Suci Tak Lagi Suci

Suci Tak Lagi Suci
Bab 114 ( Menemukan kotak surat )


__ADS_3

Papa Ferdi dan Farel tidak menyangka jika Bu Rita bersedia mendonorkan ginjalnya untuk Alina, padahal selama ini Alina selalu menyakiti hati Bu Rita.


"Rita, sebaiknya aku saja yang mendonorkan ginjalku untuk Alina," ujar Papa Ferdi.


Farel juga mengatakan hal yang sama, jika Farel bersedia mendonorkan ginjalnya untuk Alina.


"Bu, Pa, biar Farel saja yang mendonorkan ginjal untuk Alina. Alina adalah Istri Farel, sudah seharusnya Farel melakukan semua itu."


Dokter yang mendengar perkataan Bu Rita, Papa Ferdi dan Farel yang ingin mendonorkan ginjalnya untuk Alina, mencoba menjelaskan prosedur yang harus dilakukan sebelum melakukan donor ginjal.


"Mohon maaf semuanya, sebelum mendonorkan ginjal, kita harus melakukan serangkaian pemeriksaan terlebih dahulu, supaya kita dapat mengetahui ginjal siapa yang cocok untuk didonorkan kepada Pasien," ujar Dokter.


"Dok, tolong segera lakukan tes kepada kami, supaya Alina bisa segera mendapatkan donor ginjal," ujar Bu Rita.


Akhirnya Papa Ferdi, Bu Rita dan Farel melakukan serangkaian pemeriksaan supaya bisa mendonorkan ginjal untuk Alina.


......................


Di tempat lain, tepatnya di kediaman Irwan, Mama Maya dan Papa Andi sudah menunggu pasangan pengantin baru untuk sarapan bersama.


Ketika Irwan ke luar dari dalam kamarnya, Mama Maya terlihat heran karena Irwan hanya ke luar sendiri.


"Sayang, mana Hesti? Kamu pasti sudah membuat Hesti tidak bisa berjalan kan?" ujar Mama Maya dengan tersenyum penuh arti.


"Hesti lagi gak enak badan Ma, makanya Irwan mau ngambilin sarapan buat Hesti."


"Kamu pasti mainnya kasar, sampai-sampai Menantu kami jadi sakit," ujar Papa Andi.


Irwan terlihat heran karena tidak mengerti dengan perkataan kedua orangtuanya.


"Kalian ngomong apaan sih?" tanya Irwan.


"Memangnya kamu pikir kami ngomongin apa lagi kalau bukan malam pertama kamu. Gimana-gimana, belah durennya lancar kan?" tanya Mama Maya yang merasa penasaran.


"Mama sama Papa otaknya mesum sekali sih. Semalam gak ada acara belah duren kok," jawab Irwan.


"Kamu gak usah bohong, semalam kami dengar sendiri, Hesti sampai menjerit-jerit kesakitan, pasti kamu mainnya kasar kan?" ujar Papa Andi, dan sesaat kemudian Papa Andi berteriak karena Mama Maya menginjak kakinya.


"Awww, Mama kenapa sih pake menginjak kaki Papa segala?"


Irwan menatap curiga kepada Mama dan Papanya.

__ADS_1


"Semalam Mama sama Papa ngintip kan? Gak ada kerjaan banget sih."


"Enggak enggak, kami hanya menguping dikit. Ya kan Pa?" ujar Mama Maya dengan tersenyum malu.


"Semalam rambut Hesti tersangkut di resleting bajunya, makanya Hesti menjerit kesakitan. Kami juga gak bisa ngapa-ngapain, karena Hesti lagi ada tamu bulanan. Udah puas?" ujar Irwan.


Mama Maya dan Papa Andi tersenyum malu, karena sudah berpikir yang tidak-tidak.


"Ya sudah, kalau begitu sekarang Irwan ke kamar dulu, kasihan Hesti pasti sudah lapar."


"Nak, Mama punya jamu penghilang nyeri haid, nanti Irwan kasih sama Hesti ya," ujar Mama Maya, lalu mengambil jamu dari dalam kulkas, dan memberikannya kepada Irwan.


"Makasih banyak ya Ma, kalau begitu Irwan ke kamar dulu," ujar Irwan dengan melangkahkan kakinya menuju kamar.


Hesti merasa tidak enak ketika melihat Irwan membawa makanan ke dalam kamar, karena seharusnya Hesti yang melayani Suaminya.


"Mas, maaf ya, aku jadi ngerepotin," ucap Hesti.


"Sayang, kenapa Hesti bicara seperti itu? Sekarang Hesti adalah Istri Mas, dan Hesti sudah menjadi tanggung jawab Dunia dan akhirat Mas. Kalau begitu sekarang Hesti makan yang banyak, biar cepet sembuh, barusan juga Mama ngasih jamu ini," ujar Irwan, lalu menyuapi Hesti makan.


Mata Hesti terlihat berkaca-kaca ketika melihat perlakuan Irwan, karena baru kali ini Hesti merasakan kasih sayang dan perhatian yang begitu besar dari seorang lelaki.


"Sayang, Hesti tidak perlu mengucapkan terimakasih, karena ini sudah menjadi kewajiban Mas sebagai seorang Suami," ujar Irwan dengan mengusap lembut rambut Hesti, kemudian Irwan menciumnya dengan sayang.


