Yang Terakhir

Yang Terakhir
23. Ada Harapan


__ADS_3

Keluar dari ruangan privat, Hania dan Arga berjalan bersisian. Tak pelak, pemandangan itu menjadi bahan tontonan para karyawan yang masih bersantai karena belum banyak pengunjung. Dari ekor matanya, Hania tahu beberapa karyawan sedang berbisik bisik sambil melirik mereka berdua. Ada juga yang mesam-mesem. Bahkan ada yang mengacungkan jempolnya ke arahnya ketika lirikannya dilihat karyawannya itu.


Hania memang tidak pernah memperlakukan pengunjung restorannya seperti saat dia memperlakukan Arga. Menemaninya makan, berbincang, bahkan Hania mengantar Arga sampai di pintu keluar. Jadi, tak dipungkiri karyawannya pada heboh sendiri.


"Bisakah kita bertemu lagi?" Arga menghentikan langkahnya, menatapnya dan bertanya penuh harap ketika mereka sampai di teras.


Sungguh Hania bimbang. Apakah baik, terus-terusan bertemu pria seksi itu? Apa tujuan pria seksi itu ingin terus menemuinya? Apakah pria itu juga ingin mendekatinya?


Kepala Hania sudah dipenuhi berbagai pertanyaan dan dugaan. Ingin rasanya menegaskan jarak di antara mereka. Melarangnya untuk sering menemuinya. Namun, dirinya menganggukkan kepalanya seraya tersenyum sebagai jawaban dirinya tidak keberatan. Hania mendesah. Kenapa otak dan perasaannya tidak sinkron? Hah.


Kedatangan Hania di area dapur disambut kicauan para karyawannya yang terlihat antusias menunggu ceritanya. Hania memang dekat dengan para karyawannya. Tidak ada sekat di antara mereka.


Mereka bebas mengeluarkan uneg-uneg, bahkan jika ingin menyumbangkan saran dan ide untuk kemajuan restoran pun akan diterima dengan tangan terbuka oleh Hania.


Karena sikap Hania yang seperti itulah para karyawan itu merasa betah bekerja padanya. Meskipun terkesan ceplas ceplos, para karyawan tetap hormat dan segan pada atasan mereka.


"Wuiih, gantengnya ngga kaleng-kaleng ya, Bu, Pak Galih mah lewat." celetuk seorang karyawan.


"E eh, siapa bilang, Pak Galih juga gantengnya ngga kaleng-kaleng, baik banget lagi, ah apalagi senyumnya...aaah... Bikin klepek-klepek", sahut yang lain membela Galih.


"Eh Pak ganteng tadi juga senyumnya bikin klepek-klepek, swiiiiiit pake gula aren." balas karyawan yang pro Arga.


Haduh. Kenapa jadi ribut sendiri begitu sih? Hania mengurut pelipisnya. Mendadak jadi pusing mendengar cuitan para karyawannya.


"Bu Hania, Bu Hania pilih siapa? Pak Galih atau Pak Ganteng barusan?" Hania menoleh pada karyawan yang bertanya.


"Bu, yang deketin ganteng-ganteng semua, bagi rahasianya dong." Hania terkekeh mendengar satu pertanyaan yang dianggapnya konyol.


"Iya Bu, kita kan juga pengen gitu dideketin cowo ganteng." satu karyawannya lagi malah curhat.


"Pak Ganteng tadi siapa namanya, Bu?" tiba-tiba suara berat ikut menimpali pertanyaan karyawan lainnya.


Hah. Ferry. Hania meliriknya kesal. Senyum yang dianggap tengil oleh Hania bertengger di bibir tipis chef macho itu. Dirinya sudah merasa perasaannya tidak enak. Pria yang berusia lebih muda darinya itu pasti bakal menggodainya terus. Nglamak! (Lancang!)


"Kepo aja sih!" sahut Hania sinis.


"Ini kepo banget, Bu, bukan sekedar kepo aja." ujar Ferry terus menggoda, yang malah dapat dukungan dari karyawannya yang lain.


"Jadi, siapa namanya nih? dikenalin dong." goda Ferry lagi karena Hania hanya diam saja.


