Yang Terakhir

Yang Terakhir
22. Memastikan


__ADS_3

Arga terus menatapi Hania yang sibuk merapikan meja makan mereka. Hania yang merasa ditatapi begitu balas menatap Arga sambil menaikkan alisnya. Arga mendesah.


"Kenapa repot-repot sih? Kan nanti ada pelayan yang beresin." ucap Arga sambil mengalihkan tatapannya pada tumpukan peralatan makan di tepi meja lalu menatap Hania lagi.


"Ngga pa-pa Mas, saya cuma terbiasa. Lagipula ini 'kan ngga ngerepotin, bisa meringankan pekerjaan mereka juga." terang Hania.


Arga semakin terpesona saja dengan kepribadian Hania. Selama mengenalnya, wanita cantik itu sudah beberapa kali menunjukkan sikap positifnya. Ah, semoga saja belum ada yang memilikimu Hania. Mengingat hal itu, Arga gusar.


Arga menyugar rambutnya. Dirinya harus memastikan status Hania sebelum hatinya lancang melangkah terlalu jauh. Tapi bagaimana? Apa tanya langsung pada wanita bermata kelinci itu? Apa wanita itu tidak akan curiga? Arga takut Hania merasa tidak nyaman dan berpikir aneh-aneh. Masak berteman pake tanya-tanya statusnya? Berteman ya berteman saja, tidak peduli lajang atau tidak. Dia takut Hania menjauh.


Tiba-tiba nama seseorang yang paling dikenalnya terlintas. Reza! Ya. Asistennya itu pasti bisa diandalkan. Kenapa baru kepikiran? Hah. Kenapa dirinya mendadak telmi alias telat mikir begini? Senyum tipis terbit di bibirnya.


Arga melirik wanita bermata kelinci yang sekarang entah disadarinya atau tidak mulai menyita perhatiannya. Wanita cantik itu tampak sibuk memeriksa ponselnya. Seketika Arga menyadari, wanita yang diam-diam dipujanya itu tidak menggunalan ponsel yang diberikannya melalui orang suruhannya.


"Apa Mba nerima ponsel yang diantar orang suruhan saya?" Arga tergelitik untuk bertanya.


Hania mengangkat wajahnya. Mendengar kata ponsel seketika dirinya teringat ponsel berlogo buah apel yang tertinggal di laci nakas di dalam kamar tidurnya.


"Ponsel saya masih bagus dan ngga bermasalah Mas." Hania menunjukkan ponselnya pada Arga.


"Tapi saya belikan ponsel itu buat Mba Hania pake." tegas rga.


"Begitu? Saya justru mau ngembaliin ponsel itu ke Mas Arga lagi." sahut Hania seraya tersenyum.


Dirinya memang berencana mengembalikan ponsel itu pada Arga ketika bertemu. Dan sore ini pria tampan itu duduk tenang di hadapannya tapi dia tidak membawa ponsel itu. Ah, seandainya dia tahu pria yang menunggunya adalah Arga.


"Ngga usah dikembaliin." tolak Arga.


"Loh? Kenapa?" tanya Hania.


"Anggap itu hadiah dari saya." jawab Arga sambil menatap mata kelinci milik Hania.


"Tapi..." Hania baru akan menolak tapi Arga langsung memotong ucapannya, raut wajahnya berubah masam.


"Kenapa? Mba ngga suka hadiah pemberian saya?" tanya Arga tampak tak senang.


Sebenarnya melihat perubahan ekspresi di raut wajah Arga, Hania sudah merasa tak enak hati. Pertanyaan Arga membuat Hania semakin tak enak hati saja. Ditambah ekspresi wajah Arga semakin masam.


Hania menatap Arga yang juga menatapnya. Dia bingung akan menjawab apalagi. Dirinya tidak ingin mengecewakan pria tampan itu. Entahlah. Hania juga tidak tahu kenapa takut membuat pria tampan itu kecewa. Hania mendesah.

__ADS_1


"Bukan. Bukan begitu. Saya hanya merasa ngga enak." sahut Hania seraya menggerakkan tangannya.


