Suci Tak Lagi Suci

Suci Tak Lagi Suci
Bab 137 ( Pengakuan Asep )


__ADS_3

Susi memikirkan cara supaya Suci tidak melaporkan dirinya kepada Polisi, sampai akhirnya Susi berusaha untuk tidak terlihat takut, dan akan tetap mendesak Arya supaya bertanggung jawab.


"Suci, apa kamu pikir aku takut dengan ancaman kamu? Aku tidak takut sedikit pun dengan kamu, meski pun kenyataannya kamu adalah Anak orang kaya, karena aku masih yakin kalau Mas Arya adalah orang yang sudah memperkosaku, dan aku akan tetap meminta dia untuk bertanggung jawab."


"Cukup Susi, seharusnya kamu meminta maaf kepada Suci dan keluarganya, apalagi mereka sudah memiliki bukti kalau bukan Nak Arya pelakunya. Kenapa kamu tidak tahu malu sekali?" ujar Bu Inah dengan menangis.


"Susi akan tetap menuduh Arya sampai pelaku yang sebenarnya ditemukan."


Asep yang sudah tidak tahan mendengar perkataan Susi, akhirnya memberanikan diri untuk mengakui kesalahannya.


"Susi, kamu jangan terus menyalahkan Mas Arya, karena_"


Ucapan Asep langsung dipotong oleh Susi.


"Kamu tidak perlu ikut campur urusanku, kamu itu hanya lelaki miskin yang terus mengharap belas kasihku untuk menerima cintamu. Jangan bermimpi Asep, sampai kapan pun aku tidak akan sudi menerima cintamu," ujar Susi dengan tersenyum mengejek.


"Aku berhak ikut campur, karena sebenarnya aku adalah lelaki bejat yang telah memperkosa kamu," ujar Asep dengan lantang.


Semua yang berada di sana terkejut mendengar pengakuan Asep, karena semuanya tidak menyangka jika Asep yang selalu bersikap baik akan melakukan perbuatan serendah itu.


"Kamu dibayar berapa oleh Suci sehingga kamu mau mengakui kesalahan yang telah dilakukan oleh Suaminya?" tanya Susi.


"Aku hanya mengakui kesalahan yang telah aku lakukan, dan aku akan menyerahkan diri kepada Polisi. Kamu lihat sendiri bekas cakaran kuku kamu yang masih membekas di pipiku, dan Polisi bisa memeriksanya sebagai bukti," ujar Asep dengan menunjuk pipinya.


Tubuh Susi langsung merasa lemas ketika mendengar perkataan Asep, karena Susi masih ingat jika dirinya telah mencakar pelaku yang telah memperkosanya.


"Teh Suci, maafin Asep ya, Asep sudah membuat Teteh kecewa. Maafin Asep juga Mas Arya, Asep sudah menjebak Mas Arya. Asep seharusnya tidak melakukan semua itu, tapi Asep sakit hati oleh Susi yang selalu menolak cinta Asep, apalagi Susi terus saja memuja muja Mas Arya. Sekarang Asep akan menyerahkan diri kepada Polisi untuk mempertanggung jawabkan semua kesalahan Asep."


Asep melangkahkan kakinya berniat untuk menyerahkan diri kepada Polisi, sampai akhirnya Suci menghentikan langkah Asep.


"Tunggu Asep, kamu ingin bertanggung jawab kan? Kalau kamu ingin bertanggung jawab, sekarang juga kamu nikahi Susi," ujar Suci.


Susi langsung angkat suara, karena Susi tidak mau menikah dengan Asep.


"Tidak, aku tidak mau menikah dengan lelaki bejat seperti Asep, apalagi dia hanya orang miskin," teriak Susi.


"Susi, kalau kamu tidak mau menikah dengan Asep, aku akan melaporkan kamu kepada Polisi karena telah memfitnah Mas Arya dan telah mencemarkan nama baik kami. Sekarang semua pilihan ada di tangan kamu. Aku harap kamu memikirkan semuanya dengan matang. Bagaimana kalau kamu sampai hamil di dalam penjara tanpa status pernikahan?" ujar Suci.


