
Arya yang merasa khawatir melihat keadaan Suci, langsung saja mengangkat tubuh Suci tanpa meminta persetujuannya terlebih dahulu, sontak saja semua itu membuat Suci merasa terkejut.
"Mas, tolong turunkan saya, saya tidak enak apabila digendong oleh lelaki yang bukan muhrim saya, apalagi kita tidak saling mengenal, dan saya tidak mau kalau sampai Suami saya sampai salah paham," ucap Suci.
"Maaf jika saya sudah lancang, tapi saya hanya mencoba untuk menolong Anda supaya kita segera sampai di mobil," ujar Arya yang masih tetap menggendong Suci tanpa berniat menurunkannya.
Suci, mungkin sekarang kita sudah tidak memiliki hubungan apa pun, karena kamu sudah menikah dengan Rian, tapi bagaimanapun juga, kamu adalah Ibu kandung Rizky sekaligus perempuan satu-satunya yang akan selalu aku cintai, ucap Arya dalam hati dengan menahan sesak dalam dadanya ketika Arya dipaksa harus menerima kenyataan jika Suci sudah bukan istrinya lagi.
Setelah sampai mobil, Arya menyuruh Supirnya supaya bergegas menuju Rumah Sakit, karena Arya merasa panik ketika melihat Suci yang terus merasa kesakitan, bahkan Suci sampai mencengkram kuat tangan Arya.
"Maaf Mas, saya tidak sengaja," ucap Suci yang merasa tidak enak terhadap Arya.
"Tidak apa-apa Say_" ucapan Arya terhenti ketika mengingat statusnya dengan Suci yang masih belum pasti.
Apa benar jika Rian sudah menikahi Suci? Kenapa aku merasa yakin jika bayi yang saat ini Suci kandung adalah Anakku? Apalagi perutku ikut merasa sakit ketika melihat Suci yang kesakitan. Sebelumnya Rian juga pernah mengatakan jika dirinya mandul, tidak mungkin kan kalau lelaki mandul bisa memiliki Anak, batin Arya kini bertanya-tanya.
Sepanjang perjalanan menuju Rumah Sakit, Supir Arya merasa heran, karena Arya terlihat lebih panik dari Suci, sehingga Arya terus-terusan menyuruh Supirnya untuk cepat membawa mobil.
"Pak cepat bawa mobilnya, kenapa lambat sekali. Saya tidak mau kalau Istri saya sampai kenapa-napa," cerocos Arya.
Suci yang sedang menahan sakit tidak menyadari perkataan Arya, lain hal nya dengan Supir Arya yang merasa heran.
Apa aku tidak salah dengar? Kenapa Tuan barusan mengatakan jika yang akan melahirkan adalah Istrinya? Bukannya Tuan baru bertemu ya dengan perempuan ini? Apalagi kata orang-orang kalau Istri Tuan sudah meninggal dunia, batin Pak Budi kini bertanya-tanya, karena Pak Budi baru beberapa bulan menjadi Supir di kediaman Argadana.
"Pak, kenapa mobilnya berhenti?" tanya Arya ketika Pak Budi menghentikan mobilnya.
"Maaf Tuan, tapi jalanan sangat macet," jawab Pak Budi, kemudian turun dari mobil untuk bertanya kepada warga sekitar tentang yang terjadi di depan sana.
Setelah mengetahui alasan kemacetan, Pak Budi kembali masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
"Tuan, katanya di depan ada pohon besar yang tumbang," ujar Pak Budi kepada Arya.
"Bagaimana ini, padahal jarak dari sini ke Rumah Sakit masih lumayan jauh," gumam Arya yang merasa bingung karena saat ini mobilnya berada di tengah-tengah kemacetan, apalagi Suci terus berteriak kesakitan.
Arya memutuskan untuk turun dari mobil, kemudian Arya membuka pintu mobil sebelah Suci.
"Nyonya, sebaiknya kita turun di sini saja, karena kita tidak mungkin menunggu sampai jalanan kembali normal," ujar Arya dengan kembali menggendong tubuh Suci supaya segera sampai di Rumah Sakit.
Suci hanya bisa pasrah ketika Arya kembali menggendongnya, karena saat ini Suci tidak berdaya, tapi Suci merasa aneh, karena tiba-tiba perut Suci merasa tidak sakit lagi saat berada dalam gendongan Arya.
Kenapa aku merasa tidak asing dengan wajah lelaki ini? Kasihan dia sampai berkeringat karena harus menggendongku, batin Suci ketika melihat keringat yang terus bercucuran membasahi tubuh Arya.
"Mas sebaiknya saya turun saja, perut saya juga sudah merasa lebih baik," ujar Suci.
