Suci Tak Lagi Suci

Suci Tak Lagi Suci
Bab 166 ( Kepergian Iqbal )


__ADS_3

Ratu mengatakan persyaratan yang kedua kepada Arsyila, yaitu supaya Arsyila bersedia untuk membantu Ratu mendekati Rizky.


"Kamu harus membantu aku supaya dekat dengan Kak Rizky, nanti kalau aku sudah berhasil mendapatkan cinta Kak Rizky, aku akan mengembalikan buku diary kamu," ujar Ratu kepada Arsyila.


Arsyila terlihat berpikir, karena selama ini Arsyila tau kalau Rizky tidak suka kepada Ratu.


Aku harus bagaimana? Tidak mungkin kan aku mengorbankan Kak Rizky? Apalagi aku tau kalau Kak Rizky tidak suka sama Ratu, tapi bagaimana kalau Ratu sampai membocorkan tentang isi diary milikku kepada oranglain? Pasti semuanya akan merasa kecewa, apalagi keluargaku, batin Arsyila kini berada dalam dilema.


"Bagaimana Arsyi, apa kamu setuju dengan syarat yang aku berikan?" tanya Ratu yang sudah tidak sabar mendengar jawaban Arsyila, karena Ratu sangat yakin kalau Arsyila tidak mungkin menolak permintaannya.


"Maaf Ratu, tapi aku tidak bisa membantu kamu, karena perasaan seseorang tidak bisa dipaksakan, dan aku tau kalau Kak Rizky hanya menganggap kamu sebagai seorang Adik saja," jawab Arsyila.


"Kalau begitu jangan salahkan aku jika aku menyebarkan isi diary ini kepada semua orang," ancam Ratu lagi.


"Terserah kamu, aku tidak peduli, lagian Mama sama Papa pasti tidak akan percaya dengan tulisan di dalam diary tersebut. Mana mungkin aku jatuh cinta sama Kakak kandungku sendiri," ujar Arsyila mencoba bersikap setenang mungkin, padahal saat ini Arsyila sudah sangat ketakutan.


Ratu terlihat berpikir, apalagi Ratu tau betul jika Suci dan Arya adalah orang yang bijaksana dan tidak mungkin percaya begitu saja hanya dengan melihat sebuah tulisan.


"Arsyila, aku mohon bantu aku supaya dekat dengan Kak Rizky. Satu kali saja kamu kasih kesempatan supaya aku bisa dekat dengan nya," ujar Ratu dengan tatapan memohon.


Arsyila terlihat berpikir, sampai akhirnya terlintas sebuah ide supaya Ratu mau mengembalikan buku diary nya.


"Baiklah, kalau begitu sekarang kamu berikan dulu buku diary nya, nanti aku akan memberi kamu satu kesempatan untuk dekat dengan Kak Rizky."


"Kamu tidak sedang membohongiku kan?" tanya Ratu dengan memicingkan matanya.


"Mana mungkin aku membohongi kamu. Nanti saat hari terakhir ospek kita akan mengadakan acara Persami, dan kamu memiliki kesempatan untuk mendekati Kak Rizky, tapi kamu harus usaha sendiri, karena aku hanya akan membantu kamu satu kali saja," ujar Arsyila.


"Baiklah, kalau begitu aku akan mencoba percaya sama kamu. Sekarang aku kembalikan diary kamu," ujar Ratu dengan mengembalikan diary milik Arsyila, dan pastinya Arsyila tersenyum penuh kemenangan, karena rencananya sudah berhasil.


......................


Sudah satu minggu Arsyila dan Dinda menginap di rumah Farel, dan hari ini di kediaman Farel akan mengadakan acara tahlil mendiang Alina yang ke tujuh hari.


Farel sudah diperbolehkan pulang, meski pun saat ini sebelah tangan dan kaki Farel masih belum bisa digerakkan, tapi Ayu selalu merawatnya dengan telaten.


Setelah acara tahlil selesai, keluarga Arya dan Irwan pamit kepada Farel untuk pulang, apalagi besok Arsyila dan yang lainnya akan mulai masuk SMA.

__ADS_1


"Arsyi, Dinda, kami mengucapkan terimakasih banyak karena kalian berdua sudah berkenan menemani Putri dan Ratu selama kami di Rumah Sakit," ucap Ayu.


"Sama-sama Tante, semoga Om Farel cepat sembuh ya," ucap Arsyila dan Dinda secara bersamaan.


"Arya, aku minta maaf, karena mungkin aku tidak akan bisa masuk kerja lagi setelah kondisiku seperti ini," ujar Farel yang terlihat sedih.


Arya dan yang lainnya menyemangati Farel supaya Farel tetap semangat dan bisa segera sembuh.


"Farel, kamu jangan terlalu memikirkan urusan pekerjaan. Yang penting sekarang kamu harus sembuh dulu, kapan saja kalau kamu sudah sembuh, kamu bisa kembali bekerja," ujar Arya.


"Iya Farel,kamu harus semangat, kami pasti akan selalu ada untuk kamu," ujar Irwan.


Farel begitu terharu karena kedua sahabatnya selalu ada dalam susah atau pun senang.


"Terimakasih banyak karena kalian selalu ada untukku. Aku bersyukur bisa memiliki sahabat sebaik kalian," ucap Farel dengan menitikkan airmata.


