
Nanda dan Arsyi begitu terkejut ketika mendengar suara Ratu. Dengan berat hati akhirnya Nanda melepaskan pelukannya terhadap Arsyi.
"Ratu, semua ini tidak seperti yang kamu pikirkan," ucap Arsyi yang tidak mau kalau Ratu sampai salah paham.
"Memangnya kamu pikir aku percaya dengan perkataanmu? Kamu memang perempuan murahan. Sudah punya Suami, masih saja kegatelan menggoda Suami orang," ujar Ratu dengan kuat mendorong tubuh Arsyi.
Arsyi hampir saja terjatuh, beruntung Iqbal keburu datang dan langsung menangkapnya.
"Sayang, Arsyi tidak kenapa-kenapa kan?" tanya Iqbal dengan memeluk tubuh Arsyi yang terlihat ketakutan.
"Arsyi tidak apa-apa Kak, tapi Ratu sudah salah faham, karena Arsyi sama sekali tidak menggoda Nanda," ujar Arsyi dengan menangis.
"Sayang, Tuan Putri jangan menangis ya, Kakak percaya kalau Tuan Putri tidak mungkin melakukan semua itu. Nanda, sebaiknya kamu jaga Istri kamu baik-baik, kalau Istri dan Anakku sampai kenapa-napa, aku tidak akan pernah memaafkan kalian," ujar Iqbal, kemudian menggandeng Arsyi ke luar dari klinik tanpa memperdulikan Nanda dan Ratu.
Ratu semakin geram karena Nanda hanya diam saja. Nanda begitu syok dengan perbuatan Ratu terhadap Arsyi, dan Nanda sangat menyesal karena tidak bisa menolong Arsyi, padahal Arsyi hampir saja celaka di depan matanya.
"Ratu, apa kamu sudah gila? Bisa-bisanya kamu melakukan semua itu kepada Arsyi, Arsyi itu sedang hamil, bagaimana kalau dia sampai kenapa-napa?" teriak Nanda dengan melayangkan tangannya.
Ketika tangan Nanda sudah berada di dekat pipi Ratu, Ratu langsung memajukan pipinya.
"Ayo tampar, kamu tidar perlu ragu. Kamu memang sudah dibutakan oleh cinta, karena yang kamu pikirkan hanyalah mantan terindah kamu itu. Apa kamu tidak berpikir kenapa aku bisa datang ke Dokter kandungan? Aku juga hamil Anak kamu Nanda," teriak Ratu.
Degg
Jantung Nanda rasanya berhenti berdetak ketika mendengar perkataan Ratu. Secara perlahan Nanda menurunkan tangannya, karena dia tidak mungkin menampar Ratu.
"Ja_jadi kamu hamil?" tanya Nanda dengan suara tergagap.
"Iya, tapi kamu tenang saja, aku pasti akan menggugurkan kandunganku, percuma aku mempertahan bayi ini, sedangkan Ayah nya sendiri tidak menginginkannya," ujar Ratu, kemudian melangkahkan kaki nya meninggalkan Nanda.
"Ratu tunggu. Kamu mau pergi kemana?" teriak Nanda dengan mengejar Ratu, karena Nanda tidak mau Ratu melakukan hal konyol.
Ratu terus berlari ke arah jalan raya, tapi ketika Ratu menyebrang, tiba-tiba sebuah mobil datang dengan kecepatan tinggi.
"Ratu awas," teriak Nanda.
Brugh
Nanda tertabrak mobil setelah berhasil mendorong Ratu ke pinggir jalan, dan Ratu begitu terkejut ketika melihat Nanda tergeletak di tengah jalan dengan bersimbah darah.
"Na_nanda," ucap Ratu dengan lirih, dan sesaat kemudian Ratu pun pingsan.
......................
Iqbal membawa Arsyi ke Salon terlebih dahulu sebelum pulang ke kediaman Argadana, dan Arsyi merasa heran ketika mobil Iqbal berhenti di depan sebuah salon.
"Kak, kenapa kita malah berhenti di sini?" tanya Arsyi.
__ADS_1
"Sebaiknya kita turun dulu, karena Kakak punya kejutan untuk Tuan Putri," ujar Iqbal dengan membantu Arsyi turun dari mobil.
Iqbal meminta kepada pegawai salon untuk mendandani Arsyi seperti Putri di dalam dongeng, Iqbal juga sudah membawa gaun yang akan Arsyi dan dirinya kenakan.
"Kak, kenapa sih kita harus dandan sama ganti pakaian segala? Apa pakaian seperti ini tidak berlebihan untuk acara empat bulanan?" tanya Arsyi yang mengira jika di rumahnya hanya akan mengadakan syukuran empat bulanan saja.
"Sayang, kita kan belum memiliki fhoto pernikahan, nanti selepas acara empat bulanan, kita bisa langsung berfoto dengan keluarga," ujar Iqbal yang masih merahasiakan tentang acara resepsi dari Arsyi.
Iqbal begitu terpesona ketika melihat Arsyi yang semakin cantik setelah di dandani, bahkan mata Iqbal tidak berkedip melihatnya.
"Kenapa Kakak melihat Arsyi seperti itu? Apa Arsyi jelek mengenakan pakaian serta riasan seperti ini?"
"Tidak mungkin seperti itu, justru Arsyi semakin terlihat cantik. Kalau begitu sekarang kita pulang, acaranya sebentar lagi akan dimulai," ujar Iqbal dengan membantu Arsyi berjalan, karena Iqbal selalu takut jika Arsyi sampai terjatuh.
