
Sejak dikabari Hania menghilang, Arga terus menerus uring-uringan. Pria tampan itu melampiaskannya pada anak buahnya yang dianggap tidak becus mengerjakan tugasnya. 2 pria kekar menjadi bulan-bulanan Arga karena mereka lah yang harusnya bertanggung jawab atas keselamatan Hania.
Kedua pria kekar itu pun tak menyangka jika keputusannya menolong seorang nenek-nenek yang sedang kecopetan sewaktu mengawasi Hania yang masih berada di restorannya tadi, membuatnya harus kehilangan jejak kekasih bosnya itu. Mereka bahkan tidak menduga jika nenek-nenek itu bagian dari pengalihan perhatian yang diciptakan oleh rival mereka. Rasa empati dan solidaritas terhadap kaum yang lemah membuat mereka tak pikir panjang mengejar pencopet itu.
"Pergi kalian! Jangan berani liatin muka kalian sampai Hania ketemu!" usir Arga dengan nada suara yang dingin dan penuh penekanan.
Sepanjang malam Arga tak bisa memejamkan matanya meski dirinya lelah. Pikirannya tertuju pada Hania yang kini entah berada dimana. Sebab hingga dini hari, anak buahnya belum menemukan tanda-tanda keberadaan wanita cantik itu. Ditambah lagi, mendadak perasaannya gelisah dan tak nyaman. Dia mengkhawatirkan kekasihnya. Berkali-kali pria karismatik itu menghubungi orang-orangnya tapi tidak ada kabar baik yang diterimanya.
"Sialan lu, Ka! Awas aja kalau Hania sampai kenapa-kenapa!" geramnya.
Reza yang ikut menemani Arga berdiam diri di rumah Hania juga ikut begadang. Sebenarnya pria berwajah manis itu sudah sangat ingin merebahkan tubuhnya yang penat dan cedera, di atas ranjang empuknya dan terbuai dalam mimpi.
"Aaargh! Kenapa lama sekali, sih? Sebenarnya apa yang mereka kerjakan!?" Arga merasa anak buahnya bekerja sangat lambat kali ini.
"Di mana kira-kira lu sembunyiin Hania, bangsat!" gumam Arga seraya menggeletukkan giginya.
Arga mengurut keningnya yang masih pusing. Sejak pagi sudah pusing memikirkan cara menjebak sahabat sekaligus rivalnya, lalu mengalami kecelakaan ketika akan menemui rivalnya membuat keningnya mendapat beberapa jahitan, dan malamnya matanya tak mau terpejam.
Klek!
Suara gagang pintu dibuka dari luar, membuat Hania yang meringkuk sambil terisak pilu itu sedikit menolehkan wajahnya dan melirik ke arah pintu. Seorang wanita cantik berambut pendek dan berpenampilan tomboy memasuki kamar itu. Hania mengenali wanita itu. Wanita cantik itu bangkit dari posisi meringkuknya seraya menutupi tubuh polosnya dengan selimut.
"Pakailah!" ucap wanita tomboy itu seraya meletakkam sebuah paper bag besar di atas ranjang di dekat kaki Hania.
"Kamu? Yang kemarin nanya alamat itu 'kan? Tolong bantu aku keluar dari sini!" pinta Hania dengan suara lirih yang bergetar.
Wanita tomboy itu menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Hania. Sisi kewanitaannya merasa miris menatap kondisi Hania yang berantakan dengan banyak tanda kemerahan di sekitar leher dan dadanya. Bosnya itu pasti sudah bersenang-senang dengan wanita cantik itu.
"Gue ngga bisa! Sebaiknya cepat bersihkan diri lu dan pakai ini." tolak wanita tomboy itu seraya menyentuh paper bag itu.
Dengan cepat wanita tomboy itu membalik badannya dan berlalu dari kamar itu. Dia takut jika lebih lama di dalam sana akan membuatnya berubah pikiran. Bagaimanapun juga sebagai sesama wanita, dirinya tak rela jika kaumnya di perlakukan tidak hormat begitu. Tapi di sisi lain, Raka sudah banyak membantunya bahkan pria tampan itu menganggapnya sebagai adiknya.
Drrrt drrrt drrrt!
Arga menoleh ke arah Reza yang ponselnya berdengung bagai lebah di ruangan hening itu. Jam dinding menunjukkan angka 2. Sudah hampir pagi.
__ADS_1
Reza menerima panggilan dan tidak banyak bicara. Sebagai penerima telepon dirinya lebih banyak diam dan mendengarkan.
"Lokasi Bu Hania ditemukan, Pak. Dia ada di luar kota. Pinggiran Bogor." lapor Reza setelah memutus sambungan ponselnya.
Mendengar kabar keberadaan Hania sudah diketahui, seketika wajahnya terlihat berseri dan semangatnya kembali lagi. Dengan cepat pria karismatik itu bangkit dan berjalan meninggalkan Reza.
Reza segera menyusul Arga yang sudah duduk di belakang kemudi mobilnya.
"Biar saya saja, Pak." tawar Reza.
"Masuk!" Arga malah memerintah Reza untuk segera masuk ke dalm mobil, membuat pria berkaca mata itu menggaruk kepalanya yang mendadak gatal.
"Masuk, Za! Atau kutinggal!" sentak Arga yang melihat Reza malah kebingungan.
