
Suci dan Arya yang mendengar berita dari Papa Ferdi bahwa Bu Rita saat ini dalam keadaan koma, memutuskan untuk menjenguknya.
"Papa emangnya udah gak pusing lagi?" tanya Suci dengan memegang dahi Arya.
"Papa sudah merasa lebih baik Ma. Sebaiknya kita berangkat sekarang mumpung masih sore, kasihan Anak-anak kalau ditinggal terlalu lama," ujar Arya dengan menggandeng Suci ke luar dari kamar.
Sebelum berangkat menuju Rumah Sakit, Suci dan Arya menitipkan Anak-anak pada Bi Sari dan dua Asisten rumah tangga nya.
"Bi, kami titip Anak-anak ya, kami juga perginya cuma sebentar. Sayang sayangnya Mama sama Papa jangan rewel ya," ujar Suci, kemudian bergantian menciumi ke empat Anak yang saat ini ada di rumahnya, karena Putri juga masih berada di sana.
"Iya Nyonya, kami pasti akan menjaga Anak-anak dengan baik," ujar Bi Sari.
Suci sebenarnya merasa takut jika meninggalkan Anak-anak, apalagi Rizky, Iqbal dan Putri lagi aktif-aktifnya belajar berjalan, sedangkan Arsyila baru bisa tengkurap.
"Mama tenang saja, Bi Sari dan yang lainnya pasti bakalan menjaga Anak-anak dengan baik," ujar Arya dengan menggenggam erat tangan Suci, karena Arya tau kegelisahan yang saat ini Suci rasakan.
"Iya Pa, semoga saja tidak terjadi sesuatu yang buruk, entah kenapa dari tadi perasaan Mama tidak enak terus."
"Mama harus banyak istighfar, bukannya Mama selalu bicara seperti itu sama Papa," ujar Arya dengan tersenyum.
"Astagfirullah, makasih banyak ya, Papa sudah mengingatkan Mama," ucap Suci yang merasa lebih tenang setelah beberapa kali membaca istighfar dan dzikir.
Setelah menempuh setengah jam perjalanan, Suci dan Arya akhirnya sampai di Rumah Sakit, dan keduanya langsung menuju kamar perawatan Bu Rita.
Sebelum masuk ke dalam kamar perawatan Bu Rita, keduanya mengetuk pintu serta mengucap salam terlebih dahulu, kemudian Arya dan Suci menghampiri Papa Ferdi yang terus menggenggam erat tangan Bu Rita.
"Om, bagaimana keadaan Ibu?" tanya Suci dengan mencium punggung tangan Papa Ferdi.
"Seperti yang kalian lihat, Rita masih belum sadarkan diri juga, padahal Alina sudah sadar dari kemarin," jawab Papa Ferdi dengan tertunduk sedih.
"Om yang sabar ya, semoga Ibu bisa cepat sadar juga," ujar Suci yang di Amini oleh Arya dan Papa Ferdi.
Suci duduk di kursi yang berada di samping ranjang pesakitan Bu Rita, kemudian Suci menggenggam erat tangan Bu Rita.
"Bu, kenapa Ibu belum bangun juga? Apa Ibu tidak merindukan kami?" ucap Suci dengan airmata yang menetes pada pipinya.
Beberapa saat kemudian, secara perlahan Bu Rita mulai membuka matanya.
"Suci sayang, jangan menangis Nak," ucap Bu Rita dengan lirih.
__ADS_1
Papa Ferdi tersenyum bahagia melihat Bu Rita yang sudah sadar, kemudian Papa Ferdi bergegas menekan tombol untuk memanggil Dokter.
"Mas, bagaimana kondisi Alina?" tanya Bu Rita.
"Alhamdulillah dari kemarin Alina sudah sadar," jawab Papa Ferdi.
"Mas, terimakasih ya sudah menjagaku. Tolong jaga Anak dan Cucu cucu kita," ucap Bu Rita.
"Kenapa kamu berkata seperti itu Rita? Kamu pasti akan sembuh, dan kita akan membesarkan Cucu cucu kita bersama-sama," ujar Papa Ferdi dengan menangis, karena Papa Ferdi takut terjadi sesuatu yang buruk kepada Bu Rita.
Beberapa saat kemudian Dokter masuk ke dalam kamar perawatan Bu Rita, lalu Dokter memeriksa kondisi Bu Rita.
"Dok, bagaimana keadaan Rita? Kenapa Rita terlihat lemah?" tanya Papa Ferdi.
Dokter beberapa kali mengembuskan nafas secara kasar sebelum menjawab pertanyaan Papa Ferdi.
"Maaf Tuan, saat ini kondisi Nyonya masih belum stabil, sepertinya setelah melakukan donor ginjal, Nyonya mengalami komplikasi," jawab Dokter.
"Kenapa bisa seperti itu?" teriak Papa Ferdi dengan menarik kerah kemeja Dokter.
Arya bergegas menghampiri Papa Ferdi untuk menenangkannya.
"Sabar Om, emosi tidak akan bisa merubah keadaan. Dok, tolong lakukan yang terbaik untuk kesembuhan Bu Rita," ujar Arya.
