Suci Tak Lagi Suci

Suci Tak Lagi Suci
Bab 121 ( Pengakuan Mama Erina )


__ADS_3

Sepanjang sarapan berlangsung, Oma Rahma, Papa Fadil dan Mama Erina terlihat tegang, karena mereka sudah yakin jika Arya akan mengatakan yang sebenarnya kepada Suci.


"Papa, Mama sama Oma kenapa makan nya sedikit sekali?" tanya Suci yang merasa heran karena dari tadi keluarga Arya terlihat melamun, bahkan hanya dentingan sendok dan garpu yang terdengar di meja makan, padahal biasanya Oma Rahma dan Mama Erina selalu heboh membicarakan tentang Anak-anak Suci dan Arya yang selalu membuat mereka merasa gemas.


"Mama lagi gak enak badan sayang," jawab Mama Erina dengan memaksakan diri untuk tersenyum.


"Apa perlu Suci panggil Dokter Faris? Biar nanti sekalian memeriksa kondisi Mas Arya."


"Tidak perlu sayang, terimakasih. Nanti Mama coba minum obat yang ada saja," ujar Mama Erina dengan memegang tangan Suci yang saat ini berada di hadapannya.


"Papa juga tidak apa-apa, jadi Mama tidak perlu memanggil Dokter," ujar Arya.


Setelah selesai sarapan, Arya meminta semuanya untuk berkumpul di ruang keluarga, sontak saja semua itu membuat Oma Rahma, Mama Erina dan Papa Fadil semakin merasa tegang.


Suci sudah duduk di samping Arya, sedangkan Mama Erina, Papa Fadil dan Oma Rahma duduk di kursi yang berhadapan dengan Suci dan Arya.


Arya beberapa kali mengembuskan nafas secara kasar sebelum angkat suara.


"Sayang, sekarang Papa kembalikan semua ini kepada Mama," ujar Arya dengan memberikan setumpuk sertifikat dan berkas berkas pengalihan harta.


"Apa maksud Papa berbicara seperti itu?" tanya Suci yang merasa heran.


"Dari awal seharusnya semua ini adalah milik kamu sayang, tapi aku yang sudah merebutnya. Jadi, sudah seharusnya aku mengembalikan semua ini kepada pemilik yang sebenarnya," ujar Arya.


"Pa, apa maksud Papa, Mama sama sekali tidak mengerti?" tanya Suci yang terlihat kebingungan.


Arya merasa berat untuk mengatakan semuanya kepada Suci, karena Arya tidak mau menyakiti hati Suci, sampai akhirnya Mama Erina memberanikan diri untuk angkat suara.


"Suci, maafin Mama Nak, selama ini Mama sudah melakukan kesalahan yang sangat besar terhadap Suci. Suci coba lihat baik-baik ini," ujar Mama Erina dengan memberikan surat dan fhoto peninggalan Bu Asih.


"Bukannya ini surat yang ditulis mendiang Ibu? Kenapa Suci harus membacanya lagi?"


"Apa Suci tidak ingin mengetahui siapa orangtua kandung Suci yang sebenarnya?" tanya Mama Erina.

__ADS_1


"Tidak Ma. Suci tidak ingin mengetahui apalagi bertemu dengan orangtua yang tidak pernah menginginkan kehadiran Suci ke Dunia ini?"


Mama Erina merasakan sesak dalam dadanya ketika mendengar perkataan Suci, tapi Mama Erina berusaha tegar, dan sudah bertekad untuk mengakui semua kesalahannya terhadap Suci.


"Nak, Suci lihat fhoto bayi yang digendong oleh Bu Asih, itu adalah fhoto Arya saat masih bayi," ujar Mama Erina.


Degg


Jantung Suci rasanya berhenti berdetak ketika mengetahui jika Arya adalah Anak kandung dari orangtua angkatnya. Ada rasa bahagia dalam hati Suci karena akhirnya Suci bisa bertemu dengan Anak kandung dari orang yang sudah membesarkannya, tapi Suci masih belum menyadari jika dirinya adalah bayi yang ditukar dengan Arya.


"Jadi Mas Arya adalah Anak kandung mendiang Ibu dan Bapak?" tanya Suci.


"Iya Nak, Suci benar. Arya sebenarnya adalah Anak kandung mendiang Bu Asih dan Pak Iman," jawab Mama Erina dengan menangis.


"Mama jangan menangis, meski pun Mas Arya bukan Anak kandung Mama dan Papa, tapi Mas Arya sangat menyayangi kalian. Suci juga yakin kalau kalian sangat menyayangi Mas Arya seperti Anak kandung sendiri," ujar Suci dengan memeluk tubuh Mama Erina dan mengusap airmata yang terus menetes pada pipinya.


"Suci, maafin Mama Nak, maafin Mama," ucap Mama Erina yang terus meminta maaf.


