Suci Tak Lagi Suci

Suci Tak Lagi Suci
Bab 104 ( Terjatuh dari tangga )


__ADS_3

Keesokan paginya, Suci terbangun ketika mendengar suara Adzan Subuh berkumandang.


Suci langsung menyunggingkan senyuman ketika melihat wajah tampan Arya yang saat ini tengah mendekap erat tubuhnya.


"Mas Arya tampan sekali. Aku beruntung memiliki Suami seperti sempurna seperti Mas Arya," gumam Suci yang tiba-tiba ingat jika Arya adalah Suaminya.


"Kenapa aku mengingat jika Mas Arya adalah Suamiku," gumam Suci yang merasa heran.


Suci berusaha mengingat potongan-potongan memori kebersamaannya saat bersama dengan Arya sebelum dirinya mengalami hilang ingatan, tapi tiba-tiba kepala Suci terasa sakit.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Arya yang merasakan pergerakan pada tubuh Suci.


"Mas, kepalaku sakit sekali. Aku merasa aneh, karena tiba-tiba aku mengingat jika Mas Arya adalah Suamiku?" jawab Suci.


Degg


Jantung Arya rasanya berhenti berdetak ketika mendengar perkataan Suci, karena Arya takut jika Suci mengingat kejadian dua tahun yang lalu saat Arya menghancurkan hidup Suci.


Aku tau kalau aku salah jika menginginkan Suci selamanya mengalami hilang ingatan, tapi aku belum siap apabila Suci membenciku, ucap Arya dalam hati.


"Sayang, jangan terlalu memaksakan diri untuk mengingat semuanya, aku tidak mau kalau kamu sampai kenapa-napa," ujar Arya dengan mengeratkan pelukannya kepada Suci.


Suci mencoba menenangkan pikiran nya, tapi Suci merasa heran karena baru menyadari jika Suci sudah tidur dalam pelukan Arya.


"Mas, kenapa kita bisa tidur sambil pelukan? Bukannya semalam kita memakai guling sebagai pembatas? Pasti Mas Arya kan yang membuang pembatasnya?" tanya Suci dengan mencoba melepaskan diri dari pelukan Arya.


"Sekarang kita lihat siapa yang sudah melewati batas. Tuh kamu lihat sendiri tempat tidur di belakang kamu, masih luas kan? Sedangkan aku sampai tidur mepet begini," ujar Arya yang saat ini sudah berada di ujung ranjang.


Suci merasa malu karena sudah menuduh Arya melewati batas tempat tidur, sampai akhirnya Suci memutuskan berlari ke dalam kamar mandi, sedangkan Arya hanya tersenyum penuh kemenangan, karena sebenarnya Arya yang telah menggeser tubuh Suci supaya berada dalam pelukannya.


"Syukurlah Suci masih belum mengingat semuanya," gumam Arya yang sudah bisa bernafas lega.


......................


Hesti, Irwan, dan Papa Ferdi sudah bersiap untuk pulang menuju Jakarta, tapi sebelum mereka berangkat, Bu Rita memanggil semuanya untuk sarapan terlebih dahulu.

__ADS_1


"Bu, maaf ya, Suci gak bantu Ibu masak," ucap Suci yang merasa tidak enak karena bangun kesiangan.


"Tidak apa-apa Nak, Suci baru saja ke luar dari Rumah Sakit, jadi Suci harus banyak istirahat," ujar Bu Rita dengan mengelus punggung Suci.


Hesti yang melihat rambut Suci basah, langsung saja menggoda Suci.


"Pengantin baru pasti bangunnya kesiangan kan? Bagaimana rasanya tidur sama Pak Bos setelah sekian lama_" perkataan Hesti terhenti ketika Irwan menginjak kakinya, bahkan Irwan memberikan kode kepada Hesti supaya Hesti mengerti maksud Irwan.


Hesti langsung menutup mulutnya yang selalu lupa jika Suci masih belum mengingat jika Arya adalah Suaminya.


"Hesti ternyata senang sekali menggoda Suci ya? Pasti Hesti bicara seperti itu karena Suci baru melahirkan, memang sih kalau habis masa nifas bakalan seperti Pengantin baru lagi," ujar Mama Erina dengan tersenyum.


Arya mencoba mengalihkan pembicaraan dengan membahas masalah pekerjaan, karena bagaimanapun juga Arya tidak mau menyakiti perasaan Rian, dan pastinya Suci akan merasa sangat bersalah terhadap Rian.


"Nak, kapan kita akan pulang ke Jakarta juga? Mama sudah lama tidak bertemu dengan Papa dan Oma," tanya Mama Erina.


Aku tidak mungkin membawa Suci pulang ke Jakarta apabila ingatannya masih belum pulih, karena Suci pasti akan menolak berpisah dari Rian dan Iqbal. Aku juga takut kalau penyakit Mama akan kembali kambuh apabila melihat kondisi Papa yang saat ini masih stroke, ucap Arya dalam hati.