"Itu berlebihan, ponsel itu pasti mahal harganya." lanjut Hania.


"Tapi, kalau Mas maksa, baiklah, kali ini saya terima hadiahnya." Hania segera melanjutkan kata-katanya sebelum Arga sempat protes lagi, disertai senyum semanis madu.


Arga tersenyum. Melihat senyum Arga terbit di bibir seksinya, membuat Hania merasa lega sekaligus tidak nyaman.


Hania merasa lega karena raut wajah Arga kembali menjadi hangat. Dirinya memang tidak bisa menghalangi orang lain untuk melakukan kebaikan. Dan saat ini Arga hanya menunjukkan sisi baiknya dengan memberinya hadiah meski memaksa.


Namun dibalik penerimaan Hania pada sikap Arga, terselip rasa tidak nyaman. Bagaimana mau nyaman? Hubungan mereka hanya sebatas teman yang baru terjalin seminggu ini. Terbilang masih sangat baru. Namun pria seksi nan karismatik itu dianggapnya berlebihan dalam memberinya perhatian. Biasanya Hania akan berlari menjauh menghindari perhatian yang diberikan pria-pria yang mendekatinya. Tapi dia heran dengan dirinya. Kenapa dengan pria tampan ini, seolah-olah sikapnya terbuka dan menerima? Hania hanya bisa merutuki sikapnya yang seperti melemah di hadapan pria itu.


"Saya memberikan sesuatu yang memang dibutuhkan." sahut Arga dengan senyum yang mengembang dan matanya yang kembali berbinar.


Sok tahu! Dibutuhkan apanya? Hania masih memiliki ponselnya yang dalam kondisi baik-baik saja, jadi dia tidak butuh itu. Hania mendesah. Apa yang dipikirkan pria di hadapannya itu? Ponsel itu diberikan pada Hania karena dirinya tidak segera membalas puluhan pesan Arga, gara-gara Ferry tidak segera mengembalikan ponselnya.


"Humm... Apa Mba Hania ingat pertama kali kita ketemu dimana?", tanya Arga setelah hening sesaat, mulai menyelidiki.


Hania menatap Arga. Seingatnya, pria tampan itu menabraknya atau ditabraknya dua kali di sebuah mall ternama di kota itu.


"Humm... Kita bertabrakan dua kali dalam satu hari?" ucap Hania ragu.


"Bukan." jawab Arga sambil menggeleng.


"Bukan?" Hania mengernyitkan dahinya.


Bukan? Jadi mereka pernah bertemu sebelum tabrakan itu terjadi? Dimana? Kenapa dia tidak ingat? Hania menunduk dan melirik pria seksi itu. Pria seksi itu masih menatap Hania.


"Ah, Ingatan saya buruk." ucap Hania sambil memamerkan deretan giginya yang seperti biji timun yang rapi membuat Arga gemas.


"Laras-Dio wedding party." Arga memberi petunjuk.


Hania mengerjap. Pesta pernikahan Laras? Itu kan sudah sebulan lebih? Itu kan sudah lama, tapi pria seksi itu masih ingat?


"Kita ketemu di tangga yang mengarah ke taman belakang", tambah Arga.


Hania masih menggali ingatannya. Ketika pesta pernikahan itu berlangsung, dirinya yang merasa tidak nyaman berada di tengah-tengah tamu undangan yang kebanyakan tidak dikenalnya, memutuskan keluar ke taman belakang gedung tempat resepsi itu berlangsung.


Saat itu Mba Niken menyusulnya dan mengajaknya masuk ingin mengenalkannya pada seseorang. Langkahnya memang agak tergesa-gesa saat itu. Saat di tangga dirinya berpapasan dengan seorang pria yang menatapnya.

__ADS_1


Seketika alis Hania terangkat sebelah. Diliriknya pria seksi dihadapannya.


"Jadi pria itu dia?" gumam Hania.


"Iya, itu saya." sahut Arga yang masih bisa mendengar gumaman Hania, dia tersenyum karena Hania meliriknya lucu.


"Maaf, saya kurang memperhatikan waktu itu", ujar Hania seraya meringis.


