Suci Tak Lagi Suci

Suci Tak Lagi Suci
Bab 173 ( Kepulangan Iqbal )


__ADS_3

Iqbal yang melihat Arsyi berada di hadapannya, rasanya ingin sekali memeluk tubuh Arsyi, tapi Iqbal berusaha untuk tidak melakukannya, karena semua itu hanya akan membuat Iqbal semakin berat untuk melepaskan Arsyi menikah dengan lelaki lain.


"Nak, siapa yang datang?" tanya Suci dengan menghampiri Arsyi.


Suci begitu terkejut ketika melihat Iqbal yang sudah pulang setelah enam tahun lamanya menjalani hidup di negeri orang


"Iqbal sayang, bagaimana kabarnya Nak?" tanya Suci dengan memeluk tubuh Iqbal.


"Alhamdulillah baik Ma. Bagaimana kabar semuanya?"


"Alhamdulillah kami juga baik, tapi setelah Opa Fadil meninggal dunia, Oma Erina sering sakit-sakitan."


"Maaf ya Ma, saat Oma buyut dan Opa Fadil meninggal dunia, Iqbal tidak bisa pulang."


"Tidak apa-apa sayang. Sebaiknya sekarang kita masuk, Mama sudah memasak makanan kesukaan Iqbal," ujar Suci dengan menggandeng tangan Iqbal untuk masuk ke dalam rumah.


Arsyi merasa sedih, karena Iqbal sudah mengabaikannya, bahkan iqbal terus saja memalingkan wajahnya dari Arsyi.


"Arsyi sayang, ayo kita lanjutin lagi sarapannya," ujar Suci dengan menarik tangan Arsyi supaya kembali ke meja makan.


Iqbal bergantian memeluk Arya dan Rizky, dan semuanya terlihat bahagia kecuali Arsyi yang merasa di acuhkan oleh Iqbal.


"Arsyi sayang, kenapa diam saja?" tanya Suci.


"Arsyi sudah kenyang Ma, kalau begitu Arsyi ke kamar dulu," ujar Arsyi dengan berlalu ke dalam kamar.


Iqbal menatap nanar kepergian Arsyi. Selama ini Iqbal sudah berusaha melupakan rasa cintanya kepada Arsyi, tapi ternyata cintanya untuk Arsyi begitu besar, bahkan sampai detik ini nama Arsyila masih tersimpan di dalam hatinya.


"Nak, kenapa Iqbal melamun terus? Sebaiknya sekarang Iqbal makan dulu," ujar Suci dengan mengambilkan nasi dan lauk untuk Iqbal.


"Makasih banyak Ma, Iqbal sudah kangen sekali sama masakan Mama yang selalu enak," ucap Iqbal dengan tersenyum.


Saat ini hanya terdengar dentingan sendok dan garpu di meja makan, karena semuanya larut dalam pikiran masing-masing.


Rizky memutuskan untuk memecahkan keheningan dengan membicarakan tentang rencana pengobatan Mama Erina kepada Suci dan Arya supaya situasinya tidak terasa canggung.


"Oh iya Ma, Teman Rizky yang bekerja di Rumah Sakit Singapura tadi telpon, katanya Dokter yang bisa menyembuhkan penyakit Oma sedang mengadakan kunjungan ke tempat dia bekerja, kalau Mama mau, nanti Rizky bisa meminta bantuan kepada Evan supaya membuatkan jadwal untuk pengobatan Oma, soalnya Dokter tersebut hanya berada selama dua minggu di sana."


Suci terlebih dahulu meminta pendapat Arya, dan Suci sangat berharap jika Mama Erina bisa kembali sembuh seperti sedia kala.

__ADS_1


"Pa, apa Papa setuju jika kita mengantar Mama pergi berobat ke Singapura?"


"Tentu saja Papa setuju, apalagi tinggal Mama satu-satunya orangtua yang kita miliki," jawab Arya dengan tersenyum.


"Kira-kira kapan Mama sama Papa bisa berangkat?" tanya Rizky.


"Mama harus menyelesaikan dulu persiapan pernikahan Arsyi. Kalau Papa gimana?"


"Papa juga masih ada beberapa urusan di kantor, mungkin minggu depan kita baru bisa berangkat. Rizky tolong jadwalkan saja dulu pemeriksaan untuk Oma," jawab Arya.


"Iya Pa, Rizky nanti langsung telpon Evan supaya buat jadwal untuk Oma."


"Papa juga titip perusahaan. Sekarang sudah ada Iqbal, pasti Iqbal akan membantu menjaga perusahaan dengan baik," ujar Arya dengan menepuk bahu kedua Anaknya.


"Iya Papa tenang saja, kami pasti akan menjaga perusahaan dengan baik, Rizky nanti bakalan minta cuti dari Rumah Sakit selama Papa dan Mama mengantar Nenek berobat."


Selain menjadi Direktur di Argadana Grup, Rizky juga sudah berhasil menjadi Dokter di salah satu Rumah Sakit ternama yang berada di Jakarta.


