Suci Tak Lagi Suci

Suci Tak Lagi Suci
Bab 119 ( Sehidup Semati )


__ADS_3

Papa Ferdi terus memegangi dadanya yang semakin terasa sakit, sampai akhirnya Papa Ferdi jatuh pingsan.


"Papa, Papa kenapa? Maafin Alina Pa, Alina menyesal sudah menjadi Anak durhaka," ujar Alina dengan menangis memeluk tubuh Papa Ferdi.


Dokter yang melihat Papa Ferdi, bergegas menghampirinya.


"Maaf Nyonya, biar saya periksa dulu kondisi Tuan," ujar Dokter, kemudian memeriksa kondisi Papa Ferdi.


Dokter terlihat bingung, karena saat ini Papa Ferdi sudah tidak bernafas lagi.


"Dok, kenapa Anda diam saja? Bagaimana kondisi Papa saya?" tanya Alina.


"Mohon maaf Nyonya, Tuan mengalami serangan jantung, dan sekarang Papa Anda sudah menyusul Mama Anda," ujar Dokter dengan tertunduk sedih.


Dokter sangat menyesal karena dalam waktu yang hanya selisih beberapa menit, Dokter tidak bisa menyelamatkan nyawa Bu Rita dan Papa Ferdi yang meninggal di hadapannya.


"Innalillahi waina ilaihi raji'un," ucap semua yang berada di sana secara bersamaan.


Alina begitu terpukul mendengar berita kematian kedua orangtuanya yang meninggal di depan mata kepalanya sendiri.


"Tidak, tidak mungkin Mama dan Papa meninggal secara bersamaan. Ini pasti hanya mimpi buruk," teriak Alina, kemudian pingsan dalam pelukan Farel.


"Alina, bangun sayang," ujar Farel dengan menangis memeluk tubuh Alina.


Perawat membantu Farel membawa Alina ke kamar perawatan Alina yang berada di sebelah kamar perawatan mendiang Bu Rita, setelah itu Farel menghampiri Arya dan Suci untuk meminta bantuan.


"Arya, aku ingin minta tolong sama kamu untuk mengurus kepulangan jenazah Papa dan Mama, karena aku tidak mungkin meninggalkan Alina dalam kondisi seperti ini."


"Kamu tidak perlu khawatir, kami pasti akan mengurus semuanya. Om Ferdi dan Bu Rita sudah seperti orangtua kami sendiri. Aku juga tadi sudah menghubungi Irwan, dan sekarang Irwan dan Hesti akan mempersiapkan penyambutan kepulangan jenazah di rumah duka," ujar Arya.


"Terimakasih banyak Arya, Suci. Aku tidak tahu harus bagaimana jika tidak ada kalian berdua," ucap Farel.


"Kami adalah keluarga kamu, jadi kamu tidak perlu sungkan. Kalau begitu sekarang kami pergi dulu untuk mengurus administrasi kepulangan jenazah," ujar Arya dengan menepuk bahu Farel.


......................


Setelah menyelesaikan administrasi, Suci dan Arya mengikuti mobil Ambulance yang membawa jenazah Bu Rita dan Papa Ferdi.


"Pa, apa Papa sudah menelpon Papa Fadil untuk memberitahukan kabar meninggalnya Om Ferdi dan Bu Rita?" tanya Suci.


"Belum sayang, Papa belum sempat," jawab Arya yang sebenarnya masih merasa kecewa terhadap kedua orangtua angkatnya tersebut.

__ADS_1


"Kalau begitu sekarang Mama mau telpon Mama Erina ya," ujar Suci, dan Arya hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


Arya sebenarnya merasa keberatan jika Suci berhubungan dengan orangtua kandungnya sendiri, tapi Arya tidak mungkin mencegah Suci, karena Suci pasti akan merasa curiga.


Setelah Suci selesai menelpon, Arya bertanya tentang perkataan Mama Erina.


"Sayang, Mama Erina bilang apa?" tanya Arya.


"Katanya Papa Fadil akan berangkat menuju rumah duka untuk membantu kita mengurus prosesi pemakaman. Sedangkan Oma sama Mama Erina akan ke rumah kita untuk membantu menjaga Anak-anak," jawab Suci yang merasa lebih tenang karena ada yang membantu menjaga Anak-anak nya.


"Syukurlah kalau begitu, jadi kita tidak terlalu cemas kalau ada Mama dan Oma yang membantu menjaga Anak-anak," ujar Arya.


"Iya Pa, Alhamdulillah karena kita memiliki keluarga yang begitu baik dan pengertian," ujar Suci dengan memegang erat tangan Arya yang saat ini tengah menyetir mobil.


Arya tersenyum kecut ketika mendengar perkataan Suci.


Apa kamu masih akan berkata seperti itu jika mengetahui siapa Mama dan Papa sebenarnya? Mereka selama ini sudah menjadi sosok orangtua yang baik untukku, tapi mereka sudah bersikap tidak adil terhadap kamu Suci, ucap Arya dalam hati.


