Yang Terakhir

Yang Terakhir
89. Mengenali Rival


__ADS_3

Tok tok tok.


Ketukan di pintu yang terdengar nyaring di ruangan Iden membuat kegiatan mesum 2 insan beda gender itu terhenti. Iden dengan berat melepas pagutannya di bibir seksi sekretarisnya. Terlihat sekali wajah tampan pria blesteran Indo Belanda itu sangat kesal. Bagaimana tidak? Dirinya sudah lama tidak menikmati tubuh menggodanya Bela. Beberapa hari di luar kota meninjau lahan calon cabang perusahaan Arga, membuatnya berjauhan dengan Bela. Tapi bukan Iden namanya jika hanya menganggurkan si junior begitu saja. Sebagai pria flamboyan penuh pesona, tidak sulit mendapatkan wanita seksi yang diinginkannya. Dimanapun.


Bela segera merapikan pakaian mininya yang sudah berantakan di sana sini akibat ulah Iden dengan napas masih memburu. Wanita itu juga terlihat kesal. Gairahnya yang sudah terpancing harus terhenti saat itu. Wajahnya cemberut tapi masih terlihat cantik di mata Iden.


Klek! Pintu terbuka dari luar menampilkan sosok pria dingin penuh pesona. Arga. Dengan langkah arogan dan tatapan tajam bagai elang, pria tampan itu melangkah menuju sofa di seberang meja kerja Iden, lalu mendudukkan dirinya di sana sembari menumpu satu kakinya di atas kaki yang lain. Tubuhnya disandarkan pada sandaran sofa dengan satu tangan direntangakan pada sandaran sofa itu dan satu tangan lagi di pangkuannya. Kini Arga duduk berhadapan dengan Iden.


Pria itu terlihat mendesah. Mata tajamnya yang bagai mata elang itu menatap tidak suka pada Bela membuat sekretarisnya Iden itu gugup. Iden memahami maksud sahabatnya itu. Arga tidak akan memulai pembicaraan apapun jika wanita seksi itu masih di sana.


"Kamu bisa keluar sekarang." perintah Iden pada sekretarisnya dengan lembut.


Bela seperti terselamatkan. Sejak awal kedatangan bos besarnya di ruangan atasannya itu, tatapan tajamnya terus mengarah padanya. Dia merasa dikuliti. Bukankah seharusnya dia senang ditatap begitu lekat oleh Arga? Tapi tatapan tajam Arga tiap menatapnya membuatnya menciut tapi tak pernah menyurutkan rasa penasarannya.


"Baik, Pak. Saya permisi." ucapnya undur diri.


"Mari, Pak Arga." ucapnya pada Arga, yang sudah pasti diabaikan pria dingin itu.


Arga mendesah lalu terkekeh. Sekretarisnya Iden itu benar-benar membuatnya muak. Tapi dirinya sudah terlanjur berjanji pada Iden untuk membiarkannya di samping sahabatnya itu. Sebenarnya apa yang sedang dicari Iden? Siapa Bela ini? Semua penyelidikannya mengarah pada Viona. Cinta pertama Iden. Tapi apa hubungannya dengan Bela?


"Cih, ternyata Lu bucin juga, Den." batin Arga, pria itu tersenyum geli mengingat Iden yang playboy.


"Kenapa Lu? Bikin horor aja, senyum-senyum sendiri. Hiii..." Iden pura-pura bergidik mengejek Arga.


Arga berdecak menanggapi ejekan sahabatnya itu. Pria yang dikenal dingin dan arogan saat berada di kantor itu berdiri dan pindah duduk ke kursi di hadapan Iden.


"Lu tau Ryan Wijaya?" Arga tidak melupakan tujuannya mendatangi Iden.


"Ryan Wijaya? Apa dia anak pengacara para penguasa itu?" tanya Iden, Arga mengendikkan bahunya pertanda tidak tahu.


Iden menggaruk kepalanya yang mendadak gatal karena tiba-tiba Arga menanyakan seorang pria padanya. Dirinya tidak tertarik. Pria itu adalah pecinta wanita. Kenapa ditanya soal pria?


