
Semenjak kepergian Iqbal, Arsyila yang ceria kini berubah menjadi pendiam, bahkan Arsyila selalu terlihat murung dan menjauhkan diri dari orang lain sehingga membuat keluarganya merasa khawatir.
"Pa, Mama tidak tega melihat Arsyi yang selalu saja murung semenjak kepergian Iqbal," ujar Suci.
"Papa juga tidak tega Ma. Mungkin Arsyi belum terbiasa berpisah dari Iqbal. Semoga saja dengan seiring waktu semuanya bisa berjalan seperti yang kita harapkan," ujar Arya.
"Apa kita jujur saja kepada Anak-anak kalau Iqbal sebenarnya bukan Anak kandung kita?" tanya Suci.
"Ma, saat ini mereka masih remaja, mungkin yang Iqbal dan Arsyi rasakan hanyalah cinta monyet, kalau memang setelah dewasa nanti cinta mereka berubah menjadi cinta gorila, mau tidak mau kita harus jujur tentang siapa Iqbal yang sebenarnya," ujar Arya.
"Pa, Mama serius, kenapa Papa malah bercanda sih, mana ada yang namanya cinta gorila."
"Papa juga serius sayang. Anggap saja saat ini adalah ujian cinta untuk mereka. Jika rasa cinta yang mereka miliki masih bertahan meski pun terpisah oleh jarak dan waktu, nanti setelah Iqbal kembali, kita bisa menikahkannya dengan Arsyi, bagaimanapun juga kebahagiaan Anak-anak adalah nomor satu, dan kita tidak bisa terus-terusan menyembunyikan identitas Iqbal yang sebenarnya."
"Semoga semuanya baik-baik saja, entah kenapa perasaan Mama selalu saja tidak tenang," ujar Suci.
......................
Arsyi terus berusaha melupakan rasa cintanya terhadap Iqbal, tapi semakin keras Arsyi berusaha, rasa cinta dalam hatinya justru semakin besar, begitu juga dengan Iqbal yang berada di belahan bumi lainnya, bahkan separuh jiwa Iqbal rasanya telah hilang, dan hatinya selalu terasa hampa tanpa sosok Arsyi di sampingnya.
"Kenapa perpisahan selalu menyakitkan? apa kita bisa kembali bersama lagi? Semakin hari Kakak semakin merindukanmu. Kakak tidak yakin apa Kakak sanggup berpisah lama dari kamu Tuan Puteri," gumam Iqbal dengan memandangi fhoto Arsyila yang selalu ia bawa.
Iqbal memutuskan pindah sekolah ke luar negeri karena sebelumnya Iqbal mendengar pembicaraan Arya dan Suci yang merasa khawatir dengan kedekatan Iqbal dan Arsyila, dan Iqbal sadar betul jika ia tidak seharusnya memiliki perasaan cinta terhadap Adik kandungnya sendiri.
"Mulai sekarang sebaiknya aku mengubur dalam-dalam rasa cinta yang aku miliki untuk Arsyi, mungkin dengan terpisah jarak dan waktu seperti ini, aku akan lebih mudah melupakannya. Aku juga harus tunjukan kepada Mama dan Papa kalau aku bisa membuat mereka bangga dengan prestasi yang bisa aku dapatkan di sini," gumam Iqbal yang mencoba untuk bangkit dari keterpurukan.
......................
Hari ini adalah hari terakhir Ospek, dan Sekolah Arsyila akan mengadakan Persami.
Ratu menghampiri Arsyila untuk mengingatkan tentang janji Arsyila yang akan membantu dirinya untuk mendekati Rizky.
"Arsyi, kamu tidak lupa kan dengan janji yang kamu buat untuk mendekatkan aku dengan Kak Rizky?" tanya Ratu.
"Kamu tenang saja, aku tidak mungkin melupakan nya. Nanti saat jurit malam, aku akan meminta kamu supaya masuk dalam kelompok yang dipimpin oleh Kak Rizky, dan aku akan bertukar denganmu untuk masuk ke dalam kelompok yang dipimpin oleh Kak Putri," jawab Arsyila.
Ratu tersenyum penuh kemenangan mendengar perkataan Arsyila, karena Ratu akan memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mendekati Rizky, apalagi Dinda yang merupakan saingan beratnya berada dalam kelompok Putri.
Malam pun kini telah tiba, semuanya telah berkumpul di lapangan untuk memulai kegiatan jurit malam.
__ADS_1
Sebagai Ketua Osis, Rizky memberikan sambutan serta pengarahan kepada semua Adik kelasnya sebelum mereka masuk ke dalam hutan.
Sebelumnya Rizky sudah membagi Siswa menjadi beberapa kelompok, dan Rizky yang ditugaskan oleh kedua orangtuanya untuk menjaga Arsyila, memasukan Arsyila ke dalam kelompoknya.
Setelah Rizky memimpin do'a sebelum berangkat, Rizky menghampiri Arsyila yang sedang bersama Ratu.
"Arsyi, sebaiknya kamu jangan jauh-jauh dari Kakak," ujar Rizky.
"Kak, boleh ya kalau Arsyi ikut regu Kak Putri saja, biar Ratu saja yang ikut regu Kakak."
