
Sebelum Arya dan Suci pulang ke rumah peninggalan mendiang Bu Asih dan Pak Iman, keduanya memutuskan untuk ziarah terlebih dahulu ke makam kedua orangtua kandung Arya tersebut.
"Bibi sama Anak-anak tunggu di mobil sebentar ya, kami juga gak bakalan lama," ujar Suci kepada Bi Sari, karena Anak-anak Suci sedang tidur, jadi tidak mungkin Suci dan Arya membawanya.
"Nyonya sama Tuan tenang saja, Bibi pasti akan menjaga Anak anak dengan baik," ujar Bi Sari.
"Kenapa Bibi masih saja memanggil kami dengan sebutan Nyonya dan Tuan? Kita adalah keluarga, jadi Bibi panggil nama kami saja," ujar Suci.
"Tidak Nyonya, saya tidak berani," ujar Bi Sari.
"Ya sudah, bagaimana Bibi saja," ujar Suci dengan tersenyum.
Suci dan Arya turun dari mobil, kemudian mereka membeli bunga dan air terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam Tempat Pemakaman Umum.
Suci terus memegang tangan Arya yang terlihat gemetar, karena baru kali ini Arya mengunjungi makam kedua orangtua kandungnya.
"Ibu dan Bapak pasti akan bahagia melihat kita datang berziarah ke makam mereka," ujar Suci, tapi Arya hanya diam saja, karena saat ini perasaannya tidak karuan.
Suci dan Arya mengucap salam ketika melihat batu nisan yang bertuliskan nama Bu Asih dan Pak Iman, dan Arya langsung menjatuhkan tubuhnya di antara batu nisan kedua orangtuanya.
"Bu, Pak, maafin Arya, Arya baru mengetahui semuanya. Bu, maafin Arya juga karena telah menjadi penyebab Ibu meninggal dunia," ucap Arya dengan menangis memeluk batu nisan Bu Asih.
Suci mengusap lembut punggung Arya, kemudian memeluk tubuh Arya yang terlihat begitu rapuh.
"Pa, semua yang terjadi bukan kesalahan Papa, tapi semua itu karena keegoisan Nyonya Erina yang sudah tega menukarkan kita, jadi Papa jangan terus terusan menyalahkan diri sendiri. Papa juga tidak sengaja membuat kesalahan sehingga menyebabkan Ibu meninggal dunia, yang penting sekarang Papa sudah berubah menjadi Suami dan Ayah yang baik untuk kami. Mama yakin, sekarang Ibu dan Bapak pasti bahagia karena ternyata yang menjadi Menantu mereka adalah Mama."
Setelah membaca do'a, Suci dan Arya menabur bunga dan menyiram air di atas makam Bu Asih dan Pak Iman, kemudian mereka pamit pulang karena hari sudah semakin sore.
"Bu, Pak, kami pulang dulu ya, insyaallah kami akan selalu mendo'akan serta sering datang ke sini," ucap Suci, kemudian Arya dan Suci mengucap salam sebelum pulang.
Setelah berziarah ke makam kedua orangtua kandungnya, Arya merasa lebih tenang dan tidak terus-terusan dihantui rasa bersalah.
"Alhamdulillah, sekarang hati Papa sudah merasa lebih tenang. Terimakasih ya sayang, Mama sudah mengajak Papa ziarah ke makam Ibu dan Bapak."
"Alhamdulillah kalau seperti itu, Mama bahagia mendengarnya."
Arya dan Suci melanjutkan perjalanan menuju rumah peninggalan Bu Asih dan Pak Iman yang hanya berjarak sekitar satu kilo meter dari Tempat Pemakaman Umum.
"Alhamdulillah, akhirnya kita sampai juga," ucap Suci ketika mobil Arya berhenti di halaman rumah mendiang Bu Asih dan Pak Iman.
__ADS_1
Hati Arya terasa sakit ketika melihat rumah kecil yang dulu ditinggali oleh Suci dan mendiang kedua orangtuanya, karena rumah tersebut jauh dari kata layak.
Kasihan Suci, sejak dilahirkan ke Dunia ini dia tidak bisa merasakan harta milik orangtua kandungnya yang seharusnya dia nikmati. Sedangkan aku dari kecil selalu mendapatkan semua yang aku mau, padahal semua itu seharusnya menjadi milik Suci, batin Arya yang selalu merasa bersalah.
"Papa kenapa diam saja? Mama tau kalau rumah ini jauh dari kata layak, dan Papa pasti tidak biasa tinggal di rumah seperti ini."
"Bukan Seperti itu sayang, Papa justru semakin merasa bersalah terhadap Mama, karena seharusnya Papa yang dari dulu tinggal di sini, tapi Papa yang sudah merebut semuanya dari Mama. Maaf ya_"
Perkataan Arya terhenti karena Suci menempelkan telunjuknya pada bibir Arya.
"Cukup Pa, jangan katakan apa-apa lagi. Harus berapa kali Mama bilang jika semua itu bukan kesalahan Papa. Mama juga berharap Papa jangan mengatakan apa pun kepada oranglain tentang identitas kita yang sudah ditukar, biarkan saja semua orang di sini tau bahwa Mama adalah Anak kandung mendiang Bu Asih dan Pak Iman," ujar Suci yang tidak mau mengungkit lagi tentang kesalahan yang telah Mama Erina lakukan, Suci juga merasa kasihan terhadap Arya yang pasti akan menjadi bahan gosip semua orang di kampungnya jika mengetahui tentang kebenaran tersebut.
Arya hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, karena Arya tidak mau membuat Suci merasa kecewa.
