
Semuanya yang berada di sana sudah tidak merasa terkejut lagi ketika mendengar perkataan Iqbal, karena dari kecil Iqbal selalu berkata seperti itu.
"Iqbal sayang, Mama mengerti kalau Iqbal sangat menyayangi Arsyi, tapi sekarang Arsyi sudah besar, jadi Iqbal jangan terlalu posesif terhadap Arsyi," ujar Suci dengan mengusap lembut bahu Iqbal.
"Kakak ipar tenang saja, Nanda pasti akan selalu menjaga Princess Arsyi dengan baik," ujar Nanda dengan menepuk bahu Iqbal.
Iqbal yang merasa tidak rela mendengar perkataan Nanda, memutuskan untuk pulang terlebih dahulu.
"Maaf semuanya, Iqbal pulang duluan," ujar Iqbal, kemudian berlari ke luar dari gerbang rumah Farel untuk mencegat taksi.
Suci dan Arya hanya bisa menghela napas panjang melihat sikap Iqbal, apalagi Arsyila berusaha untuk mengejar Iqbal.
"Kak Iqbal, tunggu Arsyi," ujar Arsyila yang hendak mengejar Iqbal, tapi Suci langsung angkat suara.
"Arsyi sayang, biarkan Kak Iqbal pergi, mungkin Kak Iqbal butuh waktu untuk sendiri," ujar Suci yang mencoba memberi pengertian kepada Arsyila.
"Tapi Ma, Arsyi takut Kak Iqbal kenapa-napa."
"Arsyi, jangan pernah membantah perkataan Mama. Iqbal sudah besar, jadi kamu tidak perlu mengkhawatirkan dia. Kamu juga bukan Anak kecil lagi, tidak seharusnya kamu selalu bergantung kepada Iqbal," tegas Rizky yang sudah benar-benar kesal terhadap tingkah kedua Adiknya.
Arsyila akhirnya diam, kemudian ikut masuk ke dalam rumah Farel untuk membantu persiapan acara tahlil mendiang Alina.
......................
Semua persiapan tahlil sudah selesai berkat bantuan keluarga Arya dan keluarga Irwan, apalagi Ayu mengabarkan jika Farel mengalami stroke sehingga harus melakukan perawatan secara intensif.
Beberapa saat kemudian, Ustadz setempat beserta para tetangga mulai berdatangan untuk mengikuti acara tahlil, dan acara tahlil pun berjalan dengan lancar.
"Om, Tante, terimakasih banyak ya atas bantuan semuanya," ucap Putri setelah acara tahlil selesai.
"Sama-sama Nak. Kita adalah keluarga, jadi sudah seharusnya saling membantu," ujar Arya.
"Pa, apa tidak sebaiknya Arsyi dan Dinda menginap di sini untuk menemani Ratu dan Putri? Kasihan kalau mereka hanya tinggal bertiga dengan Bi Darmi," ujar Suci.
"Iya Ma, sebaiknya seperti itu, kasihan Putri dan Ratu kalau tidak ditemani," ujar Arya.
Arsyila sebenarnya merasa berat untuk menginap di kediaman Farel, karena Arsyila terus saja memikirkan Iqbal.
Aku harus bagaimana? Mama sama Papa pasti akan kecewa kalau aku tidak menuruti kemauan mereka, Kak Rizky juga bakalan marah kalau aku menolak perintah Mama, batin Arsyila kini berada dalam dilema.
__ADS_1
"My Princess tenang saja, Prince Nanda yang tampan ini akan menemani My Princess menginap di sini," ujar Nanda.
Hesti yang mendengar perkataan Nanda, langsung menjewer kuping Nanda untuk mengajaknya pulang.
"Gak ada acara menginap, sebaiknya Nanda ikut Ayah sama Bunda pulang, biar Dinda dan Arsyi saja yang menginap di sini," ujar Hesti.
"Ampun Bunda, iya iya Nanda ikut pulang. My Princess, Prince Nanda pulang dulu ya, sampai jumpa besok," ujar Nanda dengan melakukan kiss bye saat Hesti menariknya untuk ke luar dari rumah Farel.
"Semoga kita bisa menjadi besan Bro," ujar Irwan dengan terkekeh.
"Aku pasti akan mendukung Anak-anak kalau memang mereka saling mencintai. Sayang, sebaiknya sekarang kita pulang," ujar Arya.
"Ratu, Putri, maaf ya kami tidak bisa menemani kalian, karena saat ini Oma Rahma sedang sakit. Kalau ada apa-apa, jangan sungkan untuk menghubungi kami. Arsyi sayang, baik-baik di sini ya Nak, insyaallah besok Mama sama Papa ke sini lagi," ujar Suci dengan mencium pipi Arsyila, kemudian bergantian melakukan cipika cipiki dengan ketiga gadis yang sudah Suci anggap sebagai Anak kandungnya sendiri.
......................
Malam pun kini telah tiba, dan semuanya memutuskan untuk menggelar kasur di ruang keluarga supaya bisa tidur bersama, apalagi Ratu paling penakut.
