Suci Tak Lagi Suci

Suci Tak Lagi Suci
Bab 204 ( Lupakan aku )


__ADS_3

Semuanya terkejut ketika melihat kedatangan Iqbal yang masih menggunakan pakaian Rumah Sakit, bahkan Iqbal dibantu berjalan oleh Bang Rojali.


"Iqbal, kamu masih dalam proses pemulihan, kenapa kamu datang ke sini?" tanya Rizky dengan menghampiri Iqbal, kemudian membantu Iqbal duduk di atas sofa yang berada di dalam kamar Nanda.


Sebelumnya Iqbal mendapatkan telpon dari Putri yang mengatakan tentang pernikahan Nanda dan Ratu. Putri melakukan semua itu karena Putri tidak sengaja mendengar perkataan Ratu yang berencana untuk menggagalkan pernikahannya dengan Nanda.


"Kalau aku tidak datang ke sini, Nanda pasti sudah merebut calon Istriku, dan aku pasti tidak akan mengetahui jika Arsyi hamil Anak ku," ujar Iqbal dengan menatap tajam Nanda.


"Apa aku tidak salah dengar? Bukannya kamu yang sudah merusak hubunganku dengan Arsyi? bahkan kamu juga yang sudah membuat hidup Arsyi hancur," ujar Nanda.


Iqbal dan Nanda terus berdebat sampai akhirnya Arsyi terbangun ketika mendengar keributan antara Nanda dan Iqbal.


"Nanda, apa aku sedang bermimpi?" gumam Arsyi yang melihat Nanda berada di sampingnya, bahkan Nanda terus menggenggam erat tangan Arsyi.


"Tidak sayang, kamu tidak bermimpi, karena aku akan segera menikahi kamu," ujar Nanda dengan memeluk tubuh Arsyi yang masih terlihat lemas.


Arsyi belum menyadari jika saat ini dirinya berada di dalam kamar Nanda, bahkan di sana bukan hanya ada mereka berdua saja, tapi keduanya saat ini tengah menjadi pusat perhatian banyak orang.


"Nanda, kita berada di mana? Kenapa kita bisa berada di dalam kamar pengantin?" tanya Arsyi yang masih merasa heran.


"Kita berada di rumahku, dan sebentar lagi kita akan menikah, karena aku akan menjadi Ayah untuk bayi yang saat ini berada dalam kandungan mu," jawab Nanda.


Degg


Jantung Arsyi berdetak kencang, Arsyi tidak mengira jika saat ini dirinya tengah hamil.


"A_apa, jadi sekarang aku sedang hamil?" gumam Arsyi.


"Iya sayang, sebentar lagi kita akan menjadi orangtua," ujar Nanda dengan mengeratkan pelukannya.


Prok prok prok


Iqbal bertepuk tangan karena sudah tidak kuat menahan sesak dalam dadanya ketika melihat Nanda yang terus memeluk Arsyi.

__ADS_1


"Nanda, sudah cukup pertunjukannya. Kamu tidak perlu munafik, karena kita berdua sama-sama bejat. Apa kamu pikir aku tidak tau dengan perbuatan tidak senonoh yang telah kamu lakukan dengan Ratu?" ujar Iqbal dengan tersenyum mengejek.


Arsyi langsung melepaskan pelukan Nanda, dan Arsyi terkejut karena ternyata di kamar tersebut banyak orang, bahkan kedua orangtuanya juga berada di sana.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Arsyi.


"Sayang, maafkan aku, aku dan Ratu telah melakukan kesalahan yang fatal. Semuanya terjadi saat pesta pernikahan Kak Rizky dan Kak Putri, aku merasa sedih karena seharusnya hari itu kita yang menikah. Aku merasa putus asa karena kamu juga selalu menolak aku, sampai akhirnya_"


Ucapan Nanda terhenti Karena Arsyi langsung memotongnya.


"Cukup Nanda, kamu tidak perlu menjelaskan apa pun lagi, karena aku sudah mengetahui kelanjutannya. Sekarang juga kamu harus menikahi Ratu, kamu harus bertanggung jawab atas kesalahan yang telah kalian lakukan," ujar Arsyi dengan menangis.


"Tidak Arsyi, aku tidak bisa menikah dengan perempuan yang tidak aku cintai. Aku hanya mencintai kamu, aku juga melakukan semua itu karena mengira jika Ratu adalah kamu, dan saat itu kami berdua berada di bawah pengaruh alkohol," ujar Nanda dengan menangkup kedua pipi Arsyi.


"Tidak Nanda, kamu harus tetap menikah dengan Ratu. Mungkin ini adalah takdir cinta kita, dan kita memang tidak ditakdirkan hidup bersama," ujar Arsyi dengan airmata yang terus membasahi pipinya.


"Sayang, aku dan Ratu sudah sepakat untuk membatalkan pernikahan kami, karena kami berdua tidak saling mencintai. Sekarang aku akan menikahi kamu dan menjadi Ayah untuk bayi yang berada dalam kandunganmu," ujar Nanda yang masih bersikeras dengan keputusannya.


