
Rian langsung mendorong tubuh Susi yang tengah memeluk tubuhnya hingga Susi terjatuh di atas lantai, kemudian Rian berdiri dan bergegas menghampiri Suci yang saat ini terlihat diam mematung karena masih terkejut dengan apa yang dirinya lihat.
"Sayang, semua ini tidak seperti yang kamu pikirkan, Susi sudah menjebak Mas, dan Mas bisa menjelaskan semuanya," ujar Rian dengan memeluk tubuh Suci.
"Cukup Mas, Mas tidak perlu menjelaskan apa pun lagi, karena sekarang semuanya sudah sangat jelas," ujar Suci dengan mata yang berkaca-kaca, sehingga membuat Rian merasa khawatir karena Rian mengira jika Suci telah salah paham terhadap dirinya.
Suci pasti mengira jika aku dan Tuan Rian sudah bermain gila, makanya si Suci terlihat sangat marah. Aku harus terus berakting supaya si Suci semakin marah kepada Tuan Rian. Semoga saja nanti dia meminta cerai, dan aku bisa menikah dengan Tuan Rian, batin Susi yang begitu bahagia karena mengira jika jebakannya telah berhasil.
Susi tiba-tiba menangis dan bersimpuh di bawah kaki Suci supaya Suci merasa iba terhadapnya.
"Nyonya tolong saya, Nyonya lihat sendiri kalau saya sudah dilecehkan oleh Tuan Rian. Sekarang hidup saya sudah benar benar hancur, dan saya harap Tuan Rian segera bertanggung jawab atas semua perbuatan yang telah dia lakukan, karena saya tidak mau jika sampai hamil di luar nikah."
"Dasar perempuan ja*lang, bisa bisanya kamu memfitnahku. Sayang, aku mohon, kamu jangan percaya kata-kata perempuan licik seperti dia," ujar Rian dengan terus mengeratkan pelukannya kepada Suci.
Bi Ijah yang mendengar keributan dari kamar tamu, menghampiri asal keributan, dan Bi Ijah begitu terkejut ketika melihat Susi yang saat ini dalam keadaan setengah telanjang.
"Susi, kenapa kamu bisa seperti ini?" tanya Bi Ijah dengan menutupi tubuh Susi menggunakan selimut.
"Bi, Susi sudah menjadi korban pe*merkosaan," jawab Susi dengan memeluk tubuh Bi Ijah, dan Susi terus berpura-pura menangis.
"Siapa yang sudah tega melakukan semua itu sama kamu?" tanya Bi Ijah dengan menangkup kedua pipi Susi.
"Pelakunya adalah Tuan Rian," jawab Susi dengan menunjuk Rian.
"Tidak mungkin Tuan Rian melakukan semua itu," ujar Bi Ijah yang tidak percaya dengan perkataan Susi.
"Jadi Bibi lebih percaya dengan oranglain dibandingkan dengan Keponakan sendiri? Bibi benar-benar tega," ujar Susi dengan tangisan yang semakin kencang.
__ADS_1
Suci yang sudah merasa muak terhadap Susi, akhirnya angkat suara.
"Apa sudah puas kamu berpura-pura menangis?" sindir Suci dengan tersenyum mengejek.
"A_apa maksud Nyonya? apa Nyonya tidak percaya dengan perkataan saya? seharusnya sebagai sesama wanita Nyonya bersimpati dengan musibah yang telah menimpa saya, tapi ternyata Nyonya tidak memiliki hati."
"Apa aku harus bersimpati kepada seorang pembohong? memangnya kamu pikir aku percaya jika Suamiku telah melakukan hal serendah itu terhadap kamu? maaf Susi, tapi aku lebih percaya kepada Suamiku dibandingkan dengan perkataanmu."
"Nyonya benar-benar kejam, tega-teganya Nyonya berkata seperti itu terhadap saya, padahal tadi Nyonya lihat sendiri kalau Tuan Rian sedang berada di bawah tubuh saya dengan posisi memeluk saya."
"Penglihatan ku masih normal Susi. Tadi aku lihat sendiri Mas Rian memang berada di bawah tubuh kamu, tapi dengan posisi kamu yang memeluknya. Kalau memang Mas Rian yang telah mem*perkosa kamu, seharusnya Mas Rian yang berada di atas, dan Mas Rian yang memeluk tubuh kamu," jelas Suci, sehingga Susi merasa geram karena Suci tidak mempercayai perkataannya.