......................


Suci dan Arya telah sampai di kediaman mendiang Papa Ferdi.


Kedatangan jenazah Papa Ferdi dan Bu Rita, disambut dengan isak tangis Asisten rumah tangga, Karyawan serta tetangga Papa Ferdi, begitu juga dengan Hesti dan keluarganya yang sudah berada di sana.


"Hesti, aku juga terpukul dengan meninggalnya Bu Rita dan Om Ferdi, tapi yang namanya umur tidak ada yang tahu. Mungkin esok atau lusa giliran kita yang akan menyusul mereka, dan sekarang yang bisa kita lakukan hanya mendo'akan mereka supaya beristirahat dengan tenang dan bahagia di alam sana," ujar Suci dengan mengelus punggung Hesti.


Suci dan Hesti masuk ke dalam untuk membantu mengurus jenazah yang saat ini sudah dimandikan.


Setelah selesai dikafani, kedua Jenazah dibawa ke Mesjid untuk dishalatkan.


"Tuan, apa tidak ada keluarga yang ditunggu lagi?" tanya Ustadz setempat kepada Arya.


"Tidak ada Pak Ustadz, kebetulan Anak satu-satunya mendiang Bu Rita dan Om Ferdi masih dirawat di Rumah Sakit, dan Menantunya sudah menyerahkan semuanya kepada saya, jadi sekarang kita bisa mengantarkan jenazah menuju tempat peristirahatan terakhirnya mumpung masih belum terlalu malam," jawab Arya.


Semuanya mengantar jenazah Bu Rita dan Papa Ferdi menuju tempat peristirahatan terakhirnya, dan Arya terus memeluk tubuh Suci yang terlihat rapuh ketika melihat kedua Jenazah dimasukan ke dalam liang lahat yang posisinya berdampingan.


Setelah prosesi pemakaman selesai, semuanya memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing, karena saat ini waktu sudah menunjukan pukul sepuluh malam.


Setelah menabur bunga dan menyiram air do'a di atas kuburan Bu Rita dan Papa Ferdi, Arya mengajak Suci pulang, begitu juga dengan Irwan dan kedua orangtuanya yang mengajak Hesti pulang.


"Sayang, sebaiknya kita pulang sekarang ya," ujar Arya dengan membantu Suci untuk berdiri.

__ADS_1


"Bu, Om, kami pamit pulang dulu ya. Semoga Ibu dan Om bisa beristirahat dengan tenang," ucap Suci yang di Amini oleh semuanya.


"Suci, kalau begitu kami duluan ya," ujar Hesti dengan memeluk tubuh Suci sebelum pulang.


"Iya Hesti, hati-hati di jalan ya," ujar Suci, kemudian Hesti dan keluarganya pulang setelah mengucapkan salam.


Papa Fadil sebenarnya sudah berada di kediaman mendiang Papa Ferdi sebelum Arya dan Suci datang, tapi beliau sengaja menjaga jarak dari Suci dan Arya.


"Pa, bukannya itu Papa Fadil? Kenapa Papa Fadil tidak menemui kita?" tanya Suci kepada Arya ketika melihat Papa Fadil berjalan di depan mereka.


"Iya, sepertinya itu Papa," jawab Arya singkat.


Suci mengajak Arya menghampiri Papa Fadil yang hendak masuk ke dalam mobilnya.


"Assalamu'alaikum Pa," ucap Suci dengan mencium punggung tangan Papa Fadil.


"Wa'alaikumsalam Nak," jawab Papa Fadil yang terlihat bahagia ketika melihat Suci dan Arya.


"Papa ternyata datang juga? Maaf ya kalau kami baru melihat Papa," ucap Suci.


"Tidak apa-apa Nak, Papa lihat tadi kalian sibuk, jadi Papa tidak menghampiri kalian."


Suci merasa heran karena Arya hanya diam saja tanpa mengeluarkan satu patah kata pun, bahkan Arya tidak mencium tangan Papa Fadil.


Papa Fadil yang merasa tidak enak dengan sikap yang Arya tunjukan memilih untuk pulang.


"Nak, kalau begitu Papa pulang duluan ya."


"Papa memangnya tidak mau menginap di rumah kami? Kasihan Papa pasti sendirian di rumah, apalagi Oma dan Mama juga pasti menginap di sana," ujar Suci.


Papa Fadil sebenarnya ingin sekali ikut menginap di rumah Arya, tapi Papa Fadil merasa tidak enak melihat sikap Arya.


"Kapan-kapan saja Papa menginap di sana," ujar Papa Fadil.


Arya yang merasa khawatir karena kondisi Papa Fadil masih belum sembuh sepenuhnya, akhirnya angkat suara.


"Sebaiknya Papa menginap di rumah kami juga."


*


*

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2