Suci Tak Lagi Suci

Suci Tak Lagi Suci
Bab 171 ( Janji Arsyila )


__ADS_3

Ratu kembali tertawa, dan Farel yang merasa kesal dengan tingkah Ratu, langsung membentak nya.


"Cukup Ratu, semua itu tidak lucu, tidak seharusnya kamu menertawakan orang yang terkena musibah. Kamu benar benar tidak tau sopan santun. Nanda, Arsyi, atas nama Ratu, Om minta maaf yang sebesar-besarnya kepada kalian berdua, kalau begitu kami permisi dulu," ujar Farel dengan menarik tangan Ratu.


Setelah berada di depan pintu Rumah Sakit, Farel menyuruh Ratu mendorong kursi rodanya supaya Ratu tidak banyak bertingkah, tapi Ratu yang merasa malu dengan kondisi Farel saat ini, menolak mentah-mentah permintaan Farel.


"Ratu, sebaiknya sekarang kamu bantu dorong kursi roda Ayah," ujar Farel.


"Tidak, aku tidak mau. Daddy pasti sengaja kan ingin membuat Ratu merasa malu, makanya Daddy menyuruh Ratu melakukannya."


"Jadi kamu malu memiliki Ayah yang cacat?" tanya Farel yang tidak menyangka jika Ratu memiliki pemikiran seperti itu.


"Dad, dulu Ratu sangat malu ketika Mommy mengalami kecelakaan dan berubah menjadi orang cacat, sekarang Daddy juga malah ikutan cacat, tentu saja Ratu bertambah malu, karena kedua orang tua kandung Ratu cacat semua," jawab Ratu dengan entengnya.


Putri yang sudah merasa tidak tahan mendengar perkataan Ratu, langsung saja melayangkan tamparan pada pipi Ratu.


Plak


Tamparan keras mendarat pada pipi mulus Ratu, dan Ratu merasa terkejut karena baru kali ini Putri berani terhadap dirinya.


"Putri, berani sekali kamu menamparku?" teriak Ratu.


"Orang seperti kamu memang pantas mendapatkan semua itu. Ratu, selama ini aku selalu diam saat kamu menghinaku, tapi aku tidak rela ketika mendengar kamu menghina kedua orangtua kita. Ratu, apa kamu tidak merasa malu berkata seperti itu? Selama ini Ayah yang sudah membesarkan kita, harusnya kamu mengucapkan terimakasih atas jasa kedua orangtua kita. Ayah, Ibu, sebaiknya sekarang kita segera masuk, kita tidak perlu memperdulikan lagi Anak yang tidak tau di untung seperti Ratu," ujar Putri dengan mendorong kursi roda Farel.


Ratu yang merasa kesal terhadap semua orang, akhirnya memutuskan untuk pulang.


......................


Saat ini Nanda dan Dinda terlihat diam mematung, karena keduanya masih merasa terkejut setelah mendengar perkataan Arsyi yang mau menikah dengan Nanda.


"Nanda, Dinda, kenapa kalian diam saja?" tanya Arsyi yang merasa heran.


"Arsyi, apa kamu serius dengan yang kamu ucapkan?" tanya Nanda yang merasa ragu.


"Aku serius, memangnya kenapa? Apa kamu tidak mau menikah denganku?" tanya Arsyi.

__ADS_1


Wajah Nanda bersemu merah mendengar perkataan Arsyi, karena Nanda sedikit pun tidak pernah mengira jika Arsyi akan berkata seperti itu.


"Aku tau kalau kamu mengatakan itu semua karena kamu merasa bersalah terhadapku kan? Aku sekarang sudah menjadi orang cacat, dan aku tidak mau kamu berbicara seperti itu karena merasa kasihan terhadapku," ujar Nanda.


"Nanda, aku memang merasa bersalah terhadap kamu, tapi aku berkata seperti itu karena aku ingin mencoba membuka hati untuk kamu. Mungkin sekarang aku belum memiliki perasaan cinta untuk kamu, tapi aku yakin dengan seiring waktu, cinta itu akan tumbuh pada hati ku," ujar Arsyi dengan memegang tangan Nanda.


Deg deg deg


Jantung Nanda berdetak kencang mendengar perkataan Arsyi, rasanya Nanda ingin sekali memeluk tubuh perempuan cantik yang saat ini berada di hadapannya, tapi Nanda sadar betul jika mereka masih belum menjadi muhrim.


"Arsyi, terimakasih banyak karena kamu sudah memberikan aku kesempatan," ucap Nanda dengan tersenyum bahagia.


"Kamu berhak mendapatkan kesempatan, karena kamu adalah laki-laki baik," ujar Arsyi.


Maafkan aku Arsyi, aku bukanlah laki-laki baik seperti yang kamu pikirkan. Kamu pasti akan kecewa jika mengetahui semua kebohongan yang telah aku lakukan, ucap Nanda dalam hati.