"Saat itu Mba sendirian? Ngga datang sama pasangan?" tanya Arga mulai mengorek informasi.


Mendengar pertanyaan Arga, Hania langsung merasa tak nyaman. Secara impulsif mengubah posisi duduknya dan berdehem. Ekspresinya pun menjadi lebih dingin dan tatapannya sinis. Dia tidak suka mendengar pertanyaan pria tampan itu. Kalau sudah begitu, ujung-ujungnya pasti ingin mendekatinya. Seperti pria-pria lainnya yang hanya modus padanya.


"Saya ngga punya pasangan! Udah lah saya ngga mau bahas itu!" ucap Hania terdengar ketus.


Hania memang masih menjaga jarak dengan Arga. Dia tidak suka ada pria mendekatinya. Dia merasa Arga ingin mendekatinya, seperti pria-pria lainnya. Sikapnya berubah menjadi dingin dan kata-katanya menjadi ketus.


Arga mendesah mendengar suara Hania yang ketus, ekspresi wajahnyapun seperti tak senang. Meski merasa tak enak hati, tak ayal jawaban Hania membuatnya bersorak dalam hati. Dia masih sendiri. Ya. Itu cukup!


"Maaf... Saya ngga bermaksud menyinggung masalah pribadi Mba Hania." ucap Arga, Hania hanya diam menanggapinya.


Suasana berubah canggung. Arga setengah merutuki pertanyaannya. Hah. Kenapa terburu-buru?


"Maaf, ini sudah sore, kalau tidak ada hal penting lainnya saya permisi. Makasih traktirannya dan... hadiahnya." ucap Hania dengan nada ketus meski berusaha sebiasa mungkin, dan ekspresinya dingin.


Arga tercengang melihat reaksi Hania. Melihat Hania bangkit dari duduknya, Arga pun ikut bangkit dan mencegah Hania yang sudah melangkah menuju pintu keluar. Dicekalnya tangan Hania. Hania yang terkejut berbalik menatap Arga. Tatapan mereka bertemu.


"Saya minta maaf jika pertanyaan saya tadi menyinggung Mba," ada nada penyesalan dalam kata-kata Arga, pun wajahnya menyiratkan hal yang sama.


Mendengar Arga berbicara dengan wajah sendunya penuh penyesalan, Hania tidak tega. Dia tidak tega melihat Arga merasa sebersalah itu padanya. Dia yang tidak suka ditanyai soal pasangan, bukan salahnya Arga jika bertanya. Arga tidak tahu masalahnya. Ah, Hania bingung. Kenapa dirinya bisa meluluh dihadapan pria seksi itu? Kenapa dia tidak tega membuat pria itu merasa bersalah? Kenapa dia merasa harus menenangkan pria itu? Ah. Pria tampan itu seperti kucing yang manis dimatanya membuatnya tidak tega saja. Hania lagi-lagi mendesah. Bersama hembusan napas yang terasa berat. Senyumnya mengembang tipis.


Arga yang melihat perubahan ekspresi wanira cantik itu merasa lega. Tanpa sadar malah meraih jemari Hania dan menggenggamnya erat. Hania pun menikmati genggaman Arga lalu tersenyum dan senyum itu menular pada Arga. Namun keduanya kembali canggung setelah menyadari tangan mereka saling menggenggam.


"Saya antar ya?" tawar Arga memecah keheningan sesaat barusan.


"Makasih, tapi ngga perlu, saya bawa kendaraan sendiri." tolak Hania menjelaskan situasinya.


Hania merasa beruntung, tadi dia sempat memesan jasa taksi online tapi karena hari minggu selalu padat, tidak ada driver yang menerima pesanannya. Dan dengan tenaga sisa-sisa dari jalan-jalan di kebun binatang, dia nekat mengendarai mobilnya sendiri. Untuk sementara ini dia bisa terhindar dari pria yang dianggapnya pemaksa itu.


*******

__ADS_1


Dukung terus karyaku ya... dengan like, favorit, dan vote setiap senin 😊😊😊


__ADS_2