Suci Tak Lagi Suci

Suci Tak Lagi Suci
Bab 154 ( Pengasuh untuk Putri )


__ADS_3

Suci menelpon Bu Inah untuk berbicara dengan Ayu, karena Ayu tidak memiliki handphone, apalagi selama ini Ayu tinggal di Pesantren, jadi Ayu tidak terlalu mengenal dunia luar.


Ayu sebenarnya merasa ragu untuk menerima tawaran Suci, tapi setelah memikirkan semuanya dengan matang, Ayu ingin mencoba untuk lepas dari bayang-bayang masalalunya yang menyakitkan, dan mungkin dengan pergi jauh dari kampung halaman, secara perlahan Ayu bisa melupakan mendiang Suaminya.


Keesokan paginya..


Pak Maman mengantar Ayu menuju rumah Suci, karena kebetulan Farel dan Putri menginap di kediaman Argadana.


"Sayang, Daddy berangkat kerja dulu ya, Putri baik-baik sama Tante Suci. Ingat, Putri jangan sampai membuat Tante Suci repot," ujar Farel dengan mencium Putri sebelum berangkat.


"Iya Dad, Putri akan nurut sama Tante Suci."


Farel merasakan sesak dalam dadanya ketika melihat keharmonisan rumah tangga Arya dan Suci, karena sebelumnya Farel tidak pernah merasakan perhatian dari seorang Istri yang menyiapkan sarapan juga memasangkan dasi sebelum berangkat kerja.


Arya beruntung sekali memiliki Istri sebaik Suci, seandainya saja Alina bisa seperti Suci, tapi semua itu sangat mustahil, ucap Farel dalam hati.


Tubuh Farel terasa lemas ketika mengingat perlakuan Alina selama ini, dan Farel terus saja melamun sampai-sampai Farel tidak fokus berjalan hingga menabrak seseorang.


Brugh


Farel menabrak Ayu yang baru saja turun dari mobil sehingga membuat dahi keduanya berbenturan.


"Awww," pekik Ayu dan Farel secara bersamaan dengan memegangi dahi mereka.


"Maaf Mbak, saya tidak sengaja," ucap Farel.


"Tidak apa-apa Mas," ucap Ayu dengan tertunduk, karena Ayu selalu menjaga pandangannya terhadap lawan jenis.


Cantik juga. Siapa ya perempuan ini? batin Farel.


Arya dan Suci menghampiri Farel dan Ayu yang saat ini berada di dekat mobil Pak Maman, sedangkan Pak Maman masih sibuk menurunkan oleh-oleh untuk keluarga Suci.


"Ayu, kamu apa kabar? kamu baik-baik saja kan?" tanya Suci dengan melakukan cipika-cipiki kepada Ayu.


"Alhamdulillah baik Teh, saya juga tidak apa-apa. Teteh sama keluarga baik juga kan?" tanya Ayu.


"Alhamdulillah kami juga baik," jawab Suci dengan tersenyum.


Jadi dia yang akan menjadi Pengasuh Putri? Ternyata wajahnya cantik sesuai namanya. Eh, kenapa aku jadi muji-muji perempuan lain ya? Sadar Farel, kamu masih memiliki Istri, ucap Farel dalam hati.


"Jangan bilang penyakit lama kamu kambuh lagi kalau lihat cewek cantik?" bisik Arya pada telinga Farel, dan Farel yang mendengarnya hanya nyengir kuda.

__ADS_1


Suci, Arya dan Farel menjabat tangan Pak Maman yang datang menghampiri mereka.


"Sayang, sebaiknya Mama ajak Pak Maman sama Ayu masuk, Papa mau berangkat sekarang. Maaf ya Pak, saya tidak bisa menemani Bapak. Bapak jangan sungkan, anggap saja rumah sendiri," ujar Arya dengan membuka pintu mobil.


"Pa, bekal makan siangnya ketinggalan, Mama sekalian buatin juga buat Farel," ujar Suci dengan menghampiri Arya.


"Makasih sayang," ujar Arya dengan menghujani Suci dengan ciuman.


"Woy cepetan, apa kalian sengaja ingin pamer kemesraan," teriak Farel yang sudah duduk di belakang kemudi.


"Gak usah ngegas, bilang aja kamu iri," ujar Arya dengan cengengesan.


Arya mengucapkan salam saat masuk ke dalam mobil, kemudian Suci melambaikan tangannya saat mobil yang Arya dan Farel tumpangi melaju menuju Argadana Grup.


Suci mengajak Pak Maman dan Ayu masuk ke dalam rumah, dan keduanya begitu takjub melihat keindahan rumah Suci yang begitu mewah.


"Nak, ini ada sedikit oleh oleh dari kampung," ujar Pak Maman dengan memberikan pisang, singkong, dan beberapa buah buahan lainnya yang beliau bawa.


