Suci Tak Lagi Suci

Suci Tak Lagi Suci
Bab 174 ( Salahkan apabila kita saling mencintai )


__ADS_3

Iqbal semakin merasa bersalah karena Arsyi tidak berhenti menangis, dan Iqbal yang sudah tidak bisa menahan perasaannya lagi, tiba-tiba membungkam bibir Arsyi dengan ciuman.


Bola mata Arsyi membulat sempurna karena tidak menyangka jika Iqbal akan berbuat seperti itu terhadapnya, kemudian Arsyi mendorong kuat tubuh Iqbal yang sudah bersikap kurang ajar terhadapnya.


Plak


Arsyi menampar pipi Iqbal yang sudah lancang mencuri ciuman pertamanya.


"Kenapa Kakak lancang sekali melakukan semua itu? Kakak tega sekali mencuri ciuman Pertama Arsyi," teriak Arsyi.


Iqbal begitu terkejut ketika mendengar perkataan Arsyi, karena Iqbal mengira jika Arsyi dan Nanda pernah berciuman, apalagi mereka sudah menjalin hubungan selama enam tahun, tapi pada kenyataannya Arsyi selalu menghindar ketika Nanda akan mencium bibirnya, dan Arsyi hanya memperbolehkan Nanda mencium kening dan pipinya saja.


"Ja_jadi, itu adalah ciuman pertama kamu?" tanya Iqbal dengan tergagap.


"Iya, dan Kakak tega sekali mengambilnya, padahal itu selalu Arsyi simpan untuk Suami Arsyi nanti."


"Maaf Arsyi Kakak tidak bermaksud berbuat kurang ajar. Kakak hanya_"


Perkataan Iqbal terhenti karena Arsyi langsung memotongnya.


"Apa Kakak pikir Arsyi adalah perempuan murahan? Sebaiknya sekarang Kakak ke luar dari kamar Arsyi, Arsyi benci Kakak," ujar Arsyi yang kembali menangis sehingga membuat Iqbal semakin merasa bersalah.


"Arsyi, maaf sayang, Kakak tidak bermaksud berbuat kurang ajar sama kamu, tapi Kakak tidak bisa menahan perasaan Kakak. Sebenarnya Kakak cinta sama kamu," ujar Iqbal dengan menangis dalam pelukan Arsyi.


Arsyi tidak percaya jika Iqbal memiliki perasaan yang sama dengan dirinya, tapi Arsyi sadar betul jika Arsyi dan Iqbal tidak boleh memiliki perasaan seperti itu.


"Kak, apa Kakak sadar dengan yang Kakak ucapkan? Kita ini saudara kandung, kita berdua adalah Adik Kakak, tidak seharusnya kita memiliki perasaan seperti itu," ucap Arsyi dengan lirih.


Iqbal menangkup kedua pipi Arsyi, kemudian Iqbal menatap lekat kedua mata Arsyi.


"Sekarang Arsyi lihat mata Kakak, katakan yang sebenarnya, Arsyi juga memiliki perasaan yang sama kan dengan Kakak?"


Arsyi mencoba untuk memalingkan wajahnya dari Iqbal, karena Arsyi tidak sanggup menampik perasaan yang ia miliki.


"Arsyi, Kakak mohon, jujur sama Kakak."


Arsyi beberapa kali mengembuskan nafas secara kasar sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Iqbal.

__ADS_1


"Kalau Arsyi memiliki perasaan yang sama dengan Kak Iqbal, memangnya kita bisa apa? Semua itu tidak dapat merubah keadaan, karena kita masih satu darah, bahkan kita terlahir dari rahim yang sama."


Iqbal diam mematung mendengar jawaban dari Arsyi, karena pada kenyataannya dirinya dan Arsyi tidak akan pernah bisa saling memiliki meski pun saling mencintai.


"Lupakan Arsyi Kak, lupakan cinta terlarang yang kita miliki," ucap Arsyi dengan lirih.


"Apa selama ini Arsyi pikir Kakak tidak berusaha melakukan semua itu? Arsyi harus tau kalau Kakak memutuskan pindah ke luar negeri supaya bisa melupakan Arsyi. Selama enam tahun Kakak tersiksa dengan perasaan ini. Kakak sudah berusaha sekuat tenaga untuk melupakan Arsyi, tapi semakin lama rasa cinta itu semakin besar dan semakin sulit untuk dihilangkan."


"Kak, Arsyi juga sudah melakukan hal yang sama, Arsyi mencoba membuka hati untuk Nanda supaya Arsyi bisa melupakan Kakak. Meski pun pada kenyataannya, rasa cinta ini masih belum bisa Arsyi kubur."


"Salahkah apabila kita saling mencintai?" tanya Iqbal.


"Semua itu jelas salah, karena pada kenyataannya kita telah melakukan dosa besar, kita juga tidak akan pernah bisa merubah takdir kita yang terlahir sebagai saudara."


"Dunia ini memang kejam, semua ini tidak adil untuk kita," gumam Iqbal.


