
Sepanjang perjalanan menuju kediaman Argadana, Suci dan Arya memikirkan cara untuk menyampaikan semuanya kepada Mama Erina, karena mau tidak mau mereka harus berkata jujur tentang Iqbal dan Arsyi.
Mama Erina yang tengah berada di halaman rumah begitu terkejut melihat kedatangan Iqbal, karena sebelumnya Suci mengatakan jika Iqbal bekerja di luar negeri.
"Lho, bukannya Iqbal kerja di luar negeri? Kapan Iqbal kembali ke Indonesia? Apa Iqbal sakit? Kenapa Iqbal memakai pakaian Rumah Sakit?" tanya Mama Erina yang merasa bingung.
Suci mengajak Mama Erina masuk ke dalam rumah untuk menceritakan semuanya.
"Ma, sebaiknya kita masuk ke dalam dulu, nanti kami akan menjelaskan semuanya, tapi Mama harus janji kalau Mama tidak boleh emosi."
Suci dan Arya menggandeng Mama Erina masuk ke dalam rumah, sedangkan Iqbal terus menggenggam tangan Arsyi tanpa mau melepaskannya.
"Kak, bisa tolong lepasin gak? Arsyi bukan Anak kecil lagi, jadi Kakak tidak perlu memegangi tangan Arsyi."
"Sayang, sekarang Arsyi sedang hamil Anak kita, jadi Kakak harus menjaga kalian baik-baik," ujar Iqbal dengan tersenyum, tapi Arsyi langsung memalingkan wajahnya, karena dari dulu senyuman Iqbal selalu membuat hatinya berdebar-debar.
"Hey, kenapa Tuan Putri sampai memalingkan wajah seperti itu?" tanya Iqbal.
"Tidak apa-apa, Arsyi hanya tidak ingin melihat wajah Kak Iqbal yang nyebelin."
"Meski pun nyebelin, tapi aku ngangenin kan?" ujar Iqbal yang terus menggoda Arsyi.
Ada sesuatu yang menjalar hangat pada hati Arsyi. Meski pun Arsyi membenci Iqbal, tapi entah kenapa sejak mengetahui jika dirinya hamil, Arsyi ingin selalu berada di dekat Iqbal.
Kenapa dengan ku, apa ini adalah bawaan bayi? Di satu sisi aku membenci Kak Iqbal, tapi entah kenapa sekarang aku ingin selalu berada di dekatnya, ucap Arsyi dalam hati.
Semuanya telah berkumpul di ruang keluarga untuk membicarakan tentang hubungan Arsyi dan Iqbal kepada Mama Erina.
"Ma, sebenarnya Arsyi dan Iqbal sudah menikah," ucap Suci dengan lirih.
Mama Erina begitu terkejut mendengar perkataan Suci, karena sedikit pun Mama Erina tidak menyangka jika kedua Cucunya akan menikah, apalagi Iqbal dan Arsyi sudah dibesarkan menjadi saudara.
"Kenapa bisa seperti itu? Apa Iqbal sudah tau yang sebenarnya?" tanya Mama Erina.
"Iya Ma, bahkan Iqbal sudah bertemu dengan keluarga kandungnya. Dua hari yang lalu, Iqbal baru saja melakukan operasi transfusi donor sum sum tulang belakang, dan pendonornya adalah Ayah kandung Iqbal sendiri," jawab Suci.
Suci dan Arya bergantian menceritakan tentang kejadian yang menimpa Arsyi dan Iqbal. Meski pun Mama Erina begitu syok dengan semua itu, tapi Mama Erina tidak bisa berbuat apa-apa, karena sekarang semuanya telah terjadi.
"Maafin Oma Arsyi, seandainya kedua orangtua kamu tidak mengantar Oma berobat ke Singapura, mungkin semuanya tidak akan terjadi," ujar Mama Erina dengan menangis memeluk Arsyi.
__ADS_1
"Oma, semuanya adalah salah Iqbal. Iqbal meminta maaf yang sebesar-besarnya atas kesalahan yang telah Iqbal lakukan. Iqbal berjanji akan selalu menjaga dan membahagiakan Arsyi dalam seumur hidup Iqbal," ucap Iqbal dengan berlutut di bawah kaki Mama Erina.
"Bangun Nak, sekarang kita sudah tidak bisa menyalahkan siapa-siapa lagi, karena semuanya telah terjadi. Oma hanya bisa mendo'akan semoga Iqbal dan Arsyi selalu bahagia," ujar Mama Erina dengan memeluk tubuh Iqbal dan Arsyi.
"Oh iya, kapan kalian berdua akan mengadakan resepsi pernikahan?" tanya Mama Erina.
Iqbal dan Arsyi sama-sama diam karena tidak tau harus menjawab pertanyaan Mama Erina seperti apa.
"Kami bagaimana Anak-anak saja Ma," ujar Suci.
"Ma, bisa tidak kalau kami tidak perlu mengadakan resepsi pernikahan?" ujar Arsyi.
"Kenapa seperti itu?" tanya Mama Erina yang merasa bingung, karena biasanya setiap perempuan selalu memiliki impian untuk mengadakan pesta resepsi yang mewah.