Seperti dicocok hidungnya, Reza langsung naik ke mobil dengan cepat. Pria itu sebenarnya sungkan membiarkan atasannya menyetir sendiri tapi juga tidak mau membiarkannya pergi sendirian. Jarak Jakarta - Bogor lumayan jauh. Apalagi kondisi tubuh kedua pria berperawakan sama tegapnya itu sedang lelah.
"Kenapa dia nyembunyiin Hania sampai di Bogor?" gumam Arga tapi masih bisa di dengar Reza
"Hanya itu vila yang dimiliki Pak Raka yang tidak kita ketahui, Pak. Lokasinya juga jauh dari vila yang lain. Karena masih jarang vila di sana, Pak Raka menjadikan vilanya itu sebagai base campnya dan anak buahnya. Itulah kenapa kita sulit mencari keberadaannya bahkan sempat mengira dia ada di luar negeri." terang Reza panjang.
"Kalau sampai terjadi sesuatu pada Hania, aku akan membunuhnya!" suara Arga terdengar berat dan penuh penekanan begitu pula tatapan matanya yang berubah semakin tajam.
Reza hanya dapat menghela napasnya. Di saat begini, dia tidak mungkin bisa menginterupsi Arga. Meski dia tahu pasti apa yang diucapkan Arga akan benar-benar menjadi kenyataan jika Raka terbukti mencelakai Hania.
Ciiit!
Decitan ban mobil Arga terdengar nyaring. Land cruiser itu berhenti tepat di depan sebuah mobil jeep yang di tumpangi anak buahnya. Matahari sudah sepenggalah tingginya ketika Arga tiba di pinggiran kota Bogor.
Kelik dan seorang rekannya, menghampirinya atasannya yang baru tiba itu.
"Bos." sapa Kelik.
"Dimana yang lain?" tanya Arga karena tidak melihat anak buahnya yang lain.
"Mereka sudah berada di sekitar vila Pak Raka. Orang kita tidak sengaja melihat Bu Hania berada di dalam mobil perempuan tomboy itu dalam keadaan tak sadarkan diri saat mengantri di pintu tol dan mengikutinya sampai ke vila itu." terang Kelik yang mengenal wanita berpenampilan tomboy bernama Opi itu.
__ADS_1
Tak heran jika Kelik dan rekan-rekannya mengenali Opi. Pasalnya, wanita tomboy itu kerap terlihat bersama Raka dan beberapa anak buahnya yang lain.
"Tak berselang lama setelah Opi datang, Pak Raka juga tiba di sana. Setelah itu tidak ada lagi yang keluar ataupun masuk ke dalam pekarangan vila itu." lanjut Kelik.
Hari sudah semakin siang. Arga tak ingin membuang-buang waktunya. Meski Reza sudah meminta pria karismatik itu untuk berkoordinasi dengan aparat setempat tapi Arga tak menggubrisnya. Pria itu memilih segera bertindak. Anak buahnya sudah terkoordinir untuk masalah seperti ini. Malah lebih handal dari petugas yang berwenang.
Ting tong!
2 orang anak buah Arga menyamar sebagai petugas perusahaan pemasok aliran listrik di daerah tersebut menekan bel pintu gerbang vila milik Raka. Beralasan ingin memeriksa instalasi di dalam vila besar itu, akhirnya 2 anak buah Arga berhasil masuk.
Bodyguard yang berjaga tidak menaruh curiga sama sekali. Pasalnya, 2 pria yang menyamar itu berperawakan biasa saja, wajahnya tidak sangar dan tubuhnya tidak kekar. Tapi lebih seperti kebanyakan pria pribumi umumnya.
Selang beberapa menit, pintu gerbang itu terbuka lagi. Menampakkan seorang pria yang tadi menyamar. Dengan gesit dan cekatan, Arga dan anak buahnya menyelinap masuk ke dalam vila besar berlantai 2 itu. Beberapa anak buah Raka tampak tergeletak tak sadarkan diri dengan tangan dan kaki yang terikat. 2 pria berperawakan biasa saja tadi lah pelakunya. Meski tubuh mereka tak sekekar rekannya yang lain tapi kemampuan bela dirinya tak bisa diremehkan.
Brak!
Arga menoleh ke arah kanannya, seorang anak buah Raka tengah tersungkur setelah diterjang Reza yang melihatnya akan memukul Arga dengan balok kayu.
"Hati-hati, Pak." ucap Reza yang diangguki Arga.
Pria kekar lainnya mulai bermunculan dan perkelahian pun tak dapat dihindarkan.
"Reza, kamu ikut aku! Kita cari Hania." perintah Arga lalu meninggalkan anak buahnya yang sedang beradu jotos dengan anak buah Raka.
Sampai di lantai 2, Arga menoleh ke kanan dan kiri. Banyak ruangan di lantai itu membuatnya kesulitan menemukan Hania ataupun Raka.
Dor! Dor!
Tepat ketika Arga menoleh ke arah sebuah pintu di sebelah kanannya, dia melihat Raka menodongkan pistolnya ke arahnya dan Reza. Reflek Arga menunduk dan bergerak cepat ke balik pilar lalu meraih pistol yang diselipkan di balik jaketnya. Beruntung tembakan itu luput.
"Reza!" pekik Arga memperingati Reza yang berdiri agak jauh darinya tapi berada dalam 1 garis yang sama.
*******
Thanks for reading!
__ADS_1
Jangan lupa like, favoritkan, vote, dan kasih hadiah ya... komen juga boleh. Untuk dukung terus karya ini.
🤗🤗🤗😘