Suci Tak Lagi Suci

Suci Tak Lagi Suci
Bab 176 ( Bayang-bayang Iqbal )


__ADS_3

Arsyi tiba-tiba menyebut nama Iqbal, dan lelaki yang menutup mata Arsyi pun langsung melepaskan tangannya dari Arsyi.


"Sayang, apa kamu sudah melupakan calon Suami kamu? Kenapa yang kamu panggil nama Iqbal?" tanya Nanda dengan cemberut.


Arsyi begitu terkejut, karena dari tadi Arsyi terus saja memikirkan Iqbal, bahkan Arsyi sampai mengira jika lelaki yang menutup matanya adalah Iqbal.


"Maaf Nanda, aku hanya sedang kepikiran Kak Iqbal saja, padahal baru kemarin dia pulang ke Indonesia, tapi semalam dia tidak pulang ke rumah, makanya kami semua mengkhawatirkannya," ujar Arsyi yang terlihat gugup.


Nanda menghela nafas panjang, karena selama dirinya dan Arsyi berpacaran, keduanya tidak pernah bisa lepas dari bayang-bayang Iqbal.


"Sayang, kamu jangan terlalu banyak pikiran, sebentar lagi kita akan segera menikah, tapi kamu masih saja memikirkan hal lain. Pasti Princess ku yang cantik ini sampai lupa makan siang kan?" ujar Nanda dengan mengusap lembut kepala Arsyi.


Arsyi selalu merasa bersalah terhadap Nanda, tapi tidak dapat Arsyi pungkiri jika dirinya masih belum bisa melupakan Iqbal.


"Nanda, maaf kalau aku selalu mengecewakanmu. Aku berjanji, nanti aku pasti akan berusaha menjadi Istri dan Ibu yang baik untuk Anak-anak kita," ujar Arsyi dengan memaksakan diri untuk tersenyum.


"Kalau gak ikhlas gak usah senyum seperti itu, kamu jadi kelihatan jelek tau."


"Aku_"


"Udah gak usah diterusin, sebaiknya sekarang kita makan siang dulu, aku tidak mau kalau sampai kesayanganku sakit," ujar Nanda, kemudian menggandeng Arsyi ke luar dari dalam ruang kerjanya.


Aku tau Arsyi, kalau selama ini kamu masih belum bisa melupakan Iqbal, tapi aku akan terus memperjuangkan cinta kamu, meski pun aku harus menunggu dalam seumur hidupku, ucap Nanda dalam hati.


Setelah selesai makan siang, Nanda menemani Arsyi di kantornya sampai butik tutup, kemudian Nanda memutuskan untuk mengantar Arsyi pulang ke kediaman Argadana.


"Nanda, aku pulang sendiri saja ya, aku juga bawa mobil," ujar Arsyi.


"Mobil kamu tinggal di butik saja, besok pagi aku akan jemput kamu."


"Nanda, aku tidak mau ngerepotin kamu."


"Sayang, kamu ini bicara apa, sebentar lagi kita akan menikah, tidak seharusnya kamu berbicara seperti itu, aku justru ingin selalu berada di dekat kamu. Sayang, apa tidak sebaiknya kamu menginap di rumahku saja selama Mama sama Papa tidak ada?" tanya Nanda.


"Nanda, kita masih belum menjadi Suami Istri, apa nanti kata orang jika mengetahui kalau aku menginap di rumah kamu? Mereka pasti akan berpikir yang tidak-tidak."

__ADS_1


"My Princess, aku gak bakalan macem-macem kok, lagian di rumah juga ada Mama, Dinda, Papa, Oma, Opa dan Asisten rumah tangga."


"Aku percaya kalau kamu tidak akan berbuat macam-macam, tapi bagaimana dengan pendapat orang lain? Terkadang orang sering menyimpulkan pendapatnya sendiri tanpa mengetahui kejadian yang sebenarnya. Jadi, lebih baik kita mencegah dari pada mengobati," ujar Arsyi dengan terkekeh.


Sepanjang perjalanan pulang, Arsyi juga menceritakan kepada Nanda tentang keinginan Suci dan Arya yang menyuruh Arsyi untuk menginap di rumah Ayu, tapi Arsyi menolaknya karena merasa tidak nyaman jika harus menginap di rumah orang lain.


"Padahal aku berharap bisa selalu dekat sama kamu, tapi ya sudahlah, yang penting My Princess bahagia, aku pasti akan selalu melakukan apa yang My Princess inginkan. Aku sudah tidak sabar menunggu hari pernikahan kita."


Arsyi tersenyum mendengar perkataan Nanda, dan Arsyi sudah memutuskan akan mengubur dalam-dalam rasa cintanya untuk Iqbal.


