
Sayap kiri adalah julukan untuk kelompok anak buah Arga yang menyelidiki kasus-kasus kejahatan dalam perusahaannya yang akan setia pada tuannya. Tidak terlihat tapi ada. Senyap. Darimana Arga mendapat sekelompok orang-orang itu? Dari jalanan. Sekelompok orang-orang itu dikumpulkan Arga secara tidak sengaja.
Semasa remaja, Arga adalah anak laki-laki yang enerjik dan mudah bergaul dengan siapa saja. Temannya dari berbagai lingkungan. Meski dikenal sebagai anak orang kaya tapi dirinya tidak pilih-pilih dalam berteman. Mereka adalah teman-teman Arga yang pernah dibantunya dan merasa berhutang budi. Tapi Arga tidak pernah pamrih. Dia tulus pada teman-temannya. Itulah kenapa pria yang sudah tampan sejak lahir itu disukai.
Sayap kiri selalu tunduk pada Arga. Mereka bekerja untuk Arga. Dan juga melindunginya. Sekelompok orang yang tampak seperti orang pada umumnya. Tidak mencolok di lingkungannya. Namun memiliki kemampuan istimewa.
Arga tiba di apartemennya 1 jam kemudian. Meninggalkan sang ibu yang belum mau ikut pulang dengannya bersama Hania. Sepertinya wanita paruh baya itu menyukai kekasihnya. Dan ingin lebih mengenal calon menantunya, tentu saja. Arga hanya berpesan pada Hania agar bersikap santai saja dan jangan terlalu diambil pusing setiap omongan ibunya yang kadang suka berlebihan.
"Pak." sapa Reza begitu Arga memasuki apartemennya.
Di sana tidak hanya ada Reza. Satu orang pria berbadan kekar tapi berwajah teduh dan satu lagi pria berkacamata dengan tubuh lebih kecil dari pria kekar tadi ada bersama Reza.
"Bos." sapa kedua pria berbeda ukuran tubuh tadi.
Arga duduk di sofa tunggal di ruang tengah apartemennya. Pria karismatik itu menumpu kaki kanannya di atas kaki kirinya.
"Apa kabarnya pamanku itu Lik?" tanya Arga pada salah satu anak buahnya yang berkacamata yang bernama Kelik.
Kelik adalah salah satu teman yang di kenal Arga di bangku SMP. Dikenal sebagai remaja kalem dan cerdas. Namun berasal dari keluarga pas-pasan sehingga kerap mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari siswa lain yang menganggap diri mereka lebih baik. Argalah yang selalu membela. Karena Argalah, Kelik perlahan diperlakukan baik oleh teman-teman yang lain. Pertemanan mereka terjalin hingga sekarang.
Kelik teman yang setia. Keliklah yang ditugasi Arga untuk memantau Oom Aris. Dia tahu meski pria paruh baya itu mendekam di balik jeruji besi, tapi kaki dan tangannya masih panjang, mata dan telinganya masih awas.
"Ngga bagus, bos. Sepertinya ada yang jadi kepanjangan tangan dan kakinya. Meski dia di dalam sana, urusannya di luar masih berjalan dengan baik. Sepertinya orang itu juga berpengaruh." terang Kelik.
"Jadi siapa dia?" Kelik menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan Arga.
"Petunjuknya mengarah ke perusahaan pusat, Bos." ucap Kelik.
"Bisa siapa saja. Sebaiknya anda berhati-hati. Bisa jadi itu orang terdekat anda lagi." peringat Kelik.
Arga mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Za, gimana Iden?" tanyanya pada Reza.
Reza langsung menyerahkan amplop coklat besar pada Arga. Pria tampan itu langsung membuka amplop itu tanpa banyak bertanya. Seketika keningnya mengernyit. Matanya memicing melihat beberapa foto yang sudah dikeluarkan dari amplop. Di foto itu, seorang pria tinggi bertubuh atletis mirip Iden sedang bercengkrama dengan seorang pria paruh baya bertubuh ceking yang dikenalnya sebagai orang kepercayaan pamannya.
__ADS_1
"Ini, kan?" ucapnya seraya menoleh pada Reza.
Reza menganggukkan kepalanya. Mengiyakan pernyataan Arga.
"Apa hubungannya sama Iden. Kenapa dia nemuin Bahtiar?" tanya Arga, matanya masih menelisik foto itu.
"Itu yang sedang diselidiki, Bos." sahut Johan, pria bertubuh kekar namun berwajah teduh itu.
Johan, pria itu dulunya yang mencopet dompet Arga sewaktu Arga duduk di bangku SMA. Pria yang usianya 4 tahun lebih muda dari Arga itu akhirnya bisa tertangkap oleh beberapa warga yang membantu Arga. Sempat dihajar hingga babak belur dan di bawa ke kantor polisi. Johan kecil sangat ketakutan kala itu, membuat Arga tidak tega dan mencabut laporannya. Bahkan, pria tampan itu malah memberinya sejumlah uang yang banyak untuk biaya pengobatan ibunya Johan yang menjadikan alasannya mencopet.
Johan yang memiliki banyak teman anak jalanan karena sehari-harinya setelah pulang sekolah, dia akan mengamen itu berjanji akan membalas budi Arga. Hingga sekarang Johan setia pada Arga, orang yang dianggapnya telah menyelamatkan nyawa ibunya berkat uang yang diberikan Arga.
