Yang Terakhir

Yang Terakhir
210. Rencana Yang Berhasil Dan Kejutan


__ADS_3

"Masak, sih, Pak? Tapi saya cuma menyalin semua laporan keuangan dari semua divisi. Mirip aja kali, Pak. Saya perbaiki lagi deh, Pak." ucap Syana dengan gaya cengengesan yang mendadak ditampilkannya di depan Pak Nir.


"Nih. Lain kali fokus, Syana. Saya selalu puas sama laporan kamu. Jadi begitu ada kesalahan saya kaget aja." gerutu Pak Nir seraya menyodorkan kembali berkas yang diperiksanya.


Beruntung Pak Nir menganggap berkas laporan Syana hanya sebuah ketidakfokusan Syana dalam bekerja karena selama hampir 2 minggu bekerja, laporan Syana lah yang paling memuaskannya. Gadis itu tidak pernah membuat kesalahan yang berarti. Sehingga pria itu mengabaikannya.


"Maaf, Pak. Saya akan lebih teliti lagi. Saya permisi, Pak." Syana segera meninggalkan ruangan Pak Nir dengan jantung yang masih berdebar kencang.


"Selamat, selamat. Hampir aja." gumam Syana seraya mengelus dadanya setelah keluar ruangan.


Hari demi hari berlalu begitu saja. Syana masih mengerjakan tugasnya sekaligus menyalin berkas-berkas dalam komputer ke flashdisk miliknya. Galih tetap melakukan tugasnya dalam senyap. Begitu juga si sekretaris pribadi direktur 'nakal' dan si OB. Selama beberapa hari itu juga, Iden tak pernah muncul. Bahkan sejak si sekretaris pribadi dan OB mulai bekerja, pria blesteran itu tidak memperlihatkan batang hidungnya.


Genap di hari dimana Syana selesai menyalin semua berkas yang dibutuhkan, Iden muncul di kafe saat jam istirahat kantor. Galih dan Syana sedang makan siang di sana.


"Kasih surat ini ke manajermu, Syana! Kita ke Jakarta malam ini!" pria blesteran itu meletakkan sebuah amplop panjang berwarna putih di hadapan Syana.


"Ini surat apa?" tanya Syana seraya meraih amplop itu.


"Itu surat pengunduran dirimu, Syana." Galih yang menyahut pertanyaan Syana seraya menatap gadis itu.


"Tapi kenapa secepat itu? Kenapa ngga nunggu besok?" tanya Galih kembali menoleh ke arah Iden.


Galih tahu Syana akan mengundurkan diri tapi entah kenapa dia merasa kepergian Syana setelah mengundurkan diri terlalu cepat. Ada rasa tak rela melepas gadis itu. Tapi Galih tahu akibatnya jika Syana tidak segera menghilang dari kota itu.


Iden memang seorang pria flamboyan yang terkesan santai. Tapi lain soal jika itu menyangkut pekerjaan dan keluarganya. Pria itu akan berubah menjadi serius dan jauh dari kesan main-main. Dan malam harinya, Iden betulan membawa Syana kembali ke Jakarta bersamanya. Dia tidak bisa menjamin keselamatan Syana jika masih di kota itu hingga besok.


"Malam ini lu bisa mulai. Arga mau semua selesai secepatnya jadi rencana ini ngga boleh gagal. Gue ngga mau jadi sasaran kemarahan calon bapak yang satu itu. Tahu sendiri 'kan gimana resenya dia kalau udah bad mood?" pesan Iden pada Galih sebelum memasukkan tubuhnya ke dalam mobilnya seraya mengatai-ngatai Arga, dan Galih hanya terkekeh menanggapi ocehan Iden.

__ADS_1


"Aw! Shhh!" Arga yang tengah makan malam bersama Hania tiba-tiba berseru dan mendesis menahan nyeri seraya memegang bibirnya.


"Pelan-pelan aja, Mas. Kegigit 'kan jadinya." peringat Hania yang duduk di sampingnya seraya mengusap lengan Arga.


"Pasti ada yang ngomongin jelek aku, nih!" gerutu Arga seraya menerima uluran gelas berisi air mineral dari Hania.


"Ngga boleh nethink!" peringat Hania lagi, kali ini wanita cantik itu memukul pelan lengan suaminya.


Arga dan Hania melanjutkan makan malamnya dengan keluhan Arga yang merasakan bibirnya perih setelah tergigit. Sepertinya dia harus menghisap tablet vitamin c agar tidak berubah menjadi sariawan yang akan membuat suasana hatinya semakin buruk.


"Coba liat, sih? Dalem ngga lukanya?" ucap Hania yang ingin memeriksa bibir Arga yang tergigit.


"Ngga dalem juga. Lebay deh, Mas." cibir Hania lalu bangkit dari duduknya.


