Suci Tak Lagi Suci

Suci Tak Lagi Suci
Bab 184 ( Melepas Rizky untuk Putri )


__ADS_3

Dinda dan Rizky kembali ke kamar perawatan Arsyi, dan semuanya sudah menunggu keputusan Dinda dengan harap-harap cemas.


"Kenapa semuanya terlihat tegang seperti ini?" tanya Dinda dengan menghampiri Hesti.


"Dinda, kamu jangan bercanda saat situasi seperti ini. Bagaimana keputusan kamu? Kamu pasti bahagia kan karena bisa menikah dengan Pangeran impian kamu?" bisik Hesti kepada Dinda, karena Hesti tau betul jika Dinda sangat mengagumi sosok Rizky.


Dinda beberapa kali mengembuskan nafas secara kasar sebelum angkat suara, dan Dinda sudah mengambil keputusan akan melepas Rizky untuk Putri, karena Dinda tidak mau bahagia di atas penderitaan orang lain.


"Semua orang pasti akan bahagia apabila bisa menikah dengan orang yang kita cintai, tapi maaf, Dinda tidak bisa menikah dengan Kak Rizky, karena Dinda tau jika cinta Dinda hanya bertepuk sebelah tangan," ujar Dinda dengan tersenyum untuk mencoba menutupi perasaan nya yang patah hati.


Semuanya terkejut mendengar jawaban Dinda, karena selama ini semuanya tau betul jika Dinda sudah lama mengagumi sosok Rizky, meski pun pada kenyataannya masih belum ada perasaan cinta dalam hati Rizky untuk Dinda.


"Nak, kenapa Dinda menolak menikah dengan Rizky? Padahal selama ini Rizky tidak pernah menjalin hubungan dengan perempuan manapun. Apa Dinda tidak akan menyesal karena telah mengambil keputusan seperti itu?" tanya Suci dengan menghampiri Dinda.


"Tante, ada perempuan lain yang lebih pantas untuk Kak Rizky, tapi sepertinya Kak Rizky dan perempuan tersebut belum menyadarinya perasaan mereka. Kalian juga tidak perlu khawatir, karena pernikahan ini akan tetap berjalan sesuai dengan rencana, meski pun mempelai perempuannya bukan Dinda."


"Memangnya siapa perempuan yang pantas bersanding dengan Rizky selain Dinda?" tanya Suci yang sudah merasa penasaran.


Rizky sudah terlihat gelisah ketika mendengar pertanyaan Suci, karena Rizky sendiri masih belum yakin dengan perasaannya terhadap Putri.


"Perempuan itu adalah Kak Putri," jawab Dinda dengan tersenyum sekaligus menitikkan airmata, karena saat ini hatinya berdenyut sakit ketika harus melepaskan lelaki yang selama ini dia cintai untuk perempuan lain.


Putri terkejut mendengar perkataan Dinda, begitu juga dengan yang lainnya yang langsung melihat ke arah Rizky dan Putri.


"Kenapa kalian melihat Rizky seperti itu?" tanya Rizky dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Kenapa kamu tidak pernah jujur kepada kami Boy?" tanya Arya dengan merangkul bahu Rizky.


"Maaf Pa_" perkataan Rizky langsung dipotong oleh Arya.


"Nak, Rizky tidak perlu minta maaf, siapa pun perempuan yang Rizky suka, kami akan selalu mendukungnya," ujar Arya dengan tersenyum.


Arya mengira jika Rizky menyembunyikan perasaannya terhadap Putri karena takut jika Suci dan Arya tidak akan merestuinya, apalagi wajah Putri memiliki kekurangan, padahal kenyataan yang sebenarnya Rizky sendiri masih belum yakin dengan perasaannya, apalagi entah kenapa setelah berbicara berdua dengan Dinda, Rizky merasa kagum dengan sosok Dinda yang dewasa dan bijaksana.

__ADS_1


"Farel, sepertinya kamu dulu yang akan menjadi besan Arya," ujar Irwan dengan tersenyum tulus.


Farel sebenarnya merasa tidak enak terhadap Irwan dan keluarganya, tapi Farel tidak bisa berbuat apa-apa jika pada kenyataannya Putri dan Rizky saling mencintai.


"Sebagai orangtua, aku bagaimana Anak-anak saja, karena mereka yang akan menjalaninya," ujar Farel.


"Farel, siapa pun yang menikah dengan Rizky, kami akan ikut bahagia, karena Anak kamu adalah Anak kami juga," ujar Irwan.


"Terimakasih Irwan, Arya, selama ini kalian sudah bersedia menjadi keluargaku," ujar Farel yang merasa terharu karena Irwan dan Arya selalu ada pada masa masa sulit dalam kehidupannya.


"Kita adalah keluarga, jadi kamu tidak perlu mengucapkan terimakasih," ujar Irwan.


"Iya Farel, bahkan sebentar lagi kita akan menjadi besan," ujar Arya.