Johan sudah 2 minggu ini menyelidiki Iden, meneruskan perintah Arga yang sudah diketahui sahabatnya itu. Arga memgganti anak buahnya yang sudah diketahui sahabatnya itu. Iden dan anak buahnya tidak mengetahui keberadaan Johan, Kelik dan teman-temannya. Karena itulah, Arga memerintahkan Johan.
"Sejak kapan dia berhubungan dengan Bahtiar?" tanya Arga lagi.
"Setahunan ini, Bos." sahut Johan.
"Oh iya, sekretarisnya Pak Iden itu anak kandungnya Pak Bahtiar." ungkap Johan.
"Benarkah?" Arga memicingkan matanya, fakta yang disampaikan Johan membuatnya terkejut.
"Bagaimana menurutmu, Za?" tanya Arga pada Reza yang duduk di kursi di sebelah Arga.
"Saya juga belum pasti, Pak. Tapi sejauh ini Pak Iden sudah banyak berkontribusi untuk perusahaan anda. Bahkan beliau juga membantu anda mengendalikan perusahaan ini selama anda vakum. Dan beliau terbukti dapat dipercaya." sahut Reza mengungkapkan pendapatnya.
Benar. Iden sudah banyak membantunya selama ini. Pria blesteran itu juga selalu menemaninya di masa-masa terpuruknya. Patutkah dia curiga? Jadi, misalkan Iden mencuranginya, untuk apa? Pria itu sama sepertinya, sudah kaya sejak lahir. Hah. Arga menyugar rambutnya. Mengingat jasa dan pengabdian pria flamboyan itu pada perusahaannya, Arga jadi ragu.
"Jadi sekretarisnya Iden itu anaknya Bahtiar lalu diadopsi dokter itu?" tanya Arga datar.
"Iya, Bos." sahut Johan.
"Dan Iden tahu?" lanjut Arga.
"Iya, Bos." sahut Johan lagi.
__ADS_1
Di tempat lain, Hania sedang menemani ibunya Arga berbelanja di sebuah butik ternama yang sudah menjadi langganannya.
"Jeng Anna! Apa kabar? Lama ngga ketemu makin cantik aja, awet muda lagi." sapa pemilik butik ramah.
"Jeng Ranti! Alhamdulillah sehat. Ya iya dong awet muda, wong aku ini gaulnya sama yang masih muda-muda kok." sahut sang ibu berseloroh.
Kedua wanita parruh baya yang sama-sama masih cantik itu bercipika cipiki ria dan berpelukan, saling melepas rindu.
"Eh, siapa tuh? Cantik. Calonnya anak ganteng ya? Kamu ini lho, apa ngga capek nyari-nyariin calon buat anak itu? Jangan suka jodoh-jodohin dia, ini sudah bukan zaman kita lagi. Dia kan sudah mateng, pasti sudah tau mana yang sesuai untuk dirinya. Apalagi dia pernah gagal, pasti lebih selektif dan hati-hati." cerocos wanita paruh baya yang di sapa Ranti oleh ibunya Arga tadi.
Hania yang dari tadi tidak terlalu menghiraukan percakapan dua wanita tua itu seketika menajamkan telinganya tatkala mendengar ibunya Arga itu suka menjodoh-jodohkan kekasihnya dengan banyak wanita.
"Ish! Kamu ini. Udah ngga usah dibahas lagi." sergah sang ibu.
"Hania, sini!" panggil sang ibu.
"Kenalin, nih. Calonnya Arga. Kalau yang ini beneran. Anak itu sendiri yang pilih." ucap sang ibu memperkenalkan Hania.
"Serius!? Arga yang milih? Bukannya dia alergi sama perempuan? Ngga suka deket-deket perempuan?" pemilik butik itu memberondong sang ibu dengan beberapa pertanyaan sekaligus.
Sang ibu hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Jangankan temannya itu, dirinya saja terkejut.
"Hai, Sayang. Panggil aja tante Ranti. Sahabatan sama ibu mertuamu ini dari zaman putih abu-abu. Jadi taulah boroknya. Kalau lagi ngga akur, datang ke tante aja. Nanti tante bantu jinakin ibumu ini." ucap tante Ranti memperkenalkan dirinya sambil berseloroh.
Hania hanya tersenyum menanggapi gurauan tante Ranti. Sementara sang ibu melirik tante Ranti sambil mencebikkan bibirnya.
"Saya Hania, tante." Hania mengulurkan tangannya dan mencium punggung tangan tante Ranti dengan takzim.
"Duh. Sopan banget sih. Coba aja Darren masih single, ya." ucap tante Ranti gemas.
"Enak aja! Ini pilihan Arga sendiri. Ngga boleh untuk yang lain. Cari sendiri kalau mau nikahin Darren lagi!" ucap sang ibu sewot.
Tante Ranti tergelak mendengar protesan sang ibu. Dan lagi-lagi Hania hanya tersenyum. Dia masih dalam tahap menyesuaikan diri dengan ibunya Arga tapi malah sudah dikenalkan pada sahabatnya. Hania jadi merasa harus lebih ekstra menyesuaikan diri.
******
__ADS_1
Thanks for reading!
Like, favoritkan, vote, dan kasih hadiah ya... komen juga boleh 🤗🤗🤗