
Dalam ruangannya yang besar bergaya minimalis itu, Arga duduk bersandar pada kursi kerjanya yang empuk dan nyaman. Matanya terpejam. Jarinya saling bertaut bertumpu di perutnya. Dia sedikit tidak fokus pada pekerjaannya. Reza, masih setia berdiri di depannya. Menunggu perintah dari atasannya.
"Sebenernya, si bos ini kenapa sih? Dia manggil aku ke sini untuk apa? Ngga mungkin kan cuma buat ngeliatin dia begini?" monolog Reza dalam hati.
Tok tok tok.
Terdengar ketukan dipintu kemudian disusul dengan kemunculan Dian dengan pakaiannya yang tetap seksi. Reza hanya menoleh sekilas. Arga masih dalam mode mata terpejam. Hening. Reza menoleh pada Dian yang menatapnya seolah bertanya ada apa dengan atasannya itu. Reza yang tahu kode dari Dian hanya mengangkat bahunya mengisyaratkan ketidaktahuannya.
"Ehem, maaf Pak." Dian memberanikan diri memberitahukan keberadaannya di sana setelah terdiam beberapa saat.
"Hum." gumam Arga.
Dian yang mendapat sinyal bahwa atasannya sedang baik-baik saja langsung menyerahkan berkas proposal kerjasama yang baru diterimanya sekaligus mengingatkan rapat yang akan dimulai sebentar lagi.
Arga membuka matanya setelah menerima laporan dari Dian. Lalu meminta Dian menyiapkan keperluan rapat hari ini. Dian langsung undur diri.
"Rez!" Reza yang disebut namanya langsung siap siaga.
"Kamu gantiin saya pimpin rapat hari ini. Saya ada perlu di luar." Reza terbengong-bengong karena ulah bosnya itu.
"Lagi?" batinnya menjerit.
Tentu saja menjerit. Setahunya rapat hari ini berhubungan dengan divisi perencanaan dan pemasaran. Rapat yang menguras energi dan memeras otaknya. Divisi ini adalah otak dari masa depan sebuah perusahaan. Bagaimana bisa bosnya ini malah pergi? Dia mendesah. Ingin sekali Reza berteriak. Aaaargh!
"Baik Pak." tapi kata-kata yang terucap dari bibirnya adalah kata-kata penghianatan terhadap dirinya.
Reza keluar dari ruangan Arga dengan perasaan dongkol, gemas, dan penasaran. Ada apa dengan atasannya itu? Kenapa belakangan menjadi gagal fokus?
Beberapa kali dirinya menemukan bosnya itu sedang senyum-senyum sendiri. Mendadak insecure dengan penampilannya. Selalu menanyakan padanya bagaimana penampilannya hari itu, yang sudah pastilah selalu sempurna. Reza berjalan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Apa bosnya itu sedang jatuh cinta?
Reza terbelalak mendapati pemikirannya. Rasanya hal itu mustahil. Kemungkinannya 1 banding 1.000. Mengingat banyaknya wanita cantik, wanita seksi, wanita cerdas, yang disodorkan ibu negara pada bosnya itu tapi tidak ada satu pun yang mampu menarik perhatiannya. Reza mendesah lagi. Ah, Reza jadi sering mendesah jika memikirkan sikap atasannya itu.
Arga mengendarai sendiri mobil pabrikan Jepang miliknya. Tak tentu arah. Dia hanya merasa ingin keluar dan berputar putar saja. Hatinya resah.
Semalam dirinya diminta menginap di rumah sang Ibu setelah mengantarnya berbelanja kebutuhan pokok bulanan. Meski enggan tapi Arga tetap menurutinya.
Malam menjelang, setelah makan malam, Arga menemani sang Ibu menonton acara televisi yang sedang menayangkan berlangsungnya prosesi pernikahan salah satu selebriti tanah air secara live.
__ADS_1
Deg.