Putri merasa sangat bahagia karena dirinya akan segera menikah dengan lelaki yang selalu dia kagumi, tapi Suci merasa heran ketika melihat Rizky, karena Rizky terlihat biasa saja, bahkan Suci melihat Rizky yang terus mencuri pandang terhadap Dinda.


Semua ini rasanya seperti mimpi, apa benar aku dan Rizky akan segera menikah? Jika semua ini hanya mimpi, aku tidak mau bangun dari mimpi indah ini, ucap Putri dalam hati.


"Maaf semuanya, Nanda pamit dulu," ujar Nanda, kemudian ke luar dari kamar perawatan Arsyi.


Arsyi hanya bisa menatap nanar kepergian Nanda, karena Arsyi juga merasa sedih ketika mengambil keputusan untuk membatalkan pernikahannya.


Setelah selesai membicarakan rencana pernikahan Rizky dan Putri, keluarga Farel dan Irwan pamit kepada Keluarga Arya, dan semuanya memberi dukungan kepada Arsyi supaya segera sembuh.


"Arsyi sayang, semoga cepat sembuh ya Nak, kami akan tetap menunggu supaya Arsyi masih bersedia menikah dengan Nanda," ujar Hesti dengan memeluk tubuh Arsyi.


Semuanya bergantian memeluk Arsyi sebelum pulang, dan Dinda menangis ketika memeluk tubuh Suci.


"Dinda sayang, terimakasih ya karena Dinda sudah memikirkan kebahagiaan Rizky dan Putri dengan mengorbankan perasaan Dinda. Meski pun Tante tidak bisa menjadi Mertua Dinda, tapi Dinda bisa memanggil Tante dengan sebutan Mama, karena Tante sudah menganggap Dinda seperti Anak kandung Tante sendiri," ujar Suci dengan mengelus lembut punggung Dinda.


"Makasih banyak Ma_ma, kalau begitu Dinda pulang dulu ya, semoga semuanya diberikan kesehatan," ujar Dinda dengan memaksakan diri untuk tersenyum ketika melihat Rizky.


Kenapa hatiku terasa sakit ya ketika melihat Dinda menangis? Apa mungkin aku sudah jatuh cinta pada Dinda? Tapi sekarang sepertinya sudah terlambat, karena aku akan segera menikah dengan Putri, ucap Rizky dalam hati, dan tanpa terasa airmata Rizky menetes ketika melihat kepergian Dinda.

__ADS_1


......................


Cindi membawa Iqbal yang pingsan ke rumahnya dengan bantuan beberapa Temannya, dan Pak Tamrin begitu terkejut ketika melihat Cindi membawa Iqbal.


"Nak, siapa yang Cindi bawa?" tanya Pak Tamrin dengan menghampiri Cindi yang duduk di sofa untuk mengobati Iqbal.


"Tadi bocah ini pingsan di Terminal Pak, dan Bang Rojali nyuruh Cindi bawa dia pulang, katanya kasihan sama ni bocah, apalagi wajahnya mirip sama Bapak saat masih muda dulu," jawab Cindi.


Deg deg deg


Jantung Pak Tamrin berdetak kencang ketika melihat wajah Iqbal yang memang sangat mirip dengan dirinya saat masih muda dulu.


Kenapa wajahnya mirip sekali denganku? Apa mungkin dia adalah Anak Bungsu ku yang dulu aku berikan kepada Nak Rian? Ucap Pak Tamrin dalam hati.


Selama ini Pak Tamrin sudah berbohong kepada Anak-anaknya, jika Anak Bungsunya telah hilang karena diculik, padahal pada kenyataannya saat itu Pak Tamrin tidak berdaya sehingga terpaksa memberikan Anak Bungsunya kepada Rian, makanya sampai saat ini Pak Tamrin selalu dihantui oleh rasa bersalah.


Pak Tamrin selalu mencoba mencari keberadaan Anak Bungsu yang ia berikan kepada mendiang Rian, tapi Pak Tamrin tidak bisa menemukan jejak Rian, karena waktu itu Rian membawa Suci dan Iqbal pindah ke Kalimantan.


"Pak, Bapak baik-baik saja kan?" tanya Cindi yang melihat Pak Tamrin terus melamun.


"Bapak baik-baik saja Nak, hanya saja Bapak merasa malu, karena Bapak sudah menjadi beban Cindi dan ketiga Kakak Cindi, bahkan Cindi harus putus sekolah dan menggantikan Bapak menjadi Supir angkot karena Bapak selalu sakit-sakitan."


"Bapak jangan bicara seperti itu, sudah kewajiban kami sebagai Anak membantu Bapak. Bapak jangan terlalu banyak pikiran ya, Cindi bahagia kok menggantikan Bapak menjadi Supir angkot. Yang penting sekarang Bapak harus sembuh, semoga saja suatu saat nanti kita bisa bertemu kembali dengan Adik."


"Amin, semoga saja Nak."


"Pak, apa mungkin kalau bocah ini adalah Adik Cindi yang hilang ya?"


*


*


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2