
Makan malam yang canggung malam itu. Hania dan Arga tak banyak bicara. Hanya saling melirik dan berdehem. Tiara yang polos, pikirannya belum sampai pada tahap aneh-aneh bersikap biasa saja.
"Ehem", Arga berdehem untuk kesekian kalinya.
Hania hanya melirik sekilas.
"Boleh minta air minum?", tanya Arga memecah keheningan, membuat Hania tersadar dirinya belum menyiapkan air minum.
"Tempatnya dimana biar aku ambil sendiri", tawar Arga.
"Ngga usah Mas, biar aku aja yang ambil", tolak Hania lalu bergegas ke dapur.
"Maaf ya, sampai kelupaan", ucap hania sambil menuangkan air mineral ke gelas Arga, dia tak enak hati, bukankah dia yang mengajak Arga makan di rumahnya?
Rasa canggung benar-benar membuat Arga sulit menelan makanan yang tampak lezat itu. Harusnya dirinya patut tersanjung, Hania dengan sukarela memasak untuknya. Tapi gara-gara pikiran mesum dan tragedi mesum yang barusan terjadi, dirinya jadi tidak bisa merasakan kesenangan itu.
"Mama sama Oom kok diem-dieman sih?", tanya Tiara yang polos sambil menoleh ke arah Hania dan Arga.
"Iya, kan kita lagi makan, sayang, harus tenang", sahut Hania setenang mungkin.
Tiara hanya mengangguk-anggukkan kepalanya kemudian melanjutkan makannya. Hingga sesi makan malam berakhir, Arga dan Hania berusaha bersikap seperti tidak ada apa-apa.
Sebagai tamu yang tahu diri, Arga membantu Hania membereskan peralatan bekas makan mereka meskipun Hania sudah melarangnya. Selain itu, dirinya ingin berlama-lama didekat wanita cantik itu. Dirinya semakin yakin mengejar wanita yang matanya membuatnya berdebar itu. Tragedi mesum barusan membuktikan hati dan pikirannya sinkron. Dirinya. Jiwa dan raganya menginginkan Hania.
"Cantik, Oom pulang ya, sampai ketemu besok", ucap Arga seraya merendahkan tubuhnya agar sejajar dengan Tiara yang tingginya sebatas pinggangnya, lalu mengacak rambut gadis kecil itu.
"Oom, janji ya, besok kesini lagi", pinta Tiara sendu.
Putrinya Hania itu selalu enggan ditinggal Arga pulang. Selalu memasang wajah sendu jika Arga pamit. Mungkin dirinya merasa suasana rumahnya lebih ramai ketika ada Arga disana.
Biasanya Galihlah yang meramaikan suasana. Namun, sejak Galih pindah ke Bandung, Tiara merasa rumah mereka sepi. Dan kini, Arga hadir ditengah-tengah mereka. Dengan pembawaan yang dewasa, protektif, dan ramah anak, aura kebapakan Arga menghipnotis Tiara yang merindukan sosok ayah. Membuat gadis kecil itu merasa nyaman dan langsung lengket dengan Arga sejak pertama mereka bertemu.
"Emangnya kalau Oom kesini lagi, mau dikasih apa?", goda Arga, Tiara tampak berpikir.
"Mau ajak Oom jalan-jalan lagi lah, kan Tiara udah libur sekolahnya", ucap gadis kecil itu bersemangat.
"Oke. Kita piknik nanti", sahut Arga mengamini permintaan Tiara.
__ADS_1
Hania yang mendengar kesepakatan mereka hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Arga selalu saja menuruti kemauan putrinya itu. Dirinya tidak enak hati karena merepotkan pria tampan itu.
"Mas...", baru akan berucap, Arga sudah mengkodenya untuk diam dengan mengedipkan sebelah matanya, Hania hanya mendesah mengurungkan niatnya menegur Arga.
"Yeee...! Bener ya Oom, kita piknik, piknik ke gunung atau ke pantai ya Oom...", seru Tiara girang, Arga hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju seraya tersenyum.
"Makasih Oom", Tiara menghambur ke pelukan pria dewasa itu.
Tiara langsung mencium pipi kanan pria tampan itu saking senangnya. Arga yang mendapat ciuman mendadak itu sempat terpaku. Tak ayal ciuman seperti itu mengingatkannya pada putranya yang sudah tiada. Hatinya menghangat. Senyumnya terukir dibibir manisnya.
"Sayang, udah, masuk dulu ya, Mama mau ngomong sama Oom", pinta Hania dan diangguki Tiara.
Hania mengikuti Arga keluar rumah. Jalanan depan rumah Hania sudah sepi, hanya sesekali sepeda motor atau mobil yang melintas.
"Mas tuh, jangan manjain Tiara kayak gitu terus, ntar jadi kebiasaan, Mas sendiri yang repot", protes Hania setelah mereka duduk di bangku taman di halaman rumah Hania.
"Kamu tuh, anak seneng harusnya ikut seneng dong", tegur Arga seraya mengulum senyum.
"Seneng sih seneng, tapi kalau terus-terusan ngerepotin Mas kan aku jadi ngga enak", sahut Hania.
"Aku seneng liat Tiara seneng, rasanya bangga aja bisa nyenengin orang yang kusayang", lanjut Arga diplomatis.
Mendengar kata-kata Arga, Hania merasa tersanjung. Pria tampan didepannya itu benar-benar menawarkan pertemanan yang menguntungkannya. Apa tadi katanya? Pria seksi itu akan mengusahakan apapun, selama itu untuk dirinya dan putrinya? Ah, Hania serass melayang.