"Makasih banyak Pak, gak enak jadi ngerepotin," ujar Suci dengan menerima oleh-oleh dari Pak Maman, kemudian Suci memanggil Asisten rumah tangganya untuk membawanya ke dapur serta membuatkan minuman untuk Pak Maman dan Ayu.


Ketika melihat Pak Maman dan Ayu melepas sandal, Suci menyuruh Pak Maman dan Ayu untuk memakai sandalnya ke dalam rumah.


"Ayu, Pak, sandalnya tidak usah dilepas," ujar Suci.


Suci mempersilahkan Pak Maman dan Ayu untuk duduk, dan beberapa saat kemudian Asisten rumah tangga Suci datang dengan membawakan minuman serta aneka kue.


"Silahkan diminum Pak, Yu," ujar Suci.


"Nak, kenapa rumah sepi sekali?" tanya Pak Maman.


"Mama, Papa sama Oma masih belum pulang melayat kerabat kami yang berada di luar kota, sedangkan Anak-anak sedang bermain di Taman belakang," jawab Suci.


Beberapa saat kemudian, ketiga Anak Suci dan Putri datang menghampiri Suci ke ruang tamu.


"Sayang, salim dulu sama Kakek dan Teh Ayu," ujar Suci kepada Anak-anaknya.


Semuanya bergantian mencium punggung tangan Pak Maman dan Ayu, kemudian keempat Anak tersebut duduk di samping Suci.


"Alhamdulillah sekarang Anak-anak sudah besar. Sudah lama Kakek tidak bertemu dengan kalian," ujar Pak Maman.


"Iya Pak, Alhamdulillah. Suci juga kangen sekali sama Ibu. Gimana kabar semuanya Pak?" tanya Suci.

__ADS_1


"Alhamdulillah Ibu sama semuanya baik-baik saja. Asep, Susi dan kedua Anak mereka juga minggu kemarin main ke Bekasi," ujar Pak Maman.


"Jadi Asep sama Susi udah punya dua Anak Pak?" tanya Suci.


"Iya Nak, Anak pertama mereka laki-laki berumur empat tahun, Anak kedua perempuan baru berusia dua tahun. Bapak bersyukur karena rumah tangga Asep dan Susi begitu harmonis, dan semua itu berkat kebaikan Nak Suci dan Nak Arya," ujar Pak Maman.


"Kami hanya bisa membantu sebisa kami Pak, dan kami ikut bahagia mendengar semuanya bahagia. Ayu, Teteh minta maaf karena saat Suami Ayu meninggal dunia, Teteh tidak bisa datang untuk melayat. Ayu yang sabar ya, semoga Ayu selalu diberikan keikhlasan," ucap Suci.


"Iya Amin Teh, semoga saja dengan kerja di Jakarta, Ayu secara perlahan bisa melupakan mendiang Suami Ayu," ucap Ayu dengan tertunduk sedih.


"Oh iya, Putri, nanti Teh Ayu yang akan menemani Putri di rumah," ujar Suci.


Putri mendekati Ayu, kemudian Putri memeluk tubuh Ayu yang terlihat sedih.


"Teteh jangan sedih ya, sekarang ada Putri yang akan selalu menemani Teteh," ujar Putri dengan tersenyum.


"Makasih ya," ucap Ayu dengan tersenyum kepada Putri.


Alhamdulillah, sepertinya Ayu dan Putri cocok, jadi keduanya tidak akan merasa kesepian lagi, ucap Suci dalam hati.


......................


Ketika sampai Argadana Grup, Farel dan Arya dikejutkan dengan kedatangan Karin, mantan Sekretaris Irwan yang sudah lama naksir Farel.


"Pagi Tuan Arya, Tuan Farel," ucap Karin dengan membungkukkan badannya.


"Karin, sedang apa kamu di sini? Memangnya kamu tidak kerja di Kantor Irwan?" tanya Farel


Sejak Irwan ke luar dari Argadana Grup, Karin ikut Irwan pindah ke perusahaannya, karena Karin tidak sanggup jika terus bertemu dengan Farel.


"Karin, akan menjadi perwakilan perusahaan ku dalam kerjasama kali ini," ujar Irwan yang baru turun dari mobil.


Irwan sengaja ingin mendekatkan Farel dan Karin, karena Irwan tau betul jika sampai saat ini Karin masih mencintai Farel.


Sebelumnya Karin sempat menikah supaya dia bisa melupakan Farel, tapi ternyata semua itu sia-sia, dan Karin hanya menikah beberapa bulan saja karena tidak bisa melupakan bayang-bayang Farel yang selalu mengisi hatinya.


Si Irwan kayaknya sengaja mau deketin aku sama Karin. Aku tidak mungkin menjadikan Karin sebagai pelarian, tapi aku juga harus mencoba saran Irwan untuk membalas perbuatan Alina, supaya Alina tau bagaimana rasanya jika dia diselingkuhi, ucap Farel dalam hati.


*


*

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2