
Rian dan Suci saat ini telah sampai di rumah baru mereka, dan Rian turun terlebih dahulu membukakan pintu mobil untuk Suci.
"Selamat datang di rumah baru kita, Ratu ku dan Pangeran ku," ucap Rian dengan tersenyum dan mengulurkan tangannya kepada Suci, kemudian Rian mengambil Rizky dari gendongan Suci.
Tiba-tiba kepala Suci terasa sakit, karena sekilas Suci melihat bayangan Arya yang dulu pernah mengatakan kata-kata itu saat pertama kali Suci dan Arya sampai di rumah baru mereka.
"Sayang, kamu baik-baik saja kan?" tanya Rian yang merasa khawatir, karena Suci terus saja memegang kepalanya.
Kenapa aku merasa jika sebelumnya perkataan yang di ucapkan oleh Mas Rian pernah dikatakan oleh seseorang? sepertinya itu adalah bayangan sosok laki-laki yang selalu masuk ke dalam mimpiku. Siapa dia sebenarnya, karena aku yakin jika dia bukanlah Mas Rian? batin Suci kini bertanya-tanya.
Suci yang tidak ingin Rian merasa khawatir, mencoba terlihat baik-baik saja di depan Rian.
"Barusan kepalaku tiba-tiba terasa sedikit sakit Mas, tapi sekarang sudah tidak apa-apa," jawab Suci dengan tersenyum.
"Apa yakin tidak apa-apa? sebaiknya sekarang kita segera masuk ke dalam, supaya Istriku yang cantik ini bisa beristirahat," ujar Rian dengan terus menggandeng Suci masuk ke dalam rumah.
Suci dan Rian disambut oleh dua Asisten rumah tangga, dan satu orang Satpam.
"Selamat datang Tuan dan Nyonya," ucap Bi Ijah, Susi, dan Pak Parman.
"Kami ucapkan terimakasih untuk semuanya karena telah menyambut kedatangan kami. Semoga saja semuanya betah bekerja dengan kami," ucap Rian, kemudian Rian dan Suci menyalami para pekerja mereka sekalian berkenalan.
"Sus, saya titip Anak kami dulu ya, saya mau mengantar Istri saya untuk beristirahat, soalnya Istri saya baru ke luar dari Rumah Sakit," ujar Rian dengan memberikan Rizky kepada Baby Suster yang bernama Susi.
Susi terus menatap kagum wajah Rian yang tampan, dan Bi Ijah yang melihat tatapan Susi terhadap Rian, langsung memberikan peringatan terhadap Keponakannya tersebut.
"Susi, Bibi harap jaga mata kamu. Tuan Rian sudah memiliki Istri, jadi tidak sepantasnya kamu menatap penuh kekaguman seperti itu terhadap majikan kita."
__ADS_1
"Iya Bi, Susi tau. Susi juga hanya kagum saja dengan Bos kita yang tampan maksimal. Tidak apa-apa kan mengagumi, meski pun tidak bisa memiliki," ujar Susi.
"Kita di sini untuk bekerja. Kamu sebaiknya jaga Tuan muda dengan baik, dan jangan berbuat macam-macam, Bibi mau ke dapur dulu untuk nyiapin makan malam," ujar Bi Ijah, kemudian berlalu ke dapur.
Lihat saja nanti, kalau aku pasti bisa mendapatkan Tuan Rian, lagian tampang Istrinya juga biasa-biasa saja. Nama istrinya Suci kan? namanya juga beda tipis sama aku, apalagi cantikan aku jika dibandingkan dengan si Suci, batin Susi yang sudah memiliki rencana untuk menggoda Rian.
......................
Di tempat lain, tepatnya di Argadana Grup, Farel begitu terkejut karena tidak biasanya Alina datang menemuinya.
"Sayang, tumben kamu datang ke sini? bagaimana kabar Putri?" tanya Farel dengan memeluk tubuh Alina, ketika melihat pujaan hatinya tersebut masuk ke dalam ruang kerjanya.
Alina sebenarnya malas meladeni Farel, karena tujuannya datang ke Argadana Grup yaitu untuk kembali mendekati Arya.
Sebaiknya aku berpura pura bersikap baik dulu terhadap si Farel supaya aku bisa bekerja menjadi salah satu Sekretaris di sini, karena dengan begitu, aku bisa lebih gampang untuk mendekati Arya, batin Alina dengan tersenyum licik.