"Jeruk ngga makan jeruk, Nyet!" sergah Iden.


"Apaan sih, Lu? Gue tanya soal Ryan Wijaya! Otak Lu travelingnya kemana-mana." gerutu Arga.


"Ya abisnya Lu nanya Gue!" seru Iden.


"Terus Gue tanya siapa, Kadal!?" kesal Arga.


Arga bertanya tentang mantan suami Hania pada Iden karena dia tahu Iden memiliki pergaulan yang luas. Pria blesteran itu lebih bebas dibanding dirinya yang sudah harus menjalankan perusahaan keluarganya selepas dirinya menyelesaikan pendidikannya. Baginya tidak ada waktu untuk bermain-main. Apalagi Arga lebih banyak menghabiskan waktu di luar negeri untuk belajar.


Kedua pria itu sama-sama mendengus dan membuang muka ke arah yang berlawanan. Menggelikan memang. Seusia mereka yang sudah menginjak pertengahan kepala 3 masih bertingkah kekanak-kanakan. Tidak memperlihatkan status mereka yang sebagai direktur dan wakilnya. Tapi persahabatan mereka semakin bertambah erat karena tingkah-tingkah absurd mereka itu.


"Ehem!" keduanya berdehem bersamaan. Lalu memperbaiki posisi duduk mereka.


"Mau apa Lu, tanya-tanya Ryan Wijaya!?" ketus Iden.


"Dia mantan suaminya Hania." sahut Arga datar.


"What!?" Iden mengernyitkan keningnya.


Hah. Iden tidak percaya. Ternyata dirinya berada dalam lingkaran yang sama dengan Hania dan mantan suaminya.

__ADS_1


"Gue kenal dia dari Viona." ucap Iden datar.


Viona adalah wanita yang dicintai Iden sewaktu kuliah dan mereka menjalin hubungan cukup lama. Viona diketahuinya berteman dengan Ryan. Dari kekasihnya itulah Iden mengenal Ryan. Hingga hubungannya berakhir dramatis.


Arga mencium bau-bau aroma cemburu ketika Iden menyebut nama Viona.


"Seberapa kenal?" tanya Arga penasaran.


"Ya, sebatas tau aja." sahut Iden malas seperti enggan membahas Ryan.


"Emang Lu udah ketemu mantannya Hania?" tanya Iden, dia juga penasaran.


"Udah. Kemarin. Dan kami berselisih." cerita Arga singkat.


"Ck! Ngga berubah ya Lu. Kalau cemburu suka berlebihan." cibir Iden lalu terkekeh.


"Jadi dia anaknya Harry Wijaya?" tanya Arga mengalihkan topik pembicaraan.


Iden mengangguk. Hah. Pantas saja Hania takut jika mantan suaminya itu akan merebut hak asuh Tiara. Arga ingat betul bagaimana cemasnya Hania setelah kedatangan pria itu. Entah apa yang mereka bicarakan sebelum dirinya datang. Sepeninggal mantan suaminya itu Hania mengadu padanya tidak ingin kehilangan hak asuh putrinya.


"Dia pengacara yang hebat. Jadi calon anak Lu cucunya dia?" Arga menatap Iden kesal karena celetukan pria flamboyan itu, sementara pria itu terkekeh.


Arga berdecak. Terlihat sekali pria tampan itu tidak suka. Dirinya juga hebat. Orang-orang di sekelilingnya juga hebat-hebat. Jadi apa bangganya jika Tiara cucu dari pengacara hebat itu. Bahkan gadis kecil itu lebih membanggakan dirinya dibanding siapapun.


"Apa dia juga pengacara?" Arga ingin memastikan siapa rivalnya.


"Bukan. Dia importir. Bisnisnya juga sedang berkembang bagus. Basisnya di Surabaya." terang Iden singkat.


Jadi pria itu di Surabaya? Pantas saja tidak mengenalnya. Rupanya pengusaha juga. Arga mengangguk-anggukkan kepalanya memahami siapa rivalnya.


