Suci Tak Lagi Suci

Suci Tak Lagi Suci
Bab 126 ( Hesti yang polos )


__ADS_3

Keesokan paginya, Hesti terbangun ketika mendengar suara Adzan Subuh berkumandang, dan saat ini seluruh tubuhnya terasa sakit.


"Kenapa sakit sekali?" gumam Hesti yang masih belum sepenuhnya sadar.


Hesti nyaris berteriak ketika membuka selimut, karena saat ini dirinya tidak mengenakan sehelai benang pun.


"Sayang, kamu sudah bangun?" tanya Irwan dengan mengucek kedua matanya ketika merasakan pergerakan tubuh Hesti.


Hesti menghela nafas panjang, karena Hesti baru menyadari jika dirinya sudah menikah dengan Irwan, dan semalam dia baru saja menjalankan kewajibannya sebagai seorang Istri untuk yang pertama kalinya.


"Mas, udah Adzan Subuh, sebaiknya kita segera membersihkan diri," ujar Hesti dengan berusaha untuk bangun.


"Awww, kenapa sakit sekali?" gumam Hesti dengan merintih kesakitan, sehingga Irwan bergegas bangun.


"Sayang, apa masih sakit? Apa perlu kita panggil Dokter?" tanya Irwan yang terlihat cemas.


"Apa Mas ingin membuat aku malu kalau kita sampai memeriksakannya ke Dokter?" ujar Hesti dengan menutup wajah menggunakan kedua tangannya.


"Maaf sayang, nanti malam Mas pasti akan lebih berhati-hati, tapi kata orang sakitnya cuma pertama kali saja," ujar Irwan dengan tersenyum penuh arti.


"A_apa maksud Mas dengan nanti malam?" tanya Hesti dengan gugup.


"Memangnya Hesti tidak mau kalau kita melakukannya lagi?" tanya Irwan.


"Sebaiknya kita jangan dulu bahas masalah itu, aku masih sakit," ucap Hesti dengan lirih.


"Maaf, maaf, memangnya bagian mana yang sakit biar Mas coba periksa?" tanya Irwan, dan wajah Hesti langsung memerah menahan malu.


Irwan sengaja menggoda Hesti yang masih terlihat malu-malu ketika membicarakan masalah ranjang.


"Maaf Mas cuma bercanda, sebaiknya sekarang kita bergegas membersihkan diri," ujar Irwan kemudian mengangkat tubuh Hesti menuju kamar mandi.


Hesti begitu bahagia karena memiliki Suami yang baik dan pengertian seperti Irwan, apalagi sekarang Irwan sudah mulai belajar menjadi imam shalat untuk Hesti.


"Sayang, kalau masih sakit nanti Mas suruh Bibi anterin makanannya ke dalam kamar saja," ujar Irwan yang sedang bersiap menuju kantor.


"Tidak apa-apa Mas, kalau ke luar dari kamar Hesti juga masih kuat," ujar Hesti dengan tersenyum malu.


"Mas sebenarnya masih ingin mengambil cuti, tapi Arya tiba-tiba mengundurkan diri dari perusahaan, jadi sekarang masih banyak sekali pekerjaan, apalagi Farel belum bisa masuk Kantor karena harus mengurus Alina."


Hesti terkejut mendengar Arya yang tiba-tiba ke luar dari Perusahaan, apalagi nomor Suci sudah beberapa hari tidak aktif, bahkan Suci dan Arya tidak pernah hadir pada acara tahlil mendiang Papa Ferdi dan Bu Rita.


"Mas, sepertinya Suci dan Arya memiliki masalah dengan keluarganya. Aku jadi khawatir dengan keadaan Suci dan keluarganya, apalagi nomor telpon Suci tidak dapat dihubungi," ujar Hesti.


"Nanti Mas bakalan cari tau, semoga saja semuanya baik-baik saja. Sayang jangan terlalu banyak pikiran ya," ujar Irwan dengan mengelus lembut kepala Hesti.

__ADS_1


Irwan mengajak Hesti ke luar dari dalam kamar untuk sarapan, dan Irwan merasa khawatir ketika melihat Hesti yang masih terlihat kesakitan saat berjalan.


"Sayang, yakin mau ke luar? Mas gendong ya."


"Tidak perlu Mas, nanti malu kalau dilihat Mama sama Papa."


"Mereka juga pasti mengerti kalau kita masih pengantin baru," ujar Irwan dengan tersenyum.


Mama Maya dan Papa Andi saling melirik ketika melihat Hesti dan Irwan menghampiri mereka di meja makan, dan keduanya langsung tersenyum ketika melihat cara Hesti berjalan.


"Pa, sepertinya sebentar lagi kita akan memiliki Cucu," bisik Mama Maya.


"Iya Ma, sepertinya Irwan sudah berhasil membobol gawang," bisik Papa Andi dengan terkekeh.


Irwan langsung berdehem ketika melihat kedua orangtuanya yang berbisik-bisik, dan Irwan yakin kalau Mama Maya dan Papa Andi sedang membicarakannya.


"Ekhem, Mama sama Papa ngomongin apa sampai bisik-bisik seperti itu?" tanya Irwan yang merasa penasaran.


"Eh itu, semalam sepertinya kamu sudah berhasil membobol gawang," jawab Papa Andi, dan Mama Maya langsung menginjak kaki Papa Andi.


Irwan menanggapi perkataan Papa Andi dengan tersenyum, sedangkan Hesti yang tidak mengerti terlihat bingung.