"Benarkah? kalau begitu, pulang kerja nanti, aku akan menjenguk Putri kita," ucap Farel dengan mata yang berbinar.
"Terserah kamu saja. Farel, sebenarnya aku ke sini mau minta bantuan sama kamu," ujar Alina dengan bergelayut manja terhadap Farel.
"Aku akan melakukan apa pun untuk kamu sayang. Memangnya apa yang bisa aku bantu?" tanya Farel.
"Aku sebenarnya ingin belajar bekerja. Aku bosan jika terus diam di rumah tidak ada kerjaan," jawab Alina.
"Bukannya dari dulu Om Ferdi sudah menyuruh kamu untuk belajar memimpin perusahaan? tapi aku harap kamu lebih baik tinggal di rumah merawat Putri, biar aku yang bekerja untuk kalian. Alina, kapan kamu akan menerimaku menjadi Suami kamu?" tanya Farel dengan menggenggam erat tangan Alina.
"Papa memang ingin aku meneruskan perusahaan, tapi aku tidak mau jika harus bekerja di kantornya. Aku ingin mencari pengalaman kerja dulu, supaya nanti aku tidak malu-maluin Papa. Kalau soal menikah, aku masih belum memikirkannya. Aku juga baru bercerai dengan Rian, jadi masih terlalu dini untuk membahas tentang masalah pernikahan," jawab Alina yang mencoba mencari alasan, dan Farel yang sudah dibutakan oleh Cinta, percaya begitu saja dengan perkataan Alina.
__ADS_1
"Sayang, aku sangat mengerti dengan perasaan kamu, tapi aku tidak mau jika sampai kamu kecapean. Kasihan Putri, dia juga membutuhkan kasih sayang dari Ibunya."
Alina sebenarnya merasa geram, karena Farel terus saja membahas Putri, tapi Alina berusaha untuk bersabar, karena saat ini tujuannya untuk mendapatkan pekerjaan masih belum berhasil.
Kenapa sih si Farel terus saja membahas tentang si cacat? dia membuat mood ku hancur saja. Sabar Alina, demi mendapatkan Arya, aku harus bersabar menghadapi laki-laki cerewet seperti si Farel, batin Alina dengan mengelus dadanya.
"Farel, kamu tidak perlu mengkhawatirkan tentang Putri, karena Bi Rita selalu menjaganya dengan baik. Lagian sekarang itu jamannya emansipasi wanita, aku tidak mau jika suatu saat nanti hanya mengandalkan pemberian dari Suamiku. Aku juga ingin memiliki pengalaman kerja dan penghasilan sendiri. Percuma aku capek-capek kuliah jika akhirnya gelar yang aku miliki tidak aku manfaatkan."
Farel nampak berpikir, karena Farel tahu betul watak Alina yang keras kepala, sampai akhirnya Farel terbesit ide untuk menjadikan Alina sebagai Sekretaris pribadinya.
Saat ini wewenang perusahaan ada di tanganku. Sepertinya Arya juga tidak akan keberatan jika aku menjadikan Alina sebagai Sekretaris pribadiku. Jadi, aku bisa lebih leluasa untuk mendekati Alina dan berusaha mendapatkan hatinya, batin Farel.
"Sayang, kalau begitu apa kamu bersedia menjadi Sekretaris pribadiku?" tanya Farel.
Alina sebenarnya ingin menjadi Sekretaris Arya, tapi Alina tidak mungkin mengatakan keinginannya, karena Alina tidak mau jika Farel sampai merasa curiga.
"Baiklah, aku bersedia menjadi Sekretaris pribadimu, apa hari ini aku sudah mulai bisa bekerja?" tanya Alina dengan bersemangat, karena Alina pikir Arya berada di kantor juga.
"Sayang, kamu bisa bekerja besok, tapi sekarang kamu bisa menghabiskan waktu denganku. Kita sudah lama juga tidak melakukannya bukan?" ujar Farel dengan mendekatkan bibirnya kepada Alina.
Awalnya Alina terlihat menolak, tapi sentuhan-sentuhan yang Farel berikan membuat Alina tidak dapat berkutik, sampai akhirnya Farel membawa Alina ke dalam kamar pribadi yang berada di ruangannya, dan mereka melewati siang hari dengan bertukar keringat.
*
*
Bersambung
__ADS_1