
Suci begitu terkejut ketika mendengar lamaran Rian, karena sedikit pun Suci tidak pernah menyangka jika Rian akan berbicara seperti itu.
"Rian, tidak seharusnya kamu berbicara seperti itu, karena kamu sudah memiliki istri, dan aku tidak mau menjadi seorang Pelakor."
"Suci, aku akan menceraikan Alina setelah bayi dalam kandungannya lahir, apalagi kalau sampai terbukti jika bayi dalam kandungannya bukanlah Anakku."
"Tidak Rian, jangan lakukan itu. Aku tidak mau bahagia di atas penderitaan oranglain. Maaf Rian, aku mau pulang, dan mulai sekarang, aku minta kamu jauhi aku," ujar Suci dengan hendak melangkahkan kaki ke luar dari Kantor Polisi, tapi Rian mencekal pergelangan tangannya.
"Suci, setidaknya untuk kali ini saja, kamu ijinkan aku mengantar kalian pulang," ujar Rian, dan akhirnya Suci hanya bisa pasrah menerima tawaran Rian, karena saat ini Suci tidak memegang uang sepeser pun.
Suci dan Bu Rita mengucap syukur ketika ke luar dari kantor Polisi, karena akhirnya mereka bisa kembali menghirup udara bebas.
"Alhamdulillah ya Bu, akhirnya kita bisa kembali menghirup udara bebas," ucap Suci.
"Iya Nak, Ibu bahagia sekali, karena kehadiran Suci dan Rizky sudah memberikan kebahagiaan dalam hidup Ibu."
Beberapa saat kemudian, Hesti yang baru sampai di halaman Kantor Polisi begitu terkejut ketika melihat Suci dan Bu Rita sudah bebas, apalagi saat ini Bu Rita terlihat menggendong bayi, dan Hesti sudah dapat menebak jika itu adalah bayi Suci.
"Suci, Bu Rita, Alhamdulillah kalian sudah bebas," ucap Hesti dengan memeluk tubuh kedua temannya tersebut.
"Alhamdulillah Hesti, ingatan Rian sudah kembali, jadi Rian sudah membebaskan aku. Bu Rita juga mendapatkan pengurangan masa Tahanan, jadi kami bisa ke luar bersama dari dalam Penjara," ujar Suci.
"Kamu juga sudah melahirkan ya, apa bayi kamu laki-laki?"
"Iya, dan aku memberikan nama Rizky Nugraha kepada bayi ku."
"Bayi yang sangat tampan, pasti Ayah nya juga tampan. Tapi kenapa ya wajahnya mirip sekali dengan seseorang?" ucap Hesti, dan dada Rian terasa sesak ketika mendengar perkataan Hesti.
"Memangnya mirip siapa?" tanya Suci yang merasa penasaran.
"Sepertinya wajah Rizky mirip sekali dengan wajah Bos aku."
"Mungkin itu hanya kebetulan saja. Hesti, kamu mau ikut kami ke rumah kan?"
"Tentu saja, dan kalian nanti bisa ikut aku bekerja di Jakarta, karena kebetulan di perusahaan tempat aku bekerja sedang ada lowongan pekerjaan, tapi hanya sebagai cleaning service seperti aku," ujar Hesti.
__ADS_1
"Apa pun pekerjaan nya yang penting halal, lagian aku juga hanya tamatan SMP, dan aku mau bekerja dengan kamu, biar Bu Rita yang menjaga Rizky, karena Bu Rita tidak mungkin bisa melamar pekerjaan di perusahaan tempat kamu bekerja."
"Tapi Ibu tidak enak jika harus merepotkan kalian," ujar Bu Rita.
"Bu, justru Suci yang tidak enak karena Ibu harus menjaga Rizky."
"Rizky adalah Cucu Ibu, jadi Ibu akan menjaganya dengan senang hati."
"Kontrakanku juga dekat dari tempat kerja, jadi saat jam istirahat, kamu bisa pulang untuk menyusui Rizky," ujar Hesti.
"Alhamdulillah kalau begitu, bagaimana kalau sekarang kita langsung ke kontrakan kamu setelah aku mengambil pakaian di rumah?" ujar Suci.
"Ide bagus tuh, lagian dari sini ke kontrakan ku juga tidak terlalu jauh," ujar Hesti dengan tersenyum bahagia.
Rian yang dari tadi menyimak percakapan Suci dan temannya, akhirnya angkat suara juga.
