
Ketika semua orang yang berada di sana ramai membicarakan Hesti yang ternyata adalah mantan Narapidana. Hesti sedikit pun tidak merasa malu, bahkan tanpa di duga, Hesti malah menghampiri Serli yang masih berada di atas panggung.
Setelah berada di atas panggung, Hesti mengambil mikropon, sehingga membuat Serli merasa bingung, karena sebelumnya Serli mengira jika Hesti akan merasa malu dan menangis, bahkan Serli pikir Hesti akan berlari meninggalkan pesta ulang tahun Irwan.
"Sebelumnya saya mohon maaf karena sudah lancang berdiri di hadapan semuanya. Saya ucapkan terimakasih banyak kepada Nona Serli yang sudah bersusah payah mencari informasi tentang masalalu saya. Saya memang hanya gadis kampungan dan miskin, bahkan sudah Yatim Piatu, dan saya sadar diri kalau dari awal saya tidak pantas bersanding dengan Irwan," ujar Hesti, kemudian beberapa kali mengembuskan nafas secara kasar sebelum melanjutkan perkataannya.
"Nona Serli benar, kalau saya adalah Mantan Narapidana atas kasus pencurian. Saat itu saya membutuhkan biaya operasi mendiang Ayah saya. Saya sudah mencari uang ke sana ke mari, tapi juga tidak mendapatkannya, makanya saya sampai gelap mata dengan melakukan aksi pencurian. Saya menyesal telah melakukan semua itu, karena ternyata semua yang saya lakukan sia-sia, sebab nyawa Ayah saya tidak dapat tertolong, sampai akhirnya saya menyerahkan diri kepada pihak berwajib atas kejahatan yang saya lakukan, dan saya menerima hukuman selama satu tahun penjara."
Serli tersenyum puas karena sudah bisa membuka aib Hesti, tapi Serli merasa kecewa karena tidak melihat Hesti sedih sedikit pun.
"Ternyata kamu memang tidak tahu malu ya, menjadi mantan Narapidana saja kamu bangga," sindir Serli, dan Hesti hanya tersenyum menanggapi perkataan Serli.
"Kenapa saya harus malu? Setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan, karena manusia adalah tempatnya salah dan dosa, yang penting kita jangan sampai melakukan kesalahan yang sama di masa mendatang, dan itu adalah kata-kata mendiang Teman saya yang akan selalu saya ingat dalam seumur hidup saya."
"Sebaiknya kita semua menjaga dompet dan barang-barang berharga kita, kita harus berhati-hati, karena sekarang di sini ada pencuri, siapa tau dia berniat mencuri lagi," ujar Serli dengan tertawa.
"Cukup Serli, kamu sudah keterlaluan," ujar Irwan yang sudah merasa geram dengan perkataan Serli, tapi langkah Irwan untuk naik ke atas panggung terhenti ketika Hesti menyebut namanya.
"Irwan, terimakasih banyak atas semua cinta dan kasih sayang yang telah kamu berikan selama ini, tapi Nona Serli benar, seharusnya kamu terlebih dahulu mencari informasi tentang aku, supaya kamu tidak salah memilih calon Istri, dan aku rasa Nona Serli yang lebih pantas bersanding denganmu," ujar Hesti dengan menitikkan airmata, karena hati Hesti terasa sakit ketika harus melepaskan cinta pertamanya.
Serli sudah tersenyum bahagia ketika Irwan naik ke atas panggung, karena Serli kira, Irwan akan datang untuk memeluknya dan mengucapkan terimakasih.
"Hesti tunggu, kamu harus mendengar semuanya," ucap Irwan dengan memegang tangan Hesti saat hendak turun dari panggung.
"Serli, aku mengucapkan terimakasih sama kamu, karena malam ini kamu telah membuat aku sadar jika kamu memang tidak pantas untukku. Aku beruntung karena dulu kamu memutuskan hubungan kita demi lelaki yang lebih kaya dibandingkan dengan ku," ujar Irwan, dan bibir Serli yang awalnya mengembangkan senyuman, langsung berubah menjadi cemberut.
"Apa maksud kamu Irwan?" tanya Serli yang merasa malu, karena Irwan sudah membuka aib nya dihadapan orang banyak.
