Suci Tak Lagi Suci

Suci Tak Lagi Suci
Bab 172 ( Rencana pernikahan Arsyila dan Nanda )


__ADS_3

Nanda terlihat gugup ketika Hesti meminta penjelasan darinya.


"A_apa maksud Bunda?" tanya Nanda.


"Nanda, Bunda adalah perempuan yang mengandung serta melahirkan kamu. Apa Nanda masih tega membohongi Bunda kalau Nanda hanya pura-pura buta?" tanya Hesti dengan menatap lekat wajah Nanda.


Nanda memeluk tubuh Hesti, kemudian Nanda meminta maaf atas kebohongan yang telah dirinya lakukan.


"Maaf Bunda, Ayah, Nanda tidak bermaksud membohongi kalian, Nanda hanya ingin selalu dekat dengan Arsyi," ucap Nanda dengan menangis.


Hesti menghela nafas panjang mendengar perkataan Nanda, sedangkan Irwan malah tertawa.


"Yah, memangnya apa yang lucu sampai-sampai Ayah tertawa seperti itu?" tanya Hesti dengan tatapan tajam.


"Sayang, sudah, jangan marah-marah terus, nanti Bunda cepat tua lho," ujar Irwan dengan memeluk tubuh Hesti.


"Kali ini Nanda sudah benar-benar keterlaluan Yah, bagaimana kalau Suci sampai mengetahui kelakuan Anak kita? Bunda pasti akan merasa bersalah dan sangat malu terhadap Suci dan keluarganya," ujar Hesti.


"Sayang, Anak kita bukan melakukan tindakan kriminal, Nanda hanya berusaha untuk mendapatkan cinta dari pujaan hatinya. Ayah yakin kalau Nanda pasti akan segera mengakhiri kebohongannya, apalagi Arsyi sudah janji untuk bertunangan dengan Nanda jika penglihatan Anak kita sudah kembali," ujar Irwan.


"Iya Bunda, Nanda hanya pura-pura buta selama satu minggu kok, Nanda janji tidak akan melakukan kesalahan lagi," ujar Nanda dengan mata yang berbinar.


"Hmmm Anak sama Ayah sama saja, kalian berdua sampai menghalalkan segala cara demi mendapatkan cinta," gumam Hesti.


"Karena perempuan yang kami cintai memang pantas untuk diperjuangkan," ujar Nanda dan Irwan secara bersamaan.


Hesti dan Dinda menggelengkan kepala mereka ketika melihat kelakuan Ayah dan Anak yang selalu kompak.


Mungkin sekarang Arsyila sedang berusaha membuka hatinya untuk Nanda, tapi bagaimana kalau suatu saat nanti Iqbal kembali? bagaimana kalau Arsyi dan Iqbal mengetahui kebenaran jika mereka bukanlah saudara kandung? Ucap Hesti dalam hati.


......................


Sepanjang perjalanan pulang menuju kediaman Argadana, Suci mengajak Arsyi untuk berbicara, karena Suci tidak mau jika Arsyi sampai menyesali keputusannya.


"Arsyi, apa Arsyi yakin ingin menerima Nanda menjadi pendamping hidup Arsyi?" tanya Suci.


"Iya Ma, Arsyi sangat yakin."


"Mama tau kalau Arsyi tidak mencintai Nanda, Mama harap Arsyi tidak membohongi diri sendiri, karena itu pasti menyakitkan."


"Ma, bukannya cinta akan datang dengan seiring waktu? Nanda adalah lelaki baik, bahkan Nanda sampai rela mengorbankan hidupnya demi Arsyi," ujar Arsyi dengan tertunduk sedih, karena dalam hati kecil Arsyi, selalu ada nama Iqbal.


Arya sangat memahami bagaimana perasaan Suci saat ini, dan Arya terus menggenggam tangan Suci untuk memberikan kekuatan kepada Istrinya tersebut jika semuanya akan baik-baik saja.

__ADS_1


......................


Satu minggu kemudian, saat Nanda melakukan kontrol, Nanda memutuskan untuk mengakhiri kebohongannya, dan Arsyi begitu bahagia ketika mendengar kabar jika penglihatan Nanda sudah kembali, tapi entah kenapa Arsyi merasa ragu untuk menepati janjinya terhadap Nanda.


Saat ini Arsyi dan Nanda sudah berada di sebuah Restoran untuk membicarakan rencana pertunangan mereka.


"Arsyi, kenapa kamu diam saja? Apa makanannya tidak enak?" tanya Nanda.


"Eh, tidak kok, aku hanya kepikiran tentang sesuatu saja," jawab Arsyi.


Nanda beberapa kali mengembuskan nafas secara kasar, karena Nanda tau betul jika saat ini Arsyi masih belum siap untuk bertunangan dengannya.


"Arsyi, aku tau kalau kamu belum siap untuk bertunangan denganku. Kamu harus tau kalau aku tidak akan pernah memaksa kamu," ujar Nanda dengan memegang tangan Arsyi.