"Suci, sebenarnya tadi aku sudah mengambil pakaian dari rumah kamu, karena tadinya aku ingin membawa kamu pindah rumah. Tidak mungkin kan kamu membawa Rizky tinggal di sana? selain kondisi rumah yang sudah tidak layak huni, aku juga tidak mau kalau kamu menjadi bahan omongan para tetangga karena kamu telah melahirkan di luar nikah."
"Makasih banyak ya Rian, dari dulu kamu selalu mengerti aku."
"Maaf Rian, tapi aku tidak bisa."
"Mungkin saat ini kamu belum bisa menerimaku, karena statusku masih memiliki istri, tapi aku harap ketika nanti aku sudah bercerai dengan Alina, kamu mau kembali kepadaku," ujar Rian, tapi Suci hanya diam seribu bahasa.
Bu Rita yang dari tadi mendengar Rian menyebut nama Alina, jadi teringat dengan Alina Anaknya, dan Bu Rita ingin sekali bertemu dengan Alina.
Bagaimana kabar Alina sekarang? Semoga suatu saat nanti, Ibu bisa bertemu dengan kamu Alina, apalagi sudah sepuluh tahun kita tidak bertemu, batin Bu Rita.
......................
Rian membukakan pintu depan mobilnya untuk Suci, meski pun pada awalnya Suci menolak, tapi Suci tidak mungkin duduk di belakang bersama Hesti dan Bu Rita yang menggendong Rizky.
Perjalanan dari Bekasi menuju Jakarta hanya ditempuh selama satu jam saja, dan saat ini mobil Rian sudah sampai di depan rumah kontrakan Hesti.
"Selamat datang di rumah, meski pun rumahnya kecil, tapi rumahnya cukup nyaman," ucap Hesti.
__ADS_1
"Makasih banyak ya Hesti, maaf aku sudah merepotkanmu," ucap Suci yang merasa tidak enak kepada Hesti.
"Suci, kita ini adalah keluarga, dan kamu juga sudah banyak membantuku saat berada di dalam Penjara. Sebaiknya sekarang kita masuk," ujar Hesti dengan menggandeng Suci dan Bu Rita masuk ke dalam rumahnya, sedangkan Rian saat ini tengah menurunkan barang-barang Suci.
Rian diam-diam memasukan amplop cokelat yang berisi uang sebesar dua puluh juta rupiah dan juga sebuah handphone pada tas pakaian Suci.
Sebaiknya aku simpan saja uang dan handphone untuk Suci di dalam tas pakaiannya, karena aku yakin kalau Suci pasti akan menolaknya jika aku memberikannya secara langsung, batin Rian.
Rian juga sudah membelikan perlengkapan bayi untuk Rizky, dan setelah Rian membawa semuanya masuk ke dalam rumah kontrakan Hesti, Rian pamit pulang karena mendapatkan telpon jika Mama Linda masuk Rumah Sakit.
"Suci, maaf ya aku harus pulang sekarang. Kalau kamu butuh apa-apa, kamu bisa menghubungiku," ujar Rian yang terlihat panik.
"Rian, apa ada sesuatu yang telah terjadi?" tanya Suci.
"Iya Suci, barusan Papa telpon katanya Mama masuk Rumah Sakit karena mengalami kecelakaan," jawab Rian.
"Innalillahi..Semoga Nyonya Linda tidak sampai kenapa-napa ya, kamu juga hati-hati di jalan," ujar Suci.
"Iya Amin. Makasih banyak ya Suci. Semoga kamu dan Rizky selalu diberikan kesehatan," ucap Rian, kemudian mengucap Salam sebelum pergi.
Hesti terus melihat ke arah Rian yang sudah ke luar dari dalam rumah kontrakannya.
"Udah, jangan lihatin terus Suami orang," ujar Suci pada Hesti.
"Rian tampan dan baik ya, sayang sekali dia tidak berjodoh dengan kamu," ujar Hesti.
"Jodoh, Rezeki, hidup dan mati seseorang sudah Tuhan atur Hesti. Lagian aku mau fokus membesarkan Rizky, jadi aku tidak mau memikirkan pernikahan," ujar Suci.
Beberapa saat kemudian terdengar suara handphone yang berbunyi dari dalam tas pakaian Suci, dan Suci begitu terkejut ketika ada handphone dan amplop yang berisi uang di dalam tas nya.
"Handphone sama uang siapa ini?"
*
*
__ADS_1
Bersambung