"Arsyi, kalau aku sudah bisa melihat lagi, apa kamu tidak akan berubah pikiran?" tanya Nanda yang merasa takut jika Arsyi akan berubah pikiran.


"Aku akan sangat bahagia kalau kamu bisa melihat lagi, dan aku janji, aku tidak akan berubah pikiran. Kalau perlu, setelah kamu bisa melihat lagi, kita bisa bertunangan dulu," ujar Arsyi.


"Ekhem, apa kalian menganggap aku sebagai obat nyamuk?" sindir Dinda.


"Mana mungkin seperti itu, kamu adalah sahabat terbaikku, dan mungkin beberapa tahun lagi, kamu akan menjadi Adik iparku," ujar Arsyi dengan memaksakan diri untuk tersenyum, meski pun saat ini sebenarnya hatinya sangat sakit, karena pada kenyataannya dia masih belum bisa melupakan Iqbal.


Aku harus berusaha melupakan Kak Iqbal, mungkin aku bisa melupakannya apabila aku menjalin hubungan dengan Nanda, ucap Arsyi dalam hati yang sudah bertekad untuk melupakan sosok Iqbal.


"Kalau begitu sekarang kita masuk yuk, aku sudah tidak sabar ingin mengatakan kabar bahagia ini kepada semuanya," ujar Nanda dengan mengembangkan senyuman.


Ketiganya kembali masuk ke dalam kamar perawatan Nanda, di sana masih ada Suci, Arya, Hesti dan Irwan yang masih terlihat mengobrol.


"Bunda, Nanda punya kabar bahagia untuk semuanya," ucap Nanda dengan mata yang berbinar.


"Memangnya Nanda punya kabar bahagia apa untuk kami?" tanya Hesti.


"Nanda dan Arsyi sudah memutuskan untuk menjalin hubungan. Arsyi bilang kalau Nanda sudah bisa melihat, kami akan bertunangan dulu, dan nanti setelah lulus SMA, kami akan melangsungkan pernikahan," jelas Nanda yang terlihat begitu bahagia.

__ADS_1


Semuanya merasa terkejut mendengar berita tersebut, karena mereka tau betul jika Arsyi melakukan semua itu bukan karena memiliki perasaan cinta terhadap Nanda, tapi Arsyi hanya merasa bersalah kepada Nanda.


Suci, Arya, Hesti dan Irwan saling berpandangan untuk memberikan kode supaya tidak ada yang melarang keputusan Nanda dan Arsyi, karena mereka tidak mau membuat Nanda merasa kecewa.


"Apa pun keputusan kalian, kami akan selalu mendukungnya, yang penting kalian selalu merasa bahagia," ujar Arya.


"Terimakasih banyak Om, Nanda akan berusaha untuk bisa segera sembuh, supaya Nanda bisa terus menjaga dan melindungi Arsyi," ujar Nanda dengan semangat membara.


"Om percaya kalau kamu bisa menjaga Tuan Putri kami dengan baik," ujar Arya dengan menepuk bahu Nanda.


Suci dan Arya berpamitan kepada keluarga Irwan, karena saat ini kondisi Oma Rahma sudah semakin memburuk.


"Hesti, maaf ya kami tidak bisa membantu menjaga Nanda, soalnya kondisi Oma semakin memburuk, tapi Oma tidak mau dirawat di Rumah Sakit," ujar Suci.


"Iya tidak apa-apa, aku justru berterimakasih karena kalian selalu menyempatkan diri untuk menjenguk Nanda. Arsyi sayang, sebaiknya sekarang Arsyi ikut pulang saja, sekarang kan ada Om Irwan sama Dinda yang bisa membantu Tante menjaga Nanda," ujar Hesti dengan mengusap lembut bahu Arsyi.


"Beneran gak apa-apa Tante?" tanya Arsyi.


"Iya sayang gak apa-apa, kasihan Arsyi sudah seminggu ini bantuin Tante terus."


"Kalau begitu Arsyi pulang dulu ya, insyaallah besok pulang sekolah Arsyi ke sini lagi."


"My Princess, besok aku sudah bisa pulang, Arsyi kalau mau ketemu sama Nanda langsung ke rumah saja ya," ujar Nanda.


"Iya, besok aku ke rumah kamu, tapi kamu harus segera sembuh supaya kita bisa jalan-jalan ke luar," ujar Arsyi kemudian menyalami Hesti dan Irwan sebelum pulang.


Suci, Arya dan Arsyi mengucapkan Salam sebelum pulang, dan saat ini di kamar perawatan Nanda hanya ada Irwan, Hesti dan Dinda.


"Nanda, sekarang Ayah sama Bunda minta penjelasan sama kamu. Kenapa kamu tega sekali membohongi kami?" ujar Hesti dengan penuh penekanan.


*


*


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2