Yang Terakhir

Yang Terakhir
116. Rencana Untuk Hania


__ADS_3

Di sebuah ruangan luas dan hening yang terletak di puncak tertinggi gedung berlantai 15 itu, seorang pria tampan tampak sedang tersenyum lebar. Sebuah benda pipih menempel di telinganya. Sepertinya pria itu sedang menerima kabar yang membuatnya senang.


"Pantau terus dan tunggu perintah selanjutnya dari gue." perintah pria itu lalu memutuskan sambungan ponselnya.


"Bukan anak itu yang ingin gue lenyapkan. Tapi ternyata sahabat gue itu ngerasa terpukul juga. Not bad." gumamnya di dalam hatinya seraya menghela napas dalam-dalam.


"Tapi gue belum puas. Lu harus ngerasain yang gue rasain dulu." sorot matanya berubah tajam menatap lurus ke depan sambil menyeringai.


Hari sudah semakin senja, pria bertubuh atletis itu bangkit dan menyambar jasnya lalu melangkah keluar ruangannya. Sekretarisnya yang cantik dan seksi sudah tidak ada lagi di mejanya.


Sambil bersiul pria tampan itu memasuki lift. Hanya ada dirinya. Hingga tiba di basement dimana mobilnya terparkir pun, dirinya tidak bersisipan dengan satupun karyawannya. Mungkin sudah pulang semua karena jam kerja sudah berakhir sejak 2 jam yang lalu. Kalaupun ada yang lembur, mereka pasti sedang fokus dengan pekerjaan mereka di ruangan masing-masing agar cepat selesai dan cepat pulang.


Pria itu memutuskan untuk mengunjungi Rosa sebelum pulang ke apartemennya. Ingin sedikit bersenang-senang dengan wanita cantik dan seksi itu. Membayangkannya saja sudah membuatnya bersemangat dan bergairah.


"Gue butuh lu, baby." ucap pria tampan itu begitu Rosa membuka pintu apartemennya, pemberian pria itu untuk wanita cantik itu.


Pria itu langsung menarik tubuh seksi Rosa ke dalam pelukannya. Tangannya menyusup ke dalam tank top yang dipakai wanita cantik itu. Mengelus kulit halusnya. Sementara bibirnya sudah mel***t bibir seksinya Rosa. Keduanya saling mel***t menimbulkan decapan yang terdengar menggairahkan. Seirama dengan bibirnya yang mulai meny*s*p leher jenjang nan mulus itu, tangannya pun mulai meremas b*k*ng sintal dan padat wanita itu.


Lalu berpindah ke dada yang membusung sempurna dan selalu menggoda imannya. Rosa yang tidak mengenakan b**, memudahkan pria itu bermain-main disana. Tank top pun sudah terlepas dari tubuh seksi wanita itu.


"Ahh... Ssshh!" Rosa yang sejak awal disentuh pria itu sudah ter*ngs*ng, meloloskan lenguhan dan desisannya yang semakin memancing gairah pria itu.


Semakin lama lum***n keduanya semakin liar. Tangan Rosa pun tak tinggal diam, terus membelai senjata pusakanya yang sudah menegang dan membuatnya merasa sesak dibawah sana. Bahkan wanita cantik itu membuka kaitan dan resleting celana bahan pria tampan itu. Menggenggam dan sedikit mer*m*s benda tumpul itu


"Ssshh... Dasar nakal." bisiknya di telinga Rosa.


Pria itu mengangkat tubuh Rosa tanpa melepaskan lum***nnya lalu membawanya ke kamar di lantai 2. Rosa pun melingkarkan kakinya di pinggang pria bertubuh atletis itu sambil memeluk leher kokoh pria itu.


Pria itu menjatuhkan tubuhnya ke sebelah tubuh Rosa setelah permainan panas mereka yang ke dua kalinya. Matanya menatap langit-langit di kamar besar itu. Sementara Rosa melingkarkan tangannya di perut kotak-kotaknya.


"Mikirin apaan sih?" tanya Rosa memecah keheningan.


Pria itu menoleh ke arah Rosa lalu tersenyum.


