Suci Tak Lagi Suci

Suci Tak Lagi Suci
Bab 221 ( Selamat jalan Putri )


__ADS_3

Semuanya mengucap Hamdalah setelah pernikahan Rizky dan Dinda dinyatakan sah, kemudian Dinda mencium punggung tangan Rizky yang sudah sah menjadi Suaminya, begitu juga dengan Rizky yang mencium kening Dinda dengan penuh cinta dan kasih sayang.


Rizky tidak sempat menyiapkan cincin pernikahan, tapi tiba-tiba Putri menghampiri Rizky dan Dinda untuk memberikan kotak perhiasan yang berisi sepasang cincin pernikahan.


"Putri, bukannya ini cincin pernikahan kita? Kenapa kamu memberikannya kepada kami?" tanya Rizky, karena sebelumnya Rizky meminta Putri untuk menyimpan cincin pernikahan mereka.


"Sekarang cincin itu milik kalian, dan kamu harus memakaikannya pada jari manis tangan kanan Dinda," ujar Putri.


"Tidak Kak Putri, Dinda tidak bisa menerima cincin pernikahan milik Kak Putri."


"Dinda, cepat atau lambat, Kakak tidak akan bisa lagi memakai cincin itu. Anggap saja cincin itu adalah kado pernikahan sekaligus kenang-kenangan dari Kak Putri," ucap Putri dengan tersenyum sekaligus menitikkan airmata, begitu juga dengan semua yang berada di sana.


Dinda memeluk tubuh Putri, dan Dinda tiada hentinya mengucapkan terimakasih.


"Terimakasih Kak, terimakasih."


Setelah Rizky dan Dinda saling memasangkan cincin pernikahan, tiba-tiba nafas Putri terasa sesak.


"Putri, kamu kenapa?" tanya Rizky ketika melihat Putri memegangi dadanya.


"Rizky, dadaku sangat sakit, aku susah bernafas," jawab Putri dengan lirih.


"Kamu harus bertahan. Kami akan membawa kamu ke Rumah Sakit," ujar Rizky dengan memegang tangan Putri yang saat ini bersandar pada tubuhnya.


"Rizky, Dinda, terimakasih karena kalian telah mengabulkan permintaanku. Rizky, waktuku sudah tidak banyak lagi, sekarang kamu harus memenuhi permintaan terakhirku. Tolong berikan jantung ku pada Ayah," ucap Putri sebelum mengembuskan nafas terakhirnya.


Rizky mengecek denyut nadi Putri, dan Rizky merasa terkejut karena sudah tidak bisa merasakan denyut nadi Putri.


"Tidak, tidak mungkin. Bangun Putri, kamu tidak boleh pergi meninggalkan kami," teriak Rizky dengan menangis memeluk tubuh Putri, begitu juga dengan semua yang berada di sana yang merasa terpukul dengan kepergian Putri untuk selamanya.


"Innalillahi wa inna ilaihi raji'un," ucap semuanya secara bersamaan.


Rizky mencium kening Putri, dan semuanya begitu terkejut, karena tiba-tiba tanda lahir yang berada pada wajah Putri hilang.


"Nak, ikhlaskan kepergian Putri, sekarang kita harus segera membawa Putri ke Rumah Sakit, karena kita harus memenuhi keinginan terakhirnya," ujar Arya.


Beberapa saat kemudian, Ratu mendapatkan telpon dari Ayu yang memberikan kabar jika saat ini Farel kembali masuk Rumah Sakit karena kondisi kesehatannya semakin memburuk.


Semuanya bergegas membawa Putri menuju Rumah Sakit untuk memenuhi keinginan terakhir Putri mendonorkan jantungnya kepada Farel.


Saat berada di perjalanan menuju Rumah Sakit, Rizky menelpon pihak Rumah Sakit supaya mempersiapkan ruang operasi, karena Rizky akan melakukan operasi pencangkokan jantung kepada Farel.


Rizky sebenarnya tidak sanggup untuk melakukan operasi, karena pendonor Farel adalah Istrinya sendiri, tapi saat ini tidak ada Dokter lain di Rumah Sakit, dan hanya Rizky satu-satunya Dokter yang bisa melakukan semua itu.


"Kak Rizky pasti bisa," ucap Dinda dengan menggenggam erat tangan Rizky sebelum Rizky membawa Putri masuk ke dalam ruang operasi.


Setelah Rizky dan Putri masuk ke dalam ruang operasi, beberapa saat kemudian, Ayu dan Perawat datang membawa Farel yang sudah tidak sadarkan diri masuk ke dalam ruang operasi juga.

__ADS_1


Ayu terkejut ketika melihat Suci dan yang lainnya berkumpul di depan ruang operasi, karena Ayu masih belum tau jika orang yang akan mendonorkan jantungnya untuk Farel adalah Putri.


"Ibu," ucap Ratu dengan menangis memeluk tubuh Ayu.


Ayu merasa bahagia karena akhirnya Ratu mau memanggilnya dengan sebutan Ibu.


"Nak, Ayah pasti akan baik-baik saja. Perawat bilang Ayah sudah mendapatkan pendonor, dan Ayah pasti sembuh," ucap Ayu dengan mengelus lembut punggung Ratu, tapi Ratu semakin menangis dengan kencang.


"Pendonor Ayah adalah Kak Putri," ucap Ratu dengan lirih, dan Ayu bagai tersambar petir ketika mendengar perkataan Ratu.


"Tidak, tidak mungkin, tidak mungkin Putri meninggal dunia," teriak Ayu kemudian pingsan.


......................


Di dalam ruang operasi, Rizky terus mengeluarkan keringat dingin, tangannya bergetar hebat ketika mengambil jantung dari tubuh Putri.