"Tapi, sebelumnya aku sudah janji sama kamu kalau kita akan bertunangan setelah penglihatan kamu kembali," ujar Arsyi.


"Sekarang aku sendiri yang akan membatalkan janji yang sudah kamu buat. Kamu bebas melalukan apa pun yang kamu mau, dan aku akan tetap menunggu sampai kamu siap menerima ku menjadi pendamping hidup kamu. Bagaimana kalau kita langsung menikah saja setelah nanti kita sudah berusia 22 tahun? Mungkin nanti kita sudah ke luar kuliah, dan aku sudah memiliki pekerjaan," ujar Nanda dengan tersenyum.


Arsyi tersenyum serta menganggukkan kepalanya sebagai tanda setuju, dan Arsyi berharap dalam waktu enam tahun, Arsyi sudah bisa mencintai Nanda.


......................


Enam tahun kemudian..


Oma Rahma meninggal pada lima tahun yang lalu, dan dua tahun kemudian Papa Fadil menyusulnya.


Suci begitu terpukul setelah kehilangan kedua orang penting dalam hidupnya, tapi Suci beruntung karena memiliki sosok Suami seperti Arya yang selalu berada di sampingnya serta menemani Suci dalam suka dan duka.


"Sayang, bagaimana persiapan pernikahan Arsyi dan Nanda?" tanya Arya dengan memeluk tubuh Suci ketika pulang dari kantor.


"Persiapannya sebentar lagi juga selesai Pa, kita juga masih memiliki waktu selama satu bulan," jawab Suci.


Arsyi dan Nanda sudah berusia 22 tahun, dan keduanya telah berhasil menyelesaikan kuliah serta memiliki pekerjaan yang bagus.


Nanda saat ini menjabat sebagai Direktur di perusahaan milik Irwan, sedangkan Arsyi sudah berhasil memiliki butik serta menjadi model untuk brand pakaiannya sendiri.


Selama enam tahun ini keduanya telah menjalin hubungan. Akan tetapi, entah kenapa sampai saat ini Arsyi belum bisa mencintai Nanda.


Meski pun Arsyi belum bisa mencintai Nanda, tapi Arsyi tidak mau mengingkari janjinya untuk menikah dengan Nanda apabila usia keduanya sudah 22 tahun.


"Oh iya, katanya besok Iqbal bakalan pulang ya?" tanya Arya.


"Iya Pa, masa Adiknya mau nikah Iqbal tidak pulang, apalagi Iqbal sudah berhasil menyelesaikan kuliahnya dengan baik," jawab Suci yang merasa bangga dengan keberhasilan yang dicapai oleh ketiga Anaknya.

__ADS_1


"Apa Iqbal sudah memiliki pacar?" tanya Arya lagi.


"Iqbal beberapa kali pernah cerita sama Mama kalau banyak perempuan yang berusaha mendekatinya, mungkin besok Iqbal akan membawa calon Menantu untuk kita," ujar Suci dengan tersenyum.


Arsyi yang tidak sengaja mendengar percakapan Suci dan Arya tentang Iqbal, begitu terkejut, bahkan gelas yang Arsyi pegang sampai terjatuh.


Prang


Suci dan Arya terkejut mendengar benda yang terjatuh, apalagi keduanya melihat Arsyi yang berdiri mematung serta menitikkan airmata.


"Arsyi sayang, kamu kenapa Nak?" tanya Suci, tapi Arsyi langsung berlari ke dalam kamarnya.


"Pa, Mama mau menyusul Arsyi dulu ya."


Arya menahan tangan Suci, karena Arya tau jika saat ini Arsyi membutuhkan waktu untuk sendiri.


"Ma, sekarang Arsyi butuh waktu untuk sendiri. Papa yakin kalau Arsyi seperti itu karena mendengar percakapan kita tentang Iqbal."


"Apa Papa berpikir jika sampai sekarang Arsyi masih memiliki perasaan untuk Iqbal?" tanya Suci.


"Iya Ma, Arsyi pasti masih memiliki perasaan untuk Iqbal, makanya Arsyi sampai terkejut seperti itu."


Suci terlihat bingung, apalagi pernikahan Arsyi dan Nanda sudah di depan mata.


"Pa, kita harus bagaimana? Sebentar lagi Arsyi dan Nanda akan segera melangsungkan pernikahan, tidak mungkin kan kalau kita membatalkan pernikahannya?"


"Ma, Arsyi sudah memutuskan untuk menikah dengan Nanda. Kita tau bagaimana sifat Anak-anak kita, tidak mungkin Arsyi membuat kita kecewa."


......................


Keesokan paginya, bel pintu kediaman Argadana terdengar berbunyi ketika Suci dan keluarganya sedang melakukan sarapan.


"Ma, biar Arsyi aja yang buka," ujar Arsyi, kemudian melangkahkan kakinya menuju pintu.


Arsyi begitu terkejut ketika membuka pintu, karena saat ini lelaki yang sudah enam tahun dia rindukan tengah berdiri di hadapannya.


"K_kak Iqbal."


*


*


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2