"Lu nikmat, selalu bisa bikin gue melayang." bukannya menjawab pertanyaan Rosa, pria itu malah memujinya membuat Rosa terkekeh.


"Lu juga." balas Rosa seraya mengecup pipi kiri pria itu.


"Ohya?" goda pria itu.


"You're the best" sahut wanita seksi itu.


"Arga?" selidiknya.


Ditanya begitu, Rosa lsngsung mengerucutkan bibirnya.


"Gue ngga pernah begituan sama dia." jawab Rosa lesu namun membuat pria itu tersenyum tipis, ada rasa senang di hatinya.


"Trus kalian ngapain selama pacaran?" tanyanya lagi.


Rosa menggeleng.


"Ngapa-ngapain kecuali s*x." sahut Rosa.


Mendengar jawaban wanita cantik itu, dia tidak suka. Dia tahu semua kegiatan yang dimaksud Rosa. Membayangkan Arga menyentuh wanita seksi itu, mel***t bibirnya, meny***p leher jenjangnya, meremas b*k*ngnya, dan bermain di d*d* montoknya, membuatnya panas di dalam sana.


"Lu masih suka dia?" suara pria itu terdengar dingin membuat Rosa yang sedang memeluknya mendongakkan wajahnya menatap pria itu.


"Antara ya sama ngga. Mungkin hanya obsesi. Entahlah. Gue juga bingung sama perasaan gue sendiri. Ngeliat dia yang sekarang rasanya gue pengen jadiin dia milik gue." sahut wanita itu.


Kali ini jawaban Rosa membuat hatinya berdenyut nyeri. Pria itu sudah mendukung Rosa melakukan apapun. Memberikan segala kemewahan sejak dirinya bercerai. Bahkan menjadi pelipur lara ketika wanita itu kecewa, menemani malam-malam sepinya ketika suaminya sibuk berselingkuh. Tapi sepertinya semua itu masih kurang untuk merebut hati Rosa. Membuat rasa bencinya semakin dalam pada Arga.

__ADS_1


Pria bertubuh atletis itu bangkit menuju kamar mandi. Berendam dalam bath up seraya memikirkan perasaannya dan balas dendamnya. Tiba-tiba sebuah ide melintas di benaknya.


"Sepertinya kalau gue sedikit main-main sama Hania, pasti lebih seru. Perempuan itu cantik juga." gumamnya seraya mengusap dagunya, senyum liciknya seketika terbit begitu memikirkan idenya itu.


Tok tok tok!


Ketukan di pintu kamar yang ditempati Hania begitu nyaring membuat wanita cantik itu tersadar dari lamunannya. Dengan cepat dihapusnya airmatanya. Lalu bangkit dari tepian ranjang. Diletakkannya foto Tiara berukuran A4 yang sedari tadi dipandanginya itu.


Tok tok tok!


"Honey." ketukan terdengar lagi disertai suara bariton yang sangat di hafalnya, suara Arga.


Hania segera membuka pintu kamarnya yang tidak terkunci. Meski tahu pintu kamar Hania tidak terkunci, tapi pria tampan itu tetap menghargai kekasihnya. Tidak sembarangan masuk ke kamar wanita cantik itu.


"Kamu ngga apa-apa? Kita makan dulu yuk. Ibu udah masak." tawar Arga.


"Mas duluan aja. Aku ngga lapar." tolak Hania lirih.


"Ini ibu sendiri lho yang masak. Jarang-jarang ibu mau masak begini, seringnya bibi, kalau ngga, ngajakin kita makan di luar." bujuk Arga.


"Jangan seperti ini, Han. Kamu harus makan, harus minum obatnya biar cepet sehat lagi." bujuk Arga lagi ketika melihat respon Hania yang sepertinya enggan.


"Aku udah sehat kok, Mas." Hania masih kukuh menolak.


"Siapa bilang? Bagiku kamu udah sehat itu kalau udah nakalin aku" Arga menyunggingkan senyum tengilnya menggoda Hania.


"Mas apaan, sih? Ngga lucu tau." Hania tersipu malu mengingat belakangan dirinya agak bertingkah mesum pada Arga.