Apalagi tatapan mata Arga yang tajam itu, membuatnya tidak berkutik. Pertahanannya langsung runtuh saja. Dirinya tidak mampu menolaknya. Bukan. Dirinya tidak ingin membuat pria karismatik itu kecewa.
"Makasih", akhirnya hanya kata itu yang terucap menandakan dirinya menerima keputusan Arga begitu saja.
Arga tersenyum lebar. Hania menerima keputusannya. Mendekati putrinya sama dengan mendekatinya. Seperti ada udang di balik batu memang, tapi dia tulus ingin mendekat pada wanita cantik bermata kelinci itu karena memang sudah takluk pada pesonanya. Pesona yang sederhana tapi elegan. Klasik.
"Udah malam, aku pulang ya", pamit Arga, Hania mengangguk.
Hania ikut bangkit ketika Arga bangkit dari duduknya. Aroma canggung akibat tragedi mesum tadi sudah menguap. Ada keinginan untuk menahan Arga berlama-lama disana tapi untuk alasan apa, lagipula malam sudah semakin larut.
Berbincang dengan Arga seperti mendapat teman diskusi yang sejalan. Pria tampan itu seolah tahu apa yang dirasakan dan dibutuhkannya, juga tahu bagaimana menghadapinya meski dirinya sudah memasang benteng pertahanan yang tebal sekalipun, pelan tapi pasti pria karismatik itu bisa menembusnya, menggoyahkan pertahanannya.
Dia juga dengan cepat membuat putrinya lengket dengannya. Pria itu benar-benar tahu mengambil hati dan memenangkan Tiara.
__ADS_1
Hania tahu bagaimana putrinya. Gadis kecil itu tidak mudah dekat dengan pria dewasa manapun. Apalagi dia tidak mengenal sosok ayah sejak lahir. Selama ini yang dikenal dekat dengan ibunya hanya Galih. Itupun karena Galih hadir membersamai pertumbuhan Tiara.
Keesokan harinya, waktu berjalan sangat lambat bagi seorang gadis kecil bernama Tiara. Dari bangun tidur tadi pagi, dirinya sudah mandi dan bersiap menyambut kedatangan Arga. Tapi hingga siang, lalu sore, pria dewasa itu belum juga menampakkan batang hidungnya.
Hania sudah menjelaskan pada Tiara untuk tidak menunggu pria tampan itu. Tadi siang, Arga sudah menghubungi ponselnya, mengatakan dirinya sibuk hari itu dan mungkin sampai beberapa hari kedepan. Pasalnya, tiba-tiba saja perusahaan Arga mengalami masalah.
"Udah dong sayang, Oom Arga ngga usah ditunggu. Oom masih sibuk kerja", rayu Hania sambil mengelus rambut panjangnya Tiara.
"Mama kok tau kalau Oom sibuk?", tanya Tiara tak yakin.
"Tadi Oomnya telpon Mama, ngabarin kalau kantornya lagi banyak kerjaan, jadi ngga bisa meluangkan waktu untuk main-main", terang Hania.
Tiara mencebik. Air matanya sudah menggantung di pelupuk matanya. Dia kecewa. Harapannya untuk piknik ke gunung atau ke pantai tidak terwujud hari itu.
"Mungkin nanti, hari minggu, sayang. Nunggu Oom Arga libur kerjanya ya", rayu Hania sambil memeluk putrinya itu.
Hania nelangsa melihat putrinya seperti itu. Makanya Hania tidak pernah menjanjikan Tiara apa-apa. Memang jarang sekali mereka menghabiskan waktu dengan rekreasi ke tempat yang sedikit jauh, ke gunung atau ke pantai misal, karena kesibukan Hania. Dan rasanya aneh kalau hanya jalan berdua ke tempat yang jauh, apalagi keduanya perempuan. Sangat membahayakan. Begitu pikir Hania.
Tapi Hania juga tidak bisa menyalahkan Arga yang sudah berjanji pada putrinya. Pria tampan itu pasti juga ingin menyenangkan Tiara seperti katanya. Namun, apalah daya jika kondisi lapangan tidak memungkinkan. Hania mendesah.
"Han, sorry, kayaknya hari ini, aku ngga bisa ngajak Tiara keluar. Tiba-tiba aja ada masalah pengiriman di perusahaanku. Mungkin bakal seharian dan bisa sampai beberapa hari kalau sananya sulit diajak kompromi", Hania ingat kata-kata Arga tadi siang.
"Sampaikan maafku untuk Tiara juga. Suruh jangan nunggu aku ya. Beneran aku pingin banget ngajak anak itu jalan. Aku harap kamu percaya dan ngerti permasalahanku. Tolong kamu jelasin ini ke Tiara ya", begitulah pinta Arga.
Ya. Tentu saja Hania percaya pada Arga. Pria itu begitu terbuka padanya. Jangankan masalah pekerjaan, tentang statusnya saja dia blak-blakan.
Dan hari berikutnya begitu lagi. Tiara masih menunggu Arga. Meski ikut Hania ke restoran, tapi pandangannya terus menatap ke pintu keluar. Berharap tiba-tiba Arga muncul disana. Dan selalu berakhir dengan air mata yang menggantung.
Hania hanya bisa ikut berharap pria tampan itu cepat datang. Bukannya Hania tidak ingin mengajak Tiara jalan. Wanita cantik itu pernah menawari putrinya untuk berjalan-jalan berdua saja tapi gadis kecil itu menolak. Dia ingin jalan-jalan dengan Arga.
"Lihat Mas, putriku pun sekarang bergantung padamu", batin Hania.
*******
Dukung terus karyaku ya... dengan like, favorit, dan votenya 🤗🤗🤗
Terimakasih...
__ADS_1