Suci Tak Lagi Suci

Suci Tak Lagi Suci
Bab 210 ( Gara-gara mangga muda )


__ADS_3

Semuanya terlihat bingung ketika mendengar pertanyaan Arsyi, karena mereka tidak mungkin menjelaskan tentang perkataan Cindi.


"Bang, Adik ipar kita polos banget ya, masa gak tau gunung kembar," bisik Cindi pada Rojali.


"Kamu sih kalau ngomong suka asal jeplak, kasihan Arsyi jadi kebingungan begitu," bisik Rojali.


Iqbal mencoba mengalihkan pembicaraan supaya Arsyi melupakan perkataan Cindi.


"Tuan Putri gak usah mikirin perkataan Mpok, sekarang Ayah bakalan naik pohon mangga demi Bunda," ujar Iqbal.


Arsyi sebenarnya khawatir karena sebelumnya Iqbal belum pernah manjat pohon, tapi kali ini Arsyi benar-benar ingin makan mangga muda yang dipetik sendiri oleh Iqbal.


Iqbal berusaha mencari pohon mangga yang paling pendek, kemudian secara perlahan Iqbal mulai memanjat, meski pun beberapa kali Iqbal harus terpeleset.


"Ternyata susah sekali manjat pohon," gumam Iqbal.


"Kak, kalau gak bisa gak usah maksain," ujar Arsyi.


"Kakak bisa kok, demi Tuan Putri, apa pun bakalan Kakak lakukan," ujar Iqbal dengan tersenyum, dan Arsyi memutar malas bola matanya, karena sejak keduanya menikah, Iqbal ketularan bucin oleh Arya.


Setelah beberapa kali terpeleset, akhirnya Iqbal berhasil naik, dan mata Arsyi terlihat berbinar ketika melihat Iqbal berhasil memetik mangga muda yang dia inginkan.


"Aduh, bagaimana ini cara turunnya? Kenapa tinggi sekali? Gara-gara mangga muda, aku jadi terjebak di atas pohon kan," gumam Iqbal dengan gemetar ketakutan.


Kepala Iqbal tiba-tiba pusing ketika melihat ke bawah.


"Kak, hati-ha_ti," baru juga Arsyi mengatakan supaya Iqbal hati-hati, Iqbal sudah keburu jatuh karena kembali terpeleset.


"Aduh, sakitnya," teriak Iqbal dengan memegang bokongnya yang terasa sakit, apalagi kepala Iqbal benjol karena ketiban mangga yang jatuh tepat di kepalanya.


Arsyi, Rojali dan Cindi langsung menghampiri Iqbal, tapi Arsyi bukannya menolong Iqbal, melainkan bergegas mengambil mangga muda yang ada di tangan Iqbal.


"Tong, kamu gak apa-apa kan?" tanya Rojali dan Cindi secara bersamaan.


Iqbal masih belum menjawab pertanyaan kedua Kakaknya, karena dia terus melihat Arsyi yang langsung mengambil mangga muda dari tangannya, apalagi Iqbal merasa ngilu ketika melihat Arsyi makan mangga muda tanpa berkedip.


"Iqbal tidak apa-apa. Yang penting Arsyi bahagia," jawab Iqbal dengan tersenyum, karena pengorbanannya tidak sia-sia.


"Makasih banyak mangga nya Ayah, ini enak sekali," ucap Arsyi, padahal orang yang melihatnya merasa ngilu.


"Iya sama-sama Bunda. Sayang, apa itu tidak asam?" tanya Iqbal dengan menelan air ludahnya, karena baru melihat nya saja mulutnya sudah mengeluarkan air liur.

__ADS_1


"Enggak kok, ini manis. Apa Kakak mau coba?" tanya Arsyi.


"Enggak, Arsyi habisin saja. Nanti kalau kurang kita bawa pulang semuanya," ujar Iqbal.


"Orang ngidam emang berbeda, baru lihat saja gigi ku langsung ngilu," ujar Cindi.


"Kalau pakai garam atau sambal sepertinya lebih enak," gumam Arsyi.


Iqbal yang mendengar perkataan Arsyi langsung menelpon orang yang ingin memetik mangga supaya membawa garam juga bahan-bahan untuk bikin rujak, dan beberapa saat kemudian ada tiga orang yang datang ke tempat tersebut.


"Bos ini pesanannya," ujar salah satu Anak buah yang Iqbal telpon.


"Makasih ya Bang, nanti uangnya saya ganti," ujar Iqbal.


"Gak perlu Bos, lagian itu saya bawa dari rumah."


"Gak apa-apa Bang, nanti sekalian saya bayar jasa petik mangganya," ujar Iqbal kemudian menghampiri Arsyi dan Cindi yang duduk di atas tikar, sedangkan Bang Rojali membantu memetik mangga.


"Sayang, mau pakai sambal gak mangga nya?" tanya Iqbal dengan duduk di samping Arsyi.


"Emangnya ada?" tanya Arsyi dengan mata berbinar.


"Mpok, cobain rujak nya, ini enak banget," ujar Arsyi yang semakin lahap memakan rujak mangga buatan Iqbal.