Aku harus kuat, aku pasti bisa, karena ini adalah keinginan terakhir Putri, ucap Rizky dalam hati dengan terus menitikkan airmata.


Operasi berjalan selama enam jam, kemudian Rizky ke luar dari dalam ruang operasi dengan tubuh yang terasa lemas.


Dinda langsung menghampiri Rizky dan memeluk tubuhnya, apalagi saat ini wajah Rizky terlihat sangat pucat, dan akhirnya Rizky yang sudah tidak kuat menahan semuanya, pingsan dalam pelukan Dinda.


......................


Di alam bawah sadar Farel, Farel bermimpi bertemu dengan Putri di sebuah Taman bunga yang begitu indah.


"Nak, Ayah bahagia karena ternyata masih diberikan kesempatan bertemu dengan Putri," ucap Farel dengan memeluk tubuh Putri.


"Putri juga sangat bahagia, karena Putri bisa selamanya menemani Ayah," ucap Putri.


"Putri sekarang semakin cantik, Rizky ternyata sudah berhasil melakukan operasi untuk menghilangkan tanda lahir pada wajah Putri," ucap Farel.


"Iya, tanda lahir pada wajah Putri hilang karena kekuatan cinta," ucap Putri dengan tersenyum.


"Kalau begitu, sebaiknya sekarang kita pulang. Semuanya pasti sudah menunggu kita," ujar Farel dengan berdiri.


"Yah, sekarang rumah Putri di sini, Putri sebentar lagi akan bertemu dengan Mommy."


"Kenapa Putri bilang seperti itu? Bukannya Putri akan selalu menemani Ayah?"


"Putri akan selalu menemani Ayah dalam detak jantung Ayah. Jadi, Ayah harus selalu menjaga kesehatan ya. Putri sayang Ayah," ucap Putri, kemudian menghampiri seorang perempuan yang terdengar memanggil namanya.


Farel kembali terkejut karena ternyata yang memanggil Putri adalah Alina.


"Tidak mungkin, aku pasti hanya bermimpi," gumam Farel dengan mengucek matanya.


"Farel, terimakasih banyak karena telah menjaga Anak-anak kita dengan baik. Sekarang giliranku yang akan menjaga Putri," ucap Alina dengan tersenyum.

__ADS_1


"Tidak Alina, kamu jangan membawa Putri," teriak Farel.


"Ayah, sekarang sudah saatnya Ayah pulang. Selamat tinggal Ayah, semoga suatu saat nanti kita bisa bertemu lagi," ucap Putri dengan melambaikan tangan pada Farel.


......................


Dinda terus menemani Rizky yang masih belum sadarkan diri, apalagi Dokter sengaja menyuntikan obat tidur supaya Rizky bisa beristirahat.


Suci dan yang lainnya membawa jenazah Putri menuju kediaman Argadana, dan jenazah Putri akan dikebumikan pada esok hari, karena saat ini waktu sudah menunjukan pukul sebelas malam.


Keesokan paginya..


Secara perlahan Rizky mulai membuka matanya, dan Rizky kembali menitikkan airmata ketika mengingat jika Putri telah pergi untuk selamanya.


"Kak Rizky sudah bangun?" tanya Dinda yang terbangun ketika merasakan pergerakan tubuh Rizky.


Semalam Dinda tertidur di atas kursi yang berada di samping ranjang pesakitan Rizky dengan terus menggenggam erat tangan Suaminya tersebut.


Dinda membantu Rizky duduk, kemudian Dinda memberikan segelas air putih kepada Rizky.


"Terima Kasih," ucap Rizky dengan lirih.


"Kak, Dinda tau kalau Kak Rizky pasti sedih dan merasa kehilangan Kak Putri, begitu juga dengan Dinda. Akan tetapi, kita harus berusaha mengikhlaskannya, supaya Kak Putri bisa beristirahat dengan tenang."


"Sayang, apa Dinda bisa mengantar Kak Rizky untuk menghadiri pemakaman Putri?"


"Apa Kak Rizky sudah kuat?"


"Insyaallah Kakak kuat. Kakak juga ingin mengantar Putri ke tempat peristirahatan terakhirnya."


Dinda memapah Rizky ke luar dari Rumah Sakit, karena saat ini tubuh Rizky masih terasa lemas.


Iqbal dan Nanda yang sudah memutuskan untuk berdamai, datang ke Rumah Sakit menjemput Dinda dan Rizky, sedangkan Ratu dan Arsyi tidak diperbolehkan ikut ke pemakaman, karena tubuh keduanya tidak memungkinkan, apalagi Ratu sampai beberapa kali pingsan karena begitu terpukul atas kematian Putri.


Sepanjang perjalanan, hanya ada keheningan, karena baik Nanda atau pun Iqbal tidak mau sampai salah bicara dan menyinggung Rizky yang masih dalam keadaan berduka cita.


Prosesi pemakaman Putri diwarnai dengan isak tangis Suci dan yang lainnya, tapi semuanya mencoba untuk mengikhlaskan kepergian Putri.


Setelah prosesi pemakaman selesai, satu persatu pulang ke rumah masing-masing, kecuali Rizky dan Dinda yang masih ingin membacakan surat Yasin.


Kak Putri, semoga Kak Putri beristirahat dengan tenang dan bahagia di alam sana. Terimakasih atas kebaikan dan kebahagiaan yang Kak Putri berikan, ucap Dinda dalam hati dengan menitikkan air mata.


Selamat jalan Putri, terimakasih atas cinta dan kasih sayang yang telah kamu berikan. Maaf jika aku tidak pernah menjadi Suami yang baik. Semoga kamu beristirahat dengan tenang dan selalu bahagia di alam sana, ucap Rizky dalam hati dengan menitikkan air mata.


*


*

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2