Terimakasih Tuhan karena telah memberikan Suami yang baik seperti Mas Irwan, semoga kami selalu diberikan kebahagiaan hingga maut yang memisahkan, batin Hesti.


......................


Arya terus berusaha mencari kebenaran tentang orangtua kandung Suci, sampai akhirnya Arya mencoba bertanya kepada Suci tentang kotak surat yang mendiang Bu Asih tulis.


"Sayang, apa Papa bisa bertanya sesuatu kepada Mama?" tanya Arya yang sebenarnya merasa ragu.


"Memangnya apa yang mau Papa tanyakan? Kelihatannya wajah Papa serius sekali?"


"Sebenarnya Papa mau bertanya tentang kedua orangtua kandung Mama. Bukannya dulu Mama pernah bilang jika Mama hanyalah Anak angkat?"


Suci menghela nafas panjang, karena Suci sudah tidak ingin mengungkit semua itu lagi.


"Pa, sebenarnya Mama tidak pernah mau tau bahkan sudah tidak peduli tentang siapa orangtua kandung yang sudah tega menukarkan Mama waktu masih bayi. Percuma Mama mencari mereka jika mereka sendiri tidak menginginkan kehadiran Mama. Memangnya kenapa Papa menanyakan tentang orangtua kandung Mama?"


"Papa bertanya karena siapa tau Mama ingin bertemu dengan mereka, kalau ada alamatnya Papa kan bisa bantu cari. Apalagi saat kami mengira jika Mama telah meninggal dunia, Bu Rita pernah mengatakan tentang kotak surat yang ditulis oleh mendiang Bu Asih."

__ADS_1


"Makasih ya Pa, tapi sepertinya kita tidak perlu mencari mereka. Sekarang kita sudah bahagia, jadi Mama tidak mau memikirkan hal lain meski pun semua itu tentang orangtua kandung Mama sendiri, lagian Mama juga lupa menyimpan kotak suratnya dimana," ucap Suci dengan memeluk tubuh Arya.


Arya menghargai keputusan Suci, sehingga Arya memutuskan untuk tidak bertanya lagi, tapi Arya masih merasa penasaran, karena sebelumnya Arya pernah mendengar jika nama orangtua kandung Suci adalah Fadil dan Erina.


Suci, mungkin kamu sudah tidak peduli siapa orangtua kandung kamu yang sebenarnya, tapi entah kenapa aku merasa takut kalau kenyataannya kamu adalah Anak kandung Mama dan Papa, karena di komplek ini hanya Mama dan Papa yang bernama Fadil dan Erina. Jika kenyataannya aku hanyalah Anak adopsi keluarga Argadana, berarti aku sudah merebut semua yang kamu miliki sejak kamu dilahirkan ke dunia ini, bahkan aku juga yang sudah menghancurkan hidup kamu sehingga kamu kehilangan segalanya. Apa yang harus aku lakukan? Mungkin dengan meminta maaf dalam seumur hidupku pun tidak akan mampu menebus semua kesalahan yang telah aku lakukan terhadapmu, ucap Arya dalam hati.


"Ya sudah kalau begitu sekarang Mama istirahat, Papa ke luar dulu ya, ada yang harus Papa bicarakan dengan Papa Fadil mengenai perusahaan yang berada di luar kota," ujar Arya kemudian ke luar dari dalam kamar setelah mencium kening Suci.


Arya melangkahkan kaki nya untuk menemui Papa Fadil.


Saat Arya melihat Mama Erina yang sedang mengajak main Cucu cucunya, Arya langsung bertanya kepada Mama Erina tentang keberadaan Papa Fadil.


"Ma, Papa kemana? Ada yang ingin Arya diskusikan tentang masalah bisnis."


"Papa lagi di kamar Nak. Sebaiknya Arya langsung ke kamar saja," jawab Mama Erina.


Arya melangkahkan kaki nya menuju kamar Papa Fadil, dan Arya terlebih dahulu mengetuk pintu kamar orangtuanya sebelum masuk.


"Papa ada di dalam tidak?" tanya Arya, kemudian masuk ke dalam kamar orangtuanya yang sudah terbuka.


"Mungkin Papa lagi di kamar mandi kali ya, sebaiknya nanti aku kembali lagi," gumam Arya.


Ketika Arya hendak melangkahkan kaki untuk ke luar dari dalam kamar Papa Fadil, ada sebuah kotak yang terjatuh di bawah ranjang tidur Papa Fadil, bahkan kotak tersebut sudah terbuka.


"Bukannya ini foto ku? Tapi siapa laki-laki dan perempuan yang berada di fhoto ini, mereka bukan Mama dan Papa kan?" gumam Arya ketika mengambil kotak yang berisi beberapa fhoto dan surat.


Arya merasa penasaran dengan surat dan fhoto yang dia pegang, sehingga Arya memutuskan untuk melihat isi surat tersebut.


Degg


Jantung Arya berdetak kencang ketika melihat tulisan yang terdapat di belakang fhoto, karena di sana terdapat tulisan 'kelahiran Anak pertama kami'.


Tangan Arya bergetar ketika membuka lipatan surat, matanya terasa panas bahkan tubuh Arya seketika terasa lemas ketika melihat isi surat tersebut, sampai akhirnya Arya menjatuhkan tubuhnya di atas lantai.


"Ternyata dugaanku selama ini benar. Jadi ini yang berusaha kalian sembunyikan dariku?" gumam Arya dengan Airmata yang sudah tidak dapat ia bendung lagi.


*


*


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2