"Ya sudah, sebaiknya sekarang kita temui Pak Maman dan Bu Inah dulu, karena Mama yakin selama ini mereka yang sudah merawat rumah," ujar Suci ketika melihat rumahnya yang masih terlihat bersih, padahal sudah bertahun-tahun Suci tinggalkan.
Suci mendorong kereta bayi Arsyila, sedangkan Arya menggendong Rizky, sementara Iqbal masih terlelap dalam gendongan Bi Sari.
"Assalamu'alaikum," ucap Suci ketika berada di depan pintu rumah Bu Inah.
"Wa'alaikumsalam," jawab Bu Inah dengan membuka pintu rumahnya.
"Ibu tidak sedang bermimpi kan Nak?" tanya Bu Inah dengan menitikkan air mata bahagia, karena setelah bertahun-tahun akhirnya bisa kembali bertemu dengan Suci.
"Iya Bu ini Suci. Bagaimana kabar Ibu dan keluarga?" tanya Suci yang juga terlihat menangis.
"Alhamdulillah kabar kami baik Nak, ayo masuk. Ibu senang sekali karena akhirnya bisa kembali bertemu dengan kamu Nak. Oh iya, ini siapa?" tanya Bu Inah yang melihat Arya berdiri di samping Suci, dan Bu Inah merasa pernah bertemu dengan Arya.
"Ini namannya Mas Arya, Bu. Mas Arya adalah Suami Suci, dan ini Bi Sari, beliau Bibinya Mas Arya," jawan Suci.
Sepertinya aku pernah bertemu dengan Suami Suci saat pernikahan Rian. Apa Nak Arya orang yang dulu pernah menanyakan keberadaan Suci ya? batin Bu Inah kini bertanya-tanya.
Bi Sari dan Arya menjabat tangan Bu Inah, dan Bi Sari merasa tersentuh karena Suci mengakuinya sebagai keluarga.
"Oh iya, apa yang tampan tampan dan cantik ini adalah Anak kalian?" tanya Bu Inah.
"Iya Bu, Alhamdulillah kami sudah memiliki tiga Anak. Rizky dan Iqbal kembar, dan yang cantik ini namanya Arsyila," ujar Suci.
Bu Inah langsung menggendong Arsyila, kemudian Bu Inah memanggil Suami dan keempat Anaknya yang sedang berada di belakang.
__ADS_1
Pak Maman dan Anak-anak Bu Inah merasa terkejut dengan kedatangan Suci yang tiba-tiba membawa Suami dan Anak, tapi mereka bahagia karena ternyata Suci sudah hidup bahagia dan terbebas dari penjara.
"Dulu kami pernah menjenguk Suci ke Penjara, tapi katanya Rian sudah membebaskan Suci. Ibu juga tidak tau kabar Rian dan Nyonya Linda sekarang setelah mereka pindah ke Jawa," ujar Bu Inah.
"Maaf ya Bu, Suci baru bisa menemui Ibu dan Keluarga, karena setelah bebas dari Penjara, Suci langsung pindah ke Jakarta."
"Iya tidak apa-apa Nak, kami mengerti, pasti Suci ingin melupakan kejadian di masalalu kan? Kami bersyukur karena sekarang Suci sudah memiliki keluarga."
"Iya Bu, sekarang Suci sudah memiliki Suami dan Anak, dan kami sudah hidup bahagia, jadi Suci memutuskan untuk kembali tinggal di rumah peninggalan Ibu dan Bapak. Apa Ibu dan Bapak tidak mendengar kabar kalau Mas Rian dan Mama Linda sudah meninggal dunia beberapa bulan yang lalu?"
"Innalillahi, memangnya apa penyebab Nyonya Linda dan Nak Rian meninggal dunia?" tanya Pak Maman yang merasa penasaran.
Suci menceritakan tentang penyebab meninggalnya Mama Linda yang terkena serangan jantung, sedangkan Rian meninggal karena tertabrak mobil saat menyelamatkan Suci dan Arya, bahkan Rian yang mendonorkan jantungnya untuk Suci.
"Ternyata cinta Nak Rian kepada Suci begitu besar ya, bahkan Nak Rian sampai rela memberikan jantungnya untuk Suci," ujar Bu Inah yang lupa jika di sana ada Arya.
Pak Maman memberikan kode kepada Bu Inah, dan Bu Inah yang menyadari kesalahannya langsung meminta maaf.
"Maaf ya Nak Arya, Ibu tidak bermaksud menyinggung perasaan Nak Arya."
"Tidak apa-apa Bu, saya juga tidak menyangka jika Rian akan melakukan semua itu, dan saya juga sangat berterimakasih atas semua kebaikan mendiang Rian," ujar Arya.
"Nak, sebaiknya malam ini kalian menginap saja di sini, nanti kami bantu bersihkan dulu rumahnya," ujar Bu Inah.
"Tidak apa-apa Bu, biar kami saja yang membersihkannya mumpung masih sore. Suci juga sangat berterimakasih, pasti Ibu dan Bapak yang selalu membersihkan rumah."
"Suci sudah kami anggap sebagai Anak kandung kami sendiri, jadi Suci tidak perlu sungkan," ujar Bu Inah.
"Bu, kalau tidak keberatan, Suci titip Anak-anak dulu ya sampai beres membersihkan rumah."
"Iya, kalian tenang saja, Ibu pasti bantu jaga Anak-anak kalian," ujar Bu Inah, kemudian memberikan kunci rumah Bu Asih kepada Suci.
Suci dan Arya pamit pulang ke rumahnya untuk bersih-bersih, kemudian mereka mengucap salam sebelum masuk rumah.
"Assalamu'alaikum, Pak, Bu, kami pulang," ucap Suci dengan menitikkan airmata ketika masuk ke dalam rumah yang penuh dengan kenangan masa kecilnya.
*
*
__ADS_1
Bersambung