Suci Tak Lagi Suci

Suci Tak Lagi Suci
Bab 146 ( Kacang lupa kulitnya )


__ADS_3

Suci dan Arya berdiri untuk menghampiri keluarganya, tapi saat keduanya berjalan, ada seorang perempuan yang sengaja menabrak Arya.


"Maaf saya tidak sengaja. Perkenalkan nama saya Bianca," ujar perempuan tersebut dengan mengulurkan tangannya kepada Arya.


Bianca begitu kagum melihat wajah tampan Arya, sedangkan Arya terus memalingkan wajahnya tanpa mau melihat perempuan yang menabraknya.


"Sayang, sebaiknya kita pergi dari sini, kasihan Anak-anak pasti mencari kita," ujar Arya dengan membuka pakaian yang ia kenakan, sehingga membuat Suci merasa bingung.


"Pa, kenapa bajunya di buka?" tanya Suci.


"Papa tidak suka jika pakaian Papa dipegang oleh perempuan lain selain Mama," ujar Arya dengan penuh penekanan, lalu memasukan baju luar yang ia pakai ke dalam tempat sampah.


Arya menarik lembut tangan Suci, kemudian berlalu begitu saja meninggalkan Bianca.


"Sombong sekali laki-laki tampan itu, baru kali ini ada seorang laki-laki yang sama sekali tidak tertarik dengan pesonaku. Dia sepertinya menganggap aku kotoran bahkan sampai membuang bajunya karena sempat terkena tanganku. Lihat saja nanti, jangan panggil aku Bianca jika tidak bisa menaklukan kamu," gumam Bianca yang merasa iri melihat Suci yang terus dipeluk oleh Arya.


"Papa tidak perlu membuang baju Papa, Mbak yang tadi juga tidak sengaja menabrak Papa," ujar Suci.


"Sayang, Mama itu terlalu polos. Papa sudah tau trik licik perempuan seperti itu," ujar Arya dengan mencubit hidung Suci.


Arya dan Suci langsung memeluk ketiga Anak mereka yang masih terlihat asyik bermain pasir.


"Memangnya kalian berdua sudah puas kencan nya?" tanya Papa Fadil.


"Kasihan Anak-anak kalau kami terlalu lama pacaran nya Pa," jawab Arya.


"Ya sudah, sebaiknya sekarang kita kembali ke Hotel, Kaki Oma rasanya pegal kalau terlalu lama berdiri, Oma juga takut masuk angin," ujar Oma Rahma.


"Ma tunggu sebentar, kita harus mengabadikan momen indah ini dengan berfoto. Lihat Sunset nya terlihat begitu indah," ujar Papa Fadil.


"Tapi siapa yang akan memotret nya, biar semuanya bisa ikut berfoto?" tanya Mama Erina.


"Saya saja Nyonya," ujar Bi Sari.


"Tidak bisa, Bibi kan keluarga kami juga, jadi Bibi harus ikut berfoto," ujar Suci.


Papa Fadil akhirnya memanggil Karyawan Hotel yang berada di sekitar mereka untuk meminta tolong memotret keluarganya.


Setelah selesai berfoto, semuanya kembali menuju Hotel untuk beristirahat.

__ADS_1


"Apa Mama bahagia?" tanya Arya kepada Suci pada saat keduanya memasuki kamar.


"Mama bukan hanya bahagia, tapi sangat sangat bahagia. Terimakasih atas kebahagiaan yang selalu Papa berikan untuk kami," jawab Suci dengan tersenyum.


"Oh iya sepertinya Papa punya ide buat bikin Mama semakin bahagia."


"Papa mau ngapain?"


"Bagaimana kalau sekarang kita mandi bareng mumpung Anak-anak ada yang jagain?" ujar Arya dengan tersenyum penuh arti, lalu tanpa aba-aba mengangkat tubuh Suci menuju kamar mandi.


......................


Pada malam harinya, Arya dan Suci turun menuju lantai satu, keduanya berniat menghampiri keluarganya yang sudah menunggu di Restoran untuk makan malam, tapi mereka tidak sengaja berpapasan dengan rekan bisnis Argadana Grup yang bernama Tuan Hartawan.


"Tuan Arya, Saya tidak menyangka kalau kita bisa bertemu di sini," ujar Tuan Hartawan dengan menjabat tangan Arya, tapi saat Tuan Hartawan mengulurkan tangannya kepada Suci, Suci menelungkupkan kedua tangannya di depan dada.


"Iya Tuan, Saya sengaja mengajak keluarga untuk liburan selama beberapa hari. Apa Tuan Hartawan sedang liburan bersama keluarga juga?" tanya Arya.


"Tidak Tuan, saya sengaja liburan ke sini bersama simpanan saya. Ngomong-ngomong Istri Tuan Arya cantik sekali," ujar Tuan Hartawan tanpa tahu malunya.


Arya sudah mengetahui sifat Tuan Hartawan yang memiliki banyak simpanan, tapi Arya bersikap profesional dalam masalah pekerjaan dan tidak mau ikut campur dalam urusan pribadi oranglain.


"Tuan Arya, apa kami bisa ikut bergabung? Kebetulan saya dan pacar saya hanya berdua. Itu pacar saya sudah datang," tunjuk Pak Hartawan saat Bianca menghampirinya.


Arya sebenarnya merasa risih jika Tuan Hartawan ikut bergabung, tapi Arya tidak enak untuk menolaknya.