"Kita pasti akan pulang ke Jakarta kalau Arya sudah menyelesaikan urusan di sini, karena sekarang Arya masih memiliki banyak pekerjaan. Jadi Mama sabar dulu ya."


"Iya Nak, Mama akan bersabar, yang penting Mama bisa selalu berada dekat dengan Suci," ujar Mama Erina dengan memeluk tubuh Suci.


......................


"Hesti, kalau kamu mau, kamu bisa pindah kerja ke Perusahaan cabang yang ada di sini," ujar Arya yang sengaja menggoda Irwan.


"Enggak bisa seperti itu Bro. Hesti akan berhenti bekerja, apalagi aku dan Hesti harus mempersiapkan pernikahan kami," ujar Irwan.


"Aku belum menyetujui permintaan kamu untuk berhenti bekerja ya, jadi tidak ada salahnya jika aku menerima tawaran Pak Bos untuk pindah kerja ke sini," ujar Hesti dengan terus memeluk tubuh Suci.


"Hesti, kamu kenapa sih suka sekali menggoda Irwan? Kamu tidak kasihan kalau dia sampai menangis?" ujar Suci dengan melepas pelukannya kepada Hesti.


"Tapi Suci, aku tidak ingin berpisah dengan kamu."


"Kamu tidak boleh cengeng seperti ini, kita pasti akan bertemu lagi. Insyaallah kami pasti datang ke acara pernikahan kamu dan Irwan," ujar Suci.

__ADS_1


"Awas saja kalau bohong, kamu dan keluarga wajib datang sebagai perwakilan keluargaku, kamu tau sendiri kalau sekarang aku sudah hidup sebatang kara, dan hanya kalian yang aku miliki di Dunia ini. Jadi, kamu dan Bu Rita harus menjadi pendamping mempelai perempuan," ujar Hesti.


"Iya, iya, kamu jangan nangis terus dong, nanti cantiknya ilang," ujar Suci dengan mengelap airmata yang terus menetes pada pipi Hesti.


Papa Ferdi tiba-tiba memeluk tubuh Bu Rita dan Putri, dan Bu Rita terkejut sekaligus malu dengan perbuatan Papa Ferdi.


"Rita, aku titip Cucu kita ya, kamu tolong jangan tolak ini," ujar Papa Ferdi dengan memasukan kartu ATM pada saku baju Bu Rita.


"Tidak perlu Mas, kalau untuk kebutuhan aku dan Putri, aku masih punya pemberian dari Farel," ujar Bu Rita yang hendak mengembalikan kartu ATM yang diberikan oleh Papa Ferdi.


"Tapi ini dariku, bukan dari Farel, dan aku tidak menerima penolakan. Bukannya rezeki itu tidak boleh ditolak?" ujar Papa Ferdi.


Bu Rita akhirnya terpaksa menerima kartu ATM pemberian Papa Ferdi, karena beliau tidak enak jika harus berdebat di hadapan Suci dan yang lainnya.


Setelah Hesti, Irwan dan Papa Ferdi berpamitan kepada semuanya, ketiganya dengan berat hati kembali menuju Jakarta.


......................


Hari ini Suci terus saja merasakan pusing karena banyaknya potongan memori yang bermunculan pada otaknya, tapi Suci berusaha terlihat baik-baik saja supaya tidak membuat semua orang merasa cemas, sampai akhirnya Suci terpeleset ketika menuruni tangga.


"Suci," teriak Arya dan Rian secara bersamaan ketika melihat Suci yang terjatuh dari atas tangga, dan keduanya berlari untuk menyelamatkan Suci, tapi baik Arya atau pun Rian tidak ada yang bisa menyelamatkan Suci yang jauh dari jangkauan mereka yang saat ini berada di bawah tangga.


Suci pingsan setelah sebelumnya kepala Suci terbentur lantai, dan Arya langsung memeluk tubuh Suci dengan erat.


"Sayang, bangun sayang, jangan membuat aku khawatir," ucap Arya dengan menangis, begitu juga dengan Bu Rita dan Mama Erina yang langsung menangis histeris.


"Arya, kita harus segera membawa Suci ke Rumah Sakit," ujar Rian.


"Arya, Mama ikut, Mama tidak mau Suci sampai kenapa-napa," ujar Mama Erina.


"Ma, Suci pasti akan baik-baik saja. Arya minta tolong sama Mama dan Bu Rita untuk menjaga Anak-anak," ujar Arya.


Arya dibantu oleh Rian menggotong Suci ke dalam mobil, kemudian Rian melajukan mobilnya menuju Rumah Sakit dengan perasaan tidak menentu.


*

__ADS_1


*


Bersambung


__ADS_2