Suci Tak Lagi Suci

Suci Tak Lagi Suci
Bab 183 ( Mengganti kedua mempelai )


__ADS_3

Semuanya tidak pernah menyangka jika Arsyi akan berkata seperti itu, tapi Nanda yakin jika Arsyi mengatakan semua itu supaya Nanda menjauhinya.


"Apa kamu pikir aku percaya dengan perkataanmu? Silahkan kamu terus menyakitiku dengan kata-katamu, tapi aku tidak akan pernah mundur," tegas Nanda.


"Terserah kamu percaya atau tidak, tapi aku tidak akan pernah menikah dengan lelaki yang tidak aku cintai," ujar Arsyi dengan tertunduk, karena Arsyi tidak mau terlihat sedih di depan semua orang.


Suci mencoba menengahi Nanda dan Arsyi supaya tidak terus berdebat.


"Arsyi, Nanda, nanti kita bicarakan lagi semuanya setelah kondisi Arsyi membaik ya, saat ini kondisi Arsyi masih belum pulih, jadi Arsyi jangan terlalu banyak pikiran dulu."


"Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi Ma, karena semuanya sudah jelas, Arsyi tidak mau menikah dengan Nanda, sebaiknya kamu pergi saja dari sini Nanda, aku tidak mau bertemu kamu lagi," ujar Arsyi dengan menangis memeluk tubuh Suci.


Arya merasa tidak enak kepada Nanda dan keluarga atas sikap yang Arsyi tunjukan, sampai akhirnya Arya memutuskan untuk meminta maaf.


"Nanda, atas nama Arsyi, Papa meminta maaf kepada Nanda dan keluarga, mungkin sebaiknya rencana pernikahan Nanda dan Arsyi harus kita tunda dulu."


Nanda sebenarnya tidak rela apabila pernikahannya dengan Arsyi dibatalkan. Akan tetapi, Nanda juga tidak mau memaksa Arsyi.


"Pernikahan akan tetap dilaksanakan, tapi kita akan mengganti kedua mempelai nya," ujar Rizky yang baru kembali ke kamar perawatan Arsyi.


Rizky berkata seperti itu karena tidak mau membuat Arya dan Irwan merasa malu jika acara pernikahan dibatalkan, apalagi berita pernikahan sudah tersebar, bahkan persiapan pernikahan sudah hampir selesai. Jadi Rizky sudah memutuskan untuk menikahi Dinda supaya tidak mengecewakan keluarga Irwan.


"Apa maksud kamu Nak?" tanya Arya kepada Rizky.


Rizky beberapa kali mengembuskan nafas secara kasar sebelum menjawab pertanyaan Arya.


"Rizky akan menikahi Dinda."


Semuanya semakin terkejut mendengar keputusan Rizky, apalagi selama ini Rizky tidak pernah berpacaran, meski pun banyak perempuan yang mengejarnya.


Putri yang berada di belakang Rizky juga merasa terkejut ketika mendengar keputusan Rizky, bahkan Putri sampai menjatuhkan map yang dia bawa, karena sebenarnya sudah lama Putri memendam perasaan terhadap Rizky, tapi Putri sadar diri ketika melihat wajahnya yang cacat.


Tidak seharusnya aku memiliki perasaan seperti ini, aku harus sadar diri jika aku tidak pantas untuk Rizky, ucap Putri dalam hati.

__ADS_1


"Kak Putri baik-baik saja kan?" tanya Dinda dengan membantu Putri mengambil map yang terjatuh.


"Terimakasih Dinda, aku baik-baik saja," jawab Putri, kemudian masuk ke dalam kamar perawatan Arsyi menghampiri Arsyi dan yang lainnya.


Dinda yang memang sudah lama menaruh hati kepada Rizky merasa bahagia mendengar keputusan Rizky tersebut, tapi Dinda tidak mau memaksakan kehendaknya kepada Rizky, karena selama ini Dinda tau jika Rizky hanya menganggap Dinda sebagai Adiknya.


"Kak Rizky, apa bisa kita bicara berdua?" tanya Dinda, dan Rizky menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Maaf semuanya, Rizky dan Dinda ke luar dulu," ujar Rizky, kemudian mengajak Dinda menuju ruang kerja nya supaya mereka bisa lebih leluasa untuk berbicara.


Setelah Rizky dan Dinda berada di dalam ruang kerja Rizky, Rizky bertanya tentang apa yang ingin Dinda katakan.


"Dinda, apa yang ingin Dinda katakan? Apa Dinda tidak mau menikah dengan Kak Rizky?" tanya Rizky.