Arsyi terkejut ketika sampai di halaman kediaman Argadana, karena selain halaman yang sudah di dekorasi dengan begitu indahnya, semua orang menyambut kedatangan Arsyi dan Iqbal dengan memakai pakaian kerajaan juga.
"A_apa maksud semua ini?" tanya Arsyi dengan tergagap.
"Silahkan turun Ratu ku. Bagaimana suka tidak kejutannya? Bukannya selama ini Arsyi selalu memimpikan resepsi pernikahan seperti di dalam dongeng?" tanya Iqbal.
Mata Arsyi terlihat berkaca-kaca. Arsyi begitu terharu, karena ternyata Iqbal masih ingat dengan perkataan nya saat masih kecil dulu.
"Terimakasih banyak Kak, karena kakak masih mengingatnya" ucap Arsyi dengan memeluk tubuh Iqbal.
"Maaf ya, Kakak hanya bisa memberikan acara resepsi sederhana untuk Istri Kakak yang cantik ini."
Iqbal mendekatkan wajahnya berniat untuk mencium Arsyi, keduanya lupa jika di sana banyak orang, sampai akhirnya terdengar suara Arya yang berdehem.
"Ekhem, apa kalian tidak melihat keberadaan kami?" sindir Arya.
Arsyi dan Iqbal terlihat salah tingkah, dan keduanya merasa malu karena hampir saja berciuman di depan semua orang.
Sepanjang acara berlangsung, Arsyi terus mengembangkan senyuman, karena semuanya benar-benar berjalan seperti yang Arsyi impikan.
Arsyi mengucapkan terimakasih kepada semua keluarga yang sudah memberikan kejutan kepadanya, tapi Suci terlihat gelisah karena keluarga Hesti tidak kunjung datang, padahal sebelumnya Hesti mengatakan kalau Hesti dan Irwan sudah berada di perjalanan.
"Pa, kenapa ya Hesti dan Irwan belum sampai juga? Padahal tadi Hesti bilang sudah diperjalanan," ujar Suci.
"Mungkin mereka terkena macet Ma," ujar Arya.
"Semoga saja tidak terjadi sesuatu yang buruk kepada Hesti dan keluarganya, entah kenapa perasaan Mama tidak enak terus."
"Kalau begitu Mama coba saja telpon Hesti," usul Arya.
Suci dan Arya menjauh dari tempat acara untuk menelpon Hesti. Ketika mengangkat telpon dari Suci, Hesti terdengar menangis.
📞"Hesti, kenapa kamu menangis? Apa yang sudah terjadi?"
__ADS_1
📞"Nanda tertabrak mobil, saat ini Nanda masih ditangani oleh Dokter," jawab Hesti.
📞"Kamu harus tenang. Nanda pasti akan baik-baik saja," ujar Suci.
Suci dan Arya berencana akan berangkat ke Rumah Sakit setelah acara resepsi Arsyi dan Iqbal selesai, tapi Suci meminta kepada Arya supaya tidak memberitahu kepada Arsyi tentang kecelakaan yang menimpa Nanda.
"Pa, sebaiknya kita tidak memberitahu Arsyi kalau Nanda mengalami kecelakaan, karena Arsyi pasti akan sedih."
"Iya Ma, sebaiknya seperti itu, karena bagaimanapun juga Nanda pernah menjadi seseorang yang penting dalam hidup Arsyi."
Setelah serangkaian acara selesai, Arya dan Suci beralasan akan langsung pergi untuk menghadiri Undangan dari rekan kerja Arya supaya semuanya tidak merasa curiga, sedangkan Farel memang masih belum diberitahu, mengingat kondisi penyakit jantungnya yang semakin memburuk.
"Akhirnya selesai juga, Arsyi udah gak sabar pengen istirahat, kaki Arsyi juga pegel banget."
Iqbal langsung menggendong Arsyi menuju kamar mereka supaya Arsyi tidak merasa kecapean.
"Kak turunin, malu kalau ada yang lihat," ujar Arsyi.
"Kenapa harus malu, kita kan kan Suami Istri, dan Kakak masih memiliki kejutan lagi untuk Tuan Putri."
"Apa kejutannya?"
"Namanya juga bukan kejutan kalau Kakak memberitahukannya."
Setelah sampai di dalam kamar, mata Arsyi langsung berbinar ketika melihat kamarnya yang sudah dirias seperti kamar pengantin.
"Kamarnya cantik sekali," gumam Arsyi.
"Tapi tidak secantik Tuan Putri," ucap Iqbal dengan menurunkan Arsyi untuk duduk di atas ranjang yang sudah ditaburi kelopak mawar.
Arsyi tersipu malu ketika Iqbal mendekatkan wajahnya, dan wajah Arsyi semakin memerah ketika Iqbal mencium lembut bibirnya.
"Sekarang Tuan Putri istirahat dulu, biar Kakak bantu buka pakaiannya. Kasihan Arsyi dan bayi kita pasti kecapean," ujar Iqbal dengan menurunkan resleting gaun yang dikenakan oleh Arsyi.
Glek
Iqbal menelan Saliva ketika melihat kulit putih mulus Istrinya, sehingga Iqbal terus memalingkan wajahnya.
Arsyi tau jika Iqbal pasti sudah mati-matian menahan hasratnya ketika berdekatan dengan Arsyi. Sampai akhirnya mata Iqbal membulat sempurna ketika mendengar perkataan Arsyi yang membuat Iqbal begitu terkejut.
"Kak, Arsyi sudah siap melakukan kewajiban sebagai seorang Istri."
*
*
Bersambung
__ADS_1