"Ogah!" ujar Hania sambil melangkah meninggalkan area dapur dengan perasaan kesal, sedangkan Ferry terkekeh.


"Ciyeee... Ngga dikenalin." Ferry semakin terkekeh.

__ADS_1


Sepeninggal Hania, para karyawan pun membubarkan diri. Begitu juga dengan Ferry. Kebetulan jam kerjanya sudah usai.


"Ada yag mau bareng aku ngga?" tawar Ferry pada karyawan yang satu shift dengannya.


"Mas Ferry naik apa?" tanya seorang karyawati.


"Biasalah, Black Panther!" serunya bangga menyebut motor ninja kesayangannya.


"Ah ogah, capek aku mbonceng motor belalang itu. Enak juga naik bebek." sahut karyawati tadi.


Ferry hanya mengendikkan bahu seraya terkekeh mendengar keluhan karyawati tadi yang menyebut motornya dengan sebutan belalang dan membandingkannya dengan bebek. Ada-ada saja. Motor bagus-bagus dibilang belalang. Ferry meninggalkan restoran itu, di susul oleh Hania yang juga bersiap pulang. Sudah cukup lama meninggalkan Tiara di rumah bersama anak tetangganya.


Sementara itu, Arga, hatinya sedang berbunga-bunga. Rasa senangnya tak terdefinisikan dengan kata, hanya bisa meluapkan melalui senyuman dan ******* napas yang terdengar berat. Dadanya terasa penuh hingga sulit bernapas dengan baik, saking bahagianya.


Tingkahnya yang seperti ABG jatuh cinta itu tak luput dari perhatian Mang Diman. Mang Diman, sejak tadi hanya memperhatikan dari kaca visioner seraya menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia tidak tahan untuk sesekali tersenyum menahan geli.


Hingga tiba di halaman rumahnya pun, Arga tidak kunjung turun meskipun sudah diberitahu. Sampai-sampai Mang Diman harus mengetuk kaca mobil sisi tempat Arga duduk, barulah pria yang sedang kasmaran itu tersadar.


Di dalam rumah, Bi Sumi tampak sumringah melihat majikan yang sudah diasuhnya sejak batita itu kembali dengan keadaan sehat wal afiat dan tampak lebih berseri seri.


"Alhamdulillah... Mas Arga sudah pulang, dalam keadaan sehat", sambut Bi Sumi sambil menggenggam kedua tangan Arga dengan mata yang menatap rindu pada pria tampan yang sudah seperti putra baginya.


"Alhamdulillah, iya, Bi, aku sehat." sahut Arga seraya tersenyum.


"Ngga usah, Bi, aku sudah makan barusan, masih kenyang banget. Nanti kalau butuh apa-apa biar aku buat sendiri." tolak Arga.


Arga meninggalkan Bi Sumi menuju kamar yang dirindukannya di lantai 2. Tubuhnya masih terasa penat tapi hatinya tenang. Bertemu Hania membuat hatinya tenang. Senyumnya kembali terbit. Rasa-rasanya dia jadi sering tersenyum karena membayangkan wanita cantik itu.


Malam menjelang, Arga yang kelelahan masih tertidur pulas di ranjang super empuknya. Setelah berendam air hangat tadi sore, dia merasa tubuhnya lebih segar tapi matanya malah mengantuk. Dengan rambut yang masih basah, dia merebahkan dirinya di ranjang besarnya. Membayangkan Hania.


Memikirkan ucapan wanita cantik itu yang tidak memiliki pasangan, dirinya benar-benar merasa lega. Itu artinya masih ada harapan untuknya. Tapi lagi-lagi kata-kata Iden yang mengatakan Hania memiliki seorang putri mendengung bagai lebah di telinganya.


Tidak punya pasangan tapi punya anak? Atau jangan-jangan? Dia punya anak tapi tidak menikah? Atau, dia berpisah dengan pasangannya dan sudah punya anak?


Aargh! Arga mengacak rambutnya yang masih basah. Pikirannya dipenuhi berbagai macam dugaan. Memangnya kenapa kalau dia sudah punya anak? Yang penting kan statusnya tidak terikat dengan pria manapun. Jadi tidak ada sebutan pebinor seperti yang disangkakan Iden.