"Apa kamu pikir aku belum tau tentang masalalu Hesti? Kamu salah, karena sejak aku jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Hesti, aku langsung mencari tahu semua informasi tentangnya, dan aku sama sekali tidak mempermasalahkan masalalu Hesti, karena semua orang pasti pernah mempunyai masalalu, tapi yang akan kita hadapi adalah masa depan," ujar Irwan, dan Hesti begitu terkejut ketika mendengar perkataan Irwan.
"Irwan, kamu seharusnya sadar jika aku lebih baik segala-galanya dibandingkan dengan mantan Narapidana seperti perempuan kampung ini," ujar Serli yang tidak terima karena Irwan lebih memilih Hesti.
__ADS_1
"Kamu yang seharusnya sadar diri, kalau Hesti jauh lebih baik dibandingkan dengan kamu. Hesti bahkan tidak malu mengakui kesalahan yang telah dia lakukan di masalalu, dan dia tulus mencintaiku, tidak seperti kamu yang hanya memanfaatkan aku supaya mencukupi semua kebutuhan kamu," sindir Irwan.
Irwan tiba-tiba berlutut di hadapan Hesti, kemudian Irwan mengeluarkan sebuah kotak perhiasan dari dalam saku jas nya.
"Hesti, malam ini aku ingin melamar kamu untuk menjadi Istri dan Ibu dari Anak-anakku, apa kamu bersedia?" tanya Irwan dengan membuka kotak perhiasan yang ternyata berisi sepasang cincin.
Serli sekarang merasa dipermalukan oleh Irwan dan Hesti, padahal tadinya Serli yang ingin mempermalukan Hesti.
"Kamu benar-benar keterlaluan Irwan," ujar Serli, kemudian turun dari atas panggung lalu pergi meninggalkan pesta, dan Serli semakin merasa malu karena semua yang datang ke acara pesta ulang tahun Irwan menyorakinya sebagai perempuan tidak tahu malu dan matre.
Hesti sudah terlihat bingung, karena Hesti merasa takut jika kedua orangtua Irwan tidak merestui hubungan mereka, sampai akhirnya kedua orangtua irwan naik ke atas panggung untuk menghampiri Hesti dan Irwan.
"Sayang, Mama tau kenapa Hesti belum menjawab pertanyaan Irwan. Hesti takut kami tidak merestui hubungan kalian kan? Hesti tenang saja, sebagai orangtua, kami akan selalu mendukung apa pun yang menjadi kebahagiaan Anak kami, dan kami bangga, karena Hesti adalah perempuan yang pemberani, bahkan Hesti tidak malu mengakui kesalahan yang telah Hesti lakukan," ujar Mama Maya dengan memeluk tubuh Hesti.
"Papa juga akan mendukung hubungan kalian, kalau perlu malam ini juga kalian menikah supaya kami bisa segera memiliki Cucu," tambah Papa Andi.
Hesti merasa bahagia, karena ternyata kedua orangtua Irwan tidak seperti yang dia pikirkan.
Hesti tersenyum, kemudian menganggukkan kepalanya, dan Irwan langsung tersenyum bahagia dengan memasukan cincin ke dalam jari manis tangan kiri Hesti, begitu juga dengan Hesti yang memasukan cincin ke dalam jari manis tangan kiri Irwan.
"Terimakasih banyak karena kamu sudah menerima lamaranku," tanya Irwan yang hendak memeluk tubuh Hesti, tapi seperti biasa, Hesti langsung menolaknya dengan menghalangi Irwan menggunakan kedua tangannya.
"Ingat, kita belum muhrim, jadi jangan peluk-peluk," ujar Hesti, sehingga membuat Irwan cemberut dan menjadi bahan tertawa semua orang yang berada di sana.
Setelah acara ulang tahun selesai, Hesti mengajak Irwan untuk berbicara berdua, karena saat ini masih ada yang mengganjal dalam hati Hesti, yaitu tentang penyebab kematian Suci.
"Irwan, sebenarnya masih ada yang mengganjal dalam hatiku," ucap Hesti yang memberanikan diri untuk bertanya.
"Jangan bilang kamu menyesal karena telah menerima lamaranku?" tanya Irwan dengan memicingkan matanya.
"Aku ingin bertanya tentang penyebab kematian Suci, dan aku harap kamu akan menjawabnya dengan jujur. Apa benar kalau kamu yang sudah menabrak Suci sehingga menyebabkan Suci meninggal dunia?" tanya Hesti.