Setelah berpamitan kepada semuanya, keluarga Arya dan keluarga Irwan pulang ke rumah masing-masing.


Sepanjang perjalanan menuju kediaman Argadana, Arsyila begitu bersemangat karena sebentar lagi akan bertemu dengan Iqbal, bahkan Arsyila langsung berlari masuk ke dalam rumah ketika mobil Arya berhenti di halaman kediaman Argadana.


"Arsyila pasti kecewa jika mengetahui kalau Iqbal sudah pergi," ujar Suci dengan menitikkan airmata.


Arsyila langsung berlari menuju kamar Iqbal, tapi Iqbal tidak ada di dalam kamarnya, bahkan kamar Iqbal terlihat rapi.


"Kak Iqbal, Kak Iqbal, Arsyi pulang. Dimana Kak Iqbal? Tumben kamarnya rapi seperti tidak berpenghuni?" gumam Arsyila.


Arsyila melihat sepucuk surat yang Iqbal tinggalkan di atas nakas, dan airmata Arsyila lolos begitu saja ketika membaca isi surat tersebut.


Untuk Arsyila sayang


Arsyi, mungkin saat kamu membaca surat dari Kakak, Kakak sudah tidak ada di samping kamu lagi.


Kakak sadar jika selama ini Kakak terlalu posesif terhadap Arsyi, dan tidak seharusnya Kakak melakukan semua itu.


Tuan Putri, semoga Tuan Putri bisa menjaga diri dengan baik ya. Maaf jika Kakak sudah tidak bisa melindungi Arsyi lagi.


Kemana pun Kakak pergi, Arsyi akan selalu ada di hati Kakak.

__ADS_1


Kak Iqbal sayang Arsyila.


Arsyila langsung berlari ke luar untuk menanyakan tentang Iqbal kepada Suci dan Arya, karena Arsyila ingin meminta penjelasan dari kedua orangtuanya tersebut.


"Ma, Pa, apa maksud surat ini? Kak Iqbal pergi kemana?" tanya Arsyila dengan menangis.


"Sayang, Kak Iqbal sudah pindah ke luar negeri," jawab Suci dengan lirih.


"Kenapa, kenapa Kak Iqbal sampai pindah ke luar negeri? Apa Mama sama Papa yang sudah memaksanya?" tanya Arsyila.


"Nak, semua itu adalah keputusan Iqbal, dan kami tidak bisa mencegahnya," jawab Arya.


"Tidak, Mama sama Papa pasti berbohong, kalian pasti sudah memaksa Kak Iqbal untuk pergi kan? Mama sama Papa tega sekali, Arsyi kecewa sama kalian," teriak Arsyila.


Rizky yang baru saja masuk ke dalam kamar, kembali ke luar karena mendengar keributan, begitu juga dengan Mama Erina dan Papa Fadil.


"Sayang, Arsyi kenapa?" tanya Mama Erina dengan menghampiri Arsyila yang masih terlihat menangis.


Rizky yang sebelumnya mendengar perkataan Arsyila merasa kecewa dengan sikap Adiknya tersebut karena sudah bicara dengan nada tinggi terhadap kedua orangtuanya.


"Cukup Arsyi, tidak seharusnya kamu berbicara seperti itu kepada Mama dan Papa. Kamu harus tau kalau Iqbal pergi ke luar negeri karena dia ingin kamu menjadi pribadi yang mandiri dan tidak terus bergantung kepadanya," ujar Rizky yang terlihat emosi.


Arsyila menjatuhkan tubuhnya mendengar perkataan Rizky, karena Arsyila masih tidak menyangka jika Iqbal tega meninggalkan dirinya.


"Kenapa, kenapa kalian tidak memberitahu Arsyi? Kalau Arsyi tau Kak Iqbal akan pergi, Arsyi masih bisa mengantar Kak Iqbal ke Bandara," gumam Arsyila.


Suci dan Arya memeluk tubuh Arsyila yang terlihat rapuh, dan keduanya mencoba memberi pengertian kepada Arsyila.


"Sayang, Kak Iqbal yang menyuruh kami supaya merahasiakan semuanya dari Arsyi, karena Kak Iqbal tidak ingin melihat Arsyi sedih. Kalau Arsyi melihat Kak Iqbal pergi, Kak Iqbal pasti akan berat untuk meninggalkan kita semua," ucap Suci dengan mengelap airmata yang terus menetes pada pipi Arsyila.


Arsyila yang menyadari kesalahannya karena telah berbicara dengan nada tinggi terhadap kedua orangtuanya, memutuskan untuk meminta maaf.


"Ma, Pa, maafin Arsyi ya, tidak seharusnya Arsyi berbicara tidak sopan kepada Mama sama Papa, Arsyi janji tidak akan melakukannya lagi."


Mungkin semua ini memang yang terbaik untuk aku dan Kak Iqbal. Semoga saja dengan terpisah oleh jarak dan waktu, secara perlahan aku bisa menghapus rasa cinta yang aku miliki terhadap Kakak kandungku sendiri, karena aku tidak seharusnya memiliki perasaan seperti ini, ucap Arsyila dalam hati.


*

__ADS_1


*


Bersambung


__ADS_2