Arga menghela napasnya dan membuangnya dengan kasar. Dia harus mencari tahu tapi tidak boleh terburu-buru seperti tadi. Kini pikirannya dipenuhi berbagai rencana untuk mendekati wanita bermata kelinci itu. Hingga tanpa terasa matanya sudah terpejam. Dia tertidur dengan berbagai rencana untuk Hania.


Drrrt drrrt drrrt.


Getaran ponsel yang semakin lama semakin jelas terdengar di telinga, memaksa Arga meraba-raba nakas di samping ranjangnya dengan mata yang masih terpejam. Kantuk masih menggelayut manja di pelupuk matanya.


"Hum..." dengan malas Arga menjawab panggilan.

__ADS_1


"Reza bilang lo udah balik. Ngga ngantor lo?" suara diseberang ponsel langsung menyambar.


Arga mendesis mendengar suara berat yang menyapanya. Iden. Ya. Ulah siapa lagi yang membuatnya ingin secepatnya kembali? Mengingat kata-kata Iden kemarin, Arga menjadi kesal.


"Kenapa? Kangen lo sama gue?" tanya Arga sambil memutar bola matanya malas.


Terdengar suara mendecih di seberang ponselnya Arga. Arga mendengus.


"Gue mau nagih janji. Buruan ke kantor", ujar Iden yang dibalas umpatan oleh Arga.


Arga memutus sambungan ponselnya. Dia semakin kesal saja. Melakukan tugas hanya setengah-setengah tapi tagihan janji tetap utuh. Enak saja.


Diliriknya jam digital di atas nakas. Tepat jam 8 pagi. Arga baru akan bangkit dari rebahannya ketika ponselnya bergetar lagi. Dilihat nama Dian, sang sekretaris, terpampang di layarnya.


"Hum..." jawab Arga.


"Ehem... Selamat pagi Pak", sapa Dian seraya menyunggingkan senyum semanis gula seakan akan atasannya itu sedang berdiri di hadapannya.


"Kata Pak Reza, Bapak sudah di Jakarta. Apa benar, Pak?", tanya sang sekretaris.


"Hum." sahut Arga yang masih malas, dirinya merasakan tubuhnya masih lelah.


"Begini, Pak, ada beberapa dokumen yang membutuhkan tanda tangan anda." kata Dian memberitahu situasinya.


"Saya masih lelah. Sepertinya saya akan bekerja dari rumah hari ini. Kamu antarkan dokumennya ke rumah saja." perintah Arga.


"Baik, Pak." Dian menjawab seraya menganggukkan kepalanya masih bersikap seakan-akan Arga ada di hadapannya.


Arga baru saja memutus sambungan ponselnya ketika pintu kamarnya diketuk. Lalu terdengar suara sang ibu memanggilnya.


"Ada apa, Bu? Kenapa pagi pagi kesini?" tanya Arga seraya mencium tangan sang ibu, setelah pintu terbuka.


"Ya ampun Arga, kenapa belum bersiap!? Kamu ngga ke kantor?" bukannya menjawab sang ibu malah bertanya balik.


Sang ibu melangkahkan kakinya memasuki kamar Arga. Mematikan pendingin ruangan lalu membuka pintu balkon. Udara segar langsung menyeruak memenuhi ruangan kamar Arga. Arga langsung masuk ke kamar mandinya, membersihkan diri.


30 menit berlalu, Arga keluar ruangan ganti di kamarnya sudah dalam keadaan rapi dengan pakaian santainya. Celana jins hitam dipadukan kaos polo biru muda. Membuat penampilan Arga lebih segar. Sang ibu sudah tidak terlihat lagi di kamarnya.


"Kamu ngga ke kantor?" tanya sang ibu yang ditemukannya sudah duduk manis di ruang keluarganya ditemani tayangan dramatis dari stasiun tv yang oke punya.


"Aku masih capek, Bu. Hari ini kerja dari rumah aja. Aku udah nyuruh orang nganter berkas-berkasnya ke rumah." sahut Arga seraya mendudukkan dirinya di sebelah kanan sang ibu.


*******

__ADS_1


Dukung terus karyaku ya... dengan like, favorit, dan vote 😊😊😊


__ADS_2