama tidak salah lihat? Mama tidak sedang berhalusinasi melihat Suci kan?" tanya Oma Rahma dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Iya Ma, Fadil juga melihat Putri Fadil. Apa Suci datang dari Surga untuk mengunjungi kita?" ujar Papa Fadil.
Kondisi kesehatan Papa Fadil sudah mulai membaik, Papa Fadil juga sudah bisa bicara kembali, tapi Papa Fadil masih belum bisa berjalan.
Mama Erina yang melihat Papa Fadil duduk di kursi roda, langsung berhambur memeluk tubuh Suaminya tersebut.
__ADS_1
"Papa kenapa bisa sampai seperti ini?" tanya Mama Erina dengan menangis.
"Erina, Alhamdulillah kamu sudah sembuh. Maaf aku tidak pernah menjenguk kamu, karena tidak lama setelah kamu masuk Rumah Sakit jiwa, aku terkena penyakit stroke, bahkan aku baru bisa bicara lagi," ucap Papa Fadil dengan menangis bahagia.
"Mama yang seharusnya meminta maaf karena tidak bisa merawat Papa."
"Erina, aku melihat Putri kita datang ke sini. Apa mungkin Suci belum tenang karena kita belum mengakuinya sebagai Anak kan_" ucapan Papa Fadil terhenti karena Mama Erina sengaja memotongnya, dan Bu Rita yang sebelumnya sudah merasa curiga, semakin yakin jika Papa Fadil dan Mama Erina adalah orangtua kandung Suci.
"Pa, kita tidak salah lihat, karena yang di hadapan kita saat ini adalah Suci. Menantu kita masih hidup Pa," ujar Mama Erina, kemudian menceritakan tentang semua yang telah terjadi kepada Suci.
Oma Rahma yang mendengar perkataan Mama Erina, langsung berhambur memeluk tubuh Suci.
"Sayang, Oma tidak mengira jika Cucu Oma masih hidup. Terimakasih Ya Allah, Engkau masih memberikan kesempatan kepada kami bertemu lagi dengan Suci," ucap Oma Rahma.
Papa Fadil yang sebelumnya tidak bisa berdiri, tiba-tiba bisa berdiri, bahkan melangkahkan kedua kakinya untuk memeluk Suci.
"Nak Papa tidak sedang bermimpi kan?" tanya Papa Fadil, dan Suci tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
Papa Fadil langsung memeluk tubuh Suci, kemudian menumpahkan tangisannya dalam pelukan Suci.
"Maafin Papa Nak, maafin Papa," saat ini rasanya Papa ingin sekali mengakui Suci sebagai Anak kandung Papa, tapi Suci dan Arya pasti kecewa bahkan mungkin kalian akan membenci kami jika mengetahui yang sebenarnya, lanjut Papa Fadil dalam hati.
Suci merasa heran dengan perubahan sikap kedua orangtua Arya terhadapnya.
Kenapa sikap kedua orangtua Mas Arya berubah terhadapku, bahkan mereka terlihat menyayangiku? Apa mungkin karena sebelumnya mereka mengira jika aku telah meninggal dunia? Batin Suci kini bertanya-tanya.
Papa Fadil terus saja menangis dengan memeluk tubuh Suci sehingga membuat Arya merasa heran juga dengan sikap yang ditunjukkan keluarganya terhadap Suci.
Kenapa sekarang sikap Papa terhadap Suci juga ikut berubah? Aku merasa jika Papa seperti bertemu dengan Anak kandungnya sendiri, batin Arya kini bertanya-tanya.
*
*
__ADS_1
Bersambung