Tak lama berselang wanita cantik bermata kelinci itu sudah kembali lagi lalu menyodorkan tablet vitamin c pada Arga yang langsung memasukkannya ke mulutnya.


Arga meraih ponselnya yang tergeletak di sampingnya. Setelah makan, pria itu dipaksa oleh Hania yang kini gemar menonton drama korea sejak hamil, ikut menemaninya menonton. Dan itu sekarang menjadi rutinitasnya setelah makan malam. Hania akan merengek dan bahkan akan mendiaminya berhari-hari jika pria itu tidak menurutinya.


"Pak Iden dan Mba Syana sudah dalam perjalanan ke ibukota, Pak. Rencana sudah mulai dijalankan. Semoga dugaan anda benar dan kita bisa segera menghentikan permainan kotornya." begitu bunyi pesan yang terkirim atas nama Reza, orang terpercaya Arga.


"Sebentar, honey." ucap Arga ketika Hania menatapnya dengan tatapan protes saat dirinya memindahkan kepala istrinya yang bersandar di lengan kokohnya itu.


Sambil mengerucutkan bibirnya Hania menurut. Cup. Arga sekilas mengec*p pipi wanita cantik yang sedang hamil 5 bulan itu karena gemas lalu bergegas meninggalkannya.


Kata sebentar yang diucapkan Arga memang sesuai dengan maknanya. Pria itu sudah kembali dan duduk manis di samping Hania lagi bahkan drama korea yang ditonton istrinya itu masih menayangkan adegan yang sama. Dan Hania menyandarkan kepalanya di bahunya.


Arga memangku laptopnya dan mulai membuka situs bursa saham. Pria itu ingin memantau pergerakan saham perusahaan pesaingnya. Seperti yang diinfokan Reza, asistennya, rencana mereka akan segera dimulai.

__ADS_1


"Nice job." gumamnya dalam hati dengan bibir yang melengkung tipis.


Arga mematikan laptopnya bersamaan dengan berakhirnya tayangan drama korea yang ditonton istrinya.


"Udah malam, honey. Tidur yuk!" ajak Arga saat melihat sang istri meraih remot tv dan memilih-milih tayangan lagi.


Meski ingin menonton lagi, tapi dia tetap mendengarkan nasehat Arga. Bahwa dirinya harus menjadi ibu yang bijak. Bayi yang dikandungnya butuh ibu yang sehat agar bisa tumbuh dengan baik dan sehat. Membuatnya lebih menyadari bahwa bayi dalam kandunganya adalah bayi yang ditunggu-tunggu oleh suaminya, begitu juga ibu mertuanya. Bayi yang menjadi harapan keluarga kecilnya.


"Mas." Hania menyodorkan sebuah kotak berukuran 30x10 centi pada suaminya saat keduanya sudah berada di kamar besar mereka.


"Apa ini? Pasti ada maunya, nih?" Arga menaikkan sebelah alisnya tapi tak urung tangannya tetap membuka kotak bersampul hijau mint berpita putih yang diterimanya dari Hania.


Matanya menatap isi kotak itu lalu beralih ke arah Hania seolah meyakinkan diri, benarkah?


Anggukan Hania cukup menjelaskan pertanyaannya. Dia bukannya tidak tahu tapi isi kotak yang diberikan Hania padanya cukup membuatnya terkejut sekaligus terharu. Pria tampan itu langsung menarik tubuh istrinya yang sudah mulai membucit perutnya, ke dalam dekapannya. Memberinya kec*pan bertubi-tubi, di kening, pipi, hidung, dagu, bibir, dan kembali lagi ke kening. Lalu mendekap tubuh istrinya lagi dengan posesif.


Hania hanya diam dan mengusap punggung suaminya dengan lembut. Dia tahu Arga sedang menangis dalam diam. Getaran yang ikut dirasakan akibat isakan pria itu membuatnya ikut bergetar. Tentu saja tangisan Arga adalah tangisan bahagia. Bahkan kini tangisan Arga menular padanya.


Setelah jatuh bangun dari keterpurukannya menata hati karena meninggalnya Devan, putra semata wayangnya, dan penghianatan mantan istrinya, kini dirinya mendapatkan pengganti yang lebih dari yang diharapkannya. Dulu, jangankan berpikir untuk memiliki keturunan lagi, dia bahkan tidak mau berpikir untuk membuka hati untuk wanita manapun. Hatinya sudah beku. Tapi siapa yang tahu. Hatinya terbuka dengan sendirinya ketika bertemu dengan Hania, wanita cantik bermata kelinci yang kini menjadi pusat hidupnya.


"Boleh aku nemuin mereka?" pinta Arga setelah menumpahkan segala perasaan terharunya dalam pelukan Hania.


*******


Thanks for reading!


Jangan lupa tap like, vote ya... Mau komen? Boleh dong. Mau kasih krisan? Monggo. Mau kasih hadiah? Mau banget!

__ADS_1


🥰🥰🥰


__ADS_2