__ADS_1
Irwan menghela nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan Hesti, karena Irwan tau betul arti Suci untuk Hesti.
"Hesti, maafkan aku, karena saat itu aku juga tidak mengira jika Erwin malah menabrak Suci, padahal tadinya kami berencana akan menculik Suci dan menjauhkannya dari Arya supaya Suci tidak melaporkan kejahatan yang telah kami berempat lakukan kepada Suci."
Hesti terkejut ketika mendengar jika Erwin lah yang sudah menabrak Suci.
"Jadi bukan kamu yang sudah menabrak Suci? Padahal selama ini aku pikir kamu yang sudah menabrak Suci dan menyebabkan Suci meninggal dunia, makanya dari awal aku sudah berniat untuk membalas dendam kematian Suci kepadamu dengan membuat kamu patah hati," ujar Hesti.
"Jadi selama ini kamu hanya berpura-pura mencintaiku dan kamu ingin membuat aku patah hati? Kamu benar-benar keterlaluan, aku tidak menyangka kamu akan sejahat itu terhadapku. Tega-teganya kamu mempermainkan perasaanku," ujar Irwan, kemudian berdiri untuk meninggalkan Hesti, tapi Hesti tiba-tiba memeluk tubuh Irwan dari belakang sehingga menghentikan langkah Irwan.
"Irwan, maafkan aku. Awalnya memang seperti itu, tapi ternyata aku sudah terjebak dalam permainanku sendiri, karena aku sudah jatuh cinta kepadamu," ucap Hesti dengan menangis.
Irwan tersenyum mendengar pengakuan Hesti, karena sebenarnya Irwan hanya berpura-pura marah supaya Hesti mengakui perasaannya.
Irwan membalikan badannya, kemudian memeluk tubuh Hesti dengan erat.
"Sayang, jangan nangis ya, aku hanya pura-pura marah, karena aku ingin mendengar kamu mengungkapkan perasaan kamu yang sebenarnya. Hesti, sebelumnya aku selalu dihantui perasaan bersalah karena telah melakukan dosa yang sangat besar terhadap Suci, sampai akhirnya saat aku melakukan perjalanan dinas ke Kalimantan, aku mengetahui fakta kalau ternyata Suci masih hidup," ujar Irwan dengan mengusap lembut airmata yang terus menetes pada pipi Hesti.
"A_apa, jadi Suci masih hidup? Kamu jangan bercanda Irwan, jelas-jelas satu tahun yang lalu kami melihat sendiri jenazah Suci, bahkan aku mengikuti prosesi pemakamannya. Kalau memang Suci masih hidup, kenapa dia tidak kembali kepada kami?" ujar Hesti yang tidak percaya dengan perkataan Irwan.
"Setelah Erwin menabrak Suci, Suci mengalami amnesia, dan saat itu Rian yang menemukannya. Rian sengaja memalsukan kematian Suci dengan memberikan identitas Suci pada mayat perempuan yang tidak dapat dikenali, kemudian Rian membawa Suci pergi jauh dari Arya dan Rizky."
"Kenapa Rian tega sekali melakukan semua itu, pantas saja saat aku menelpon Rian untuk memberitahu kematian Suci, perempuan yang Rian akui sebagai Istrinya memiliki suara yang mirip sekali dengan Suci. Aku harus segera memberitahu Bu Rita, kalau Suci kami masih hidup," ujar Hesti dengan tersenyum bahagia.
"Sayang, sebaiknya kita merahasiakan dulu masalah ini dari siapa pun juga, karena Arya memintaku untuk melakukan semua itu sampai nanti ingatan Suci kembali. Kalau mau, besok kita temui Suci di Jawa Timur, karena kebetulan besok aku ada perjalanan dinas ke sana," ujar Irwan kemudian menceritakan secara detail tentang Suci yang saat ini berada di Jawa timur, juga Arya dan Rizky yang pindah ke Jawa timur.
"Daripada menunggu besok, bagaimana kalau kita berangkat sekarang saja? Aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengan sahabat karib ku," ujar Hesti yang begitu bersemangat karena akan segera bertemu dengan Suci, meski pun kemungkinan besar, jika nanti Suci juga tidak akan mengingat Hesti.
*
*
__ADS_1
Bersambung