"Mas memangnya semalam Mas habis main bola?" tanya Hesti dengan polos, sehingga membuat kedua orangtua Irwan cekikikan.


"Iya, main bola sama kamu," jawab Irwan dengan terkekeh.


"Hesti sayang, Papa sama Irwan cuma bercanda. Semalam Hesti sama Irwan bukan main bola, tapi belah semangka," ujar Mama Maya yang senang sekali menggoda Anak dan Menantunya yang polos.


"Mas, kita juga tidak memiliki semangka kan? Apa Mama mau makan semangka? Nanti biar Hesti belikan."


"Ma, Menantu kita sepertinya polos sekali," bisik Papa Andi.


"Iya Pa, tapi Mama bahagia Irwan mendapatkan perempuan baik seperti Hesti, apalagi Hesti masih bersegel," ujar Mama Maya dengan cekikikan.


"Mama sama Papa senang sekali sih godain Irwan sama Hesti," ujar Irwan.


"Sayang, maaf ya, kami cuma bercanda. Hesti jangan terlalu memikirkannya," ujar Mama Maya.


"Gak apa-apa kok Ma, Hesti juga suka bercanda. Oh iya, Mama masih mau makan semangka tidak?"


"Tidak sayang, Mama maunya belah duren."


"Ya sudah, kalau begitu nanti Hesti beli dulu duren nya ke Pasar," ujar Hesti, sehingga membuat Irwan dan kedua orangtuanya menepuk dahi secara bersamaan.


Papa Andi yang sebelumnya ingin menyerahkan perusahaannya kepada Irwan, kembali bertanya kepada Irwan.

__ADS_1


"Nak, kapan Irwan akan meneruskan perusahaan keluarga?"


"Untuk saat ini Irwan belum bisa Pa, apalagi Arya mengundurkan diri, kasihan Om Fadil pasti repot mengurus perusahaan. Nanti kalau situasinya sudah stabil, Irwan akan mencoba membicarakan semuanya dengan Om Fadil."


"Memangnya Arya kemana?"


"Irwan juga belum tau Pa, mungkin mereka ada masalah keluarga."


"Ya sudah, kamu selesaikan dulu masalah di perusahaan Fadil, karena Papa ingin segera pensiun supaya bisa mengajak main Anak kalian."


"Bikinnya juga baru semalam Pa, tapi Papa sama Mama tenang saja, Irwan akan rajin berusaha supaya bisa segera memberikan Cucu untuk kalian," ujar Irwan sehingga membuat Hesti merasa malu dan rasanya ingin menggali lubang untuk bersembunyi.


......................


Kondisi Alina sudah mulai membaik, dan hari ini Alina sudah diperbolehkan pulang.


"Sayang, aku beresin dulu pakaian kita ya," ujar Farel dengan mengelus lembut kepala Alina, dan Alina hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


Semenjak Papa Ferdi dan Bu Rita meninggal dunia, Alina selalu saja melamun, bahkan Alina jarang sekali bicara.


"Sekarang kita pulang ya, Aku sudah sangat merindukan Anak-anak kita," ujar Farel dengan mendorong kursi roda Alina untuk ke luar dari Rumah Sakit.


Jarak dari Rumah Sakit menuju kediaman Papa Ferdi hanya membutuhkan waktu sekitar tiga puluh menit saja, dan Alina menangis ketika tiba di rumahnya.


"Sayang, aku tau kalau kamu pasti tidak mudah menerima semua kenyataan ini, tapi aku dan Anak-anak kita akan selalu ada untuk kamu," ujar Farel dengan memeluk tubuh Alina.


"Farel, aku tidak sanggup jika terus-terusan berada di rumah, karena aku akan selalu ingat dengan masalaluku saat bersama dengan mendiang Mama dan Papa," ujar Alina.


"Kalau kamu mau, kita bisa pindah rumah, karena sebelum menikah dengan kamu, aku sudah mempersiapkan rumah untuk tempat tinggal kita," ujar Farel.


"Farel, aku tidak bisa pindah dari rumah ini. Sebaiknya aku bekerja saja meneruskan perusahaan peninggalan Papa, mungkin jika aku memiliki kegiatan, aku tidak akan terlalu bosan dan terus terusan melamun."


Farel terlihat berpikir, karena sebenarnya Farel berharap Alina bisa merawat kedua Anaknya.


"Alina, apa kamu tidak bisa tinggal di rumah saja untuk mengurus Anak-anak kita? Kasihan Putri dan Ratu, jangan sampai mereka kekurangan perhatian dan kasih sayang dari kedua orangtuanya. Sekarang kondisi kamu juga belum sembuh, dan aku tidak mau kalau kamu sampai kecapean," ujar Farel dengan menangkup kedua pipi Alina.


Beberapa saat kemudian, Ratu dan Putri dibawa oleh kedua Baby susternya menghampiri Alina dan Farel.


Farel yang melihat kedua Anaknya langsung menciumi wajah Ratu dan Putri, sedangkan Alina hanya mencium Ratu saja.


"Alina, sampai kapan kamu akan bersikap seperti itu terhadap Putri? Sebagai orangtua, tidak seharusnya kamu membedakan kasih sayang di antara kedua Anak kita," ujar Farel yang merasa kecewa dengan sikap Alina.


"Aku akan menyayangi Putri jika dia sudah berubah menjadi cantik, bukan Putri buruk rupa seperti saat ini," jawab Alina yang masih belum juga bisa menerima kekurangan Putri.


*

__ADS_1


*


Bersambung


__ADS_2