Susi terlihat berpikir, karena Susi tidak mau masuk ke dalam penjara, tapi Susi juga tidak mau menikah dengan Asep.


"Bi, Susi tidak mau masuk penjara, tapi Susi juga tidak mau menikah dengan Asep," rengek Susi kepada Bu Inah.

__ADS_1


"Susi, Asep adalah Anak yang baik dan bertanggung jawab. Setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan, karena manusia adalah tempatnya salah dan dosa, tapi kita harus menghargai Asep yang sudah berani mengakui kesalahannya," ujar Bu Inah dengan mengelus lembut kepala Susi.


"Iya Susi, Mamang setuju kamu menikah dengan Asep. Kamu sekarang sudah tidak perawan lagi, pasti tidak akan ada lelaki yang mau menikahi kamu," ujar Pak Maman.


Susi dengan berat hati terpaksa menerima Asep sebagai Suaminya.


Asep, kamu sudah menghancurkan hidupku, lihat saja nanti, aku akan membalas semua perbuatan kamu. Sekarang aku terpaksa harus menerima Asep, tapi nanti aku akan mencari cara supaya bisa bercerai darinya, ucap Susi dalam hati.


Asep begitu malu kepada Suci dan Arya, padahal Asep sudah berbuat jahat kepada mereka, tapi Suci dan Arya masih saja bersikap baik kepada Asep, bahkan Suci dan Arya yang mempersiapkan acara pernikahan dadakan tersebut.


"Teh Suci, Mas Arya, Asep hanya bisa mengucapkan terimakasih banyak atas kebaikan Teh Suci dan Mas Arya, padahal Asep sudah menyakiti kalian, tapi kalian masih saja baik sama Asep."


"Sep, kamu sudah kami anggap sebagai keluarga, dan semua orang pernah melakukan kesalahan, yang penting Asep tidak mengulanginya lagi di masa mendatang, karena Teteh yakin kalau Asep adalah orang baik. Sekarang sebaiknya Asep siap-siap, Asep ganti pakaian menggunakan ini," ujar Suci dengan memberikan satu set pakaian lengkap dengan jas milik Arya yang masih baru.


Oma Rahma dan Papa Fadil tersenyum bahagia melihat Suci dan Arya yang selalu bersikap baik, bahkan kepada orang yang sudah menyakitinya.


"Fadil, Mama tidak menyangka jika kamu bisa memiliki Anak berhati Malaikat, dan semua itu pasti karena didikan mendiang Asih dan Iman," ujar Oma Rahma dengan melihat fhoto mendiang Bu Asih dan Pak Iman yang terpajang di ruang tamu.


"Iya Ma, Fadil sangat bangga kepada Suci. Suci sudah memberikan kebahagiaan kepada semua orang disekitarnya, dan sekarang Arya juga sudah menjadi pribadi yang jauh lebih baik dari sebelumnya."


......................


"Papa kenapa sih nempel terus kayak perangko?" ujar Suci dengan terkekeh.


"Kita kan baru saja berpisah, dan Papa tidak mau berpisah lagi dari Mama," ujar Arya yang terus memeluk tubuh Suci dari belakang.


"Pa, jangan seperti ini, Mama malu kalau ada yang lihat."


"Kenapa harus malu, kita kan Suami Istri," ujar Arya dengan menciumi tengkuk leher Suci.


"Tuan, Nyonya, apa makanan sudah si_ap?" tanya Bi Sari yang langsung membalikan badannya.


"Bibi kenapa langsung balikin badan?" tanya Arya.


Sepertinya aku datang pada waktu yang tidak tepat, batin Bi Sari.


"Tidak apa-apa Tuan, barusan saya ada yang lupa, kalau begitu saya permisi dulu," ujar Bi Sari bergegas ke luar dari dapur.