"Get well soon, honey. I miss you so much." lirih Arga seraya memeluk tubuh Hania.


Wajah Hania semakin merona. Dirinya tersanjung. Dipeluk Arga membuat hatinya menghangat. Wanita cantik itu balas memeluk Arga. Merasakan tubuh liat pria tampan itu dan membayangkan dada bidang berotot dan perut kotak-kotaknya.


"Ibu?" sapa Hania dan Arga bersamaan dengan kikuk.


Tingkah Hania yang langsung merapikan rambut lalu menyelipkannya di telinganya, dan Arga yang mengusap tengkuknya membuat ibunya Arga itu menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Ayo, sayang. Kita makan. Ibu sendiri yang masak. Kamu harus rasain masakan ibu. Yuk!" wanita paruh baya itu menarik tangan Hania dan sedikit memaksanya.


Ya. Sudah 3 hari Hania berada di rumah Arga. Pria tampan itu sengaja memboyong Hania ke sana. Setelah dinyatakan sehat 5 hari yang lalu, Hania pulang ke rumahnya. Dan Arga selalu menemaninya. Bahkan pria tampan itu mengajak Bi Sumi untuk ikut tinggal di sana. Tapi sejak awal memasuki rumahnya, wanita cantik itu sudah jatuh pingsan. Ketika siuman, dia akan menangis sesenggukan bahkan histeris menyebut nama Tiara, lalu tak sadarkan diri lagi. Hal itu terus berlangsung selama 2 hari.


Dia ingat, ketika sedang makan malam tiba-tiba Hania mengambilkan makanan untuk Tiara.


"Sayang, kamu mau lauk yang mana?" tanya Hania seraya menatap kursi kosong di sampingnya.


Arga yang duduk di seberang Hania terkejut lalu ikut menatap kursi di samping Hania. Pria itu termangu, namun sejurus kemudian dia tersadar lalu mendekati Hania. Mengusap puncak kepala wanita cantik itu dan memeluknya.


"Honey, Tiara ngga ada di sini." ucapnya lembut dan hati-hati.


Hania menatap Arga dan menggelengkan kepalanya.


"Dia ada kok, Mas. Ini!" tunjuk Hania seraya tersenyum, namun senyumnya seketika hilang.


Wanita cantik itu menoleh lagi ke arah Arga.


"Tadi dia duduk di sini, Mas. Beneran." kukuh Hania.


"Honey." tegur Arga.


"Ngga. Ngga mungkin! Tiara pasti bercanda, nih. Anak itu memang suka gitu. Tiara! Tiara sayang. Udah dong. Jangan bercanda terus deh." seru Hania seraya celingukan memanggil-manggil putrinya.


Arga menghela napasnya berat. Hatinya berdenyut nyeri melihat Hania yang mulai hanyut dalam imajinasinya. Dan berhalusinasi seolah-olah Tiara masih ada di sekitarnya.

__ADS_1


"Hania." tegur Arga lagi dengan menyebut namanya berharap wanita cantik itu tersadar.


Bi Sumi yang berdiri di pintu dapur hanya menatap kekasih majikannya itu dengan mata berkaca-kaca.


"Tiara! Sayang, keluar dong. Mama nyerah deh." Hania masih berseru memanggil Tiara, bahkan dirinya memasuki kamar satu persatu.


"Hania!" sentak Arga dengan mata yang berkaca-kaca.


Pria itu langsung memejamkan matanya. Tidak tega melihat Hania seperti itu.


Hania langsung menoleh ke arah Arga. Menatap pria tampan itu dengan mata yang berkaca-kaca. Jarinya menunjuk ke sembarang arah, ingin menunjukkan keberadaan Tiara.


Dengan setengah berlari Arga mendekati Hania dan memeluknya erat seraya menahan tangisnya. Wanita cantik yang dicintainya itu langsung menangis tersedu-sedu. Dia sudah tersadar dari halusinasinya. Bi Sumi yang terus memperhatikan dari kejauhan ikut menagis sesenggukan.