Ha! Seketika wajahnya berubah ceria. Sebentar lagi waktunya jam istirahat kantor, dia berpikir meminta pria dewasa itu datang ke restorannya. Dia sudah benar-benar jenuh di sana setengah hari ini. Bermain bersama pria yang sudah dianggapnya sebagai ayahnya, pasti menyenangkan.


"Ma? Oom Arga kalau siang suka ke sini ngga?" tanya Tiara yang masih duduk di sofa panjang sambil meluruskan kakinya dan menyandarkan kepalanya pada lengan sofa itu.


Hania yang sibuk dengan kertas laporan hitung-hitungannya hanya mendongak sekilas pada Tiara.


"Kadang memang kesini, tapi ngga tau sekarang. Kalau senggang pasti mampir." jawab Hania sekenanya dengan fokusnya masih pada kertas-kertas di hadapannya.


"Boleh telpon?" tawar Tiara.


"No." tolak Hania tanpa menoleh.


"Plis..." mohon Tiara dengan wajah memelas tapi Hania hanya menggeleng, tidak menolehkan wajahnya pada putrinya.


"Sayang, jangan seperti ini. Jangan ganggu Oom Arga. 'Kan kita ngga tau Oom sedang apa sekarang, sibuk atau ngga. Oke?" Hania memberi pengertian pada Tiara seraya menatap putrinya itu tanpa beranjak dari kursinya.


Tiara memanyunkan bibirnya. Lalu kembali fokus pada serial kartun di tabletnya. Hania hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Tiara.


Dia mendesah. Bukannya bermaksud ingin mengecewakan putrinya karena tidak mengizinkan kemauannya, tapi Hania merasa tidak enak hati terus-terusan merepotkan pria yang baru beberapa hari yang lalu menyatakan rasa cintanya dan mau bersabar menunggunya membuka hati sepenuhnya. Hania memang sudah menyukai Arga, mungkin juga memcintainya. Hanya saja saat ini, dirinya masih takut terluka.


Wanita cantik itu menghela napasnya dan menghembuskannya perlahan. Lalu melirik jam tangan berkalep coklat yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Jam 11 lebih. Hampir memasuki jam makan siang.


"Mama ke bawah dulu. Kalau perlu apa-apa Tiara langsung nyusul aja ke dapur, ya." pamit Hania yang hanya diangguki Tiara, gadis kecil itu masih kesal.

__ADS_1


Jam makan siang adalah waktu tersibuk bagi setiap rumah makan apapun kelasnya. Dimana setiap orang akan berlomba-lomba memenuhi kebutuhan perutnya demi menunjang kinerja selanjutnya. Waktu istirahat yang singkat harus dimanfaatkan sebaik-sebaiknya. Para petinggi perusahaan pun sering memanfaatkan waktu tersebut untuk menjamu tamunya, disela-sela pertemuan bisnis mereka.


Hania selalu ikut turun tangan membantu chef yang memasak siang itu. Meskipun statusnya sebagai pemilik restoran itu tapi wanita cantik itu tetap ringan tangan membantu.


"Saya ada janji dengan Pak Bono." tiba-tiba suara yang tidak asing menelusup ke telinga Hania yang baru akan memasuki area dapur.


Suara yang dulu terdengar menenangkan dan selalu ditunggu-tunggu, kini terdengar seperti kabar buruk yang tidak ingin didengarnya. Suara yang sangat dihafalnya milik pria yang dulu menjadi pusat hidupnya. Ryan. 


Tanpa ingin menoleh, Hania mempercepat langkahnya meninggalkan ruangan itu. Dirinya tidak ingin bertemu dengan pria itu sekarang. Hah. Kenapa dia di sini? Hania mendesah. Wanita cantik itu khawatir jika mantan suaminya mengetahui keberadaan Tiara di sana. Teringat Tiara masih tenang di ruangannya, dirinya sedikit merasa lega. Meski merasakan cemas juga.