"Kak, sebentar lagi Arsyi akan menikah dengan lelaki yang sangat mencintai Arsyi. Arsyi harap Kakak juga bisa menemukan perempuan yang lebih baik segala-galanya dibandingkan dengan Arsyi, karena perasaan cinta yang kita miliki hanya akan membuat banyak hati yang terluka. Mulai sekarang kita harus bisa melupakan cinta yang kita miliki dengan membuka lembaran baru bersama orang yang mencintai kita."


"Apa kamu akan bahagia jika menikah dengan lelaki yang sama sekali tidak kamu cintai?" tanya Iqbal yang merasa emosi dengan keadaan saat ini.


"Nanda sudah pernah mengorbankan hidupnya untuk Arsyi, dan Arsyi tidak bisa menyakiti perasaan lelaki sebaik Nanda."


"Yang penting Arsyi tidak melukai Nanda dan yang lainnya, itu semua sudah cukup."


"Lalu bagaimana denganku? Apa kamu tidak pernah memikirkan perasaanku? Aku tidak rela jika harus melihat kamu menikah dengan lelaki lain," ucap Iqbal dengan lirih.


"Kak, cinta tidak harus saling memiliki," ucap Arsyi yang mencoba ikhlas melepas Iqbal.


"Baiklah, jika memang kita tidak ditakdirkan hidup bersama, maka Kakak tidak akan pernah menikah dalam seumur hidup Kakak," ujar Iqbal, kemudian ke luar dari dalam kamar Arsyi dengan airmata kepedihan yang terus menetes pada pipinya.


Arsyi merasakan sesak dalam dadanya mendengar perkataan Iqbal, tapi saat ini dirinya tidak berdaya.


"Maafkan Arsyi Kak, mungkin ini yang terbaik untuk kita."


Suci sebenarnya diam-diam mendengarkan percakapan Iqbal dan Arsyi dari depan pintu kamar Arsyi yang sedikit terbuka, dan Suci merasa sangat berdosa karena tidak mengatakan yang sebenarnya kepada Iqbal dan Arsyi jika mereka bukanlah saudara kandung.


Apa yang sudah aku lakukan? Kenapa semuanya jadi seperti ini? Seharusnya dari dulu aku tidak menutupi kebenaran tentang status Iqbal. Sekarang Aku harus bagaimana? Arsyi dan Iqbal saling mencintai, tapi aku tidak mungkin membatalkan pernikahan Arsyi dengan Nanda, batin Suci kini berada dalam dilema.

__ADS_1


Suci memutuskan untuk membicarakan semuanya dengan Arya ketika pulang kerja nanti, karena Suci tidak mau jika Iqbal dan Arsyi terus-terusan tersiksa dengan perasaan yang mereka miliki.


"Aku harus membicarakan semua ini dengan Mas Arya, semoga saja kami mendapatkan jalan ke luar yang terbaik untuk semuanya," gumam Suci.


......................


Ketika Arya pulang kerja, Suci yang sudah tidak sabar untuk mengatakan semuanya menarik tangan Arya ke dalam kamar, bahkan Suci sampai lupa tidak menutup pintu kamar.


"Sayang, Mama kenapa sampai tidak sabaran seperti ini?" ujar Arya dengan memeluk tubuh Suci.


"Pa, ada sesuatu yang harus Mama bicarakan."


"Papa juga ada kabar bagus untuk Mama. Besok kita sudah bisa berangkat mengantar Mama Erina berobat ke Singapura, karena tadi Papa dan Rizky sudah berhasil menyelesaikan semua pekerjaan yang mendesak. Sekarang giliran Mama, apa yang mau Mama katakan sama Papa.


Suci terlihat ragu, karena Suci tidak mau membuat Arya merasa khawatir jika sampai mengetahui perasaan Arsyi dan Iqbal.


"Kenapa Mama diam terus? Kalau Mama ada masalah, sebaiknya Mama tidak usah ragu untuk mengatakannya kepada Papa."


"Pa, Mama tidak tau harus mulai dari mana, tapi Mama merasa jika Arsyi dan Iqbal saling mencintai," ucap Suci dengan lirih.


Degg


Jantung Arya rasanya berhenti berdetak ketika mengetahui tentang semua itu, karena Arya berpikir jika Iqbal sudah bisa melupakan Arsyi.


"Ma, tidak mungkin kalau Kedua Anak kita saling mencintai, kita tidak bisa menerima semua itu," ujar Arya dengan mengacak rambutnya secara kasar.


"Tapi Pa, pada kenyataannya Iqbal dan Arsyi tidak memiliki hubungan darah, karena Iqbal bukanlah Anak kandung kita," ujar Suci.


Iqbal bagai tersambar petir ketika mendengar jika dirinya bukanlah Anak kandung Suci dan Arya.


Pada awalnya Iqbal berniat untuk mengetuk pintu kamar Suci dan Arya yang terbuka, karena Iqbal ingin meminta ijin untuk pergi ke rumah temannya, tapi Iqbal tidak menyangka karena dia harus mendengar perkataan Suci tentang identitas Iqbal yang sebenarnya.


Tidak, tidak mungkin kalau aku bukan Anak kandung Mama dan Papa. Aku pasti hanya salah dengar. Jika aku bukan Anak mereka, lalu aku Anak siapa? batin Iqbal kini bertanya-tanya.


*


*

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2