
Setelah acara di Sekolah selesai, Arya mengajak semuanya untuk makan-makan di Restoran yang tidak jauh dari Sekolah.
"Farel, Irwan, sebaiknya sekarang kita ajak Anak-anak makan siang dulu, kasihan mereka pasti sudah lapar. Nanti biar aku yang traktir," ujar Arya.
"Oke siap Bos," ujar Farel dan Irwan dengan tersenyum serta memberikan hormat kepada Arya.
Semuanya kini telah sampai di Restoran, dan Anak-anak terlihat bergembira ketika memilih menu makanan kesukaan mereka.
Suci mengingatkan Anak-anak supaya berdo'a terlebih dahulu sebelum makan.
"Sayang jangan lupa sebelum makan baca do'a dulu," ujar Suci kepada Anak-anak yang saat ini berkumpul dalam satu meja, sedangkan para orangtua di meja lain yang berada di sebelahnya.
"Iya Ma, Rizky nanti bakalan pimpin do'a," ujar Rizky.
Makanan kini telah datang, dan semuanya mulai makan setelah selesai membaca do'a.
"Makanan di sini enak juga ya," ujar Irwan.
"Tapi tidak seenak masakan Istriku," ujar Arya dengan merangkul bahu Suci yang saat ini berada di sampingnya.
"Dasar bucin," ledek Farel.
"Gak apa-apa bucin juga sama Istri sendiri," ujar Arya.
"Aku sebenarnya iri sama kalian berdua karena memiliki Istri yang perhatian dan pengertian," ujar Farel kepada Irwan dan Arya.
"Farel, kami mengerti perasaan kamu, semoga saja Alina_" perkataan Irwan terhenti ketika melihat Alina yang saat ini berada tidak jauh dari meja mereka.
Alina terlihat mesra bersama seorang pria tampan yang saat ini terlihat memeluknya, dan mata Farel terlihat memerah menahan amarah ketika melihat semua itu.
"Alina tega sekali melakukan semua itu, padahal hari ini adalah hari penting untuk Putri dan Ratu, tapi dia lebih memilih kencan dengan selingkuhannya," ujar Farel.
"Farel, kamu harus tenang dulu, sekarang ada Anak-anak di sini, kasihan mereka kalau sampai kamu membuat keributan," ujar Arya.
"Kalian tenang saja, aku tau apa yang harus aku lakukan. Aku akan berbicara baik-baik dengan Alina. Aku titip Putri sama Ratu dulu ya," ujar Farel, kemudian melangkahkan kakinya menghampiri meja Alina.
"Jadi seperti ini cara meeting kamu Alina?" tanya Farel kepada Alina yang saat ini sedang bersandar pada bahu Richard.
Alina begitu terkejut karena akhirnya Alina tertangkap basah sedang berjalan dengan lelaki lain.
__ADS_1
"Farel, aku bisa jelasin semuanya," ujar Alina dengan memegang tangan Farel.
"Tidak ada yang perlu kamu jelaskan lagi, sekarang semuanya sudah sangat jelas. Kamu lebih memilih berkencan dengan Kekasih kamu dibandingkan menghadiri acara di Sekolah Putri dan Ratu," ujar Farel dengan menitikkan airmata yang sudah tidak dapat ia bendung lagi.
Farel tadinya ingin pergi, dari Restoran, tapi Farel merasa kasihan kepada kedua Anaknya.
"Sebaiknya sekarang kalian berdua pergi dari sini, kasihan Putri dan Ratu jika sampai melihat kelakuan bejat Ibunya," ujar Farel dengan mengepalkan kedua tangannya.
Alina pergi dengan menggandeng tangan Richard, dan Farel tidak menyangka jika Alina akan mengkhianatinya setelah semua pengorbanan yang Farel berikan untuk Alina.
"Apa salahku Alina? Kenapa kamu tega sekali melakukan semua ini kepadaku? Padahal selama ini aku yang selalu menemani kamu dalam suka dan duka," gumam Farel kemudian menjatuhkan tubuhnya di atas lantai.
Arya dan Irwan yang melihat Farel begitu terpukul, bergegas menghampiri nya, kemudian keduanya membantu Farel untuk berdiri.
"Farel, kamu harus kuat demi Putri dan Ratu," ujar Arya.
"Aku sudah tidak sanggup lagi menjalani semua ini," ujar Farel dengan menangis.
"Sebaiknya kamu balas perselingkuhan Alina dengan selingkuh juga, biar dia tau bagaimana rasanya diselingkuhi," ujar Irwan.
"Selama ini ternyata pengorbanan yang aku lakukan berakhir dengan sia-sia, karena Alina lebih memilih untuk mengkhianati pernikahan kita. Mungkin aku memang harus membalas pengkhianatan yang telah Alina lakukan," ujar Farel.