"Sayang, perkenalkan, ini Tuan Arya dan Istrinya, Tuan Arya adalah Pengusaha muda paling sukses di Indonesia," ujar Pak Hartawan kepada Bianca.


Bukankah dia lelaki sombong yang tadi sore? Bagus deh, aku jadi memiliki kesempatan untuk mendekatinya. Aku tidak menyangka bisa bertemu dengan pengusaha sukses nomor satu. Pasti dia hanya pura-pura sombong karena ada istrinya, batin Bianca.


Arya sedikit pun tidak melirik Bianca, apalagi saat Bianca mengulurkan tangannya, sampai akhirnya Suci yang merasa tidak enak menjabat uluran tangan Bianca.


"Bianca," ujar Bianca dengan mengulurkan tangannya kepada Arya.


"Saya Suci. Senang bertemu dengan Anda Nona Bianca," ujar Suci.


Sepertinya perempuan ini yang sudah menabrak Mas Arya tadi sore, ternyata benar perkataan Mas Arya, kalau aku terlalu polos sehingga tidak dapat membedakan orang yang tulus dan yang modus, batin Suci.


Semuanya saat ini telah bergabung di meja yang berukuran besar untuk makan malam, karena Arya sengaja memesan pada pihak Restoran supaya semua keluarganya bisa ikut makan dalam satu meja, termasuk Bi Sari.

__ADS_1


Tuan Hartawan menyapa Papa Fadil dan Keluarga, tapi Mama Erina terlihat tidak suka dengan kehadiran Tuan Hartawan dan Bianca, karena kebetulan Tuan Hartawan dan Istrinya adalah Teman Mama Erina saat duduk di bangku SMA.


"Sepertinya Tuan Hartawan membawa Anak angkatnya? Kasihan sekali nasib Sandra, dia selalu disakiti oleh lelaki yang dia pungut. Sandra terlalu bodoh karena jatuh cinta kepada Buaya buntung seperti Tuan Hartawan," sindir Mama Erina.


Pada awalnya Tuan Hartawan bukanlah orang kaya, tapi karena Sandra yang notabene nya Anak tunggal dari Pengusaha kaya raya begitu mencintainya, Tuan Hartawan menikah dengan Sandra, lalu mengambil alih bisnis milik keluarga Sandra sejak kedua orangtuanya meninggal dunia.


"Nyonya Erina, dari dulu Anda selalu senang bercanda. Saya hanya mencoba untuk bersenang-senang selagi saya masih muda dan memiliki banyak kekayaan," ujar Tuan Hartawan dengan angkuhnya.


"Muda dari Hongkong, situ gak ingat sama umur. Hartawan, kamu itu seperti kacang yang lupa kulitnya. Kalau kamu tidak menikah dengan Sandra, kamu bukan apa-apa," ujar Mama Erina.


"Sudah Ma, tidak enak sama Anak-anak. Sebaiknya sekarang kita mulai makan," ujar Papa Fadil


Suci sebenarnya merasa risih kepada Tuan Hartawan yang terus saja menatap kagum terhadap dirinya.


Genit banget nih aki-aki, sepertinya dia minta diberi pelajaran, batin Suci.


Suasana semakin memanas ketika Bianca angkat suara.


"Dari dandanannya, Bibi yang ini sepertinya seorang Pembantu ya?" sindir Bianca pada Bi Sari yang duduk di samping Suci dan kebetulan berhadapan dengan Bianca.


"Maaf Nona, tapi Anda salah, karena Bi Sari sudah kami anggap sebagai keluarga kami sendiri. Memangnya apa ada yang salah dengan profesi sebagai Pembantu?" tanya Suci dengan tatapan tajam, karena Suci begitu geram mendengar perkataan Bianca.


"Saya hanya merasa heran saja. Pembantu kan tidak selevel sama kita, kok mau-maunya keluarga yang terhormat dan terpandang makan satu meja sama Pembantu," sindir Bianca lagi.


"Tapi menurut saya, Bi Sari jauh lebih terhormat dari Anda, karena Bi Sari mencari uang dengan cara halal. Seharusnya Anda berkaca dulu sebelum bicara, karena tidak mungkin perempuan yang punya harga diri mau di ajak liburan bahkan sampai menginap di Hotel oleh lelaki yang sudah beristri," sindir Suci.


"Kalau ada cari lain yang bisa menghasilkan uang tanpa cape bekerja. Kenapa tidak?" ujar Bianca tanpa tahu malunya.


"Saya kasihan sama Anda. Anda lebih rela mengorbankan harga diri demi mendapatkan uang. Anda harus ingat jika kecantikan yang Anda miliki tidak akan abadi. Kelak Anda akan menjadi Nenek-nenek," sindir Suci dengan tersenyum mengejek, sehingga membuat Bianca merasa geram, apalagi Tuan Hartawan hanya diam tanpa mau membela Bianca.


"Sayang, kenapa sih kamu diam saja? Kenapa kamu tidak mau membelaku, padahal dia sudah berani menghinaku," rengek Bianca pada Tuan Hartawan.


Tuan Hartawan diam karena ingin tau sejauh mana Suci berani bicara, apalagi baru kali ini Tuan Hartawan bertemu dengan perempuan berani seperti Mama Erina dan Suci.


Kenapa aku merasa jika wajah Suci begitu mirip dengan Erina saat masih muda dulu ya? Batin Tuan Hartawan kini bertanya-tanya.


*


*

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2