
Putri yang saat ini tengah tertidur, tiba-tiba terbangun dan berteriak memanggil Alina.
"Mommy,"
Arsyila yang mendengar teriakan Putri, ikut terbangun juga, karena saat ini Putri tidur di kamar Arsyila.
"Kak Putri kenapa menangis?" tanya Arsyila.
"Kakak mimpi buruk, Kakak mimpi Mommy kecelakaan," jawab Putri.
Arsyila pergi ke dapur mengambilkan air minum untuk Putri, dan Suci yang kebetulan sedang mengambil air juga langsung bertanya kepada Arsyila.
"Sayang mau ngambil minum ya?" tanya Suci.
"Iya Ma, Arsyila ngambil air minum untuk Kak Putri, karena air di kamar habis"
"Memangnya Putri kenapa?"
"Kak Putri katanya mimpi buruk. Barusan Kak Putri menangis, tadi saja Kak Putri bangun dengan berteriak memanggil nama Tante Alina," jawab Arsyi.
Suci memutuskan untuk melihat kondisi Putri, dan ternyata saat ini Putri sedang melaksanakan Shalat Tahajud sehingga Suci dan Arsyi mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam kamar sampai Putri selesai shalatnya.
Suci menitikkan airmata ketika mendengar sebait do'a yang dipanjatkan oleh Putri supaya Alina selalu diberikan kesehatan.
Padahal selama ini Alina sudah berbuat jahat terhadap Putri, tapi ternyata Putri memiliki hati yang mulia, dan Putri sama sekali tidak menyimpan kebencian terhadap Alina, ucap Suci dalam hati.
Setelah Putri selesai Shalat, Suci dan Arsyi masuk ke dalam kamar.
"Sayang, Tante bangga sama Putri, karena Putri tidak menyimpan kebencian sama Mommy," ucap Suci dengan memeluk tubuh Putri.
"Meski pun sampai sekarang Mommy belum bisa menyayangi Putri sebagai Anaknya, semoga saja suatu saat nanti Mommy akan menyayangi Putri."
"Amin. Sekarang Putri sama Arsyi tidur lagi ya. Oh iya, Putri minum dulu, tadi Arsyi sengaja mengambil air untuk Putri," ujar Suci dengan memberikan air minum kepada Putri.
"Makasih banyak Tante, makasih banyak Arsyi," ucap Putri dengan tersenyum saat Suci menyelimuti tubuh Putri dan Arsyila yang kembali berbaring untuk melanjutkan tidur.
......................
Di tempat lain..
Alina berhasil ke luar dari kobaran api setelah mobil yang dikendarainya meledak, tapi saat ini sekujur tubuh Alina dipenuhi luka bakar yang parah, sampai-sampai wajah Alina tidak dapat dikenali lagi.
__ADS_1
Warga sekitar yang berada di lokasi kejadian, bergegas membantu Alina dengan membawanya ke Rumah Sakit, beruntung handphone yang berada di dalam saku celana Alina masih bisa digunakan, sehingga Polisi mencoba menelpon Farel untuk memberitahukan tentang kecelakaan yang terjadi pada Alina, karena Polisi mengira jika Farel masih berstatus Suami Alina.
Farel begitu terkejut ketika mendapatkan kabar dari Polisi tentang kecelakaan yang terjadi pada Alina, tapi saat ini kondisi Farel masih belum membaik, dan Polisi memutuskan untuk menemui Farel yang kebetulan satu Rumah Sakit dengan Alina.
"Maaf Tuan Farel, kami sudah mengganggu waktu istirahat Anda. Apa benar kalau Tuan adalah Suami dari korban? Karena kontak nama Tuan pada handphone korban tertulis Suamiku?" tanya Pak Polisi yang bermaksud meminta keterangan dari Farel.
"Saya dan Alina sudah bercerai beberapa bulan yang lalu Pak."
"Apa Nyonya Alina memiliki keluarga? Karena saat ini harus ada penanggung jawab untuk Nyonya Alina, apalagi Nyonya Alina mengalami luka bakar yang parah akibat kecelakaan tersebut, bahkan kaki Nyonya Alina mengalami patah tulang, dan kemungkinan besar harus di amputasi," ujar Pak Polisi.
Sebelum mengambil keputusan, Farel terlebih dahulu meminta pendapat Ayu, karena bagaimanapun juga saat ini Ayu telah menjadi Istrinya, dan Farel takut jika Ayu merasa keberatan jika Farel membantu Alina yang notabene nya adalah mantan istri Farel.
"Sayang, apa boleh Mas membantu Alina? Sekarang Alina sudah bangkrut, jadi Alina pasti tidak memiliki uang untuk membayar pengobatannya," tanya Farel.
"Mas tidak perlu meminta pendapat Ayu, karena sudah seharusnya kita saling tolong menolong," jawab Ayu dengan tersenyum.
