Suci Tak Lagi Suci

Suci Tak Lagi Suci
Bab 129 ( Positif )


__ADS_3

Hesti dan Irwan memutuskan untuk pulang, karena saat ini waktu sudah menunjukan pukul delapan malam.


"Padahal aku masih kangen sama kalian," ujar Hesti dengan menciumi ketiga Anak Suci, kemudian memeluk tubuh Suci.


"Aku juga masih kangen banget sama kamu. Kalau ada waktu kapan-kapan kalian main ke sini lagi ya," ujar Suci.


"Pasti, kalau bisa aku ingin pindah rumah ke sini saja supaya deket terus sama kamu dan Anak-anak. Aku jadi pengen bawa mereka pulang," rengek Hesti yang selalu merasa gemas kepada ketiga Anak Suci.


"Semoga kalian bisa segera diberikan momongan," ucap Suci yang di Amini semuanya.


"Mas bakalan lebih rajin lagi supaya kita bisa segera punya Anak yang lucu-lucu juga," bisik Irwan pada telinga Hesti, sontak saja pipi Hesti bersemu merah mendengar perkataan Suaminya.


"Oh iya Mas, aku lupa ngasih kado buat Anak-anak, antar ke mobil dulu yuk," ujar Hesti dengan menarik lembut tangan Irwan menuju mobil mereka yang terparkir di depan rumah Suci.


Irwan membuka mobilnya untuk mengambil kado, kemudian Hesti ikut masuk ke dalam mobil karena ingin mengatakan sesuatu kepada Irwan.


"Kenapa ikut masuk juga? Jangan bilang udah gak sabar mau bikin A_" perkataan Irwan terhenti karena Hesti menutup mulut Irwan menggunakan tangannya.


"Mas sebenarnya ada yang ingin Hesti bicarakan."


"Kalau mau bicara tinggal ngomong aja sayang, memangnya apa yang ingin Hesti katakan?"


"Mas, gak apa-apa kan kalau Hesti ngasih uang buat Anak-anak Suci? Kasihan Suci, sepertinya kondisi keuangannya sudah menipis."


"Emangnya sayang bawa uang berapa?" tanya Irwan.


"Hesti masih ada uang cash lima juta, gak apa-apa kan kalau dikasih semuanya?"


"Ya sudah kalau begitu Mas tambahin lima juta lagi," ujar Irwan dengan memberikan uang lima juta kepada Hesti.


"Makasih banyak ya sayangku, Mas memang selalu pengertian," ujar Hesti dengan memeluk tubuh Irwan.


"Semua itu tidak gratis, pulang dari sini jangan lupa," ujar Irwan dengan cengengesan, dan Hesti memutar malas bola matanya.


Hesti memasukan uang sepuluh juta ke dalam amplop, tapi Hesti terlihat bingung bagaimana cara memberikan uang tersebut kepada Suci, karena Suci pasti akan menolaknya.


"Mas, nanti kalau Hesti ngasih langsung uangnya, Suci pasti bakalan nolak. Gimana ya cara ngasihnya?"


"Kita masukin saja ke dalam kado, gak mungkin kan kalau Suci nolak kado untuk Anaknya?" ujar Irwan.


"Suami Hesti emang pinter," puji Hesti dengan mencubit pipi Irwan.


"Baru tau ya kalau Mas memang pinter? Tapi pengen di sini cubitnya," ujar Irwan dengan menunjuk bibirnya, dan Hesti langsung mencubit bibir Irwan menggunakan tangannya.


"Awww, sakit sayang, kenapa malah dicubit sih?"


"Lho, katanya minta dicubit?"


"Cubitnya pake ini," tunjuk Irwan pada bibir Hesti.


"Udah gak usah macem-macem, nanti kita kemalaman sampai Jakarta. Yuk pamitan dulu," ujar Hesti setelah memasukan uang ke dalam kado.