Kejadian itu berulang di hari berikutnya. Hania dan Arga tengah duduk santai di halaman belakang. Mendadak Hania menoleh dan menyahut. Arga juga akhirnya ikut menoleh tapi tidak ada siapapun di sana.


"Han?" tegur Arga lembut, membuat Hania menoleh.


"Itu Tiara, Mas. Lari-larian di sana." tunjuknya ke arah pojok halaman seraya tersenyum.


Arga memastikan lagi pandangannya. Tidak ada Tiara di sana. Lagi-lagi hatinya seperti diremas. Hania kembali berhalusinasi.


"Sayang! Sini dong!" panggil Hania ke arah yang ditunjuk tadi.


"Hania. Ngga ada Tiara di sana. Tiara ngga ada di rumah ini. Anak itu udah ngga ada." suara Arga bergetar menyadarkan kekasihnya.


"Apa? Ngga. Ngga mungkin! Itu Tiara Mas!" seru Hania.


Arga hanya menggelengkan kepalanya


Pria itu sudah tak sanggup lagi melihat Hania seperti itu. Matanya berkaca-kaca menandakan luapan emosinya yang tertahan di hatinya.


Hania menggelengkan kepalanya melihat reaksi Arga. Wanita berhati lembut itu masih belum percaya dengan ucapan Arga. Dia menoleh lagi ke arah dimana dirinya melihat Tiara. Namun lagi-lagi Tiara menghilang.


Hania baru akan beranjak mencari keberadaan Tiara, namun Arga segera menahan tubuh wanita itu dalam dekapannya. Semakin Hania meronta, semakin Arga mengeratkan pelukannya. Akhirnya, Hania menangis sesenggukan dan histeris memanggil Tiara. Membuat pria bertubuh atletis itu ikut menangis.


Menyadari hal itu tidak baik untuk kesehatan mental sang kekasih, Arga memaksa Hania tinggal di rumahnya. Sang ibu menyambut dengan suka cita keputusan Arga dan mendukungnya. Bahkan ibunya Arga ikut tinggal di rumah putranya itu. Wanita paruh baya itu sudah menyayangi Hania. Karena selain dia adalah wanita yang dicintai putranya, Hania adalah wanita yang baik hati, tulus, cerdas, santun, lembut, penyayang, suka menolong, dan tidak sombong.


Setelah makan malam, Arga kembali ke ruang kerjanya di lantai 2. Sementara Hania ditemani ibunya Arga menonton tayangan drama kesukaan wanita paruh baya itu. Di sana juga ada Lisa. Gadis muda berkaca mata itu tiba-tiba muncul membawakan sekotak martabak telur dan terang bulan yang kini menjadi teman mereka. Tadinya Ferry juga ada di sana mengantarkan Lisa dan berbincang sebentar dengan Arga lalu undur diri.


Drrrt drrrt drrrt!


Arga mengalihkan tatapannya dari berkas-berkas yang harus di tanda tanganinya. Ya. Sejak Hania diperbolehkan pulang, Arga melakukan pekerjaan dari rumah. Meminta Reza mengantarkan semua berkas yang perlu dikerjakan dan ditanda tanganinya ke rumah. Bahkan mempercayakan urusan perusahaannya di luar kota pada Iden dan Adi.


"Ada kabar apa, Rez?" tanya Arga to the point.


"Kita sudah menangkap kaki tangan Pak Aris. Mereka ada hubungannya dengan orang itu, Pak. Apa anda ingin menemuinya? Sebelum kita menyerahkannya pada pihak berwajib beserta bukti-buktinya." lapor Reza.


"Iya. Tapi nanti. Saya kabari lagi nanti." Arga sedikit bisa bernapas lega.


Pria karismatik itu menghela napasnya. Satu persatu permasalahannya mulai menemukan jalan keluarnya.


"Sedikit lagi, man. Gue pasti menuntut balas perbuatan lu!" gumam Arga dalam hatinya seraya mengeratkan rahangnya dan mengepalkan tangannya.


*******


Thanks for reading!


Jangan lupa like, favoritkan, vote, dan kasih hadiah ya, komen juga boleh. Untuk dukung terus karya ini.


🤗🤗🤗😘

__ADS_1


__ADS_2