"Terimakasih ya sayang, Mas sangat beruntung memiliki Istri yang begitu pengertian," ucap Farel dengan mencium tangan Ayu.
"Mas, gak enak di sini masih ada Pak Polisi," bisik Ayu pada Farel.
Farel tersenyum malu mendengar perkataan Ayu, karena Farel sampai lupa kalau di sana masih ada orang lain.
Pak Polisi pamit dari kamar perawatan Farel, kemudian Farel meminta tolong kepada Ayu untuk di antar menuju bagian administrasi.
"Sayang, sekarang antar Mas ke bagian administrasi ya," ujar Farel.
"Apa tidak sebaiknya Mas istirahat saja, biar Ayu yang menyelesaikan semuanya."
"Mas tidak mau membiarkan Ayu pergi sendirian, apalagi sekarang sudah malam, jadi sebaiknya Ayu bantu dorong Mas saja pake kursi roda," ujar Farel.
Ayu menuruti permintaan Farel, karena Ayu ingin menjadi Istri yang selalu taat dengan perintah Suaminya.
Saat ini Farel sudah melunasi semua biaya Rumah Sakit Alina, dan Alina masih berada di dalam ruang operasi.
"Kalau begitu sekarang kita kembali ke kamar, Mas sudah meminta tolong kepada Suster untuk merawat Alina, besok saja kita melihat kondisi Alina jika sudah dipindahkan me kamar perawatannya," ujar Farel.
......................
Keesokan paginya Farel menelpon Arya untuk memberikan kabar tentang kecelakaan yang terjadi pada Alina, dan Suci begitu terkejut karena semalam Putri bermimpi jika Alina mengalami kecelakaan.
"Ternyata semalam Putri mendapatkan firasat tentang kecelakaan yang terjadi pada Alina. Putri pasti sedih jika mendengar kabar ini Pa," ujar Suci.
__ADS_1
"Bagaimanapun juga Putri harus tau, apalagi saat ini kondisi Alina masih kritis."
"Kalau begitu, kita bawa Putri dan Ratu ke Rumah Sakit untuk menjenguk Alina," ujar Suci, lalu bergegas menemui Putri.
Putri menangis ketika mendengar kabar Alina yang mengalami kecelakaan, dan Suci berusaha untuk menghiburnya.
Sebelum berangkat menuju Rumah Sakit, Suci, Arya dan Putri menjemput Ratu terlebih dahulu ke rumah Alina, tapi ternyata saat ini Ratu dan Asisten rumah tangga Alina sedang menangis di depan rumah, karena rumah Alina sudah disita oleh Bank, dan mereka di usir dari rumah tersebut.
Suci memutuskan untuk membawa Ratu dan Asisten rumah tangganya ke Rumah Sakit, dan Suci merasa prihatin dengan kejadian yang menimpa Alina.
Ketika sampai di Rumah Sakit, semuanya masuk ke dalam kamar perawatan Alina, dan kebetulan di sana sudah ada Farel dan Ayu.
Saat ini Alina sedang menangis histeris ketika melihat wajah cantiknya yang sudah cacat, bahkan kedua kakinya di amputasi.
"Sekarang hidupku sudah hancur, lebih baik aku mati saja dari pada menjadi orang cacat seperti ini," teriak Alina.
Putri langsung menghampiri Alina kemudian memeluknya, sedangkan Ratu terlihat takut melihat wajah Alina.
"Mom, semua yang terjadi dalam kehidupan kita adalah takdir dari Tuhan," ucap Putri dengan menangis.
Alina tidak menyangka jika Anak sekecil Putri bisa berbicara seperti itu.
"Putri, apa kamu tidak malu memiliki Ibu yang cacat?" tanya Alina.
"Kenapa Putri harus malu? Putri juga sudah cacat dari lahir, tapi Putri yakin jika dibalik semua itu pasti ada hikmah yang tersembunyi."
Alina melihat Ratu yang berada tidak jauh dari ranjang pesakitannya, dan Alina meminta Ratu untuk mendekat.
"Ratu sayang, ini Mommy Nak, apa Ratu tidak ingin memeluk Mommy juga?"
"Tidak mungkin kamu Mommy, karena Mommy Alina cantik, tapi kamu mirip seperti monster, apalagi kaki kamu cacat," teriak Ratu dengan berlari ke luar dari kamar perawatan Alina.
Alina semakin sedih mendengar perkataan Ratu, karena sekarang Alina tau bagaimana rasanya disebut sebagai orang cacat.
Mungkin ini semua adalah hukuman untukku karena selama ini aku selalu menghina Putri dengan sebutan cacat. Selama ini aku begitu bodoh telah menyia-nyiakan Anak yang memiliki hati mulia seperti Putri, padahal aku sudah sering menyakitinya, tapi Putri masih saja menyayangiku, ucap Alina dalam hati.
*
*
Bersambung
__ADS_1