Setelah Hesti memberikan kado kepada Suci dan berpamitan kepada semuanya, Hesti dan Irwan akhirnya pulang menuju Jakarta.

__ADS_1


......................


Suci membuka beberapa kado pemberian dari Bi Sari, Bu Inah dan Hesti, dan Suci terkejut ketika membuka kado dari Hesti, karena selain pakaian dan mainan untuk ketiga Anaknya, ada sebuah amplop coklat yang berisi uang.


"Pa, kok kado dari Hesti ada uangnya ya?" ujar Suci dengan memperlihatkan uang pemberian Hesti kepada Arya.


"Berapa uangnya Ma?" tanya Arya, lalu Suci menghitung uang pemberian Hesti.


"Sepuluh juta Pa. Banyak amat ya. Apa kita kembalikan saja uangnya?"


"Sayang, kalau kita balikin uangnya, nanti Hesti sama Irwan pasti kecewa, makanya mereka masukin uangnya ke dalam kado, karena mereka pasti tau kalau kita bakalan menolaknya apabila mereka memberikan uangnya secara langsung."


"Tapi ini terlalu besar Pa."


"Simpan saja uangnya untuk kebutuhan Anak-anak, mereka juga ngasihnya buat Anak-anak kan," ujar Arya yang sebenarnya merasa tidak enak karena sekarang Arya yang justru diberi uang oleh Irwan, padahal dulu Arya yang selalu royal memberikan uang kepada Teman-temannya.


Dunia memang berputar, kita tidak tau takdir akan seperti apa. Aku menyesal karena dulu tidak pernah menghargai uang, bahkan aku selalu menghambur-hamburkan uang untuk foya foya, ucap Arya dalam hati.


......................


Sejak Suci dan Arya membuka usaha grosir sembako, kehidupan mereka berangsur-angsur membaik, dan semua itu tidak luput dari dukungan orang-orang di sekitar Suci, terutama keluarga Pak Maman yang sudah banyak membantu, bahkan Bu Inah sudah menjadi Karyawan di toko milik Suci untuk membantu melayani pembeli.


Mama Erina yang diam-diam selalu memperhatikan Suci dan Keluarga, merasa bahagia melihat Suci dan Arya yang selalu terlihat bahagia, meski pun pada awalnya Mama Erina merasa kasihan ketika melihat Arya yang terlihat kecapean ketika mengangkat karung dan kardus belanjaan.


Arya yang melihat Mama Erina berada tidak jauh dari rumahnya, mencoba menghampiri Mama Erina.


"Ma, tunggu," ucap Arya ketika Mama Erina hendak masuk ke dalam mobilnya.


"Nak, maaf, Mama tidak bermaksud mengganggu kalian. Mama hanya ingin melihat Anak dan Cucu Mama. Arya jangan marah ya," ucap Mama Erina dengan menangis.


"Ma, maafin Arya ya, Arya tau jika semua orang pernah melakukan kesalahan, dan tidak seharusnya kami menghukum Mama seperti ini, tapi rasa kecewa yang Suci rasakan, lebih besar dari yang Arya rasakan, dan Suci masih belum bisa bertemu dengan Mama."


"Nak, Mama mengerti, semua itu pasti tidak akan mudah untuk Suci. Yang penting Mama sudah bisa melihat kalian, dan Mama merasa bahagia melihat Anak dan Cucu Mama hidup bahagia."


"Arya pasti akan selalu membahagiakan Suci dalam seumur hidup Arya, jadi Mama tidak perlu mengkhawatirkan Suci."


"Iya Nak, Mama percaya sama Arya. Mama titip Suci dan Cucu cucu Mama ya, kalau begitu Mama pulang dulu. Kalau ada apa-apa Arya jangan sungkan bicara sama Mama. Mama mohon Arya terima ini untuk Cucu cucu Mama," ujar Mama Erina dengan memberikan amplop coklat yang berisi uang seratus juta rupiah.