"Kenapa Mama terus meminta maaf sama Suci? Mama tidak pernah melakukan kesalahan apa pun terhadap Suci."


Jleb


Jantung Suci seakan tertusuk belati tajam ketika mendengar pengakuan Mama Erina, dan suci langsung melepaskan pelukannya dari Mama Erina.


"Tidak, tidak mungkin, ini semua pasti tidak benar," ujar Suci dengan airmata yang lolos begitu saja membasahi pipinya, bahkan saat ini tubuh Suci terasa lemas, dan Arya yang melihat Suci hampir terjatuh langsung menahannya dengan memeluk tubuh Suci.


"Nak, Mama sangat menyesal, maafin Mama sayang," ujar Mama Erina dengan menjatuhkan tubuhnya di atas lantai, dan Suci langsung memundurkan tubuhnya, kemudian menumpahkan tangisannya dalam pelukan Arya.


"Anda bilang menyesal? Kenapa baru sekarang Anda menyesal?" tanya Suci yang masih belum bisa menerima semuanya.


"Nak, semua ini salah Papa. Seandainya dulu Papa tidak mengatakan jika Papa menginginkan Anak laki-laki, mungkin Mama tidak akan melakukan semua itu," ujar Papa Fadil dengan menjatuhkan tubuhnya di hadapan Suci.


Suci mengambil sertifikat dan berkas-berkas pengalihan harta yang diberikan oleh Arya, kemudian Suci menyerahkan semuanya kepada Mama Erina.

__ADS_1


"Nyonya Erina yang terhormat, silahkan ambil semua ini, karena saya tidak membutuhkannya," ujar Suci dengan menyimpan semua dokumen di hadapan Mama Erina.


"Nak, ini Mama Nak, kenapa Suci berkata seperti itu? Ini semua milik kamu sayang."


"Bukannya Anda lebih memilih harta makanya Anda tega menukar Anak sendiri karena takut kehilangan harta yang Anda miliki? Tidak Nyonya, itu semua bukan milik saya, karena saya tidak membutuhkannya."


"Suci, Mama menyesal Nak, Mama sampai depresi ketika mengira jika Suci telah meninggal dunia, begitu juga dengan Papa yang sampai mengalami stroke."


"Anda baru menyesal ketika Anda mengira saya sudah meninggal dunia kan? Kalau begitu anggap saja saya telah meninggal dunia. Terimakasih karena Anda telah melahirkan saya ke Dunia ini, dan terimakasih juga atas luka yang sudah Anda berikan," ujar Suci, kemudian berlari ke dalam kamar.


Arya bergegas menyusul Suci, dan saat ini Suci terlihat memasukan pakaiannya ke dalam koper.


"Sayang, Mama mau pergi kemana?" tanya Arya dengan memeluk tubuh Suci.


"Pa, kenapa Papa tega sekali membohongi Mama? Apa kalian pikir Mama adalah boneka yang tidak memiliki hati?"


"Papa juga baru mengetahuinya kemarin, makanya Papa langsung membawa Mama pulang ke sini, karena Papa merasa kecewa dengan yang dilakukan oleh orangtua kita. Papa selalu dihantui rasa bersalah, karena Papa telah merebut semua yang harusnya menjadi milik Mama, apalagi Papa sudah menjadi penyebab Bu Asih meninggal dunia. Papa pembunuh, Papa sudah membunuh Ibu kandung sendiri," ujar Arya dengan menangis.


Jadi Mas Arya sampai sakit karena mengetahui semua kebenaran ini? Tidak seharusnya aku menyalahkan Mas Arya, karena Mas Arya tidak tau apa-apa, dan kami berdua hanyalah korban keegoisan dari orangtua kandungku, batin Suci.


Suci memeluk tubuh Arya yang terus saja menyalahkan dirinya sendiri, dan Suci meminta maaf karena sudah menyalahkan Arya.


"Pa, maafin Mama, tidak seharusnya Mama menyalahkan Papa, karena kita berdua adalah korban dan sama-sama tidak menginginkan semua ini."


"Tapi Papa adalah pembunuh, Papa sudah membunuh Ibu kandung sendiri."


"Papa lihat Mama, Papa bukan pembunuh. Semua yang terjadi kepada mendiang Ibu adalah takdir, apalagi sebelumnya Ibu sudah memiliki riwayat penyakit jantung, jadi Papa jangan terus menyalahkan diri sendiri. Sekarang sebaiknya kita ziarah ke makam Ibu dan Bapak, dan Mama ingin kita pindah ke sana untuk membuka lembaran baru, tanpa bayang-bayang masalalu," ujar Suci.


"Terimakasih sayang, karena Mama sudah mengerti Papa. Semua ini memang tidak mudah untuk kita, tapi Papa janji, kita akan menghadapi semuanya bersama," ujar Arya dengan memeluk tubuh Suci dengan erat.


*


*

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2