Setelah selesai sarapan, Arya dan Rizky pamit kepada Suci dan Iqbal untuk berangkat ke Kantor.


"Pa, apa tidak sebaiknya sekarang Iqbal ikut ke Kantor bersama kalian?" tanya Iqbal yang ingin berusaha menghindari Arsyi.


"Nak, Iqbal baru saja datang, Iqbal pasti capek. Besok saja Iqbal ke Kantornya, sekarang Iqbal istirahat dulu, Iqbal juga belum menemui Oma Erina kan?" ujar Arya.


"Ekhem, lama amat kecupan selamat tinggal nya," sindir Iqbal ketika melihat Suci dan Arya yang selalu bersikap mesra sehingga membuat semua orang iri.


"Kalian pasti iri kan sama Papa? Makanya kalian cepetan nikah," ujar Arya dengan terkekeh.


Setelah kepergian Rizky dan Arya, Suci mengantar Iqbal menuju kamar Mama Erina.


"Oma, maaf ya Iqbal baru pulang," ucap Iqbal.


"Tidak apa-apa Nak, yang penting Iqbal sehat. Oma bahagia karena masih diberi kesempatan untuk bertemu dengan Iqbal."


"Oma pasti akan sembuh, minggu depan Mama sama Papa akan mengantar Oma berobat ke Singapura," ujar Iqbal.


"Penyakit Oma sudah komplikasi Nak, pasti banyak yang harus di obati, tapi Oma selalu berharap bisa diberikan kesempatan menggendong cicit dari kalian."


"Oma jangan terlalu banyak pikiran, sebaiknya sekarang Oma istirahat lagi, Iqbal mau mandi dulu," ujar Iqbal dengan menyelimuti Mama Erina, kemudian Iqbal dan Suci ke luar dari kamar Mama Erina.

__ADS_1


Suci tau jika saat ini Arsyi pasti sedih karena sikap yang Iqbal tunjukan, dan Suci berharap Iqbal mau menghampiri Arsyi.


"Iqbal, apa Mama bisa minta tolong?"


"Memangnya Mama ingin Iqbal melakukan apa?"


"Sebaiknya sekarang Iqbal temui Arsyi ya, Arsyi pasti sedih karena merasa di acuhkan oleh Iqbal."


Iqbal sebenarnya merasa berat untuk menuruti keinginan Suci, tapi Iqbal tidak mau membuat Suci merasa kecewa.


"Kalau begitu sekarang Iqbal ke kamar Arsyi dulu ya Ma," ujar Iqbal kemudian melangkahkan kaki nya menuju kamar Arsyi yang kebetulan bersebelahan dengan kamarnya.


Ketika sampai di depan pintu kamar Arsyi, Iqbal merasa ragu untuk masuk.


"Kamu pasti bisa Iqbal," gumam Iqbal kemudian mengetuk pintu kamar Arsyi.


Iqbal merasa khawatir karena tidak ada jawaban dari Arsyi, sampai akhirnya Iqbal memutuskan untuk langsung masuk ke dalam kamar Arsyi yang memang sedikit terbuka.


"A_arsyi," ucap Iqbal dengan tergagap ketika melihat Arsyi menangis dengan menutupi wajahnya menggunakan bantal.


"Mau apa Kakak ke sini? Sebaiknya sekarang Kakak ke luar dari kamar Arsyi."


Iqbal yang sudah tidak tahan melihat Arsyi menangis, langsung mendekap erat tubuh Arsyi.


"Lepasin Arsyi Kak, bukannya ini yang Kakak mau? Kakak ingin melihat Arsyi menangis kan, makanya Kakak pergi begitu saja meninggalkan Arsyi, bahkan selama enam tahun lamanya Kakak tidak pernah memberikan kabar sekali pun kepada Arsyi."


"Tuan Putri, maafin Kakak, sayang. Kakak tidak bermaksud meninggalkan Arsyi, tapi Kakak tidak akan sanggup pergi jika Kakak memberitahukan tentang kepergian Kakak kepada Arsyi. Sekarang Tuan Putri jangan menangis ya, masa sudah mau nikah masih saja cengeng," ujar Iqbal dengan mengusap lembut airmata yang terus mengalir membasahi pipi Arsyi.


Iqbal merasakan sesak dalam dadanya ketika harus menerima kenyataan jika sebentar lagi Arsyi akan menjadi milik lelaki lain.


"Kakak kenapa menangis?" tanya Arsyi ketika melihat Iqbal menitikkan airmata.


"Ini adalah airmata bahagia, karena akhirnya Tuan Putri sudah berhasil menemukan Pangeran yang selalu Tuan Putri impikan."


Arsyila semakin menangis kencang dalam pelukan Iqbal, karena Arsyila tidak sanggup lagi menahan perasaannya terhadap Iqbal.


Dari kecil aku sudah menemukan Pangeran impianku, dan itu adalah Kak Iqbal. Kenapa kita tidak ditakdirkan hidup bersama? Kenapa kita harus terlahir menjadi saudara? Teriak Arsyi dalam hatinya.


*

__ADS_1


*


Bersambung


__ADS_2