"Hanya perempuan bodoh yang tidak mau menikah dengan lelaki sesempurna Kak Rizky," jawab Dinda dengan tersenyum.


"Berarti Dinda setuju kalau kita menikah?" tanya Rizky lagi.


"Kak Rizky pasti tau kalau dari kecil Dinda sangat mengagumi sosok Kak Rizky, tapi Dinda tidak mau memaksakan kehendak Dinda, karena Dinda tau kalau Kak Rizky tidak pernah mencintai Dinda, Kak Rizky hanya menganggap Dinda sebagai Adik saja kan? Dinda juga tidak mau menikah tanpa perasaan cinta."


"Kenapa Kak Rizky tersenyum? Apa ada yang lucu? Ternyata kulkas dua pintu juga bisa tersenyum," ujar Dinda dengan terkekeh.


"Dinda, aku baru sadar kalau ternyata sekarang kamu sudah dewasa."


"Usia kita hanya selisih satu tahun lebih, jadi Kak Rizky jangan menganggap Dinda sebagai Anak kecil lagi."


"Dinda, mungkin saat ini aku belum memiliki perasaan cinta sama kamu, tapi aku yakin dengan seiring waktu cinta itu akan tumbuh. Sepertinya tidak akan susah mencintai perempuan sebaik kamu."


"Gak usah gombal, perkataan Kak Rizky gak bakalan mempan."


"Apa kamu tidak mau mencobanya?"


"Kak, pernikahan itu bukan untuk coba-coba, apalagi Dinda tau kalau Kak Rizky sudah jatuh cinta kepada perempuan lain."

__ADS_1


"A_apa maksud kamu? Tidak mungkin seperti itu, selama ini tidak ada perempuan yang aku cintai," ujar Rizky dengan tergagap.


"Lalu bagaimana dengan Kak Putri? Karena Dinda yakin kalau Kak Putri juga memiliki perasaan yang sama dengan Kak Rizky."


"Putri adalah Temanku, mana mungkin kami berdua menikah," ujar Rizky yang mencoba untuk berkilah, karena Rizky juga belum yakin dengan perasaan yang ia miliki untuk Putri.


"Sekarang Dinda sudah tau apa yang harus Dinda lakukan, sebaiknya kita kembali ke kamar perawatan Arsyi, tidak enak kalau kita terus berduaan di sini."


Rizky sebenarnya merasa penasaran dengan yang Dinda pikirkan, tapi Rizky tidak mau dibilang kepo jika dia bertanya tentang keputusan Dinda.


......................


Di tempat lain, Iqbal yang sudah berada di Terminal Bus tiba-tiba pingsan karena demam, apalagi luka pada sekujur tubuhnya belum sempat dia obati.


Iqbal berencana untuk mencari keberadaan orangtua kandungnya, tapi Iqbal tidak tau harus mencari kemana, sampai akhirnya Iqbal memutuskan pergi ke Terminal Bus tanpa arah dan tujuan.


"Siapa yang pingsan?" tanya salah satu Supir angkot bernama Cindi yang kebetulan mangkal di dekat Terminal Bus tersebut.


"Cin, sebaiknya kamu bawa bocah ini pulang, kasihan dia babak belur seperti itu, mungkin dia sudah menjadi korban perampokan," ujar Bang Rojali yaitu Kakak Cindi yang berprofesi sebagai Supir angkot juga.


"Bang, kenapa harus gue sih?" tanya Cindi yang merasa keberatan.


"Sekarang kan loe gak narik lagi, nanti gua bantu loe ngurus ni bocah, kasihan juga dia, apalagi wajahnya mirip banget sama Bapak saat masih muda dulu," ujar Bang Rojali.


Cindi menatap lekat wajah Iqbal, dan Cindi juga merasa heran karena wajah Iqbal mirip sekali dengan wajah Ayahnya saat masih muda dulu.


"Iya ya Bang, kalau dilihat-lihat bocah ini mirip banget sama Bapak saat masih muda dulu. Apa mungkin dia Adik kita yang hilang ya Bang?" ujar Cindi.


"Sebaiknya sekarang loe bawa dia pulang, jangan lupa obati luka nya, siapa tau penyakit Bapak akan sembuh kalau lihat ni bocah, kasihan juga sudah dua puluh tiga tahun Bapak merasa bersalah karena tidak bisa menjaga Adik kita dengan baik," ujar Bang Rojali, dan akhirnya Cindi membawa Iqbal pulang ke rumahnya yang tidak jauh dari Terminal Bus.


*


*

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2