Suci Tak Lagi Suci

Suci Tak Lagi Suci
Bab 38 ( Semoga kebahagiaan ini tidak akan pernah berakhir )


__ADS_3

Saat ini suasana berubah menjadi tegang, karena Arya tidak terima dengan hinaan Mama Erina terhadap Suci.


"Arya, benar kan jika perempuan yang kamu nikahi adalah seorang ja*lang," ujar Mama Erina.


"Cukup Ma, jangan mengatakan apa pun lagi tentang Suci, karena Suci tidak seperti yang Mama tuduhkan, dan sebagai Suaminya, Arya tidak rela ada orang yang menghina Istri Arya, termasuk Mama !!" tegas Arya.


Papa Fadil dan Oma Rahma mencoba menengahi perdebatan antara Mama Erina dan Arya, begitu juga dengan Suci yang memegang tangan Arya dan mengelus lembut punggungnya supaya merasa lebih tenang.


"Ma, sebaiknya sekarang kita pulang dulu, tidak enak malam-malam begini malah ribut," ujar Papa Fadil.


"Mama belum selesai bicara Pa, karena kalian harus tau kalau ja_" perkataan Mama Erina terhenti karena Arya langsung memotongnya.


"Sekali lagi Mama berani menghina Suci, Arya pastikan tidak akan pernah kembali pulang ke kediaman Argadana, dan selamanya Mama tidak akan pernah bertemu dengan Arya lagi."


"Arya, kamu sudah dibutakan oleh cinta, sampai-sampai kamu berani melawan Mama demi perempuan yang baru saja kamu kenal."


"Ma, besok Arya akan membawa Suci dan Anak kami pulang, dan Arya akan menjelaskan semuanya kepada kalian supaya tidak ada lagi kesalahpahaman," ujar Arya dengan memegang erat tangan Suci.


Semuanya merasa terkejut ketika mendengar perkataan Arya yang mengaku telah memiliki Anak, tapi entah kenapa Oma Rahma sangat yakin jika Suci adalah perempuan baik-baik.


Entah kenapa aku merasakan sebuah ikatan batin dengan Suci. Rasanya aku sudah lama mengenalnya, padahal kami baru saja bertemu. Suci pasti tidak seperti yang Erina katakan, karena hatiku merasa yakin jika Suci adalah perempuan baik-baik, batin Oma Rahma.


"Fadil, Erina, sebaiknya sekarang kita pulang, ini sudah malam. Apa kamu tidak malu Erina karena malam-malam sudah membuat keributan?"


"Ma, Erina hanya tidak ingin Arya terjerumus oleh perempuan seperti dia."


"Cukup Erina, Arya sudah mengatakan jika besok dia akan menjelaskan semuanya," ujar Oma Rahma, sehingga membuat Mama Erina semakin merasa kesal, karena Oma Rahma terkesan membela Suci.


Dari semenjak melihat Suci, Papa Fadil terus saja diam mematung menatap lekat wajah Suci yang menghangatkan hatinya, karena Papa Fadil merasakan sesuatu yang tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata.


"Sayang, maaf ya jika kedatangan kami sudah mengganggu istirahat Arya dan Suci. Kalau begitu kami pulang dulu, dan besok, kami tunggu kepulangan kalian," ujar Oma Rahma dengan memeluk tubuh Suci, kemudian menarik tangan Papa Fadil dan Mama Erina seperti Anak kecil.


Setelah kepergian keluarganya, Arya langsung memeluk tubuh Suci, kemudian menumpahkan tangisannya dalam pelukan Suci.


"Suci, maafkan aku," ucap Arya.


"Kenapa Mas meminta maaf? Mas Arya tidak melakukan kesalahan apa pun. Jadi, Mas Arya jangan merasa bersalah seperti itu," ujar Suci yang mengira jika Arya meminta maaf atas kesalahan yang telah dilakukan oleh Mama Erina.


Tidak Suci, aku sudah banyak melakukan kesalahan terhadap kamu, bahkan aku takut untuk mengakuinya. Meski pun aku sangat takut kehilangan kamu, tapi besok aku akan mengakui semua kesalahan ku demi membersihkan nama baik kamu di depan keluargaku, karena aku tidak rela jika sampai ada satu orang pun yang menghina kamu, termasuk Mama, batin Arya.


"Mas, sebaiknya sekarang kita tidur lagi. Bukannya Mas sendiri yang bilang, apa pun yang terjadi, kita akan selalu menghadapinya bersama?" ucap Suci, dan Arya hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.

__ADS_1


Saat ini Suci dan Arya sudah kembali membaringkan tubuhnya, tapi keduanya merasa sulit untuk memejamkan mata, apalagi Arya terus saja terlihat gelisah karena memikirkan hari esok.


Sepertinya Mas Arya juga masih belum tidur. Kasihan Mas Arya, gara-gara membelaku, dia sampai bertengkar dengan Mama nya, batin Suci.