Jantung Arga berdetak kencang dan darahnya berdesir ketika layar televisi menyorot prosesi ijab kabul. Ingatannya langsung melayang pada mimpi yang pernah dialaminya beberapa waktu yang lalu. Juga pertemuannya dengan wanita cantik bermata kelinci yang selalu mengusiknya. Arga tersenyum sambil mengelus dagunya yang sudah tak licin lagi karena bulu-bulu halus yang mulai tumbuh dan belum sempat dicukur itu.
"Pantas saja aku seperti mengenalnya." batinnya.
"Gimana bisa kebetulan begitu?" Arga bermonolog dalam hati.
"Atau hanya mirip?" pikirnya.
Arga mengacak-acak rambutnya dan mendesah frustrasi. Tiba-tiba dia pusing. Memikirkan bagaimana mungkin dirinya bermimpi menikah dengan wanita bermata kelinci yang bahkan baru ditemuinya setelah mimpi itu terjadi. Tingkah lakunya jelas saja menarik perhatian sang Ibu yang duduk di sebelahnya.
"Kamu kenapa?" tanya sang Ibu.
"Ngga papa Bu, kepalaku tiba-tiba pusing." ucap Arga beralasan.
"Aku ke kamar dulu Bu." pamit Arga langsung beranjak tanpa persetujuan.
Sang Ibu menggeleng-gelengkan kepala. Dia sebenarnya heran melihat tingkah laku putra semata wayangnya itu. Sedari tadi bertingkah tidak seperti biasanya yang tenang dan terkesan dingin. Tapi kemudian tak ambil pusing.
Arga menghentikan mobilnya di sebuah taman. Tidak berniat keluar. Menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi, matanya menyusuri langit-langit atap mobilnya. Pikirannya melayang pada wanita bermata kelinci. Dia terkekeh mengingat 2 kali bertemu dengan wanita itu, namun tidak dapat menjawab rasa penasarannya. Dia menggelengkan kepalanya. Setiap bertemu dengan wanita itu kenapa lidahnya mendadak kelu? Dan malah terpesona pada mata kelinci itu?
"Ah, iya. Reza pasti bisa diandalkan untuk yang satu ini." pikirnya.
Jam digital di dashboard mobilnya menunjukkan jam setengah 3. Ah, lama juga dia berputar-putar. Mendadak merasa perutnya lapar.
"Ternyata resah menguras energi juga." kekehnya.
Arga mengendarai mobilnya berniat mencari restoran terdekat. Perutnya sudah meronta-ronta minta diisi. Dia ingat kalau dirinya melewatkan jam makan siang.
Drrrt drrrt.
Ponsel Arga bergetar. Nama Reza sang asisten tertera di layarnya.
"Panjang umur nih orang." gumam Arga.
"Hum." Arga menjawab dengan gumaman.
__ADS_1
"Pak, klien kita dari Surabaya akan berkunjung ke kantor, jam berapa anda akan kembali?" tanya Reza to the point.
Reza sudah pasrah saja jika nanti diperintahkan mewakili atasannya itu. Rasa-rasanya hari itu dia ingin berendam dalam kolam air hangat. Tubuh dan pikirannya penat.
"Ganti lokasi pertemuan Rez. Saya tunggu di Rasa Sayang Resto. Saya shareloc. Kamu juga kesini bawa berkas-berkasnya!" perintah Arga.
"Tuh kan?" batin Reza.
Reza menghela napas dan membuangnya dengan kasar berharap penatnya ikut terbuang.
"Baik Pak." lagi lagi bibirnya berhianat.
Reza meminta Dian menghubungi sang klien dan menyiapkan berkas-berkas untuk pertemuan nanti.
Sementara Reza dan Dian disibukkan dengan tugas yang diperintahkan Arga, pria tampan itu malah tengah duduk tenang menikmati makan siang yang terlambat. Itu baru kali pertama Arga mendatangi restoran itu. Lidahnya serasa dimanjakan oleh hidangan yang dipesannya. Sesuai seleranya. Antara lapar dan hidangan yang memang cocok di lidahnya, Arga makan dengan lahap.