 Dia bersyukur tidak ada satupun karyawannya yang mengenali pria itu. Sehingga tidak menimbulkan kehebohan yang menarik perhatian mantan suaminya. Mereka tahunya, pria itu mengenal Hania karena kedatangannya beberapa waktu yang lalu dan meminta menemuinya langsung di ruangannya. Tidak sulit bagi Ryan untuk mengetahui jika restoran itu milik mantan istrinya.


Hania berusaha untuk fokus pada pekerjaannya kali ini, meski selalu merasa cemas. Dia berharap Tiara tidak turun mencarinya yang nantinya malah bisa bertemu ayah kandungnya yang akan menimbulkan kehebohan.


"Eh, eh... Ada cowo ganteng. Masuk ke ruang privat 2. Uuuh. Bikin klepek-klepek hati adek bang." ujar salah satu karyawan heboh.


Pesona Ryan langsung menjadi bahan perbincangan para karyawan Hania, seperti halnya pria-pria tampan yang masuk ke restoran itu. Karyawan yang mayoritas wanita itu selalu suka melihat pengunjung pria tampan. Sudah pasti akan menjadi bahan ghibah sepanjang hari.


"Ehem! Tapi tetep, numero uno ya Pak Ganteng dong." serunya lagi seraya meringis karena mendapat lirikan Hania.


Hania memutar bola matanya malas mendengar karyawannya memuji Arga karena mengira dirinya tidak suka karyawannya memuji tamu lainnya. Padahal dia hanya merasa karyawannya itu suka berlebihan jika memuji.


Hampir 2 jam berkutat menyiapkan pesanan para tamu restorannya, Hania baru bisa mendudukkan tubuhnya di kursi yang tersedia di sana. Dengan sigap karyawannya membuatkan minuman untuk bosnya itu.


"Diminum Bu." ujar karyawan itu.


"Eh? Tau aja kalau saya haus dan pingin minum ini. Makasih ya." ucap Hania seraya tersenyum lalu menyeruput teh chamomile hangatnya.


Sembari beristirahat dan menghabiskan tehnya, Hania berbincang ringan dan bercanda dengan para karyawannya, hingga tehnya habis. Makanan untuk Tiara yang tadi dimintanya pada Ferry pun sudah siap dibawa Hania ke ruangannya.


Wanita cantik itu baru keluar dari dapur ketika Arga melangkah penuh pesona di bawah tatapan kagum para pengunjung wanita menuju ke arahnya. Senyum dan tatapan pria tampan itu tidak teralihkan dari wanita yang kini sedang ditunggu membuka hati untuknya.


"Mas ke sini? Ngga sibuk?" sapa Hania ketika Arga sudah di dekatnya.


"Sesibuk apapun, aku usahakan meluangkan waktu untukmu." gombal Arga seraya menyunggingkan senyum semanis madunya.


"Udah berani 'nggombal sekarang, ya." kekeh Hania.


"Mas udah makan?" tanya Hania.


"Jelas belum dong. Untuk apa aku jauh-jauh ke sini kalau bukan minta ditemani makan sama kamu." gombal Arga lagi, kali ini Hania tergelak.


"Ngga pantes deh, Mas, kamu 'nggombal kayak gitu." ejek Hania, membuat Arga berdecak.


"Naik dulu deh, ada Tiara di atas. Dia pasti seneng Mas di sini. Udah kangen kayaknya." pinta Hania.


Baru akan menaiki tangga menuju lantai 2, ekor matanya melihat seorang pria yang membuatnya cemburu. Arga menoleh ke arah pria itu dan benar saja. Ryan tengah berdiri di hadapannya dan Hania. Menatap lekat ke arahnya dengan tatapan yang sulit diartikannya. Antara kesal dan cemburu mungkin?


Hania juga menoleh ke arah yang ditatap Arga dengan lekat. Deg. Ryan tengah berdiri di hadapannya sekarang. Pria yang tidak ingin ditemuinya tengah menatapnya dengan tatapan penuh harap.


*******


Thanks for reading!

__ADS_1


Like dan jadikan favorit ya supaya ngga ketinggalan ceritanya 😊🤗🙏


__ADS_2