"Tidak, Rita pasti akan baik-baik saja," ujar Papa Ferdi dengan menggenggam tangan kanan Bu Rita, sedangkan Suci memegang tangan kiri Bu Rita dengan terus melafalkan do'a.
Arya memeluk tubuh Suci yang tengah menangis untuk memberinya kekuatan, Arya juga sebelumnya telah menelpon Irwan supaya memberitahukan kondisi Bu Rita kepada Hesti.
"Ibu harus kuat, Ibu harus kembali sehat," ucap Suci.
"Nak, terimakasih banyak ya atas semua kebaikan Suci, Suci juga selalu membantu Ibu ketika Ibu dalam kesusahan. Semoga Suci dan semuanya selalu diberikan kebahagiaan," ucap Bu Rita dengan suara yang semakin melemah.
"Ibu jangan terlalu banyak bicara, Ibu pasti akan baik-baik saja. Dok, tolong lakukan sesuatu," ujar Suci dengan memeluk tubuh Bu Rita.
"Maaf Nyonya, semua ini sudah di luar kuasa kami, karena kondisi Pasien sudah tidak bisa diselamatkan lagi," ucap Dokter dengan lirih.
Beberapa saat kemudian, terdengar suara seseorang membuka pintu kamar perawatan Bu Rita, dan ternyata Farel mengantar Alina yang terus memaksanya ingin bertemu dengan Bu Rita.
Alina yang duduk di atas kursi roda, merasa bingung ketika melihat semua yang berada di kamar perawatan Bu Rita menangis.
__ADS_1
"Pa, bagaimana kondisi Ibu?" tanya Farel, tapi Papa Ferdi diam tanpa menjawab pertanyaan Farel.
"Sebaiknya sekarang kita semua berdo'a untuk kesembuhan Bu Rita, karena kondisinya sudah semakin lemah," ujar Arya.
Alina yang mendengar perkataan Arya langsung menangis dengan berhambur memeluk tubuh Bu Rita yang saat ini terbaring lemah di hadapannya.
"Ma, bangun Ma, Mama tidak boleh tinggalin Alina. Maafin Alina Ma, Alina janji akan menjadi Anak yang baik seperti yang Mama inginkan, tapi Mama harus sembuh. Apa Mama tidak mau memeluk Alina?" ujar Alina dengan menggoyangkan tubuh Bu Rita.
Bu Rita mencoba mengelus kepala Alina dengan sisa tenaga yang beliau miliki, dan Bu Rita merasa bahagia mendengar Alina memanggilnya dengan sebutan Mama.
"Alina sayang, maafin Mama ya Nak, semoga Alina selalu bahagia. Mama sayang sama Alina," ucap Bu Rita dengan menitikkan airmata.
"Seharusnya Alina yang minta maaf sama Mama, karena Alina selalu menyakiti Mama, bahkan Mama sampai seperti ini karena sudah berkorban untuk Alina."
"Hanya itu yang bisa Mama lakukan untuk Putri kecil Mama, Alina harus sembuh. Sekarang Mama sudah bisa beristirahat dengan tenang. Terimakasih karena Alina sudah mau memanggil Ma_ma," ucap Bu Rita dengan suara terbata, dan Bu Rita tersenyum bahagia sebelum mengembuskan nafas terakhirnya.
"Ma, bangun Ma. Dokter, kenapa Mama saya tidak sadarkan diri?" ujar Alina dengan menangis.
Farel mencoba menjauhkan Alina dari Bu Rita, begitu juga dengan Arya yang mencoba menjauhkan Suci, karena saat ini Dokter hendak memeriksa kondisi Bu Rita.
"Mohon maaf, tapi Pasien sudah mengembuskan nafas terakhirnya. Sus, catat waktu kematian Pasien," ujar Dokter.
"Tidak, tidak mungkin Mama meninggal. Ma, bangun Ma, Mama tidak boleh ninggalin Alina," teriak Alina dengan menangis histeris, dan Farel memeluk tubuh Alina berusaha untuk menenangkannya.
"Innalillahi waina ilaihi raji'un," ucap Suci dan Arya secara bersamaan, kemudian Suci menangis dalam pelukan Arya.
Tubuh Papa Ferdi seketika terasa lemas, karena sekarang separuh jiwanya telah pergi menghadap ilahi.
"Rita, maafkan aku Rita," ucap Papa Ferdi dengan terus memegangi tangan Bu Rita.
"Maaf Pak, kami harus segera membawa jenazah," ujar Perawat dengan mencoba melepas tangan Bu Rita dari Papa Ferdi.
Ketika Perawat hendak menutup tubuh Bu Rita dengan kain putih, Alina mencoba menghalanginya.
"Mama saya belum meninggal, kalian tidak boleh membawanya," teriak Alina.
"Cukup Alina, kamu adalah penyebab kematian Mama kamu, puas kamu karena sudah membuat Rita meninggal dunia?" teriak Papa Ferdi dengan memegangi dadanya yang tiba-tiba terasa sakit.
*
__ADS_1
*
Bersambung