Secara perlahan Arya mencoba menurunkan tubuh Suci yang terus memaksa untuk diturunkan, tapi saat Suci terlepas dari gendongan Arya, perut Suci kembali sakit, begitu juga dengan perut Arya.
"Kenapa perutnya kembali sakit ya saat saya lepas dari gendongan Mas?" ujar Suci yang semakin merasa heran.
"Kalau begitu sebaiknya saya terus menggendong Nyonya, jarak dari sini ke Rumah Sakit juga sudah lumayan dekat," ujar Arya dengan kembali menggendong Suci.
Arya terus berjuang melangkahkan kakinya demi menyelamatkan nyawa Suci dan bayi yang berada dalam kandungannya, sampai akhirnya Arya berhasil membawa Suci sampai di Rumah Sakit.
"Dokter tolong istri saya," teriak Arya yang semakin panik karena Suci terus berteriak kesakitan.
Dokter menyuruh Arya membawa Suci masuk ke dalam ruang bersalin, tapi Suci tidak sadar karena tangannya terus memegangi Arya sehingga Arya tetap berada di sampingnya.
Dokter memberikan arahan kepada Suci supaya mengejan.
"Nyonya, sekarang tarik nafas dalam dalam, kemudian coba mengejan, karena bayi Anda akan segera lahir," ujar Dokter.
__ADS_1
Suci mengikuti arahan dari Dokter, tapi bayinya masih belum juga lahir.
Arya yang melihat Suci berjuang antara hidup dan mati, semakin merasa kasihan, dan Arya terus mengusap lembut kepala Suci dengan sebelah tangan menggenggam erat tangan Suci.
Ternyata perjuangan seorang perempuan untuk melahirkan sangatlah sulit. Dulu aku sudah sangat berdosa karena tidak bisa mendamping Suci saat melahirkan Rizky, tapi ternyata Tuhan memberikan kesempatan kepadaku untuk mendampingi Suci melahirkan Anak keduanya, meski pun aku tidak tau bayi siapa yang saat ini akan Suci lahirkan. Kasihan Suci, dia pasti merasa kesakitan, sampai sampai dia tidak menyadari jika yang saat ini menemaninya melahirkan bukanlah Rian, ucap Arya dalam hati, kemudian Arya mengelus lembut perut Suci dengan harapan bayinya akan segera lahir.
"Sayang, cepat ke luar ya, kasihan Bunda sampai kesakitan. Kami sudah menunggu kehadiran Tuan Putri ke Dunia ini," ucap Arya, dan tiba-tiba Suci mengejan dengan kuat dengan menyebut nama Arya, sehingga membuat Arya merasa terkejut.
"Mas Arya," teriak Suci, dan sesaat kemudian Suci berhasil melahirkan bayi perempuan yang sangat cantik.
"Selamat Nyonya, Anda sudah berhasil melahirkan bayi yang begitu cantik, wajah bayinya sangat mirip dengan Suami Anda," ucap Dokter dengan menempelkan bayi yang Suci lahirkan pada dada Suci supaya Suci bisa memberikan Asi pertamanya.
Suci tersenyum bahagia ketika melihat bayi cantik yang saat ini berada dalam pelukannya, begitu juga dengan Arya yang menitikkan airmata bahagia ketika melihat Suci yang sudah berhasil melahirkan, apalagi perut Arya yang tadinya terasa mulas tiba tiba langsung sembuh begitu saja setelah bayi Suci lahir.
"Ayah, coba lihat, bayi kita cantik kan?" ucap Suci yang belum sadar jika saat ini yang berada di sampingnya adalah Arya bukan Rian, karena saat ini Suci enggan melepaskan pandangannya pada wajah bayi yang saat ini berada dalam dekapannya.
"Iya, bayi kita sangat cantik seperti Bunda nya," ucap Arya dengan tersenyum dan terus mengusap airmata yang berjatuhan pada pipinya.
Setelah Suci selesai memberikan Asi pertamanya, Dokter menyuruh Perawat untuk mengambil bayi Suci, karena Dokter akan melakukan tindakan untuk membersihkan rahim Suci.
"Sus, apa boleh saya mengadzani Putri saya sekarang?" tanya Arya, dan Suster langsung memberikan bayi tersebut kepada Arya.
Suci menitikkan airmata ketika mendengar suara lantunan adzan yang Arya kumandangkan, sampai akhirnya Suci merasa terkejut ketika mendengar pintu ruang bersalin dibuka dan melihat seseorang yang terlihat panik berada di tengah pintu masuk tersebut.
"Mas Rian?" gumam Suci yang baru menyadari jika yang dari tadi mendampinginya melahirkan bukanlah Rian.
*
*
__ADS_1
Bersambung