Padahal selama ini Nanda sudah sangat baik terhadapku, tidak adil bagi Nanda apabila aku masih memiliki perasaan untuk Kak Iqbal, ucap Arsyi dalam hati.


"Sekarang kita sudah sampai, apa aku boleh ikut masuk?" tanya Nanda dengan tatapan memohon.


"Maaf ya Pangeran tampanku, tapi aku tidak bisa mengijinkan kamu masuk, karena sekarang di rumah tidak ada siapa-siapa," jawab Arsyi.


Beberapa saat kemudian, mobil Rizky terlihat memasuki halaman.


Ketika Rizky turun dari mobil, Rizky langsung menghampiri Nanda dan Arsyi yang masih mengobrol di teras rumah.


"Kak, di rumah tidak ada siapa-siapa, tidak pantas dua orang yang masih belum muhrim berduaan di dalam rumah," jawab Arsyi.


"Eh iya Kakak lupa. Kalau begitu Nanda mau masuk dulu atau langsung pulang?" tanya Rizky.


"Nanda langsung pulang saja Kak, sekarang sudah ada Kak Rizky, jadi Nanda tidak khawatir meninggalkan Arsyi. Sayang, kalau begitu aku pulang dulu ya, besok pagi aku jemput kamu berangkat kerja," ujar Nanda dengan mendekati Arsyi.


Nanda berniat mencium kening Arsyi sebelum pulang, tapi Nanda terkejut ketika Rizky berdehem.


"Ekhem, ingat belum muhrim," sindir Rizky dengan terkekeh.


"Kak, sedikit saja masa gak boleh," ujar Nanda.


Nanda mencuri ciuman pada kening Arsyi, kemudian berlari ke dalam mobil sebelum Rizky memarahinya.


"Hemm, pencurinya keburu kabur," ujar Rizky dengan terkekeh.

__ADS_1


"Kakak tenang saja, kami tidak pernah melewati batasan kok," ujar Arsyi.


"Iya, Kakak tau, Kakak percaya sama kalian. Sebaiknya sekarang Arsyi mandi sama Shalat Maghrib dulu, nanti kita makan sama-sama, kebetulan tadi Kakak udah beli makanannya."


"Kakak ku yang tampan ini memang paling pengertian. Kalau begitu Arsyi mandi dulu," ujar Arsyi dengan berlalu ke dalam kamarnya.


......................


Di tempat lain, tepatnya di klub tempat Iqbal dan Erik menghabiskan malam, secara perlahan Iqbal terbangun dari tidurnya.


"Kenapa kepalaku sakit sekali, tenggorokan ku juga rasanya panas dan kering," gumam Iqbal dengan memegangi kepalanya yang terasa sakit.


Iqbal melihat segelas air di atas nakas, kemudian Iqbal meminumnya sampai habis, karena Iqbal mengira jika itu adalah air putih, padahal air tersebut adalah anggur putih dengan alkohol kadar tinggi, bahkan sebelumnya Erik sudah memasukan obat kuat ke dalam minuman tersebut, tapi ternyata Erik lupa meminumnya karena terlalu asyik bermain dengan dua wanita penghibur yang dia bayar.


"Kenapa rasa airnya berbeda ya? Apa mungkin karena airnya sudah lama?" gumam Iqbal.


Iqbal melihat Erik yang tertidur pulas di sampingnya tanpa mengenakan sehelai benang pun.


"Astagfirullah Erik," ucap Iqbal dengan melemparkan bantal pada tubuh Erik.


Iqbal bernafas lega ketika melihat tubuhnya yang masih memakai pakaian lengkap.


"Syukurlah, aku masih memakai pakaian," gumam Iqbal dengan mengelus dadanya.


Iqbal melirik jam tangan yang dia pakai, dan ternyata sekarang sudah pukul tujuh malam.


"Kenapa aku baru bangun jam segini? Sekarang jam tujuh siang apa jam tujuh malam ya? Berarti semalam aku tidak pulang. Mama sama Papa pasti khawatir, apalagi kemarin aku tidak meminta ijin sebelum pergi," gumam Iqbal.


Iqbal berdiri dan memutuskan untuk pulang, tapi tiba-tiba Iqbal kembali teringat dengan perkataan Suci yang selalu terngiang-ngiang dalam pikirannya.


"Aku lupa kalau sekarang aku tidak memiliki rumah untuk pulang. Mereka bukan orangtuaku, mereka bukan keluargaku, mereka pasti tidak akan pernah peduli kepadaku," gumam Iqbal dengan tersenyum sekaligus menitikkan airmata, karena saat ini hatinya berdenyut sakit ketika kembali teringat dengan kenyataan bahwa dirinya bukanlah Anak kandung Arya dan Suci.


*


*

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2