"Maaf Ma, tapi Arya tidak bisa menerima apa pun dari keluarga Argadana tanpa sepengetahuan Suci. Arya tidak mau menyembunyikan apa pun dari Istri Arya."


"Maafin Mama Nak, Mama tidak bermaksud seperti itu."


"Tidak apa-apa Ma. Mama jaga diri baik-baik ya, salam buat Papa sama Oma," ujar Arya, kemudian Mama Erina masuk ke dalam mobil untuk kembali ke Jakarta.


......................


Di tempat lain, Hesti yang baru bangun tidur, merasakan gejolak hebat pada perutnya, sampai akhirnya Hesti berlari ke dalam kamar mandi untuk mengeluarkan isi perutnya.


Irwan yang mendengar suara Hesti muntah, langsung menyusul Hesti.


"Sayang, kamu kenapa bisa sampai muntah seperti ini?" tanya Irwan dengan memijit tengkuk leher Hesti.


"Tidak tau Mas, tiba-tiba kepala Hesti pusing."

__ADS_1


"Ya sudah, kalau begitu Mas ambilin dulu minum ya," ujar Irwan setelah membantu Hesti berbaring.


Irwan ke luar dari dalam kamarnya, kemudian membuat teh manis hangat untuk Hesti.


"Nak, Irwan sedang buat apa?" tanya Mama Maya.


"Teh manis buat Hesti Ma, barusan Hesti muntah-muntah."


Mama Maya yang mendengar perkataan Irwan tersenyum bahagia.


"Mama aneh sekali, dengar Hesti muntah kok malah terlihat bahagia."


"Irwan, Mama yakin kalau Hesti muntah karena sedang hamil. Kalian juga nikah sudah dua bulan, pasti benih kamu sudah tumbuh di perut Hesti. Sekarang kita ke kamar kamu, Mama sudah membeli alat tes kehamilan," ujar Mama Maya dengan mengambil kantong kresek yang berisi berbagai macam alat tes kehamilan.


"Mama beli banyak amat?" ujar Irwan.


"Mama sengaja beli banyak buat stok. Ayo cepat, Mama udah gak sabar pengen tau hasilnya," ujar Mama Maya dengan menarik tangan Irwan.


Mama Maya dan Irwan menghampiri Hesti yang masih terbaring lemas.


"Sayang, Hesti baik-baik saja kan?" tanya Mama Maya.


"Hesti mual sama pusing Ma."


"Apa perlu kita panggil Dokter?"


"Tidak perlu Ma, paling juga Hesti masuk angin."


"Tapi Mama yakin, kalau Hesti sakit karena perbuatan Irwan. Hesti mau kan melakukan tes kehamilan?"


"Apa? Ha_hamil?" teriak Hesti yang merasa terkejut.


"Sayang, kamu gak usah terkejut seperti itu, lagian kalau kamu hamil ada Bapaknya juga," ujar Irwan, dan Hesti tersenyum malu.


"Hesti udah dua minggu telat datang bulan sih, kalau begitu Hesti ke kamar mandi dulu. Gimana cara pakainya Ma?"


Mama Maya memberitahu Hesti cara menggunakan testpack, kemudian Hesti masuk ke dalam kamar mandi.


Irwan dan Mama Maya menunggu dengan harap-harap cemas, kemudian Irwan mengetuk pintu kamar mandi, karena Hesti sudah cukup lama berada di dalam kamar mandi.


Tok tok tok


"Sayang, kamu baik-baik saja kan?"


Beberapa saat kemudian Hesti ke luar dengan tertunduk lesu, sehingga membuat Mama Maya dan Irwan mengira jika hasilnya negatif.


"Sayang, kamu jangan kecewa seperti itu, nanti kita harus lebih rajin begadang lagi," ujar Irwan dengan memeluk tubuh Hesti.


"Mas, hasilnya positif."


*


*

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2