"Mpok gak lagi ngidam. Arsyi aja yang habisin," ujar Cindi yang memang tidak terlalu suka pedas dan asam, apalagi Cindi memiliki riwayat penyakit lambung.


Sejak tragedi mangga muda, semakin hari hubungan Iqbal dan Arsyi semakin dekat, bahkan Arsyi sudah kembali ceria seperti dulu lagi.


Hari ini Iqbal sengaja mengantar Arsyi untuk memeriksa kandungan, sedangkan di kediaman Argadana, semuanya sedang bersiap memberikan kejutan untuk Arsyi, karena Iqbal dan yang lainnya ingin mengadakan syukuran empat bulanan sekaligus resepsi pernikahan untuk Arsyi meski pun secara sederhana.


"Kak, kenapa kita harus pergi ke Dokter kandungan sih? Padahal di rumah ada Kak Putri yang bisa memeriksa Arsyi."


"Sayang, Putri sedang sibuk mempersiapkan keberangkatannya ke Amerika, besok katanya Rizky sama Putri mau bulan madu ke Amerika. Bagaimana kalau nanti kandungan Arsyi sudah besar, kita Baby moon juga?" ujar Iqbal.


"Kak, maaf ya Arsyi belum bisa menjadi Istri yang baik, Arsyi masih takut kalau melakukan semua itu," ujar Arsyi yang merasa bersalah, karena selama ini Iqbal pasti tersiksa menahan hasratnya sebagai seorang lelaki.


"Sayang, Arsyi tidak perlu merasa bersalah seperti itu, Kakak akan tetap menunggu samai Arsyi benar-benar menerima Kakak sebagai Suami," ujar Iqbal dengan mengelus lembut kepala Arsyi.


Hari ini Ratu juga sudah membuat jadwal dengan Dokter kandungan tempat Arsyi memeriksakan kandungannya, karena Ratu mengira jika dirinya tengah hamil, apalagi sejak menghabiskan malam dengan Nanda, Ratu tidak pernah datang bulan lagi.


Arsyi dan Iqbal begitu bahagia karena bayi dalam kandungan Arsyi tumbuh dengan sehat, dan keduanya ke luar dari ruang pemeriksaan dengan terus mengembangkan senyuman.

__ADS_1


Arsyi dan Iqbal berpapasan dengan Ratu ketika keduanya ke luar dari ruang pemeriksaan.


"Ratu, apa kamu hamil juga? Kenapa Nanda tidak mengantar kamu?" tanya Arsyi yang tidak melihat keberadaan Nanda.


"Bukan urusan kamu," jawab Ratu dengan ketus, kemudian Ratu masuk ke dalam ruang pemeriksaan.


Sebelumnya Ratu sudah mengirim pesan kepada Nanda untuk memberitahu jika dirinya akan pergi ke Dokter kandungan, tapi Nanda tidak mengangkat telpon Ratu, bahkan tidak membalas pesan yang dikirimkan oleh Ratu, sehingga Ratu merasa iri ketika melihat Arsyi yang di dampingi oleh Iqbal.


"Kak, apa Arsyi salah bicara? Kenapa Ratu berbicara ketus seperti itu?"


"Dari dulu Ratu kan memang seperti itu. Sudah, jangan terlalu dipikirkan. Sekarang Tuan Putri tunggu di sini ya, Kakak mau ngantri obat dulu," ujar Iqbal dengan membantu Arsyi duduk, kemudian Iqbal melangkahkan kaki nya untuk mengantri obat.


Beberapa saat kemudian, Arsyi merasakan sebuah tangan yang menutupi kedua matanya.


"Tebak, aku siapa?" tanya seorang lelaki yang suaranya begitu familiar di telinga Arsyi.


"Na_nanda," ucap Arsyi dengan suara terbata, karena setelah keduanya menikah, Arsyi dan Nanda tidak pernah bertemu lagi.


Arsyi berdiri, kemudian membalikan tubuhnya untuk melihat Nanda, dan Arsyi menitikkan airmata ketika melihat tubuh Nanda yang semakin kurus, bahkan pada wajahnya sudah mulai ditumbuhi kumis dan jenggot.


Arsyi terkejut karena tiba-tiba Nanda memeluk tubuhnya dengan erat.


"Sayang, aku merindukanmu," ucap Nanda.


"Nanda, tolong lepas pelukan kamu. Kita tidak boleh seperti ini, sekarang kita sudah sama-sama menikah," ujar Arsyi dengan mencoba mendorong tubuh Nanda, tapi Nanda tidak mau melepaskan pelukannya.


"Arsyi, aku sudah berusaha melupakan kamu, tapi ternyata aku tidak bisa. Aku tidak sanggup hidup tanpa kamu."


"Nanda, aku mohon lepaskan aku, aku tidak mau Kak Iqbal salah paham."


"Kenapa kamu tega sekali melupakan aku? Bahkan dengan mudahnya kamu melupakan cinta kita," ujar Nanda dengan menangis dalam pelukan Arsyi.


Beberapa saat kemudian, datang seseorang yang begitu murka ketika melihat Nanda dan Arsyi berpelukan.


"Jadi seperti ini kelakuan kalian di belakang ku?"


*


*


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2