Semuanya sudah tertidur, tapi Arsyila tidak bisa memejamkan matanya sama sekali, karena Arsyila terus teringat dengan Iqbal, apalagi Iqbal tidak mau mengangkat telpon dari Arsyila.
"Apa Kak Iqbal marah? Kenapa Kak Iqbal tidak mau mengangkat telpon Arsyi. Kak Arsyi kangen," gumam Arsyila.
Arsyila yang merasa haus, memutuskan untuk mengambil air minum menuju dapur, dan beberapa saat kemudian, Ratu yang ingin buang air kecil terbangun dari tidurnya.
Ratu yang sudah tidak tahan, memutuskan untuk berlari menuju kamar mandi, dan Ratu begitu terkejut ketika melihat sosok perempuan berambut panjang yang saat ini berada di hadapannya, apalagi kondisi rumah dalam keadaan gelap karena tiba-tiba mati lampu.
"Ha_hantu," teriak Ratu dengan menutup wajah menggunakan kedua telapak tangannya.
"Ratu, ini_" ucapan Arsyila terhenti karena Ratu langsung memotongnya.
"Mommy, Ratu minta maaf karena tidak berbakti selama Mommy masih hidup. Tolong jangan menakut-nakuti Ratu Mom, sekarang alam kita sudah berbeda," ujar Ratu dengan tubuh gemetaran, sampai-sampai Ratu ngompol di celana.
Beberapa saat kemudian lampu kembali menyala, dan Arsyila yang melihat Ratu ketakutan, langsung menarik tangan Ratu yang masih menutupi wajahnya.
"Ratu, ini aku Arsyi. Kamu baik-baik saja kan?"
Ratu membuka sedikit matanya, setelah Ratu melihat jika yang di hadapannya adalah Arsyila, Ratu bisa bernafas lega.
"Arsyi, kamu hampir saja membuat jantung aku copot. Kenapa kamu gak ngomong dari tadi sih?" ujar Ratu dengan berdecak kesal.
__ADS_1
"Lagian salah sendiri, aku mau ngomong malah kamu potong. Ngomong-ngomong, kok ada bau pesing ya? Apa kamu ngompol di celana?" tanya Arsyila dengan memicingkan matanya.
"Ma_mana mungkin seperti itu," ujar Ratu dengan tergagap.
"Tapi celana kamu kok basah? Udah ngaju aja gak usah malu," ujar Arsyila.
"Kamu beneran Arsyi kan bukan makhluk halus yang merubah wujud menjadi Arsyi?" sambung Ratu mencoba mengalihkan pertanyaan, kemudian Ratu melihat ke bawah kaki Arsyila napak atau tidaknya.
"Kenapa kamu lihat kaki aku? Pasti kamu masih ngira kalau aku hantu kan? Sepertinya kamu kebanyakan nonton film horor. Mana ada hantu cantik seperti ini, kamu ada-ada saja," ujar Arsyila dengan berlalu untuk kembali ke ruang keluarga, tapi Ratu langsung menghalangi jalannya.
"Kamu anterin aku ke kamar yuk," ujar Ratu dengan menarik tangan Arsyila menuju kamarnya.
"Kamu mau ngapain minta di antar ke kamar?"
"Iya iya aku ngaku kalau aku ngompol di celana saking takutnya, sekarang aku mau ganti baju. Kamu puas?"
"Ha..ha, ternyata Ratu yang sombong dan angkuh sampai ngompol di celana karena takut hantu," ujar Arsyila dengan cekikikan.
"Awas saja kalau kamu bilang-bilang sama yang lain, nanti aku bocorin rahasia kamu yang diam-diam sudah jatuh cinta sama Iqbal," ancam Ratu.
Deg
Jantung Arsyila rasanya berhenti berdetak mendengar perkataan Ratu, karena Arsyila tidak menyangka jika Ratu mengetahui rahasianya.
"Da_darimana kamu tau tentang semua itu? Kamu jangan ngarang Ratu, aku tidak mungkin mencintai Kakak kandungku sendiri," ujar Arsyila yang mencoba menyangkal tuduhan Ratu.
"Aku memiliki buktinya Arsyi, jadi kamu tidak bisa mengelak lagi," ujar Ratu dengan memperlihatkan sebuah buku diary kepada Arsyila.
"Ratu, kenapa buku Diary aku bisa ada sama kamu? Cepat balikin," ujar Arsyila dengan mencoba mengambil diary miliknya yang ada di tangan Ratu.
"Aku menemukan diary kamu terjatuh di bawah meja saat kita berada di Sekolah. Aku akan mengembalikannya, tapi kamu harus janji dulu tidak akan memberitahukan kepada yang siapa pun kalau aku ngompol di celana," ujar Ratu.
"Iya, iya aku janji, tapi cepat kembalikan buku nya," ujar Arsyila, karena di dalam diary tersebut terdapat tulisan curahan hati Arsyila selama ini yang diam-diam suka sama Iqbal.
"Tidak semudah itu Arsyi, karena aku memiliki satu syarat lagi," ujar Ratu dengan tersenyum licik.
"Apa syaratnya?"
*
__ADS_1
*
Bersambung