Suci secara perlahan membalikan tubuhnya, kemudian memeluk erat tubuh Arya supaya merasa lebih baik.


"Sayang, kamu juga belum tidur?" tanya Arya dengan mengusap lembut kepala Suci.


"Mas, maaf ya, gara-gara Suci, Mas Arya jadi bertengkar dengan Nyonya Erina."


"Sayang, sudah seharusnya Mas membela Suci, karena sekarang Suci sudah menjadi istri Mas."


Seharusnya sebagai seorang istri yang baik, aku juga melayani Mas Arya, karena dia sudah menjadi Suamiku. Pasti dia merasa tersiksa terus berdekatan denganku, batin Suci, sampai akhirnya, secara perlahan Suci mendekatkan bibirnya dengan bibir Arya.


Semakin lama, ciuman itu semakin dalam, dan keduanya menginginkan lebih dari sekedar ciuman.


"Sayang, apa boleh Mas melakukannya?" tanya Arya yang terlebih dahulu meminta persetujuan pada Suci, apalagi Arya merasa takut jika Suci kembali teringat dengan traumanya.


Suci hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, sampai akhirnya Suci dan Arya melewati malam pertama yang indah sebagai pasangan Suami istri.


"Terimakasih sayang, karena kamu telah memberikan malam yang indah ini," ucap Arya dengan mencium kening Suci, dan membawa Suci ke dalam pelukannya.


......................


Semoga kamu bisa memaafkan kesalahan besar yang telah aku lakukan, karena aku tidak mungkin sanggup kehilangan kamu dan Rizky, batin Arya dengan menciumi wajah Suci.


Secara perlahan Arya bangun untuk melihat Rizky yang saat ini sedang terlihat bermain.


"Anak Papa ternyata sudah bangun," ucap Arya dengan mengambil Rizky dari dalam box, kemudian menciumi wajah bayi tampan yang saat ini berada dalam gendongannya.


"Celana Anak Papa ternyata basah," ucap Arya kemudian mengganti celana Rizky.


Setelah Rizky kembali tertidur, Arya bergegas menuju kamar mandi, karena saat ini sudah terdengar suara Adzan Subuh.


Arya sebenarnya tidak tega membangunkan Suci yang masih terlelap, tapi waktu sudah menunjukan pukul lima pagi.


"Sayang, Suci bangun dulu ya, sebentar lagi waktu Subuh nya habis," bisik Arya dengan mengelus lembut kepala Suci.


Secara perlahan Suci mulai membuka matanya, dan Suci yang melihat Arya berada di sampingnya, langsung menutupi tubuhnya menggunakan selimut, karena Suci masih merasa malu.


"Mas, maaf ya Suci bangun kesiangan."

__ADS_1


"Tidak apa-apa sayang, kasihan Suci pasti kecapean, setelah_"


Ucapan Arya terhenti karena Suci langsung menutup mulut Arya.


"Aku ke kamar mandi dulu," ucap Suci kemudian berlari menuju kamar mandi.


"Sayang, jangan lari, nanti kamu jatuh," teriak Arya, dan benar saja beberapa saat kemudian terdengar suara benda terjatuh.


Brugh


Suci tersungkur di atas lantai, karena dia tersandung dengan selimut yang dia pakai untuk membungkus tubuhnya.


Arya bergegas menyusul Suci, karena takut jika Suci sampai kenapa-napa.


"Udah dibilangin jangan lari, apalagi sambil pake selimut segala, jadi jatuh kan?" ujar Arya dengan membantu Suci berdiri.


Suci terlihat malu dengan menutupi tubuhnya yang masih polos saat Arya membopongnya menuju kamar mandi.


"Gak usah ditutupin juga, lagian Mas sudah melihat semuanya, bahkan merasakannya," ujar Arya dengan tersenyum, sehingga membuat pipi Suci bersemu merah.


Suci yang merasa malu langsung menutup pintu kamar mandi, tapi Suci merasa heran karena sudah tersedia air hangat di dalam baskom.


"Mas, ini air hangat buat siapa?" tanya Suci dengan mengeluarkan kepalanya pada pintu kamar mandi.


"Mas tadi sengaja masak air panas buat kita mandi."


"Ma_"


Ucapan Suci terhenti karena Arya menempelkan telunjuknya pada bibir Suci.


"Udah cepetan mandi, waktu Subuh sebentar lagi habis. Nanti malam saja ucapan terimakasihnya," ucap Arya dengan terkekeh, dan Suci memutar malas bola matanya ketika mendengar perkataan Arya.


......................


Arya menghela napas panjang, karena siap atau tidak, hari ini Arya harus mengakui semua kesalahan yang telah dirinya lakukan kepada Suci.


Semoga kebahagiaan ini tidak akan pernah berakhir, karena mau tidak mau aku harus mengakui semua kesalahan ku kepada Suci, supaya Mama tidak terus-terusan menghina Suci, batin Arya.


*


*

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2