Susi terlihat berpikir untuk membalas perkataan Suci, tapi Suci kembali angkat suara sehingga membuat Susi benar benar merasa terpojok.
"Sekarang begini saja, kalau benar Suamiku telah mem*perkosa kamu, apa kamu bersedia jika kita memanggil Dokter untuk memeriksa kamu?" tanya Suci, dan Susi hanya diam mematung, karena saat ini posisinya sudah berada di ujung tanduk.
"Susi, sebaiknya sekarang kamu berkata jujur, dan kamu meminta maaf kepada Nyonya dan Tuan," ujar Bi Ijah.
"Bibi tidak perlu repot-repot menyuruh Susi mengakui semua kesalahannya, karena saya sudah punya bukti jika Susi yang sudah berusaha menggoda Suami saya," ujar Suci dengan mengeluarkan handphone nya.
Semuanya begitu terkejut saat melihat rekaman CCTV dari layar handphone Suci, karena di sana terlihat jelas jika Susi yang sudah berusaha menggoda Rian.
"Sayang, jadi kamu memasang CCTV juga di kamar ini?" tanya Rian.
"Tentu saja, karena seorang istri harus menjaga Suaminya dengan baik, supaya tidak direbut oleh Pelakor," jawab Suci.
Sebenarnya Suci sudah mengetahui kebiasaan Rian yang selalu pindah kamar apabila Suci sudah tidur, dan awalnya Suci mengira jika Rian telah berselingkuh dengan Susi. Jadi, Suci memasang CCTV juga di dalam kamar tamu untuk membuktikan semuanya, dan nanti Suci akan menanyakan alasan Rian yang sebenarnya setelah masalah dengan Susi selesai.
__ADS_1
Saat ini Rian begitu marah, dan Rian menatap tajam Susi, sehingga Susi merasa ketakutan dan menundukkan kepalanya.
"Sekarang juga, kamu ke luar dari rumah kami, karena aku tidak sudi melihat kamu masih berada di sini," teriak Rian.
"Tuan, Nyonya, atas nama Susi, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya, saya tidak tau kalau Susi akan berbuat serendah itu," ucap Bi Ijah yang begitu malu dengan perbuatan yang telah Susi lakukan.
"Bi, seharusnya yang meminta maaf adalah orangnya, tapi kami tau kalau orang seperti Susi tidak mungkin mau melakukan semua itu, jadi sebaiknya Bibi antarkan Susi pulang sebelum kami berubah pikiran dan melaporkannya kepada pihak berwajib atas pencemaran nama baik juga percobaan mencelakakan saya, karena saya tau kalau Susi yang sudah beberapa kali berusaha mencelakai saya," ujar Suci.
"Kamu tidak punya bukti apa pun untuk memasukan aku ke dalam penjara," teriak Susi yang belum juga menyadari kesalahannya.
"Apa kamu ingin melihat rekaman CCTV nya juga?" tanya Suci.
"Iya, kamu keluarkan saja rekaman CCTV nya, karena sedikit pun aku tidak takut dengan ancaman kamu," tantang Susi.
Plak
Rian dan Suci begitu terkejut karena tiba-tiba Bi Ijah menampar pipi Susi, dan semua itu Bi Ijah lakukan karena merasa geram dan malu dengan kelakuan Keponakannya tersebut.
"Kenapa Bibi tega sekali menampar pipi Susi?" tanya Susi dengan memegangi pipinya yang memerah dan terasa panas.
"Seharusnya kamu meminta maaf dan menyadari kesalahan yang telah kamu lakukan Susi. Masih untung Nyonya dan Tuan tidak langsung menjebloskan kamu ke dalam penjara, kamu sudah benar-benar membuat Bibi malu. Atas nama Susi, sekali lagi saya minta maaf Nyonya, Tuan," ujar Bi Ijah kemudian bergegas membawa Susi ke luar dari kamar tamu menuju kamarnya, dan malam ini juga Bi Ijah akan mengantarkan Susi untuk pulang ke kampung halamannya.
*
*
Bersambung
__ADS_1