"Kamu tidak perlu bertanggung jawab kepada Arsyi, karena aku adalah Ayah dari bayi yang Arsyi kandung, dan aku akan segera menikahinya. Seharusnya kamu lanjutkan pernikahan kamu dengan Ratu, mungkin saja sebentar lagi Ratu juga akan hamil Anak kamu," ujar Iqbal.


Arsyi terlihat berpikir, karena saat ini baik Iqbal atau pun Nanda masih tidak ada yang mau mengalah.


"Maaf semuanya, apa bisa Arsyi berbicara berdua dengan Nanda?" tanya Arsyi.


Iqbal merasa keberatan, karena Iqbal takut jika Arsyi akan luluh dengan bujukan Nanda.


"Aku tidak_" ucapan Iqbal terhenti karena Rizky langsung memotongnya.


"Iqbal, sebaiknya sekarang kita ke luar, kamu percaya kan sama Arsyi?" ujar Rizky, dan mau tidak mau akhirnya Iqbal mengikuti yang lainnya ke luar dari dalam kamar Nanda.


Saat ini di dalam kamar Nanda hanya tinggal Arsyi dan Nanda saja, dan Arsyi menghela nafas panjang ketika berhadapan dengan lelaki yang sudah mengisi hari-harinya selama enam tahun.


"Nanda, aku tau kalau kamu sangat mencintaiku, dan aku sangat berterimakasih atas cinta dan kasih sayang yang telah kamu berikan selama ini."

__ADS_1


"Arsyi, aku mohon berikan aku kesempatan untuk membahagiakan kamu. Aku janji akan berusaha menjadi Suami dan Ayah yang baik untuk Anak-anak kita," ujar Nanda dengan menggenggam erat tangan Arsyi.


"Nanda, maaf, karena aku tidak bisa membiarkan kamu bertanggung jawab atas kesalahan yang tidak kamu lakukan. Jujur, aku baru menyadari kalau aku juga mencintai kamu, tapi cinta tidak harus memiliki. Lupakan aku, lupakan cinta yang ada dalam hati kita, karena kita tidak ditakdirkan hidup bersama."


"Tidak Arsyi, aku tidak bisa hidup tanpa kamu. Aku janji akan menganggap bayi yang berada dalam kandungan kamu sebagai Anak kandungku sendiri."


"Lalu bagaimana dengan Ratu? Bagaimana kalau nanti Ratu juga hamil Anak kamu? Apa kamu tega membiarkan dia hamil di luar nikah dan harus berjuang sendiri tanpa sosok Suami di sampingnya? Kamu tidak boleh egois Nanda, karena aku juga tidak bisa memisahkan Anak ku dari Ayah kandungnya. Aku akan membiarkan Kak Iqbal bertanggung jawab, dan aku sudah memutuskan akan menikah dengan Kak Iqbal," ujar Arsyi dengan menahan sesak dalam dadanya.


Nanda terlihat berpikir, karena Nanda masih belum bisa menerima keputusan Arsyi.


"Nanda, apa kamu bisa mengabulkan permintaanku?" tanya Arsyi.


"Apa pun permintaan kamu, aku pasti akan mengabulkannya," jawab Nanda.


"Aku minta sekarang juga kamu nikahi Ratu. Aku yakin kamu akan menjadi Ayah yang baik, dan secara perlahan kamu pasti bisa mencintai Ratu," ujar Arsyi dengan tatapan memohon.


"Tidak Arsyi, tidak mungkin aku bisa hidup dengan perempuan yang tidak aku cintai. Aku bisa melakukan apa pun untuk kamu, tapi jangan memintaku untuk melakukan semua itu, karena aku tidak akan pernah bisa," tegas Nanda.


"Aku mohon, aku mohon kamu lakukan semua itu demi aku. Aku tidak ingin banyak hati yang terluka karena keegoisan kita. Nanda, kamu tatap mata aku. Meski pun kita tidak bisa menjadi pasangan Suami Istri, tapi kita masih bisa menjadi Sahabat. Anggap saja, ini adalah permohonan dari seorang Teman," ujar Arsyi dengan menangis.


Nanda kembali memeluk Arsyi, kemudian menumpahkan tangisannya dalam pelukan Arsyi.


"Kenapa, kenapa semuanya menjadi seperti ini? Sedikit pun aku tidak pernah mengira jika kisah cinta akan berakhir seperti ini. Arsyi, meski pun kita tidak ditakdirkan hidup bersama, tapi kamu harus tau, bahwa namamu selamanya akan terukir di dalam hatiku," ucap Nanda dengan mencium kening Arsyi.


Arsyi dan Nanda akhirnya ke luar dari dalam kamar Nanda dengan bergandengan tangan, dan semuanya sudah menunggu keputusan Arsyi dan Nanda dengan harap harap cemas.


"Kami berdua sudah memutuskan."


*


*


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2