"Oma, semua orang mengetahui kalau Arsyi dan Kak Iqbal adalah saudara kandung. Meski pun pada kenyataannya kami berdua tidak memiliki hubungan darah, apa nanti tanggapan orang lain jika mengetahui kami menikah," ujar Arsyi.
Sebenarnya Arsyi selalu memimpikan pesta pernikahan dengan konsep seperti di dalam negeri dongeng, tapi semua itu hanya tinggal angan-angan saja.
"Arsyi, Kakak akan mengatakan kepada semua orang kalau Kakak hanyalah Anak angkat keluarga Argadana, jadi oranglain tidak akan berkomentar negatif tentang pernikahan kita," ujar Iqbal.
"Tidak Kak, Arsyi tidak ingin pesta pernikahan, apalagi Arsyi sedang hamil muda, jadi Arsyi harus banyak istirahat."
Arsyi sebenarnya tidak mau satu kamar dengan Iqbal, tapi Arsyi tidak mungkin mengatakan semua itu, karena keluarganya pasti akan merasa sedih.
Arsyi dan Iqbal melangkahkan kaki nya menuju kamar Arsyi yang dulu. Sebelumnya Arsyi selalu tidur di kamar tamu, tapi Iqbal sengaja mengajak Arsyi untuk kembali ke kamar yang ia tempati dulu supaya Arsyi bisa melawan rasa takutnya.
Tubuh Arsyi langsung gemetar hebat ketika masuk ke dalam kamar yang menjadi saksi bisu saat Iqbal merenggut kesuciannya, dan Iqbal yang melihat Arsyi ketakutan, langsung mendekap erat tubuh Arsyi.
"Sayan g, semuanya akan baik-baik saja. Sekarang Arsyi lihat Kak Iqbal, Kak Iqbal janji tidak akan menyakiti Arsyi lagi," ucap Iqbal dengan menangkup kedua pipi Arsyi.
Setelah Arsyi merasa lebih tenang, Iqbal mengajak Arsyi duduk di atas ranjang.
Secara perlahan Iqbal melepaskan pegangan tangannya dari Arsyi, karena Iqbal ingin mengambil air minum untuk Arsyi, tapi tiba-tiba langkah Iqbal terhenti karena Arsyi mencekal pergelangan tangan nya.
"Kakak mau kemana?" tanya Arsyi.
"Kakak mau ambil air dulu untuk Arsyi minum," jawab Iqbal.
"Jangan tinggalin Arsyi Kak, Arsyi takut," ucap Arsyi dengan lirih.
__ADS_1
Iqbal tersenyum bahagia, karena Iqbal sudah bisa melihat Arsyi yang dulu selalu bersikap manja kepadanya.
"Ya sudah, kalau begitu sekarang kita istirahat saja. Tidak apa-apa kan kalau Kakak tidur di sini juga?" tanya Iqbal, dan Arsyi menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
Iqbal membantu Arsyi untuk berbaring, kemudian Iqbal berbaring di samping Arsyi.
Secara perlahan Iqbal mendekati tubuh Arsyi, dan Arsyi sudah merasa takut karena mengira Iqbal akan meminta hak nya sebagai seorang Suami.
"Ka_kak mau ngapain?" tanya Arsyi dengan suara tergagap.
"Kakak boleh tidak pegang perut Arsyi? Kakak ingin mengajak bicara Anak kita," jawab Iqbal.
"Terserah. Lagian dia masih belum ke luar dari perut, jadi dia belum mengerti apa-apa," ujar Arsyi dengan ketus.
"Sayang, Kakak pernah baca sebuah artikel tentang kehamilan, kalau bayi di dalam perut juga bisa mengerti perkataan kita, kita harus sering mengajak nya bicara, mendengarkan musik, Shalawat, mengaji, dan lain lain, karena itu akan membuat pertumbuhan bayi menjadi lebih baik."
"Ya sudah, kalau begitu Kak Iqbal saja yang hamil," celetuk Arsyi yang masih merasa kesal terhadap Iqbal.
Sabar Iqbal, suatu saat nanti, Arsyi pasti akan kembali seperti dulu lagi, ucap Iqbal dalam hati dengan mengelus dadanya.
Iqbal mengelus lembut perut Arsyi yang masih datar, kemudian Iqbal mengusap lembut kepala Arsyi, dan beberapa saat kemudian Arsyi tertidur.
Arsyi terlihat gelisah dalam tidurnya, kemudian Arsyi terdengar bergumam.
"Kak Iqbal jahat, Arsyi benci Kak Iqbal, Kak Iqbal sudah menghancurkan hidup Arsyi."
Tubuh Arsyi gemetar ketakutan, karena setiap malam Arsyi selalu bermimpi tentang perbuatan Iqbal yang sudah menghancurkan hidupnya.
Iqbal semakin merasa bersalah, karena ternyata dirinya sudah membuat Arsyi sampai seperti itu.
"Sayang, maafin Kakak, Kakak berjanji tidak akan pernah menyakiti Arsyi lagi," ucap Iqbal.
Iqbal membawa Arsyi ke dalam pelukannya, sampai akhirnya Arsyi kembali lebih tenang.
*
*
Bersambung
__ADS_1