Setelah selesai dengan hidangannya, Arga meminta salah satu karyawan membersihkan mejanya. Dia sudah berada di sebuah ruangan privat dengan jendela kaca besar yang menghadap ke arah taman yang asri. Di taman itu juga tersedia beberapa permainan untuk anak anak. Dapat dilihatnya beberapa anak berseru riang sedang bermain perosotan dan ayunan di sana.
Tok tok tok.
Seorang waitres terlihat membuka pintu ruangan dimana Arga berada. Kemudian disusul sosok pria tampan yang tak lain adalah Reza. Di belakang Reza, mengekor seorang pria paruh baya berwajah teduh yang sedang menyunggingkan senyumnya, datang bersama sekretarisnya.
Pertemuan yang berlangsung lebih dari 1 jam hari itu membuahkan kesepakatan yang menguntungkan kedua belah pihak. Pria paruh baya itu tampak sangat mengagumi dan mengakui kemampuan Arga dalam mempimpin perusahaannya dan sering memuji Arga. Terlihat tulus. Arga hanya menyunggingkan senyumnya mendengar pujian yang terlontar dan berjanji akan menjalankan kerjasama mereka dengan sebaik baiknya.
Deg.
Jantung Arga berdetak kencang ketika tanpa sengaja matanya melempar pandang ke arah luar jendela yang menghadap taman. Wanita cantik bermata kelinci itu melenggang dengan langkah sedikit cepat diikuti seorang karyawan restoran itu. Matanya terus menatap ke arah wanita itu.
"Hania?" batinnya.
Dilihatnya Hania mengenakan apron berwarna hitam sebatas pinggang sampai lututnya bertuliskan Rasa Sayang Resto dengan warna kuning menyala yang kontras dengan warna dasarnya. Lamat-lamat didengarnya salah satu karyawan menyebutnya "Bu".
"Dia kerja disini?" tanyanya dalam hati.
Matanya masih mengikuti kemana Hania melangkah hingga hilang dibalik gazebo sebelah taman itu. Baik Reza dan kliennya tidak menyadari sikap Arga. Mereka tampak asik berbincang. Ya. Reza sangat piawai dalam menjamu tamu atasannya itu. Hingga tiba-tiba Arga bangkit dari duduknya hendak menyusul Hania, barulah Reza dan tamunya menoleh ke arahnya.
"Maaf, saya ke belakang sebentar." pamit Arga yang menyadari respon orang-orang di depannya.
__ADS_1
Arga meninggalkan ruangan dengan sedikit terburu-buru. Dirinya tidak ingin kehilangan kesempatan lagi. Dia mencari Hania dan menemukan wanita yang mirip dengan wanita dalam mimpinya itu sedang berada di samping kanan bangunan restoran itu, masih ditemani seorang karyawan tadi. Tampak sedang berbicara pada seorang bocah pria berusia sekitar 10 tahunan, bertubuh kurus tak terawat, dan membawa karung yang sudah kumal. Tak lama kemudian dilihatnya wanita itu berjalan masuk kembali ke dalam restoran diikuti seorang karyawan tadi dan bocah pria itu, melalui samping bangunan menuju ke belakang.
Arga memperhatikan Hania dari jarak yang cukup jauh sehingga dia tidak dapat mendengar percakapan mereka. Tapi, dari bahasa tubuh Hania, Arga dapat menangkap maksud dari percakapan mereka. Senyum Arga mengembang tipis ketika melihat Hania menyerahkan sepiring makanan pada anak kecil yang terlihat sungkan itu. Tak lama seorang karyawan datang membawakan dan menyerahkan seplastik bungkusan yang entah apa isinya pada Hania. Kemudian diberikan pada bocah peia tadi. Dengan malu-malu bocah pria tadi menerima bungkusan itu lalu pergi meninggalkan Hania sambil membungkuk-bungkukkan tubuhnya. Terdengar tawa renyah Hania yang melepas bocah tadi. Entah kenapa, hatinya merasa senang mendengar tawa Hania.