"Tidak bisa, Kakak tidak mau kalau sampai kamu kenapa-napa, apalagi Mama sama Papa sudah wanti-wanti supaya Kakak selalu menjaga kamu," tegas Rizky.
"Kak, tapi Arsyi ingin satu regu sama Kak Putri. Arsyi janji akan menjaga diri dengan baik," ujar Arsyila dengan tatapan memohon.
Nanda yang mendengar perkataan Arsyila, memutuskan untuk bertukar juga dengan Dinda yang berada di kelompok Putri, supaya Nanda bisa selalu dekat dan bisa menjaga Putri, dengan begitu Dinda juga akan senang karena bisa dekat dengan Rizky.
"Kak Rizky, kalau begitu Nanda ikut pindah saja ke kelompok Kak Putri supaya Nanda bisa selalu menjaga Arsyi."
"Tapi nanti regu Kakak jadi berkurang kalau kamu pindah," ujar Rizky.
"Nanda kan bisa bertukar sama Dinda," ujar Nanda dengan mengedipkan sebelah matanya kepada Dinda.
Dinda begitu bahagia mendengar ide tersebut, rasanya Dinda ingin melompat lompat karena kegirangan, tapi Dinda yang sudah memutuskan untuk bersikap lebih dewasa, mencoba bersikap tenang, karena Hesti selalu memberinya nasehat jika Dinda harus tahan harga jika ingin mendapatkan perhatian dari Rizky.
Rizky terlihat berpikir, meski pun dirinya merasa tidak tenang jika harus berpisah dengan Arsyila, tapi setidaknya ada Nanda yang akan selalu menjaga Adiknya.
"Baiklah kalau begitu, Kakak titip Arsyi sama kamu, Kakak harap kamu bisa menjaganya dengan baik," ujar Rizky dengan menepuk bahu Nanda.
"Siap laksanakan," jawab Nanda dengan memberi hormat.
Ratu merasa kesal karena Dinda masuk ke dalam kelompok Rizky juga, tapi Ratu tidak bisa berbuat apa-apa.
Kenapa sih Dinda harus masuk ke dalam kelompok Kak Rizky juga? Kalau seperti ini ceritanya, aku bisa gagal mendekati Kak Rizky, ucap Ratu dalam hati.
Semua kelompok sudah berpencar dan masuk ke dalam hutan untuk mengambil lima bendera yang harus mereka temukan, dan sepanjang perjalanan, Rizky dibuat kesal oleh Ratu yang selalu berusaha mendekatinya dengan berbagai cara.
"Kak Rizky, Ratu capek, kita istirahat dulu ya," ujar Ratu yang terus saja mengeluh.
"Ya sudah, kalau kamu mau istirahat, kamu kembali saja ke tenda, tidak usah mengikuti jurit malam," ujar Rizky dengan bersikap dingin.
__ADS_1
"Kak Rizky tega banget sih, kalau begitu Kakak gendong Ratu ya."
"Kamu punya kaki kan?" ujar Rizky dengan tatapan tajam.
"Rasain, emang enak," bisik Dinda pada telinga Ratu, sehingga membuat Ratu semakin merasa kesal.
"Tumben si Dinda tidak cari perhatian Kak Rizky," gumam Ratu.
Ratu yang merasa kesal terhadap Dinda, mendorong tubuh Dinda, dan Rizky yang melihat Dinda akan terjatuh, mencoba untuk menangkap tubuh Dinda.
"Dinda, kamu tidak kenapa-napa kan?" tanya Rizky yang berhasil menangkap tubuh Dinda.
"Tidak apa-apa Kak, terimakasih," ucap Dinda dengan tersenyum.
Kenapa aku merasa ada yang aneh dengan sikap Dinda? Sepertinya sekarang dia lebih dewasa, padahal biasanya dia akan bersikap seperti Ratu yang terus berusaha mendekatiku, batin Rizky kini bertanya-tanya.
Kaki Dinda sebenarnya sakit karena tidak sengaja terkilir saat Ratu mendorongnya, tapi Dinda berusaha menahannya.
"Aww sakit," gumam Dinda dengan meringis kesakitan.
"Dinda, kamu baik-baik saja kan?" tanya Rizky.
"Tidak apa-apa Kak, kaki Dinda hanya sedikit terkilir."
Rizky membantu Dinda duduk, kemudian melihat kaki Dinda.
"Bilang saja kalau kamu ingin mencari perhatian Kak Rizky," sindir Ratu.
"Cukup Ratu, semua ini juga gara-gara kamu yang sudah mendorong Dinda. Kamu lihat sendiri kalau kaki Dinda sampai bengkak seperti ini," ujar Rizky.
"A_aku gak sengaja kok dorong Dinda," ujar Ratu.
"Kamu tidak usah ngeles, aku melihat semua yang kamu lakukan dengan mata kepalaku sendiri. Dinda, sebaiknya sekarang kamu naik ke punggung Kakak supaya kaki kamu tidak tambah bengkak," ujar Rizky dengan membungkukkan tubuhnya.
"Makasih Ratu, kamu sudah memberiku kesempatan digendong sama Kak Rizky," bisik Dinda kepada Ratu.
Kenapa jadi seperti ini? Aku tidak rela Pangeran impianku menggendong perempuan lain, ucap Ratu dalam hati dengan mengepalkan kedua tangannya.
*
__ADS_1
*
Bersambung