"Aku tidak bisa mencegah kamu membalas perbuatan Alina, tapi aku harap kalian tidak sampai menyakiti hati Putri dan Ratu. Kasihan jika mereka sampai menjadi korban perceraian kedua orangtuanya, karena seorang Anak akan tumbuh baik dengan kasih sayang dari kedua orangtuanya," ujar Arya dengan menepuk bahu Farel.
"Semenjak Alina memilih meneruskan usaha keluarganya, aku tidak lagi merasakan bagaimana rasanya memiliki Istri, begitu juga dengan Putri yang belum pernah merasakan kasih sayang dari Ibu kandungnya, karena sampai saat ini Alina masih belum bisa menerima Putri," ujar Farel dengan menghela nafas panjang.
"Sebaiknya sekarang kita kembali ke meja, kasihan kalau Putri dan Ratu melihat kamu seperti ini, karena mereka pasti akan merasa sedih," ujar Arya.
Suci dan Hesti tidak habis pikir dengan jalan pikiran Alina yang sudah tega menyakiti Farel dan Anak-anaknya.
"Kasihan ya Farel, apa kurangnya dia coba?" bisik Hesti pada Suci supaya tidak terdengar oleh Anak-anak.
"Alina tidak bersyukur memiliki Suami baik seperti Farel, makanya dia selalu merasa kurang. Sekarang kita hanya bisa berdo'a untuk kebaikan semuanya, semoga itu semua menjadi pelajaran untuk kita supaya selalu bersyukur dengan semua yang kita miliki," ujar Suci.
Farel, Arya dan Irwan kembali duduk di tempat semula, tapi Putri yang sempat melihat Alina bersama laki-laki lain, secara perlahan menghampiri Farel kemudian memeluknya.
"Sayang Putri kenapa?" tanya Farel yang melihat Putri menangis.
"Daddy tidak perlu menutupi semuanya lagi, Daddy pasti sedih kan karena Mommy jalan sama laki-laki lain?" ujar Putri.
__ADS_1
"Nak, maaf ya karena Daddy tidak bisa memaksa Mommy untuk datang dalam acara wisuda Putri. Putri jangan khawatir, semuanya akan baik-baik saja," ujar Farel dengan mengelap airmata pada pipi Putri.
"Dad, Putri tidak akan menyalahkan Daddy jika Daddy ingin meninggalkan Mommy, karena Mommy sudah bersikap keterlaluan."
"Nak, Putri masih kecil, Putri jangan memikirkan masalah orang dewasa. Nanti Daddy akan bicara dengan Mommy secara baik-baik, kalau memang Mommy sudah tidak mau tinggal sama Daddy lagi, Daddy akan mengajak Putri dan Ratu pindah ke rumah kita. Sekarang Putri makan lagi, makanannya belum habis kan?"
Putri kembali duduk di kursi nya, dan Rizky yang melihat Putri menangis langsung memberikan minuman kepada Putri sehingga membuat Dinda dan Ratu terlihat sewot.
"Kak Rizky, Dinda mau juga dong diperhatiin sama Kak Rizky."
"Iya, Ratu juga mau," ujar Ratu yang tidak mau kalah.
"Ratu kenapa sih ikut-ikutan Dinda terus, Kak Rizky hanya milik Dinda."
"Enggak bisa, Kak Rizky hanya milik Ratu."
Rizky yang menjadi bahan rebutan hanya diam tanpa mengeluarkan satu patah kata pun, sedangkan para orangtua tertawa melihat tingkah Anak-anak mereka.
"Kalian berdua bisa diam tidak? Kalian itu masih kecil, kenapa sih harus memperebutkan Rizky?" tanya Iqbal.
"Kak Iqbal iri ya sama Kak Rizky karena tidak ada yang memperebutkan Kak Iqbal?" ujar Dinda.
"Kak Iqbal sudah menjadi milik Arsyi, jadi Kak Iqbal tidak perlu mencari perempuan lain saat kami sudah dewasa nanti," ujar Arsyila.
"Tapi kalau sudah besar nanti, Arsyi akan menjadi Princess Nanda," ujar Anak Hesti yang laki-laki.
Hesti dan Suci menghampiri Anak-anaknya untuk memberikan pengertian, kalau di usia mereka yang masih kecil, mereka belum boleh memikirkan pacar pacaran.
"Hadeuh, dasar Anak-anak jaman Now. Kalian ini masih kecil, jadi gak boleh suka sukaan sama lawan jenis," ujar Hesti.
"Jadi kalau sudah besar baru boleh Ma? Pokoknya nanti Nanda akan menjadikan Arsyi Tuan Putri."
"Tidak, karena Arsyi hanya milik Iqbal," ujar Iqbal dengan penuh penekanan.
Entah kenapa aku selalu merasa takut ketika melihat Iqbal yang terlalu posesif terhadap Arsyi, batin Suci.
*
*
__ADS_1
Bersambung