"Papa sih bikin Bi Sari takut. Sekarang Papa bantu Mama bawa makanannya ke meja makan, kasihan Oma sama Papa pasti sudah lapar."


"Papa juga udah lapar pengen makan Mama," ujar Arya dengan cengengesan, dan Suci memutar malas bola matanya.

__ADS_1


......................


Semua persiapan pernikahan Asep dan Susi sudah selesai, karena Papa Fadil langsung menelpon Anak buahnya supaya mengurus semuanya dengan cepat.


Sekarang rumah Bu Inah sudah dihias begitu indah, kamar Susi juga sudah disulap menjadi kamar pengantin yang cantik, begitu juga dengan Susi yang sudah didandani. Meski pun tadinya Susi menolak semua itu, tapi Bu Inah dan Pak Maman memaksa Susi, karena mereka tidak enak dengan kebaikan Suci dan keluarganya.


Asep dan Susi sudah duduk berdampingan di depan Penghulu, dan Susi terus saja cemberut karena tidak mau menikah dengan Asep.


Kenapa hidupku sial sekali? Seharusnya yang berada di sampingku adalah Mas Arya. Semua itu gara-gara kamu Asep. Lihat saja nanti, aku akan membuat perhitungan denganmu, ucap Susi dalam hati.


Acara ijab kabul berjalan dengan lancar, Asep mengucap ijab kabul pernikahan dengan lancar, dan sekarang Susi dan Asep sudah resmi menjadi Suami Istri.


Susi terlihat enggan mencium punggung tangan Asep yang sudah sah menjadi Suaminya, dan Asep mengerti jika Susi pasti masih belum memaafkan kesalahannya.


"Asep, sekarang kamu sudah menjadi Suami Susi. Kami titip Susi ya, Kami yakin kalau kamu akan menjadi Suami yang baik untuk Susi. Semoga kalian selalu bahagia," ujar Pak Maman, dan Bu Inah langsung memeluk tubuh Susi.


"Iya Bi, Mang, Asep janji akan selalu menjaga dan melindungi Susi, karena sekarang Susi sudah menjadi tanggung jawab Dunia dan Akhirat Asep, dan Asep akan selalu berusaha untuk membahagiakannya."


"Kamu tidak usah belagu, memangnya kamu mau membahagiakan aku pakai apa?" sindir Susi.


"Susi, kamu tidak boleh berkata seperti itu Nak. Asep sekarang sudah menjadi Suami kamu, dan kamu harus menghormatinya," ujar Bu Inah.


Suci yang merasa kesal dengan sikap Susi akhirnya angkat suara.


"Asep, sebaiknya kamu bawa Susi pindah ke Jawa Timur, kalian bisa tinggal di rumah kami yang berada di sana, dan kamu akan menjadi Manager di Restoran peninggalan Mas Rian, supaya tidak ada orang yang berani menghina kamu lagi."


"Tapi Teh, saya malu karena sudah banyak berhutang budi kepada Teteh dan keluarga. Saya juga hanya lulusan SD yang tidak mungkin bisa menjadi Manager."


"Kamu juga sudah aku anggap sebagai keluarga, dan di antara keluarga, tidak ada yang namanya hutang budi," ujar Suci.


"Sep, asalkan kamu mau berusaha, pasti kamu akan berhasil. Kami percaya sama kamu, dan kamu harus buktikan kalau kamu bisa menjadi orang sukses," ujar Arya dengan menepuk bahu Asep.


Asep begitu terharu dengan kebaikan Suci dan Arya, dan Asep terus mengucapkan terimakasih, sedangkan Susi hanya diam tanpa mengeluarkan satu patah kata pun.


Semoga saja setelah menikah dengan Asep, Susi akan berubah dan tidak memiliki niat untuk mendekati Mas Arya lagi, batin Suci.


*


*


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2